Rabu, 18 April 2018

MENJEMPUT IMPIAN DI KEUKENHOF (10)


DAUN UBI TUMBUK DAN PLIEK U (10)
            Hari cerah, masih pukul sepuluh pagi. Tapi aku sudah dua jam duduk di depan ruang dosen, menunggu Pak Ritonga dosen pembimbingku. Novel  best seller yang baru kubeli berhalaman seratus empat puluh dua  sudah habis kulahap. Tadi aku sempat bertemu Pak Ritonga sebentar, tapi kemudian beliau pergi dari ruangannya karena ada pertemuan dengan Dekan. Aku masih sempat mengejar langkahnya yang panjang, langkah yang menunjukkan ciri-ciri orang sibuk, kata ustadz Syafri, guru mengajiku dulu.
            “Gimana Pak? saya mau setor bab empat dan lima Pak”
            “Nanti saja, saya ada pertemuan dengan Dekan”
            “Jam berapa selesai Pak? Biar saya tunggu”
            “Jam sepuluh ya?”
            “Iya pak, saya tunggu disini”
            “Oke.”
            Dan sekarang jam sudah menunjukkan  angka sepuluh lewat lima belas menit, tak ada tanda-tanda Pak Ritonga akan segera ke ruangannya. Aku mulai gelisah dan kesal dalam hati dengan situasi ini. Aku ingin pulang dan tidur, mataku terasa amat berat, cahaya mataku tinggal lima watt, redup. Tadi malam, aku hanya istirahat dua jam karena mengejar setoran skripsiku yang tinggal dua bab. Aku melangkah meninggalkan ruang dosen tanpa konfirmasi apa-apa, kepalaku berdengung-dengung. Sebenarnya aku berniat melangkah ke perpustakaan, mencari litelature tulisan yang berkenaan dengan skripsi  yang sedang aku kerjakan. Tapi niat itu urung di buat tubuh yang semakin melemah, aku ingin tidur dan kembali ke kampus pukul tiga sore. Perpustakaan tutup pukul lima sore, agaknya dua jam cukup untuk mencari catatan kaki. Yang penting, aku sudah tahu judul buku yang akan aku cari. Jika cepat selesai, aku segera mendaftar sidang dan segera wisuda.
            “ Tir... tunggu!!” aku menoleh kebelakang, Zeiny sibuk menyelaraskan langkahnya dengan langkahku.
            “Kenapa?”
            “Mau kemana?”
            “Pulang”
            “Kok cepat?”
            “Mau ngapain lagi? Aku ngantuk.”
            ”Aku ikut ya?” Aku menghentikan langkah, menatap sahabat baikku ini. Aku ingin tidur, bagaimana jika dia ikut? Aku pasti terganggu, aku pasti harus mendengar celotehannya yang seperti tiupan angin tak pernah berhenti, aku masih berfikir.
            “Ikut ya?” bujuknya lagi
            “Kenapa tak pulang ke kost mu aja Zein? Aku ngantuk kali, mau tidur, jam tiga nanti aku harus balik ke sini.”
            “Aku tak akan mengganggumu, kau tidur saja. Aku rindu Emak Tir. Trus nanti kita balek ke sini sama-sama. Kan lumayan, kau bisa ku bonceng, lebih hemat waktu dan uang, gimana?”
            “Ah! Nanti kau minta uang bensin, sama saja kan?”
            “Hei! mana mungkin aku minta uang bensin sama anak yatim, berdosalah aku, hehehe” Zeiny nyengir kambing, menunjukkan ginsul giginya.
Sebenarnya, Zeiny menawarkan solusi yang menarik, dia bawa sepeda motor dan itu lebih efektif. Jika dikatakannya dia rindu Emak itu memang beralasan, sahabatku ini memang sangat dekat dengan Emak. Dia sering ke rumah dan kami sering bersenda gurau dengan Emak, hanya saja kali ini aku sangat mengantuk, aku tak ingin bersenda gurau, di kepalaku hanya ada bayangan bantal dan kasur, ngantuk sekali. Semoga Zeiny tak menggangguku, sesuai dengan janjinya.
“Oke.. ingat syaratnya, kau tak boleh ganggu tidurku” sekali lagi kutekankan kalimat itu sambil mengacungkan jari telunjuk.
“Siap, Halilintar Perkasa Alam!” Zeiny meletakkan telapak tangannya di depan jidatnya yang lebar. Halilintar Perkasa Alam itu adalah namaku yang diciptakannya sendiri, di ucapkan ketika penting-penting saja. Zeiny bilang, sayang kami tak pernah jumpa ketika ibu kami mengandung. Jika kami bersahabat dari orok, dia akan membisikkan nama keren itu ke telinga Emakku. Zeyni suka sekali bercanda, hanya kadang dia jadi sinting dengan candanya sendiri.
            Zeiny mengambil motornya yang di parkir, motor matic. Aku senyum-senyum melihatnya, mengendarai motor dengan kakinya yang panjang. Dia sebenarnya lebih pantas mengendarai motor yang tinggi. Tapi katanya, uangnya hanya cukup untuk membeli motor matic, jadilah kakinya terlipat panjang jika mengendarainya. Motor keluar parkiran, menembus gerbang kampus menuju ke arah barat. Motor melaju membelah jalan Dokter Mansyur yang sedikit lengang, berbelok ke Setia Budi yang macet terus melesat ke jalan Binjai. Di boncengan, ku peluk pinggang sahabatku sambil menahan kantuk yang semakin    berat, aku terangguk-angguk di buai angin. Sejurus kemudian aku tak sadar, kepalaku jatuh di punggung sahabatku. Aku tertidur.
            Aku tersadar karena mendengar suara Zeiny merepet-repet. Kami sudah sampai di rumah, Zeiny marah karena kemeja kesayangannya kena air liurku yang tak terkontrol ketika ketiduran. Aku prihatin, tapi mau macam mana lagi? Aku kan tidak sadar. Emak muncul di depan pintu, tersenyum-senyum melihat Zeiny yang berang.
            “Kenapa Zein?”
            “Nih! Petir Mak, masak tidur di badanku sambil ngences lagi” Zeiny sibuk membenahi belakang kemeja petak-petak warna abu-abu yang konon baju kesayangannya. Menurut cerita Zeiny, itu hadiah dari Nana mantan pacarnya yang ternyata gemar selingkuh.
            “Udah... nanti kamu ganti pake baju Petir. Biar bajumu Emak cuci” Emak beranjak masuk, kami mengikuti dari belakang.
            “Tapi baju Petir samaku kedodoran Mak..”
            “Kalo mau pas, pergi sana beli yang baru” sambutku sedikit jengkel, Zeiny diam. Tentu saja bajuku sedikit longgar jika dipakainya. Zeiny kurus tinggi, bidang badannya sempit. Sementara aku tinggi besar dengan bidang badan lebar, pastilah bajuku kedodoran jika dipakainya.
            “Masak apa Mak?” aku melongok ke dapur.
            “Daun ubi tumbuk” Emak ke dapur, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Aku senang bukan kepalang, itu adalah sayur kegemaranku. Kuperhatikan lumpang kayu yang terletak di samping kompor, Emak belum selesai menumbuk daun ubi alias daun singkong.
            “Bantu Emak numbuk daun ubi Zein... sesuai perjanjian, aku ingin tidur” ku lirik Zeiny yang sudah melepas kemejanya yang ternoda, dia mencibir kesal. Hehehe siapa suruh ikut, rasain! Kata hatiku. Aku melangkah menuju kamar, merebahkan diri yang lemah diserang kantuk. Di dapur, terdengar suara lumpang seperti alunan musik, diselingi suara Emak dan Zeiny yang sedang bersenda gurau. Suara itu semakin lama semakin menjauh, samar dan hilang. Aku lelap.
***
            Daun ubi tumbuk adalah jenis masakan khas Tapanuli Selatan, namun sudah membumi di kota Medan. Rasanya bukan main, mencium aromanya saja aku sudah menahan air liur. Emak sering membuatnya untuk menu makan kami, daun singkong, rimbang, kincong, cabe merah, bawang merah, jahe di tumbuk jadi satu menggunakan lumpang kayu. Setelah daun ubi ditumbuk agak kasar, selanjutnya di masak dengan santan kelapa dengan rencah teri atau ikan asin. Daun ubi tumbuk biasanya di lengkapi dengan ikan asin goreng dan sambal terasi, disajikan dengan nasi hangat. Biasanya, aku makan seperti orang yang gelap mata, satu kuali bisa tandas!
            Siang ini, gulai itu ada di hadapanku. Aku makan dengan lahap, Zeiny makan dengan mie instant saja. Dia tak mau makan daun ubi tumbuk, padahal aku sudah capek merayunya mengatakan bahwa sayur ini sangat enak dan menyuruhnya mencoba. Tapi Zeiny bergeming, tetap saja ia menolak.
            “Coba Zein, enak...”
            “Enggak!”
            “Coba kenapa? Halal kok, enggak pake rencah babi, hehehe”
            “Gila kau!” Zeiny melotot menanggapi candaku, mungkin pikirnya canda itu kelewatan dan kebablasan. Aku heran saja, apa anehnya daun ubi tumbuk? mengapa Zeiny tak bisa menerima daun ubi tumbuk? Bayangan suram menjijikkan itu tak pernah lepas dari kepalanya, sampai sekarang.
            Jawabannya keanehan Zeiny sebenarnya sudah kudapat ketika ia pernah mengajakku ke kampungnya. Keluarga besar Zeiny tinggal di sebuah kampung di Bireun, Aceh Utara. Kampung itu di tepi laut, Ujong Blang namanya. Berjarak empat kilometer dari pusat kota. Zeiny sering mengatai aku anak yatim, padahal gelarnya lebih lengkap dariku, Zeiny anak yatim piatu. Dia tinggal bersama makciknya yang dia panggil Bunda, adik ibunya yang tak jua menikah. Orangtua Zeiny meninggal karena kecelakaan, sepeda motor mereka di tubruk truk dan keduanya meninggal di tempat. Menurut Zeiny, bundanya yang belum menikah karena  kena guna-guna sehingga tak pernah bisa menikah. Jika ada orang yang melamarnya, Bunda akan lari seperti orang gila. Bunda Zeiny bukanlah Bunda yang biasa, ia seorang guru senior di sebuah SMA Negeri di kota Bireun. Karakter Bunda itu sangat kuat dalam mendidik, wajar saja Zeiny bisa seperti sekarang karena pengaruh pendidikan dari bundanya. Walau kost dan seorang laki-laki, Zeiny sangat rapi dan disiplin. Tak pernah kulihat kamar kostnya kotor atau berantakan, beda dengan kamarku. Zeiny sangat rapi, bersih dan soleh tentunya.
            Zeiny memiliki seorang adik perempuan yang manis dan duduk di SMA. Dek Yah namanya, gadis yang malu-malu jika di sapa dan selalu tunduk kepalanya. Dek Yah tiap sore mengaji di dayah dekat rumah, setiap selepas sholat Isya melantunkan ayat qur’an dengan suaranya yang sayub-sayub terdengar dari bilik kayu kamarnya. Aku sangat menyukai keluarga ini, damai sekali. Bunda Zeiny tak pernah merepet, jika tak suka cukup mata saja yang berbicara. Zeiny dan Dek Yah sudah tahu arti dari bahasa mata itu. Aku terkagum-kagum kepada Bunda yang sudah tiga kali menunaikan ibadah haji.
            Rumah yang di tempati Zeiny di kampung sangat sederhana, rumah papan yang sejuk. Di halaman yang luas tumbuh beberapa jenis pohon mangga, bunga-bunga, pohon sukun dan belimbing. Di sebelah utara halaman, di sudut belakang, ada kandang ayam, kandang bebek dan kandang lembu. Ada ruang halaman beberapa meter di tanami sawi dan bayam. Betapa bermakna tiap-tiap jengkal tanah mereka, sekali lagi, aku kagum. Takjub pada Dek Yah yang menyirami tanaman sawi dan bayam dengan mengenakan jilbab dan sarung. Takjub kepada Bunda yang menyuruh ternak-ternaknya masuk kandang ketika gelap datang. Bukan saja Zeiny dan Dek Yah yang patuh padanya, tapi lembu, ayam, bebek juga sama. Manut-manut pada Bunda yang hebat ini.
            Selama berada di kampung Zeiny, setiap pagi kami pergi ke laut. Duduk di pinggir laut sambil menikmati kopi panas dan pulut panggang hangat. Jika ada nelayan naik ke darat, kami minta ikan, bukan beli. Mereka senang saja memberinya beberapa ekor pada Zeiny yang tampak bak selebritis. Kami memanggang ikan di pinggir laut, membuat bara dari ranting-ranting kering yang ada. Bukan main nikmatnya, aku cinta tanah ini. Bukankah tanah ini juga tanah Ayahku? Tempat nenek moyangku? wajar jika aku jatuh cinta pada tanah ini, cinta sekali.
            “Sudah pernah makan kuah plik, Petir?” tanya bunda suatu pagi, hari ketiga aku berada di kampung Zeiny.
            “Belum, Bunda. Kuah plik itu apa Bunda?”
            “Itu sayuran khas orang Aceh, kalau Petir orang Aceh, Petir harus tahu kuah itu” Bunda menjelaskan dengan bahasa Indonesia yang baik, dia memang seorang guru yang profesional. Zeiny dan Dek Yah saja masih kental logat daerahnya, tapi Bunda tidak.
            Maka, siang itu terhidanglah kuah plik di meja makan, di lengkapi dengan ikan asin goreng. Aroma aneh itu meruap-ruap memenuhi rongga nafasku, kuamati gulai sayuran yang aneh berwarna moka. Keningku berkerut, Zeiny dan Bunda senyum-senyum.
            “Cobalah Tir, kau pasti ketagihan” kata Zeiny percaya diri. Aku tak menjawab dan mengambilnya sesendok. Ku cicipi dulu sedikit, agak aneh dan asing di lidahku. Tapi ketika suapan ketiga, aku mulai suka. Mulailah aku makan seperti orang gila, sama gilanya ketika aku makan daun ubi tumbuk. Padahal, jika kuamati segala macam jenis sayuran bersatu di situ, sayuran Bhineka Tunggal Ika. Genjer, kangkung, daun singkong, melinjo, daun melinjo, jipang, kacang panjang dan entah apa lagi. Kenapa bisa enak begini?
            “Zein, Bunda masak pake biji ganja ya?” aku berbisik ketelinga Zein, penasaran.
            “Gila!! Kau pikir semua orang Aceh pake ganja? dasar anak pajak!” Zein menepuk jidatku. Dia menyebutku anak pajak, karena aku membantu Emak jualan di pasar, pajak itu maksudnya pasar.
            “Kok enak?”
            “Ya... memang enak lah..” Zeiny membusungkan dada.
            “Aku suka sayur plik, kok kau enggak suka daun ubi tumbuk?” aku merasa Zeiny tidak adil.
            “Mau tau kenapa?”Zeiny membuatku penasaran, aku cepat-cepat mengangguk.
            “Karena daun ubi tumbuk seperti taik lembu...”Zeiny berbisik, matanya melotot jahat. Aku terlonjak mendengar jawabannya, benarkah? Maka esok paginya, aku mengamati kotoran sapi yang ada di kandang belakang tanpa setahu Zeiny. Aku tersenyum-senyum dengan hasil pengamatanku. Kotoran lembu tentu beda dengan daun ubi tumbuk, karena pencernaan sapi lebih canggih menggiling dari pada lumpang kayu. Maka dari itu, kotoran sapi ledih halus dan lumat di bandingkan daun ubi tumbuk. Aku tersenyum dan berjingkat kembali ke rumah. Zeiny masih bergulung di balik sarungnya, persis Trenggiling.

           


Kamis, 12 April 2018

MENJEMPUT IMPIAN DI KEUKENHOOF (9)


EMAK SAKIT (9)
            Hujan masih terus mengguyur kotaku, seakan tak puas membasuh bumi yang penuh najis. Berangkat ke pasar dini hari tadi, gerimis sangat rapat. Aku sudah merayu Emak agar tak berjualan, rayuan yang selalu aku lancarkan jika hujan menderu. Tapi Emak selalu bergeming, tetap melangkah yakin dengan jaket dan mantelnya. Aku sebenarnya enggan bergerak dari tempat tidur, tapi tidak dengan Emak. Hujan, petir, badai sekalipun tak akan menyurutkan langkahnya menuju pasar, menunggu pembeli di bawah payung kertas terpal  bertiang bambu. Sayur yang dijual Emak juga masih dalam jumlah besar, aku tak begitu yakin karena pembeli pasti malas ke pasar karena hujan. Alasan Emak, kasihan pada penggalas sayur yang sudah nangkring menunggu penjual yang akan membeli hasil galasannya itu. Ada daun singkong, kangkung akar, bayam, genjer dan lainnya. Jika tomat dan sejenis itu kami biasa mengambilnya dari pedagang yang turun dari gunung, langganan bertahun-tahun.
            Jam enam pagi tubuh Emak menggigil, aku panik bercampur bingung. Ompung Purba menyembur sirihnya ke ubun-ubun Emak, rambut Emak memerah seakan kepalanya berdarah. Kata Ompung Purba, mungkin Emak kena sambet jin pasar. Tak lama, Emak bolak-balik ke kamar mandi umum yang ada di pasar. Tak lama kemudian Emak muntah-muntah. Penyakit akutku muncul, kantung kemihku penuh seakan mau muncrat keluar. Syukurlah, agaknya otot perutku semakin kuat, dalam kepanikan aku masih dapat menahannya. Fadly  yang menjual ayam potong cepat mengambil inisiatif memanggil becak mesin yang mangkal di pasar menunggu penumpang. Dagangan Emak kutitipkan pada Ompung Purba, becak meluncur ke rumah sakit terdekat. Emak masih muntah-muntah, tak kupikirkan lagi bajuku yang belepotan muntahnya yang kekuningan karena Emak belum makan. Kupeluk Emak kuat-kuat sambil terus berdo’a dalam hati agar Tuhan tak mengambilnya.
            Dokter jaga sudah menangani  Emak, perempuan yang kucintai sepenuh jiwa ini terserang munmen. Emak terbaring dengan wajah pucat, selang infus terpasang di lengan kirinya. Tak ada pilihan lain, Emak harus dirawat di Rumah Sakit. Dokter khawatir, emak akan mengalami dehidrasi jika tidak dibantu cairan infus. Tak pernah sekalipun Emak dan aku harus dirawat di Rumah Sakit karena suatu penyakit. Tapi situasi memang tak bisa diduga. 
  Aku tak mau memikirkan biaya yang memusingkan kepala, uang yang tak seberapa hasil berjualan tiga jam dipasar habis dalam hitungan menit karena aku harus menebus obat. Tapi syukurlah, setelah Emak di suntik muntah dan buang airnya berhenti. Biarlah semua berjalan dulu, yang penting Emak sehat. Emak di rawat di kamar berlorong panjang, satu kamar ada enam orang perempuan. Rumah Sakit bukanlah tempat yang nyaman, tapi aku harus selalu berada di samping Emak. Kini aku harus mengurusnya, seperti ketika aku kanak-kanak yang selalu bergantung padanya.
            “ Emak kok disini Tir?” Emak masih belum memahami situasi, mungkin tadi dia dalam keadaan setengah sadar.
            “ Emak kena munmen, harus di infus takut kekurangan cairan “ ku jelaskan pada Emak dengan rinci, Emak menarik nafas panjang.
            “ Kenapa Emak bisa munmen ya? “ Emak seolah bertanya pada dirinya sendiri, keningnya berkerut mencari sebab, tapi tak ditemukannya.
            “ Mungkin Emak masuk angin, dua hari ini kan hujan terus. Kita ke pasar perut kosong, udah... enggak usah Emak pikirin. Sarapan ya? “ ku sodorkan sendok yang berisi nasi bubur hangat ke mulut Emak. Karena kami masuk Rumah Sakit pagi sekali, Emak sempat mendapat jatah sarapan. Masuk angin adalah jawaban yang sangat awam tentang penyebab penyakit Emak ini. Mungkin saja secara medis di lambung Emak ada bakteri yang masuk melalui makanan. Ditambah kondisi imunitas Emak yang melemah karena pengaruh cuaca, siapa tahu?
            “ Nasinya bau obat Tir...” Emak mulai mengeluh.
            “ Namanya Rumah Sakit Mak, kalo bau kue ya di toko roti “ ku coba bercanda, Emak tersenyum. Senyum yang dapat meredakan kecemasanku.
            “ Biaya gimana ya? Kapan kita bisa pulang? “
            “ Emak tenang aja, semuanya aman. Emak sehat, kita langsung pulang”
            Emak adalah perempuan hebat dan kuat. Dua hari kami di Rumah Sakit, Emak sudah di perbolehkan pulang. Emak tak pernah mengeluh dan merepotkan. Jika aku tertidur dan ia ingin ke kamar mandi, Emak bangkit saja sambil mengangkat tabung infusnya. Hari pertama di rumah sakit, aku tertidur dengan menelungkupkan wajah di samping Emak yang terbaring. Emak ingin ke kamar mandi tapi tak membangunkan aku yang sangat kelelahan. Emak belum paham tentang tabung infus yang harus di angkat tinggi agar cairan dapat mengalir lancar.             Akhirnya hal yang mengkhawatirkan terjadi. Emak menenteng saja tabung infusnya sehingga darah segar naik memenuhi selang infus tadi. Perempuan gendut yang menjengkelkanku di sebelah tempat tidur Emak menjerit-jerit seakan melihat hantu, aku terbangun dan panik. Aku terbirit-birit memanggil perawat jaga, perawat marah-marah pada Emak. Aku juga kebagian repetan, tak peduli pada Emakku. Ingin rasanya aku meramas mulut perempuan judas itu, tapi aku diam saja. Bukankah aku juga kurang awas menjaga Emak? ah sudahlah.
            “Kok anaknya enggak di bangunkan Bu ?” suara perawat itu terdengar jengkel walau sudah nampak melunak.
            “Dia ketiduran...” jawab Emak lirih, gemetar melihat darahnya sendiri
            “Ibu kalo mau ke kamar mandi infusnya di angkat tinggi ya? Jangan ditinting aja kayak bawa dompet. Kalo darah Ibu naik kan jadi repot, nambah kerjaan aja” perawat itu masih mencoba menyuntik selang infus agar darah segar itu kembali masuk ke pembuluh Emak. Emak pasrah, aku diam saja.
Kini, wajah Emak berseri-seri, tak pucat lagi. Biaya perobatan aku tak mengeluarkan sepeserpun. Malam pertama Emak dirawat, teman-temannya sesama pedagang di pasar datang berombongan, ada sepuluh orang perwakilan. Kamar penuh dengan teman-teman Emak, bayangkan saja pedagang pasar berkumpul. Suara mereka riuh rendah menghibur dan menggoda Emak, tak peduli pada pasien sebelah tempat tidur Emak yang cemberut, mendehem dan terbatuk-batuk. Perawat tak ada yang berani menegur, karena postur dan tampang mereka sangar. Fadly membantai ayam sehari ratusan ekor, Nursal membantai sapi paling tidak dua ekor. Itu sangat berpengaruh pada karakter mereka yang berwajah agak seram bagi orang yang belum mengenal dengan dekat, padahal mereka adalah orang baik yang sangat sayang keluarga.
Aku pernah melihat kepala Fadly dipukul anaknya Beni dengan kayu, dia tak marah atau mengeluh, tapi merangkul anak itu sambil menggendongnya. Belum lagi Bang Togar dan Bou Siahaan yang suaranya membahana, atau Ompung Purba yang mulutnya merah berdarah-darah layak drakula. Jadilah malam itu Rumah Sakit seperti Pasar, penuh suara seperti orang yang menjajakan makanan. Riuh rendah bersahut-sahutan, berlomba-lomba berkata saling mendahului. Emak nampak senang mendengar suara teman-temannya, aku juga senang memperhatikan perempuan hitam gemuk disebelah tempat tidur Emak yang merepet tertahan. Sejak pertama masuk pagi tadi, perempuan ini terus mengeluh pada suaminya yang malang. Suaminya bingung harus menuruti semua permintaan istrinya yang semua salah. Di elus, salah, di pijit salah, entah sakit apa perempuan cerewet ini, batinku. Aku berdo’a dalam hati semoga Tuhanku yang penyayang tak memberi aku jodoh seperti perempuan ini.
            Sebelum beranjak pulang, Ompung menyerahkan plastik kresek hitam berisi uang.
            “ Hasil jualan sayurmu tadi, semua habis. Uangnya Ompung taruh di situ semua “ Ompung menepuk punggungku, aku mengucapkan terimakasih pada perempuan tua yang sangat penolong ini. Berikutnya, Fadly menyerahkan plastik kresek hitam yang lebih besar dan berat.
            “ Sumbangan dari kawan-kawan di pasar, mudah-mudahan cukup untuk biaya berobat Cik Laili “ Fadly melakukan hal yang sama, menepuk-nepuk punggungku. Aku mengangguk mengucapkan terimakasih pada sahabat-sahabat Emakku ini. Sahabat senasib, sama-sama mengais rezeki di pagi buta. Ternyata keadaan dan situasi yang selalu dialami bersamalah yang membuat orang semakin kompak. Aku begitu terharu menyaksikan kebersamaan ini, Emak pun sama, matanya memerah.
            Isi plastik itu berisi uang-uang lusuh hasil dagang di pasar, di ikat-ikat dengan jumlah yang sama. Setelah menghitung semua, aku dan Emak heran bercampur takjub. Bagaimana mereka bisa mengumpulkan uang yang jumlahnya hampir empat juta? Dengan jumlah itu, tentu saja kami bisa keluar rumah sakit dengan melenggang. Aku sudah mengancang-ancang biaya Rumah Sakit berdasarkan data yang aku dapat. Biaya kamar satu malam seratus lima puluh ribu karena itu adalah sal, obat Emak yang ku tebus di apotik tidaklah terlalu mahal karena obat generik. Jangan heran, Emak keluar Rumah Sakit,  tabungan kami bukannya berkurang, tapi semakin bertambah.
            “Bisa kaya kita Mak, kalo Emak sering sakit” kataku sambil tertawa lebar ketika kami pulang dengan menumpang beca motor.
            Hussyy....Petir suka lihat Emak sakit?” Emak membelalakkan matanya, pipinya sudah nampak memerah segar.
            “Ya enggaklah.... aku Cuma bercanda Mak, kawan-kawan di Pasar itu hebat. Bisa ngumpulin uang segitu, padahal mereka juga kan kesulitan”
            “Tir....orang susah lebih punya empati tinggi daripada orang kaya. Orang susah bisa merasakan kesusahan orang lain karena dia juga mengalaminya. Orang kaya tak pernah tau kesusahan karena ia juga tak pernah mengalaminya. Sederhana saja....”
Aku terpaku mendengar penjelasan Emak, darimana Emak mendapat bahasa secerdas itu?
            “Dari mana Emak dapat bahasa keren begitu? Pake empati segala...”
            “Emak membaca bukumu, hehehe”
            “Jadi, Emak suka membongkar kamarku ya?”
            “Ya...”
            “Kenapa?”
            “Emak takut kau macam-macam”
            “Misalnya?”
            “Ganja, narkoba...”
            “Mak.... aku merokok saja tidak, bagaimana bisa?”
“Tir...dunia sudah gila. Emak percaya padamu sepenuhnya, tapi tak pernah bisa percaya pada apa yang ada di sekitar kita. Paham?” Aku semakin memahami, aku adalah harapan Emak satu-satunya yang masih harus di jaganya hingga aku dewasa. Aku tak pernah di biarkannya sendirian, walau Emak dalam keadaan sakit sekalipun!
Beca motor sudah berhenti di depan rumah. Kupapah Emak turun, beberapa tetangga menyambut kami dan sudah menyiapkan makan siang. Aku bersyukur di kelilingi orang-orang baik yang peduli. Orang kampung di tengah kota, dengan kehidupan rata-rata yang kata Emak lebih bisa memahami kesusahan orang disekitanya. Empati kata Emak.
                                                                                                                            


           

Kamis, 05 April 2018

MENJEMPUT IMPIAN DI KEUKENHOF (8)


GADIS YANG MENJAUH (8)
            Angin berdesing melewati telinga, awan pekat menggumpal seakan mau tumpah. Aku berjalan pulang di sisi Emak, setelah merapikan sisa dagangan. Tak ada rencana untuk hari ini, aku benar-benar galau menata hati dan pikiran. Setelah apa yang dikatakan Zahwa malam itu. Bahkan, aku belum menyampaikan sesuatupun pada Emak perihal itu. Aku tak mampu berpikir, ungkapan tak masuk akal yang dilingkupi emosi sesaat. Bukankah Zahwa sedang limbung? Dia butuh tempat bersandar lalu ingin di nikahi? Tapi, mengapa harus aku? Lelaki malang yang miskin dan belum jelas masa depannya? Dunia sudah berubah, jika biasanya lelaki mengajak menikah, kini malah perempuan yang berinisiatif. Ku usap-usap wajah yang tak basah, galau.
            “Kenapa Tir? Sakit?” Emak tampak mencemaskanku, mungkin suasana hati merubah warna wajahku.
            “Enggak, Mak. Enggak apa-apa”
            “Mukamu pucat, besok kau enggak usah ikut Emak jualan ya?”
            “Aku enggak apa-apa Mak, Emak enggak usah cemas ya? Aku sehat kok, sehat walafiat tanpa kurang suatu apapun” Aku coba bercanda walau tak lucu, Emak berjinjit meraba jidatku, sejenak kecemasan itu hilang dari raut wajahnya. Memang, sesungguhnya aku tak sakit.
            Menikahi Zahwa? Itu hal paling gila! Aku tak sanggup! Walau jika ditanya dalam hati kecilku, aku menyukai perempuan itu. Lebih tepat lagi, akhir-akhir ini aku banyak memikirkannya, dia banyak mengisi ruang hati dan pikiranku. Ucapan Emak, Zeiny dan hatiku pun tak bisa berdusta, jika Zahwa menaruh hati padaku. Dan akupun akhirnya tak lagi dapat mengingkari kenyataan bahwa aku juga menyukainya, mencintainya. Tapi aku tak pernah berpikir untuk menjadi pacarnya atau malah menikahinya.
            Aku limbung, kawan. Apa yang aku andalkan di hadapan orangtuanya? Aku bukanlah orang yang membanggakan dan jauh dibawah kondisi normal. Itu hanya keinginan Zahwa saja, bukan atas persetujuan keluarga besarnya. Di depan keluarganya aku pasti tak berani mengangkat muka.  Berhadapan dengan bapaknya yang professor dan Ibunya yang seorang dokter terkenal? Belum sampai aku di pintu rumahnya aku sudah di tendang keluar! Mana harga diriku sebagai seorang lelaki? Aku tak ingin Emak menderita malu seumur hidup, atau aku di bawah kaki  mereka seumur hidup.
Jika kawan seperti aku, lelaki sehat dan normal lahir batin. Pasti berpikir untuk menerima ajakan menikah itu. Aku sangat ingin perempuan itu menemani aku dalam mengarungi hidup, tapi tunggu dulu, hingga aku bisa mengangkat muka di hadapan orangtuanya. Bukan masuk rumah mereka dengan kepala tertunduk, tak berdaya atau mungkin aku di tuding-tuding, tapi aku ingin masuk dengan kepala tegak! Apa yang harus kukatakan pada Zahwa?, duhai cinta… kini aku tak berdaya.
“Bagaimana menurut Emak jika aku menikah dengan Zahwa?” tanyaku malam itu, selepas sholat Isa berjama’ah dengan Emak. Emak tersenyum, matanya berbinar.
“Ya… Emak suka Zahwa. Dia Nampak sangat mencintaimu dan Emak juga tau kau menyukainya”
“Dia meminta aku menikahinya Mak.”
“Haaa? Kau apakan dia? Petir..!” Emak kaget luar biasa, nafasnya bergemuruh, diremasnya sajadah yang masih di dudukinya. Aku cepat-cepat menenangkan Emak.
“Enggak ada apa-apa Mak, aku tak pernah menyentuhnya, percayalah Mak”
“Jadi? Kenapa pula dia minta kau nikahi ha?” Emak masih tak percaya, nafasnya naik turun dengan cepat, aku menjadi takut.
Malam itu, aku menceritakan semua pada Emak, perempuan pertama dalam hidupku. Nafas Emak perlahan normal dan dia nampak tenang karena sudah bisa memahami ceritaku, hal yang di khawatirkannya ternyata tidak benar.
“Gimana menurut pendapat Emak?” aku ingin tahu jalan pikiran Emak, dia sangat menyayangi Zahwa.
“Emak rasa, suruh Zahwa tunggu dulu sampai kau  siap. Tak ada harga dirimu sekarang Tir, kau selesaikan kuliah dulu, kerja, baru kau menghadap orangtuanya.”
“Sepertinya Zahwa marah pada papanya dan ingin segera ku bawa pergi”
“Perkawinan itu menyatukan seluruh keluarga, bukan hanya kau dan Zahwa saja. Cukup yang kita rasakan sekarang Nak…. Emak tak punya siapa-siapa. Saudara Ayahmu saja Emak tak punya karena habis mati, begitu juga abang Emak yang Cuma satu. Emak ingin kita besar, ramai….”
“Zahwa juga anak satu-satunya Mak….”
“Nanti kau suruh dia beranak banyak” Emak mulai lagi, aku tersenyum kecut.
“Tapi dia sudah punya adik dari Ibunya yang lain..”
“Berarti dia bisa beranak banyak..” ah! Emaaaak.
Malam pekat, angin berdesis masuk kamar melalui celah jendela, udara dingin walau tak ada hujan. Aku masih terlentang di tempat tidurku yang berkasur tipis, menatap langit-langit kamar yang kekuningan akibat asap obat nyamuk bakar. Zahwa menari-nari dalam bayangan. Kawan, aku mencintai perempuan itu. Tapi untuk menikahinya sekarang sama saja aku harus masuk kedalam lingkaran tak  bertepi yang justru aku terhisap didalamnya. Andaikan aku orang berpunya, aku akan segera menangkapnya, memagutnya dalam pelukan karena dia sudah halal bagiku.
Atau, jika aku sudah bekerja walau tak kaya raya, aku berani melamar Zahwa. Karena untuk selanjutnya kami akan berjuang bersama, tertatih melayari hidup. Jika kini, untuk diri sendiri saja aku belum bisa berdiri tegak. Aku masih bertopang pada Emakku yang seorang janda, mengais rezeki demi anaknya di pagi buta. Jikapun aku menulis, itu bukanlah dapat dijadikan sandaran hidup untuk berdua. Malam semakin dingin, hatiku menggigil. Mataku tak jua mau terpejam, aku tersiksa dalam malam.
Duhai kelam
Peluklah aku dalam pekatmu
Hingga aku hilang melayang
Dalam lelap yang sangat
Agar esok
Ku dapat tegak
Menyerahkan bahuku
Sebagai sandaran Emak
***
Pagi buta sudah ku telepon Zahwa, suaranya yang mendayu membuatku semakin perih. Akankah nanti aku bisa memiliki gadis ini? memenuhi harapan Emak dan juga keinginan hatiku sendiri? entahlah, waktu akan menjawab semua. Aku berjanji akan menjumpainya siang ini, menjelaskan semua tentang keadaanku, keinginanku, cita-citaku, harapanku, semuanya…ya semuanya. Tak ada lagi yang harus aku sembunyikan, apapun kenyataan yang harus aku terima, aku  siap.
Zahwa memakai gaun biru muda, jilbab dan sepatunya senada. Wajahnya tak begitu bersemangat, masih buram.
“Assalamu’alaikum Wa…”
“Walaikum salam”
“Aku ingin membicarakan hal yang kemarin” Ku tegaskan suaraku, Zahwa tunduk, tersipu.
“Ma’af Tir..aku juga sebenarnya malu, aku juga maklum jika memang kamu tidak mau juga enggak apa-apa, lupakan saja ya?” wajah putih itu masih tertunduk, pipinya merah muda.
“Enggak apa-apa, tapi ada hal penting yang harus aku sampaikan ke kamu, bisa kita bicara?” Zahwa mengangguk.
“Kita enggak usah kemana-mana, di taman kampus aja ya?” ku usulkan suatu tempat yang biasanya siang begini agak sepi, taman utara kampus banyak pohon besar yang rindang. Zahwa kembali mengangguk, ah… dia mengangguk terus. Semakin anggun saja perempuan ini, kata hatiku.
“Apa yang kamu pikirkan tentang aku hingga kamu mengajakku menikah Wa?” itu hal pertama yang aku tanyakan. Zahwa menarik nafas panjang, aku bisa merasakan gemuruh dadanya yang sama dengan gemuruh dadaku.
“Sulit aku menjelaskannya Tir, kamu lelaki yang..yang lain daripada yang lain. Cara kamu menghormati dan menyayangi Emak menunjukkan kau sangat menyayangi dan menghormati perempuan. Kita sering bersama, kau tetap sopan, kau lelaki yang soleh. Kau juga pejuang Tir, aku kagum dengan perjuanganmu. Semua yang kau dapatkan penuh dengan kerja keras, bagiku kau sosok lelaki yang bisa diandalkan untuk menjadi imamku” sampai disitu, Zahwa menyeka matanya.
“Ma’af jika aku menjadi perempuan yang agresif. Aku tak ingin mendapati lelaki seperti sosok papaku sendiri yang tega menduakan mama. Aku ingin cepat keluar dari situasi ini, tak ada tempat aku berkeluh kesah. Tak ada bahu untuk bersandar, tak ada orang lain yang mencintai aku. Aku merasa sepi sendiri, kosong…”
“Tapi aku men…mencintaimu Wa..” ya Tuhan…kalimat itu keluar begitu saja, aku tak bisa mengontrol diriku sendiri. Zahwa mengangkat kepalanya, terdongak.
“Tapi… tetap kau tidak halal bagiku, sebelum kau menikahiku.” Tegas suara itu, aku terpacak kaku, menyerapahi diri sendiri. Ku kuatkan jiwa raga, giliranku berpendapat.
“Bagiku, kau perempuan yang nyaris sempurna, Wa. Emak menyayangimu dan kau juga tak pernah memandang status ekonomiku. Padahal, kita seperti langit dan bumi. Kau juga perempuan yang soleh, aku ingin kelak anak-anakku di didik oleh perempuan sepertimu. Tapi, aku belum bisa sekarang menghadap orangtuamu. Jika berkenan, tunggulah dulu aku selesai dan bekerja supaya aku tak terlalu senjang untukmu…” aku selesai untuk membuat alasan dari alam pikiranku sendiri, dadaku semakin panas berdegup.
Zahwa masih bisu, kini mata itu semakin basah. Aku benar-benar sakit dengan perasaanku sendiri, Zahwa juga.
“Bukankah semua bisa kita hadapi bersama? Aku tak pernah memandang kamu rendah. Harta bukanlah segalanya bagiku.”
“Aku tau Wa…sangat tau. Sikapmu padaku juga sudah membuktikan bahwa kamu bukanlah tipe seperti itu. Tapi dunia bukan milik kita berdua, masih banyak orang lain yang harus kita perhatikan pendapatnya. Orangtuamu yang paling utama. Jika kita menikah sekarang, kuliahmu belum selesai, jika orangtuamu marah dan menghentikan dana pendidikanmu yang tidak sedikit, bagaimana kau akan melanjutkannya? Apakah kau mengandalkan aku yang jalan sendiri aja terseok-seok? Pikiran kita harus jernih, Wa..”
Siang semakin terik, kami membisu. Daun akasia berguguran, bunganya yang kuning cerah hinggap di jilbab Zahwa, cantik sekali. Kami duduk berada dalam kesakitan perasaan, Zahwa mulai mengerti situasiku. Aku berharap, dia masih mau menunggu hingga semua sesuai rencana yang kurancang. Terkadang, jiwaku begitu apatis menghadapi jurang ini. Tapi, aku harus mampu menghadapi situasi dan memperjuangkannya. Masa depanku, masa depan Emakku, dan masa depan kami berdua tentunya. Tak kusadari nantinya, jika gadis ini semakin menjauh…