Kamis, 08 Maret 2018

MENJEMPUT IMPIAN DI KEUKENHOF (5)



PEREMPUAN KEDUA (5)

            Trotoar kampus masih basah ketika aku melangkahkan kaki menembus gerimis tipis. Jalanan hitam penuh pasrah menerima tumpahan bunga kuning akasia yang gugur, pemandangan jalanan yang indah, paduan warna yang harmonis. Kutarik nafas panjang, aroma khas bunga akasia menyergab hidung, aku suka dan menikmatinya. Hujan di kampus sangat berbeda, aku suka dan menikmatinya. Udara sejuk, air yang jatuh dari langit, daun yang basah adalah lukisan ajaib bagiku. Kecuali di Pasar, hujan membawa penderitaan.
  Teeeetttt...” hups...! aku terhenyak dari lamunan, kuperhatikan mobil yang berhenti tepat disisi kananku.
  “ Bareng yok Tir! hujan nih....” sebingkai wajah muncul dari kaca jendela mobil, wajah yang cantik dan sangat kukenal.
  “ Serius nih...”, jawabku basa basi
  “ Iyalah... ayok!..” wajah cantik itu tersenyum lucu, dia pasti tahu jika aku berbasa-basi, aku tak lagi berkomentar dan masuk kedalam mobil, agaknya gerimis tambah merapat.
  “ Langsung pulang?” perempuan cantik  yang duduk di belakang stir itu memulai percakapan.
  “ Iya.. aku turun di perempatan aja”
  “ Enggak usah... langsung kuantar aja, kita kan satu arah “ tawarannya begitu serius dan manis, aku jadi tak enak hati.
  “ Enggak usah, aku jadi enggak enak nih..” aku juga serius, tanpa basa basi. Kikuk juga rasanya berlama-lama dekat perempuan ini, mobilnya sejuk dan wangi. Pipinya putih bak pualam, matanya cerah benderang, fisiknya sudah menjelaskan kalau dia seseorang yang hidup dalam kesenangan tanpa beban. Sementara aku? aku adalah laki-laki yang bergelimang perjuangan. Kasih sayang, pendidikan dan motivasi  Emak lah yang membuat aku menjadi kuat, tanpa itu? Jiwaku telah lama mati.
Perempuan cantik itu tak menjawab, pandangannya serius memandang jalan yang dipadati kendaraan lain. Hujan membuat pengendara sepeda motor panik dan ingin cepat sampai tujuan, ini kondisi yang berbahaya untuk pengendara mobil jika tidak hati-hati. Aku diam, mendekap tangan di dada, memandang kedepan dengan hujan yang semakin merapat. Kami tenggelam dalam diam.
            Mobil berbelok memasuki gang menuju rumahku, sebagai lelaki aku merasa tak enak hati diantar seorang perempuan. Tapi aku juga tak mampu menolak niat baik perempuan ini, tulus sekali, ketulusan yang terpancar dari dalam jiwa yang bisa kubaca dari sorot matanya.
  “ Singgah yok….” tawaranku ketika mobil berhenti di depan rumah. Perempuan itu mengangguk tersenyum, alamaaak… aku Cuma basa basi, tapi dia tanggapi, wah..
Emak menyongsong didepan pintu rumah, tersenyum seperti anak yang dibawakan oleh-oleh permen, aku Cuma cengar cengir kuda melihat mata emak yang mendadak genit.
  “ Wa… emak ada buat ubi rebus, mau?”  aha.. Emakku terlalu pede fren
  “ Wah…Awa suka tuh mak.., mama juga sekali-sekali masih buat ubi rebus, dikasi gula merah sama kelapa”.
  “ Suka ubi rebus Wa?”  kupastikan jawaban perempuan itu, Zahwa.
  “ Ya iyalah… itu makanan sehat Tir, di keluarga kami kalo bikin cemilan tuh ya.. ubi goreng, pisang goreng, bakwan, buat cake juga jarang.” aku tertegun antara percaya dan tidak, apakah Zahwa hanya ingin menjaga perasaanku sebagai seorang lelaki miskin?
Aku tak ingin membahasnya, aku sibuk dengan kegiatanku yang baru, memperhatikan Zahwa yang makan ubi rebus dengan asap yang masih mengepul ditemani Emak sambil tertawa-tawa. Sesekali kulongok mobil yang diparkir Zahwa didepan rumah, takut ada kendaraan lain yang tak bisa lewat karena gang rumahku yang sangat sempit. Zahwa pamit setelah dua puluh menit duduk menikmati ubi rebus sambil bercerita dengan Emak. Heran.. aku tak dilibatkan mereka dalam pembicaraan, hanya Emak sesekali mengerling kearahku, dasar perempuan.
Sahabat… sulit kujelaskan dengan kata-kata tentang perempuan itu, Zahwa namanya. Dia seorang perempuan yang hidup makmur, gemah ripah loh jinawi. Aku yakin sekali jika perempuan itu tak pernah dihinggapi penderitaan. Ayahnya seorang Profesor dan ibunya seorang dokter spesialis ortopedi. Aku juga heran mengapa bisa dekat dengan perempuan yang beda fakultas ini, dia di kedokteran sementara aku di Fakultas Hukum. Yang menyatukan kami hanya Organisasi kampus di kelompok Jurnalis Kampus, itu saja. Aneh, selalu ada kesempatan bertemu dan dia selalu punya tawaran baik mengantarku pulang, bicara dengan Emak dengan sangat akrab seakan seorang anak yang bicara dan curhat dengan Ibunya. Dan.. Emak yang terlalu pede seakan-akan Zahwa adalah calon menantunya. Walah..aku tak pernah mimpi bisa memiliki perempuan ini, tak pernah! Siapa yang terlalu bodoh memilih aku sebagai pacar atau bahkan pasangan hidup?
Aku Petir, pemuda yang dari kecil sudah yatim, berjuang hidup bersama Emak tercintanya, yang miskin tak punya harta, kendaraan jelek pun tak punya. Semangat hidup, lampu dalam gelap itu hanyalah Emak, dan..sang pencipta tentunya.
  “ Heh.. melamun..” Emak muncul disampingku,menepuk lembut bahuku.
  “ Mikirin si Zahwa ya?”  Emak menatapku menggoda.
  “ Mak.. si Zahwa itu anak orang kaya, anak dokter. Kita orang miskin mak, mana mau dia sama aku, dia Cuma kasian lihat aku yang  kemana-mana naik angkot, makanya dia mau antar, itu aja. Udah ah.. Emak terlalu pede, nanti aku cari aja perempuan lain untuk jadi menantu Emak, yang selevel….”Aku bangkit, Emak menarik tanganku.
  “ Duduk Nak...”, Emak menatapku tajam, aku tak berani membalasnya, aku kembali duduk.
  “ Emak tidak pernah mimpi nak, status bukanlah segalanya. Emak suka Zahwa bukan karena dia seperti yang kau bilang anak orang kaya, dia perempuan yang membuat Emak senang serasa menemukan anak perempuan. Dia bukan perempuan biasa. Besok kalau kau jumpa dia, kau perhatikan betul cahaya matanya, tak bisa dibohongi kalau dia suka sama kau nak, cinta dia sama kau..”. Aku tertegun, benarkah Emak terlalu pede?
  “ Oke , kalau aku pacaran sama dia, pake apa aku pergi ngapel? naik sepeda? ah Mak.. udahlah.. jauh kali cita-cita Emak, nanti Emak sakit hati.” Aha… bukannya aku yang sakit hati?  aku bangkit lagi ingin melakukan sesuatu yang tadi tertunda.
             “ Lha.. mau kemana? Emak belum selesai cakap Tir…”
             “ Mau mandi Emakku sayang… trus sholat Emakku tercinta.. habis itu aku mau menghabiskan ubi rebus Emak yang enak, oke?” kutepuk-tepuk bahu Emak yang tersenyum-senyum lucu, diapun mengangguk takzim.
Aku mandi, bayangan Zahwa menari-nari didalam ember. Di kamar, bayangan Zahwa menari-nari di cermin. Aku sholat bayangan Zahwa menari-nari di atas sajadah, walah….kenapa jadi gini? Emaaaaaakkkkkkk………..Zahwa menari dimana-mana, seperti udara dan angin, menguap keatas, menggumpal menjadi awan dan turun menjadi hujan. Ku lahap ubi rebus cepat-cepat, Emak perempuan pertama dalam hidupku melihatku dengan pandangan aneh. Zahwa perempuan kedua dalam hatiku tersenyum dalam bayangan, menari-nari dalam pikiran.
Nafasku tersengal-sengal menahan pikiran yang buncah dengan mulut penuh singkong panas.
“ Tir….. kenapa? “ Emak menepuk-nepuk bahuku bingung. Aku menggeleng-geleng, sebagai isyarat aku baik-baik saja.
“ Minum….” Emak menyodorkan segelas teh manis yang sudah mulai dingin, ku teguk perlahan dan menarik nafas panjang.
“ Makan jangan buru-buru, kecekik kan? “ Emak mulai tenang, menyandarkan bahunya ke belakang kursi. Aku tak menjawab, padahal aku ingin sekali mengatakan “ Mak…. Benarkah menurut Emak perempuan cantik itu berhasrat padaku? “
Kuhabiskan malam dengan gelisah, kantuk merayap naik ke ubun-ubun, namun mata tak mau terpejam. Perempuan itu seakan menyusup masuk dalam aliran darahku, panas.


  • Ahaaa.. tunggu kelanjutannya yaa J

Minggu, 04 Maret 2018

MENJEMPUT IMPIAN DI KEUKENHOF (4)



EMAK (4)

            Langit begitu pekat diiringi gerimis halus ketika aku keluar rumah. Disampingku, Emak merapatkan jaketnya sambil mendekapkan tangannya di dada, memandang langit yang gelap.
  Hujan lagi…” desisnya halus terdengar kecewa.
  Enggak usah jualan ya Mak? dingin kali” kujawab desisan Emak.
             Enggak apa-apa, kau pikir Emak tak biasa dengan udara dingin?” Emak menjawab sambil menatapku tajam dalam remang, aku diam.
Kami menembus gerimis yang mulai merapat, kudekap Emak yang ringkih sepenuh jiwaku, manusia yang paling kucintai dalam hidupku.
            Sudah kukatakan kawan, aku tak pernah mengenal Ayahku. Emakku  adalah wanita Melayu yang biasa tinggal di rumah. Sebagai  wanita yang tidak punya pendidikan dan keterampilan, Emak limbung menghadapi ekonomi keluarga walaupun Emak hanya perlu menghidupi aku, anak tunggalnya. Aku masih ingat cerita Ompung Purba bagaimana Emak bisa terdampar di  pasar ini, menggendong aku ketika masih bayi merah, setiap pagi bercumbu dengan dingin dan embun.
            Kini, aku dapat melihat gambaran masa kecilku pada Bou Siahaan. Setiap hari bayinya dibawanya berjualan di pasar yang biasa kami sebut pajak. Tapi bou Siahaan tidak menggendong terus anaknya seperti Emakku. Ada tiang kecil kayu seperti jemuran di sampingnya, dia mengikat buaian disitu. Sambil melayani pembeli dia menggerakkan buaian itu, jika anaknya menangis dia akan menyusuinya. Tetapi tetap saja aku berbeda dari anak bou Siahaan, karena dia masih memiliki Ayah, walaupun Ayahnya pemabuk dan penjudi.
 Semenjak SMA pula setiap hari aku menemani Emak keluar rumah jam tiga pagi, memilih sayuran yang akan dijual pada pembawa sayur dari gunung dan duduk jualan pada lapak terbuka hingga jam tujuh pagi. Untuk selanjutnya aku punya aktifitas lain, kuliah, diskusi dan nongkrong di perpustakaan untuk mencari literature tulisan, istirahat pada pukul sembilan malam. Jika  banyak tulisan yang harus kugarap, aku hanya istirahat tiga jam. Mahasiswa kaya dan malas adalah ladang rezeki bagiku, karena mereka akan mencari aku untuk membuatkan skripsi atau sekedar makalah dan proposal.
Pernah kukatakan pada Emak agar dia tidak usah lagi berjualan, tapi Emak merepet-repet panjang sampai terbatuk-batuk, kasihan. Emak mengatakan dia akan berhenti jualan jika aku sudah sarjana, kekantor pakai dasi, punya keluarga dan ia akan menjaga anakku, cucunya. Setelah itu aku tak berani lagi menyinggung masalah keinginanku agar dia tak lagi berjualan, aku sadar sepenuhnya bahwa tiap butir nasi yang kumakan adalah keringat Emak, bahkan darah yang mengalir dalam tubuhku adalah keringat Emak. Pernah kutanyakan pada Emak mengapa ia tak mau menikah lagi, dia cuma berkata
  Tak ada yang Emak harapkan lagi dalam hidup ini selain kau, Tir. Kau belahan jiwa Emak, harapan masa depan Emak, Cuma kau yang berharga dalam hidup Emak nak… jangan kau tanyakan itu lagi ya?” Emak mengelus kepalaku dengan mata yang berkaca-kaca, kupeluk Emak dengan mata panas menahan tangis. Ah…Emak, ma’afkan aku jika menyinggung perasaanmu.
            Kata-kata Emak yang mengatakan aku adalah harapannya dapat kurasakan sampai sekarang. Setiap pagi di pasar Emak memesan susu dan nasi gurih komplit di warung untuk menu sarapanku, padahal Emak tak pernah minum susu. Sore hari dia memasakkan aku makanan apa saja yang dianggapnya aku suka, Emak memberiku makanan cukup gizi dan aku tumbuh menjadi laki-laki yang sehat dan proporsional. Dari aku SD, Emak sering memberiku buku cerita, walaupun itu cuma buku bekas yang sayang jika dijadikan kertas pembungkus. Aku pernah protes mengapa sampai sekarang aku harus minum susu, Emak berkata
  Biar kau sehat Petir, kau kurang tidur, emak tak mau kau sakit nak…”
  Tapi Emak enggak pernah minum susu, Emak sehat….” jawabku sekenanya. Emak tertawa, menepuk bahuku dengan sayang
  “ Emak tak perlu perpikir untuk belajar lagi nak…, Emak tak mau jadi sarjana, Emak tak kuliah. Kau tau? Kurang tidur itu membuat orang menjadi bodoh, kalau kau tak cukup gizi dan kurang tidur jadi tambah bodohlah kau, ngerti?” Emak bangkit sambil terkekeh-kekeh menunjukkan giginya yang masih rapi, sesungguhnya Emak adalah wanita yang sangat cantik. Aku masih terpaku diam, benarkah kata Emak? Terkadang Emak yang tak sekolah jauh lebih pintar daripada aku, kurang tidur dan kurang gizi membuat orang menjadi bodoh adalah ilmu baru bagiku. Siapa sangka, aku yang dulunya kurus kecil berubah menjadi pemuda tinggi kekar?
Betapa hebatnya Emak mempersiapkan aku, menjadi pemuda sehat dan meraih beasiswa sepanjang pendidikannya. Semakin aku kagum pada perempuan paruh baya yang bak pendekar ini, Emakku.
            Pagi ini, susu itu muncul lagi dihadapanku, aku mau muntah. Tau tidak kawan? semenjak SD susu itu tak pernah berubah, putih pekat tak berwarna. Bayangkan betapa muaknya aku harus minum susu ini saban pagi sepanjang hidupku. Mungkin besok warna kencingku pun seperti susu, harum lemak pula. Emak menyodorkannya gelas berisi air putih pekat itu penuh sayang, ah.. aku tak ingin mengecewakannya. Kuambil gelas yang disodorkan Emak
  Aku minum di tempat Minun ya Mak?” Minun adalah penjaga warung langganan emak beli sarapan pagi, emak mengangguk dan aku segera melesat seperti peluru lepas. Hatiku tak sabar ingin mewarnai air putih pekat itu. Di warung, Minun sudah tersenyum menunjukkan gigi taringnya yang agak mencuat.
  Tambah kopi kan?” dia sudah tau apa yang kumau, aku cuma mengangguk. Setelah itu, dia habis menggodaku dan mengumpamakan bahwa aku adalah pemuda yang masih disusui Emakku, kurang ajar betul. Ku biarkan saja dia menghinaku, kunikmati kopi susu itu, kuseruput sepenuh jiwa.
  Kok lama Tir?” tegur Emak ketika aku kembali dari curi-curi minum susu dicampur kopi di warung Minun.
  Iya Mak.. diajak ngobrol sama Minun…” aku mengambil tempat disisi Emak.
  Pasti susunya dicampur kopi, iyakan?” Emak menudingku dengan wajah menggoda, aku terhenyak sadar bahwa seminggu ini aku sudah membohonginya.
  Dasar anak muda…” Emak mendesis, tapi tak marah.
  Aku muak Mak dua puluh tahun minum susu terus… enggak apa-apa ya? “ aku memelas, Emak mengangguk tersenyum ikhlas. Kadang aku berpikir, lucu juga sikapku yang tak mau berterus terang pada Emak perihal rasa muakku pada susu itu. Duhai.. kupeluk Emak, kucium Emak, Emak tercintaku.
             “ Cik… kawinkan saja si Petir itu! Sudah tua masih lagi melendot sama Emaknya..!!” Bou Siahaan yang menjual sayur di depan Emak berteriak membuat orang-orang di pasar melihat kami. Orang-orang di Pasar memanggil Emak dengan sebutan Ocik Laili. Mendengar itu si Fadly yang menjual ayam potong menimpali
             Iya Cik.. kasi bini sama dia Cik…” pasar tambah riuh
  Tenang kelen… udah ada calonnya, biar dia sarjana dulu, bekerja, baru dikasinya aku menantu.” jawaban Emak membuatku terhenyak, kutatap Emak penuh tanya. Siapa yang dimaksud Emak perempuan yang akan menjadi menantunya?
             Itu… si Zahwa..” Emak berbisik ditelingaku, aku melotot kaget. Betapa Emak menggantungkan cita-citanya di bulan, kasihan. Ingin aku menjelaskan semua pada Emak, tapi aku tak bisa. Kubiarkan saja Emak bermain dalam alam pikirannya sendiri.
            Kawan, Zahwa adalah wanita lain selain Emak. Wanita yang juga sangat menghormati Emak, wanita yang kusayangi dalam sisi yang berbeda.
Kawan, nanti aku akan menceritakan padamu tentang perempuan itu, Zahwa namanya.

* Semakin seru ya? Tunggu cerita berikutnya :)



Kamis, 22 Februari 2018

MENJEMPUT IMPIAN DI KEUKENHOF (3)



CAHAYA MATA  (3)

Anak yatim, itu gelarku. Semenjak lahir aku sudah tak mengenal Ayah, lidahku tak pernah terlatih untuk memanggil seorang lelaki dengan sebutan Ayah. Yang aku tahu dalam hidupku hanya Emak, sosok perempuan yang sama sekali tidak aku takuti. Emak hanya punya satu saudara laki-laki yang telah meninggal pula, Wak Junaedi namanya. Wak Junaedi meninggal kala usiaku lima tahun, masih dalam keadaan bujang karat yang otomatis tak punya keturunan. Tentang Ayahku, aku tak tahu banyak. Menurut cerita Emak, Ayah juga sebatang kara karena keturunan Ibu Bapaknya habis di bantai tentara sewaktu perang DI/TII di Aceh. Selanjutnya lagi, sisa keturunan yang lain habis di babat tentara saat DOM atau jikapun masih ada, mungkin sudah di hapus tsunami. Sebab itulah Emak tak bisa menggantungkan diri pada siapapun untuk membesarkan aku. Keringatnya adalah nafasku.
            Emak selalu mewanti-wanti, jika nanti aku dewasa dan punya keluarga. Anakku harus banyak, tak boleh kurang dari lima atau bila dapat aku harus punya anak dua belas. Aku melotot tercekik, perempuan mana nanti yang mau disuruh beranak dua belas? Bisa-bisa aku juga jadi bujang karat seperti Wak Junaedi yang mati sebelum merasakan pelukan perempuan. Tapi aku bisa maklum karena kepedihan yang dirasakan Emak yang tak punya saudara. Membesarkan aku seorang diri, tanpa ada tempat bercurah pendapat. Merasakan getirnya hidup dengan anak lelakinya yang nakal.
            Karena tak pernah mengenal sosok Ayah lah mungkin membuat hidupku agak timpang. Aku tak pernah takut pada Emak. Emak tak pernah marah atau berlaku kasar padaku, aku adalah permatanya. Jikapun aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulangi lagi kenakalan masa SMP ku, itu karena semata rasa sayang pada Emak. Sayang yang dalam dan luar biasa, tak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata. Ini sangat terbukti, jika Emak sakit, badan dan jiwaku lumpuh layu. Penyakit akutku kambuh, aku terkencing-kencing karena stres. Jika Emak tiada, kemana aku? Bagaimana hidupku? aku pun ingin mati saja. Padahal Emak Cuma batuk karena terpaan angin dini hari di Pasar.
            Selepas kejadian besar memalukan memegang dada teman perempuanku, Emak semakin hati-hati menghadapiku. Jika sore datang, emak menyuruhku segera mandi dan pergi mengaji ke rumah ustadz Syafri. Sejak SD aku memang sudah mengaji di balai depan rumah ustadz Syafri. Tapi Emak biasanya tak terlalu menuntutku, kulakukan saja sesukaku. Jika aku ingin mengaji aku akan pergi, jika tidak aku akan di rumah saja menonton TV, membaca komik atau belajar. Kemarin aku memperhatikan Emak serius bercakap-cakap dengan ustadz muda itu. Aku yakin Emak pasti membicarakan kenakalanku, mimik ustadz Syafri berubah-ubah. Sesekali dia tersenyum, tertawa dan terkadang manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya. Aku mencuri-curi pandang ke arah mereka, dadaku menggelegak karena malu dan takut.
            Ustadz Syafri berkulit putih dihiasi bibir merah jambu segar layaknya perempuan. Rambutnya hitam pekat, sehitam janggut tipis dan alisnya. Matanya dalam dan tajam, lidahnya fasih melantunkan ayat alqur’an, suaranya merdu dan punya tubuh tinggi atletis. Ustadz Syafri adalah alumni pasantren terkenal di Jawa dan masih kuliah di IAIN, orangnya tenang dan tak banyak bicara. Banyak Ibu-ibu tergila-gila padanya, menjodohkannya dengan anak gadis mereka. Ustadz Syafri bergeming, Ibu-ibu semakin penasaran. Setahuku, ada beberapa perempuan tak tahu malu mendekatinya dengan berlagak alim. Wulan dan Sari mendadak memakai jilbab dan rajin mengaji. Tapi tetap saja di rumah pakai celana pendek dan tertawa terkakak-kakak, bukankah ustadz Syafri bukan pemuda bodoh? Jiwa remajaku berpendapat, pasti ustadz Syafri mencari perempuan yang tepat untuk menjadi pasangan hidupnya kelak. Tentu saja bukan perempuan alim dadakan yang tak jelas. Berjilbab tapi masih menebar gosip, tertawa ngakak, duduk kangkang atau ngupil dan kentut di depan orang. Dia masih menunggu atau mengintip perempuan yang tepat.
            Itu terjadi ketika aku sudah duduk di SMA dan telah menjadi asistennya. Ustadz Syafri menikah dengan seorang perempuan anak pemilik pesantren terkenal di Langkat, anak seorang Kyai. Nama perempuan itu Syifa Annadwa, nama yang cantik. Postur fisiknya hampir sempurna dan sangat cocok berdampingan dengan ustadz Syafri. Yang membuat aku terkagum-kagum adalah tutur bahasanya yang santun, senyum yang selalu mengembang, mata yang sangat sejuk dan teduh. Mungkin itulah yang dinamakan dengan aura, kecantikan yang terpancar dari dalam itu luar biasa menghipnotis. Perempuan itu tepat menjadi pendamping hidup ustadz Syafri, baik semua nasabnya, kecantikannya, agama dan hartanya.
            “ Aku ingin punya istri seperti Umi Syifa....” kataku pada Emak, ketika disuatu malam purnama kami duduk di depan rumah memperhatikan anak-anak bermain di gang sepulang mereka mengaji sambil menikmati ubi rebus hangat.
            “ Ehhehe, setuju. Dimana nanti dapatmu? “
            “ Entahlah Mak, ada lagi enggak ya? Perempuan seperti Umi Syifa nanti untuk jadi istriku....” ucapanku mengambang, waktu itu aku duduk di kelas dua SMA. Emak terkekeh-kekeh.
            “ Masih jauh Tir.... Tuhan masih sempat mempersiapkannya untukmu “ Emak masuk kedalam rumah sambil terus membawa senyumnya. Bahasa Emak mendadak indah sekali, Tuhan masih sempat mempersiapkan untukku karena waktuku yang masih panjang. Ada-ada saja Emak, pikirku ikut tersenyum.
            “ Mak... perempuan cantik begitu, mau enggak ya? Beranak dua belas...? “ kususul Emak kedalam rumah. Tawa Emak semakin mengembang, sedikit membahana.
            “ Kawin dua atau tiga aja, biar anakmu banyak, hahaha “ Tawa Emak semakin keras, aku ikut tertawa. Beristri banyak? Ah... Emak, aku tak pernah memikirkannya.
            Awal kepulangan Ustadz Syafri dari pesantren dia mulai mengumpulkan anak-anak di sekitar rumah orangtuanya yang biasa kami panggil Wak Haji. Mungkin dia jengah melihat kami anak-anak bengal yang keliaran pada remang petang, sementara orangtua menjerit-jerit menyuruh kami pulang diabaikan. Awalnya hanya ada tujuh orang, termasuk aku salah satunya. Ustadz Syafri mengajarkan kami membaca Alqur’an, sholat dan ibadah lainnya. Yang menarik, setiap malam minggu Wak Haji menyiapkan kami kudapan. Ada jagung rebus, pisang rebus, singkong rebus atau roti kering. Maka, ramailah anak-anak datang mengaji sehingga terkadang Ustadz Syafri turun tangan. Ruangan keluarga yang digunakan untuk mengaji tak lagi muat, di buatlah balai-balai di depan rumah untuk menampung lima puluh anak.
            Kami libur mengaji hanya pada malam Jum’at karena Ustadz Syafri pergi wirid yasin. Malam minggu kami tetap mengaji di tambah lagi akan mendapatkan suguhan enak dari Wak Haji, maka ramailah balai itu dengan anak-anak bengal lapar yang seakan tak pernah di kasi makan oleh ibunya sendiri. Wak haji tersenyum menghadapi kami, mungkin dia suka melihat keramaian anak-anak atau karena suguhannya terasa bermakna, entahlah.
            Karena jumlah kami yang semakin banyak, kami belajar secara berkelompok dan masing-masing kelompok punya pembimbing sendiri. Siapa yang pintar, dia akan menjadi pembimbing kelompok. Aku belajar dari kelas enam SD dan mulai menjadi pembimbing kelompok ketika kelas tiga SMP, ketika suaraku sudah semakin berat dan mulai berjakun.  Aku benci pada suaraku sendiri yang terasa sulit sekali dikendalikan. Jika bicara, aku merasa itu bukanlah suaraku, seperti mendengar suara orang lain. Ustadz Syafri jarang bicara, kami sangat segan pada Ustadz muda ganteng itu. Suaranya berat tapi merdu, dia cukup berdehem untuk menenangkan kami, tak perlu merepet seperti Emak-Emak kami.
 Setelah pembicaraan dengan Emak selepas kejadian memalukan itu, Ustadz Syafri mulai banyak berkata-kata. Setiap selesai pengajian, beliau menyampaikan nasehat yang menyejukkan jiwa. Tak jarang sepulang mengaji kami akan menyalami orangtua kami sambil menangis, sujud dalam sholat kami menangis, sebagian kami menjadi anak yang baik. Gang Rukun mulai dihuni anak-anak yang baik, tak lagi berkeliaran pada remang petang atau pulang tengah malam karena asyik bermain. Jikapun ada yang masih bengal, itu adalah keturunan karena Ibu Bapaknya yang tak kalah bengal atau mungkin saja karena makan dari hasil uang tak jelas. Seperti si Ali, masih saja bercakap kotor dan menyumpah serapah pada ibunya. Sumpah serapah ibu dan anak itu bersahut-sahutan seperti irama musik rock, kabarnya Ayah si Ali adalah Polisi yang suka menilang tanpa sebab. Bisa saja uang yang dibelanjakan Ibunya adalah uang kutukan, di kutuk orang-orang yang marah diajak berdamai ditengah jalan, entahlah. Yang jelas, ibu-ibu dan anak gadisnya semakin gila pada Ustadz muda itu, kemudian patah hati ketika Ustadz idolanya menikah dengan seorang perempuan cantik solihah.
Semenjak aku tau karena usia kesadaranku, Emak tak pernah ada ketika aku bangun pagi. Yang membangunkanku adalah jam weker yang telah diatur sedemikian rupa, berdering memekakkan telinga. Setelah itu aku akan segera mandi, memakai seragam sekolah yang telah dipersiapkan Emak diatas sebuah meja kecil di sudut kamarku. Jika semua beres, aku akan mengunci pintu dan berjalan ke pasar yang berjarak limaratus meter dari rumah. Di sana aku akan disuguhi Emak sarapan nasi gurih dan segelas susu, aku makan sambil memperhatikan Emak yang berjualan sayur segar. Setelah itu, Emak akan memberiku uang saku, mengelus kepalaku dengan mata penuh harapan pada anak bujang semata wayang. Aku menyalami Emak, mencium tangan dan pipinya dengan takjim dan berangkat sekolah. Semua mata seakan memandangku, itulah yang kulakukan dari awal kesadaranku sampai aku kelas tiga SMP.
Aku selalu bertanya pada Emak, sejarah masa bayiku. Emak tak mau bercerita banyak, matanya seakan menyimpan sejarah pedih. Aku ingin tau, jika Emak berjualan di pasar aku di titip pada siapa? Ternyata cerita sejarah itu kudapat dari Ompung Purba, nenek centil berbibir merah karena sirih itu berjualan sayur di samping Emak. Mereka dekat ibarat saudara, tak pernah ada iri atau dengki. Padahal jenis yang di jual Emak dan Ompung Purba sama, mereka sangat sportif.
“ Dari bayi kau sudah dibawanya jualan...” Ompung Purba memulai sejarah itu, aku berdebar.
“ Habis melahirkan kau, waktu itu umurmu baru dua bulan. Emakmu pagi buta berjalan di pasar ini, tak punya tujuan. Ku tengok dia mondar-mandir tak punya arah, bukan mau belanja. Kau menangis dalam gendongannya, orang-orang mulai memperhatikan Emakmu “ Ompung Purba menarik nafas panjang, seakan mengumpulkan kekuatan untuk dapat menceritakan sejarah penting itu.
“ Mendengar suara bayi menangis, aku tak bisa menahan diri. Ku tanya keperluan Emakmu, dia malah menangis di hadapanku....” Ompung Purba membuang ludahnya yang merah sebelum melanjutkan cerita.
“ Dia bingung mau kerja apa untuk membiayai hidup kalian, dia janda dan tak punya apa-apa, juga tak punya saudara. Awalnya Emakmu mau mencari sayur yang tak dipakai atau sisa-sisa jualan untuk dibawa pulang dan di rebus. Tapi dia bingung untuk memulai dari mana, jadilah Emakmu berjalan tak tahu arah “
“ Akhirnya Ompung tawari Emakmu jualan sayur di sini, kebetulan di samping ompung ada tempat kosong. Awalnya, ompung yang modali Emakmu sampai dia bisa berdiri sendiri...” Ompung Purba menghapus matanya yang merah, mungkin dia teringat Emak dan bayinya waktu itu.
“ Waktu Emak mulai jualan, aku dititipkan dimana Pung?” tanyaku sedih bercampur penasaran.
“ Kau tetap dibawanya setiap subuh, kau tetap digendongnya supaya tetap hangat dan kau terus menyusu di balik kain gendonganmu yang rapat. Tak pernah kau ditinggalkannya sebentarpun. Kurasa... berak pun kau dibawanya!” Ompung Purba tersenyum, mencoba membuat lelucon. Aku sama sekali tak tersenyum, melainkan merasakan suatu kepedihan yang menyayat. Aku memang tak pernah duduk di bangku TK, karena aku masih di bawa Emak berjualan ke pasar. SD aku baru mulai melakukan rutinitas pagi seperti yang kuceritakan tadi. Keadaan agaknya membuatku mandiri, atau terpaksa mandiri.
Cinta dan sayangku pada Emak bertambah-tambah, betapa besar pengorbanan perempuan ini untukku, untuk masa depanku. Kenakalan kelas dua SMP ku kubur dalam-dalam, ku bakar tanpa sisa, kubuang semua. Aku tak boleh menambah airmata Emak jatuh, aku harus menjadi cahaya matanya yang dapat membahagiakannya. Selesai SMP ku yang bersejarah itu, aku mulai membantu Emak jualan di Pasar. Emak menolak karena takut aku akan terkantuk-kantuk di sekolah. Aku tak peduli, aku harus mampu meringankan bebannya. Sahabat percaya? Aku dapat bersekolah di  SMA Negeri favorit dan prestasi belajarku yang mengagumkan. Siswa kaya diantar orangtuanya naik mobil dan mengikuti les di tempat elite takluk kubuat! Itu semata karena semangat yang sangat dahsyat, semangat untuk membahagiakan Emak. Perempuan yang ingin kubuat matanya selalu bercahaya karena bahagia.