Jumat, 18 Mei 2018

MENJEMPUT IMPIAN DI KEUKENHOF (14)


HAFEED PEMUDA PALESTINA (14)

            Pria itu tinggi, lebih tinggi dariku yang memiliki tinggi badan 178 cm. Berkulit coklat, rambut ikal tebal, hidung mancung sedikit bengkok, mata dalam dengan pancaran tajam layak Elang dibingkai alis hitam tebal nyaris bertaut. Dagu dan pipinya kebiru-biruan menandakan bulu lebat yang biasanya tumbuh disitu selalu dicukur bersih. Suaranya berat, ramah, peduli pada sesama dan sering termenung. Hafeed adalah pemuda saleh yang nyaris lupa bercanda. Sering ketika aku terbangun malam, dia duduk di atas sajadahnya, menunduk, menekur khusyu’. Tak ada airmata, yang ada hanya nafas yang memburu cepat seiring putaran tasbih ditangannya.
            Sebelumnya, Hafeed adalah pemuda yang tertutup. Tak sekalipun dia bercerita tentang keluarganya seperti yang sering kami lakukan bersama teman-teman lain. Seiring waktu, dia kini tampak lebih terbuka padaku. Biasanya, sebelum tidur sambil berbaring di tempat tidur masing-masing kami bertukar cerita. Menikmati kopi dan sepiring  pattat* berlumur mayonaise lezat, Hafeed bercerita sambil sesekali menyeruput kopi dan menghisap rokoknya.
            “Anda tahu cerita negaraku?”  Hafeed memulai kisahnya.
            “Tidak banyak, yang aku tahu hanya rakyat tertindas karena kesombongan dan kerakusan Israel” kucoba sedikit berpendapat, Hafeed menarik nafas panjang lalu menghempaskannya dengan kuat hingga mengeluarkan suara lenguhan.
            “Lebih dari itu. Semua milik kami dirampas Israel keparat, termasuk harga diri dan kehormatan.” Hafeed diam, matanya menerawang.
            “Kakak perempuanku masih berusia dua belas tahun diperkosa tentara Israel, seminggu kemudian dia dibunuh. Kami seperti orang gila, benar-benar tak berdaya. Usia sebelas tahun aku dikirim orangtuaku kesini untuk sekolah dan menyelamatkan nyawa dan masa depanku. Saat kuliah, bisnis ayah digarap Israel, ayah dan ibu dibunuh dengan keji, tinggallah aku sendiri disini.”  Aku tercekat, tiba-tiba hatiku perih, mendengar cerita Hafeed yang teramat sangat malang. Aku jauh lebih beruntung darinya, meskipun aku tak pernah mengenal ayahku tapi ada Emak yang selalu memperhatikanku, ah! Aku jadi rindu Emak.
            “Kami terbiasa hidup dibawah desingan peluru, suara senjata ibarat musik pengantar tidur. Jika suara tembakan tak terdengar kami malah bertanya-tanya kenapa?” Hafeed menghisap rokoknya dalam-dalam.
            “Aku juga pernah minum kencing tentara Israel syetan jadah itu, hanya karena kesalahan kecil”
            “Maksudnya?” aku membenahi posisi dudukku yang melorot, tegak.
        “Aku dan teman sedang bermain bola kaki, didekat kami ada tentara Israel yang sedang beristirahat dengan senjata siaga. Bola kaki kami menggelinding ke arah mereka, tak satupun kawan yang berani mengambilnya. Aku memberanikan diri mengambil bola itu, tapi akibatnya aku disuruh minum kencing yang ditampung di dalam botol wiski. Mereka tertawa-tawa gembira, aku menangis sambil minum air kencing dibawah todongan senjata syetan laknat itu.” Hafeed menghisap rokok lagi, sebelum melanjutkan ceritanya.
            “Teman-temanku berlarian pulang dan melapor pada orangtuaku, Ayahku sangat marah dan segera ingin melepaskanku dari perlakuan mereka. Tapi apa yang terjadi? Gagang senjata hinggap dikepala Ayahku. Kepala Ayah berlumuran darah, tawa mereka tambah keras.”
Hafeed mengambil sesuatu dari laci lemarinya, selembar foto.
            “Inilah yang tersisa untukku, tak ada yang lain” Hafeed menyerahkan foto usang itu. Kuperhatikan foto itu lekat-lekat. Foto Hafeed kecil bersama kakak dan kedua orangtuanya.
            “Kalian tidak melawan?” kuajukan pertanyaan bodoh itu, Hafeed tersenyum kecut.
            “Melawan pakai apa? Batu? Batu melawan peluru? sama saja bunuh diri. Dimata Israel, rakyat Palestina itu ibarat binatang, tak berharga sama sekali. Kami adalah boneka tak bernyawa bagi mereka, dipermainkan sesuka hati seakan kami tak merasa kesakitan.”
            “Anda tau? Kawanku pernah melawan, mereka memukulnya sampai kawanku terkencing-kencing,  mereka tertawa bahagia. Ah, semoga Allah melindungi negeriku dan memasukkan keluargaku ke syurga” Hafeed menghapus wajahnya yang basah karena keringat, keringat dingin karena emosi yang meluap-luap. Wajah dan matanya merah padam, betapa ia hidup dalam kemarahan.
            Cerita Hafeed sangat melekat di kepalaku. Aku terpengaruh pada emosi sahabatku. Aku yang biasa tak terlalu peduli pada konflik negara yang tak jua selesai, kini ikut merasa kacaunya. Benci begitu melekat dalam hati. Malam berikut Hafeed kembali bercerita bagaimana perjuangan hidupnya di Belanda setelah orangtuanya mati dibunuh tentara Israel. Dia berjuang sendirian, terdampar di emperan. Dikejar-kejar polisi imigrasi, jadi gelandangan. Dia pernah bekerja sebagai pelayan di restoran, memasak Ertwensoep**danSlavinken***. Tinggal dan tidur di dapur dengan tumpukan tulang-tulang babi. Menderita kelaparan dimusim dingin membuatnya terpaksa makan Slavinken karena tak ada menu lain. Hafeed harus keluar setiap sore untuk membasuh najis yang melekat di tubuhnya. Tak tahu cara bagaimana menyamak lambungnya, Hafeed pasrah pada kuasa Tuhan semata. Bahwa ia harus bertahan hidup, ia belum sanggup jika harus diminta untuk menyusul kakak dan ayah ibunya dialam sana.
            Hafeed bertemu Mr. Lamek di Mesjid ISR Rotterdam ketika mereka mengikuti pengajian yang diadakan setiap sabtu malam. Mr.Lamek terpikat pada penampilan Hafeed yang lusuh, pancaran mata yang layu dan tampang berbeda dari jama’ah Indonesia lainnya. Seusai pengajian, Mr. Lamek menghampiri Hafeed, mengadakan wawancara ringan. Mr. Lamek jatuh hati sekaligus iba pada pemuda Palestina ini dan mengajaknya untuk bekerja di restorannya. Esok pagi, Hafeed langsung meninggalkan dapur restoran tempat dia bekerja selama ini. Naik tram****, membelah kota Rotterdam menuju Polderstraat.
            Awal bergabung di Indischelatte restoran. Hafeed bertugas mencuci piring kotor, bersih-bersih lantai. Seiring waktu, dia perlahan naik “jabatan” sampai kini memenejeri restoran bergengsi di Rotterdam ini. Hafeed adalah orang yang bijaksana, berwibawa dan memperlakukan kami semua dengan adil. Kami segan sekali kepada pemuda Palestina yang fasih berbahasa Indonesia ini, ditambah lagi ia tak pandai bercanda dan jarang tersenyum. Mr. Lamek sering menghabiskan musim dingin di Rotterdam, musim semi di Australia dan terkadang ke Indonesia. Dia mempercayakan penuh Hafeed untuk mengelola restoran ini, Hafeed sangat profesional karena ia pernah kuliah ekonomi di Erasmus University Rotterdam. Hanya nasib tak berpihak padanya, akibat polah tingkah Israel yang rakus dan sombong yang memporak porandakan negeri dan masa depannya.
            Kawan, aku malu pada Tuhan. Malu karena diriku terus berkeluh kesah seakan aku adalah manusia paling malang dimuka bumi ini. Aku yang tak diterima oleh negeriku sendiri, yang harus terpisah dari Emak yang kucintai justru dimasa tuanya. Terhempas dari harapan berdampingan dengan Zahwa, memupus harapan Emak mendapatkan anaknya ke kantor berdasi dan dia akan mengasuh anak-anakku. Dalam hening malam aku bersujud diatas sajadah biru pemberian Zahwa, mohon ampun atas semua kepongahanku. Atas semua protesku padaNya, karena aku hidup mengejar cita-cita yang  lari dari skenario rencana yang telah kurancang dengan sombong.
            Bukankah aku adalah manusia yang jauh lebih beruntung dari pada Hafeed? Hidupku jauh lebih bahagia dibandingkan pemuda Palestina yang berhati luka itu. Hafeed tak pernah mengajukan protes pada Tuhan, walau hidupnya kacau ibarat ikan hidup di sungai beracun. Hafeed harus terus memelihara borok yang bernanah dalam hatinya, luka itu tak akan pernah sembuh, ia tak mampu lagi marah dan menangis karena airmata yang sudah mengering. Aku tak mampu membayangkan ketika ia hidup menjadi gelandangan di Rotterdam, sembunyi di stasiun bawah tanah. Bekerja di restoran yang sebagian besar menunya adalah babi yang diharamkan agama kami. Hafeed yang harus keluar untuk menyamak tubuhnya, menangis membayangkan dirinya bergumul dengan benda haram. Hafeed yang malang tapi hidup penuh keikhlasan.
            Kini, aku banyak bersyukur atas segala kesempatan yang ada. Bekerja dan tinggal di benua barat Eropa tanpa mengeluarkan biaya apa-apa. Tinggal di kota terbesar kedua setelah Amsterdam, kota Rotterdam yang memiliki populasi 588.500 jiwa. Memiliki saudara senegara yang saling mengasihi dan melindungi. Punya waktu libur yang diatur berdasarkan shift. Bisa pergi mengaji di mesjid ISR (Indonesische Sticting Rotterdam) setiap sabtu malam bersama teman ketika off tentu saja. Aku juga bisa merasakan suasana pasar Blaak*****yang ramai setiap Selasa dan Sabtu, menyaksikan orang setempat makan ikan haring****** dengan sekali tarik saja. Aku juga jadi tahu bahwa banyak petai di Belanda!
            Aku percaya bahwa ada rahasia Tuhan dibalik perjalanan hidupku sekarang. Kuyakini sepenuhnya nanti Allah Tuhanku akan memberi seribu hikmah dan nikmatNya untukku. Kini aku bisa mengirimkan uang untuk Emak, menyisihkan beberapa Euro untuk kebutuhanku sendiri. Kunikmati jalanan kota Rotterdam dengan sepeda, menyaksikan orang yang berlariann naik bus atau tram. Berkumpul dengan orang sebangsa setiap weekend, aku kini bisa memandang hidup dengan sisi bahagia. Hafeed sudah membuka mata sadarku.
* Kentang goreng khas Belanda
**Sup khas Belanda terbuat dari tulang babi
*** Sup khas Belanda terbuat dari tulang babi biasa disajikan pada musim dingin
**** Kereta api
***** Pasar loak di Rotterdam, ada dihari Selasa dan Sabtu
****** Ikan mentah ditaburi irisan bawang Bombay, makanan khas Belanda.       

Rabu, 09 Mei 2018

MENJEMPUT IMPIAN DI KEUKENHOF (13)


TEMPAT  YANG ASING (13)
            Pesawat mendarat mulus di bandara Schipol Amsterdam. Aku mengikuti penumpang pesawat yang mulai berkemas dan turun. Jantungku berdebar menginjak tangga pesawat, tak dapat kupungkiri bahwa ini adalah tempat yang asing bagiku. Angin sejuk menampar wajahku, menurut informasi di  pesawat tadi, Netherlands sedang musim semi, udara 30 derajat celcius. Udara lumayan hangat, senang karena aku biasa hidup di negara tropis dan tak terbiasa ber AC pula. Aku memasuki pemeriksaan keimigrasian, cek dokumen dan paspor. Petugas Imigrasi   menggunakan bahasa Inggris dan aku menjawab dengan kemampuan bahasa yang lumayan. Berkali-kali mereka mencocokkan wajahku dengan paspor, pemeriksaan sangat ketat. Aku menjawab pertanyaan sesuai apa yang diajarkan Pak Rahmad, bahwa aku bekerja atas jaminan perusahaan.
            Setelah mengambil barangku yang tak seberapa di rel bagasi, aku mengikuti orang-rang yang mengambil jala keluar. Di tempat penjemputan aku celingak-celiguk, seorang pemuda tinggi berkulit coklat tersenyum ke arahku mengacungkan lengan tingi-tinggi, dia bukan orang Belanda, tapi juga bukan wajah Indonesia, seperti orang Arab.
            “Ma’af, Mr. Petir?” dia menyebut namaku, aku mengangguk, sedikit kaget.
            “Saya menjemput anda, Mr.Lamek menyuruh saya” aku bertambah kaget karena ia menggunakan bahasa Indonesia yang cukup baik.
            “Kenapa anda yakin saya Petir? setahu saya biasanya penjemput menggunakan papan nama,” aku bertanya sedikit tak percaya, aku harus hati-hati, bukankah ini negara asing?
            “Hmm..ya. Saya tak sempat membuat papan nama anda, Mr.Lamek hanya menyebutkan nama anda, pesawat dan nomor penerbangan. Saya pikir, tak akan susah mencari wajah Indonesia di sini, makanya langsung saya menyapa anda.”  Keterangan yang masuk akal, aku tersenyum, pemuda itu mengulurkan tangannya.
            “Saya Hafeed, karyawan di Indisschelatte resto. Anda akan menjadi sahabat saya”
            “Oya...saya senang mengenal anda”
            Kami berjalan keluar bandara, gerbang atasnya lebar berwarna biru cerah dan jelas tertulis SCHIPOL, kami bejalan menuju ke area parkir yang luas. Aku terpesona pada jalan yang lebar dan hitam mengkilat, pada tertibnya orang yang lalu lalang. Bangunan yang gagah perkasa dengan pilar-pilar yang kokoh. Sepanjang jalan tak ada kutemukan sampah, malah tempat sampah pun bersih, aku kagum. Aku adalah pemuda yang tak pernah menginjak ibu kota negaraku sendiri, aku hanya menginjak Jakarta ketika transit dan menunggu penerbangan menuju Amsterdam. Aku melihat Jakarta dari udara, itupun ketika pesawat belum begitu mencapai ketinggian yang sesungguhnya. Aku masih bisa melihat pemukiman padat seperti kotak korek api yang tak beraturan, mobil dan kendaraan bermotor seperti sampah menyumbat aliran sungai. Tapi kini aku malah terdampar di hempas nasib ke negara Belanda. Betapa jalan hidup tak pernah ada yang tahu.
            Aku mengagumi apa yang kulihat, sambil mendengarkan beberapa keterangan dari Hafeed.
            “Mr. Lamek adalah orang yang baik, anda akan  senang bekerja disini”
            “Anda sudah berapa lama disini?”
            “Sejak usia saya enam belas tahun”
            “Berapa usia anda sekarang?”
            “Dua puluh tujuh”
            “Sudah sebelas tahun”
            “Ya...sudah sebelas tahun”
            “Anda dari Arab? Atau India?”
            “Saya dari Palestina...” Aku tercekat mendengar nama Palestina, negeri yang terus berdarah. Apakah Hafeed korban yang tercampak dari negaranya yang nestapa? Aku tak berani bertanya lagi, pasti Hafeed punya cerita luka dari negerinya.
            Bangunan induk rumah itu sangat luas, bercat putih dengan pilar hitam pekat. Hafeed memarkir mobil di halaman samping, seperti carport tapi melebar, muat untuk parkir lima mobil. Hafeed membantu membawa tasku, salah satu isinya adalah sambal teri kacang kering buatan Emak, AlQur’an saku dan sajadah biru pemberian Zahwa. Kami melintasi taman yang dibelah oleh jalan kecil berkerikil putih, di ujung jalan ini berdiri bangunan berupa kamar seperti kos-kosan. Berbeda dengan bangunan induk, bangunan ini berwarna merah maron dengan bingkai jendela putih. Di depan tiap-tiap kamar, ada lampu dinding yang berukiran cantik. Semua nampak bersih, tertata rapi dan berkelas, jauh dengan rumahku di Medan sana.
            Hafeed membuka salah satu kamar, mempersilahkanku masuk dan meletakkan tasku yang dibawanya.
            “Ini kamar kita, istirahatlah”
            “Kita satu kamar?”
            “Ya, itu tempat tidur anda, sepreinya bersih, sudah saya ganti. Yang putih itu lemari anda. Saya kembali ke resto, nanti jam lima saya jemput anda. Oya.. itu di meja ada makanan, jangan sungkan. Assalamu’alaikum”  Hafeed menutup pintu, kujawab salamnya, kini tinggallah aku sendiri.
            Kamar itu jauh lebih luas dari kamarku, ada dua tempat tidur dengan kasur tebal. Dua lemari pakaian dengan warna berbeda, lemariku putih sementara lemari Hafeed biru mengkilat. Di atas meja terletak sebuah televisi flat, di sudut kamar ada perapian dan kamar mandi lengkap dengan shower dan wastafel. Diantara tempat tidurku dan Hafeed terletak sebuah meja kecil, disitu ada aneka makanan, roti, kentang dan kue bulat-bulat coklat bertabur tepung gula dan sebotol limun. Belakangan aku tahu bahwa kue itu bernama olli bollen, kue khas Negara Belanda. Kulongok keluar jendela, kamar-kamar di sebelah sepi, juga rumah induk yang besar di depan sana.
Ku coba untuk tidur, nanti aku dijemput Hafeed, aku belum punya gambaran tentang apa pekerjaanku. Paling tidak, melihat apa yang ada di sekitarku sekarang, aku yakin mendapat tempat yang baik dan pantas. Ini bukanlah sekadar kamar, tapi sebuah rumah mungil. Aku ingin mengabari Emak, tapi belum tahu caranya, nanti aku akan minta tolong pada Hafeed.
***
            Jam lima tepat Hafeed kembali ke kamar untk menjemputku, aku terkesan pada orang yang tepat waktu. Untunglah aku sudah bersiap-siap sehingga tak memalukan jika dia harus menungguku. Selama perjalanan, aku mencoba mencari keterangan dari pemuda ini.
            “Ma’af, rumah besar di depan itu rumah siapa?” aku bertanya penasaran.
            “Itu rumah Mr.Lamek dan keluarganya, tapi beliau sedang tidak di sini”
            “Pantas rumah itu sepi”
            “Ya… selalu begitu. Anak Mr.Lamek sedang belajar di Australia, satu lagi di Indonesia.”
            “Anak Mr.Lamek dua orang?”
            “Ya, sepasang. Yang besar perempuan kuliah di Australia, yang kecil duduk di Senior High School Indonesia” pasti maksud Hafeed SMA.
            “Di Indonesia tepatnya dimana ya?”
            “Saya dengar di Aceh”
            Mobil masuk area parkir sebuah restoran yang cukup apik, disinikah aku akan bekerja? Jarak dengan rumah mungil tadi memakan waktu hanya lima menit. Melewati taman bermain, gedung dan rumah yang tinggi-tinggi. Kami memasuki restoran dari pintu samping, ada beberapa sepeda di parkir disini. Hafeed mendorong pintu, terdengar suara gemerincing pintu kaca berbingkai kayu putih yang kokoh. Di dalam, aku terpana sesaat, memandang wajah-wajah yang terasa dekat dan tak asing, wajah-wajah Indonesia.
            “Di restoran ini semua karyawannya orang Indonesia,” Hafeed memberi penjelasan, seakan tahu isi hatiku.
            “Anda?”
            “Ya, saya memang berbeda…” Hafeed tersenyum getir, aku menyesal, aku bermaksud  bercanda. Tapi Hafeed tak merasakan aura canda dalam kalimatku.
            Mereka menyalamiku satu persatu, seakan mengucapkan selamat datang. Ada Tarjo, Suheimi, Chandra, dan Kurnia yang berasal dari Jawa. Ada juga Fadly, Zamzami dan Rizal yang asal Aceh. Karyawan restoran ini sebagian besar laki-laki, hanya ada Lenny yang asal Madura duduk di meja kasir. Semua tersenyum tulus menyambutku, menyambut teman senasib tercampak dari negeri sendiri demi uang. Paling tidak aku bersyukur, aku tak kesulitan berkomunikasi dengan mereka. Tidak terasing karena perbedaan kulit dan bahasa.
            “Semua teman disini tinggal di flat kita tadi. Hanya Lenny yang tinggal bersama suaminya”
            “Lenny sudah menikah?”
            “Ya.. dengan seorang lelaki Belanda juga, berasal dari Utrecht” Hafeed duduk pada sebuah kursi di sudut dapur yang tidak begitu sibuk.
            “Kita semua muslim disini, semua makanan halal. Jadi tak ada yang perlu anda khawatirkan.” Aku mengangguk senang, bekerja disebuah restoran luar negeri dengan jaminan halal tidaklah mudah.
***
            Kawan, kini aku tinggal di negeri Ratu Beatrix. Berbaur dengan beragam rupa penduduk Rotterdam yang ramah dan terbuka. Penduduk yang sopan dan sangat menghargaiku meski aku adalah seorang pelayan restoran. Aku menunduk mencatat pesanan menu mereka, mereka santun dan selalu mengucapkan “danke sir” aku tersenyum dan membalas dengan ucapan yang sama. Kawan, tak pernah aku mendapat perlakuan buruk, termasuk dari langganan restoran orang Indonesia sendiri. Mereka orang-orang terpelajar yang santun, aku terkesan.
            Di Negara kincir angin di Eropa bagian barat ini aku mengais rezeki, mencoba melupakan Zahwa yang telah dimiliki orang lain. Aku sudah menelepon Emak singkat saja mengingat biaya telepon yang mahal. Setiap pagi aku mengayuh sepeda bersama teman-temanku senasib menuju restoran. Melewati taman bermain dengan tulip terhampar, jalanan hitam mengkilat rata dan licin, rumah dan gedung kokoh seakan tak ada yang mampu menggoyangnya. Masih musim semi, aku menikmatinya walau hati belum  sempurna menerima.
Tiga bulan pertama, aku akan mendapat bayaran sebesar 644.96 euro per bulan. Jika dirupiahkan, itu setara dengan angka sembilan juta. Aku tak menanggung biaya hidup kecuali untuk bersenang-senang. Untuk sementara, aku lupakan dulu bersenang-senang. Aku ingin menabung sebanyak-banyaknya lalu pulang ke Indonesia. Teman dan sahabat di restoran layak keluarga, kami saling menjaga dan memperhatikan, termasuk Hafeed satu-satunya pria asing diantara kami. Hafeed adalah manager restoran dan Fadly kepala koki. Aku, Tarjo,Chandra, Zamzami dan Kurnia bertugas melayani tamu, sementara Rizal, Suheimi dan Bachtiar bertugas di dapur dibawah komando Fadly.
Ternyata, menu yang disajikan restoran kami tidaklah sepenuhnya makanan Indonesia, kecuali untuk makanan penutup. Aku terheran-heran melihat manusia berkulit merah berambut jagung itu melahap pisang bakar maupun pisang goreng sebagai penutup makan siangnya. Pudding juga dibuat ala Indonesia, pudding jagung, pudding telur yang disiram fla gurih ditaburi keju. Makanan Indonesia hadir pada week end, segala macam makanan khas disiapkan. Mulai dari rendang, kari, terong balado, semur ayam, sambal teri sampai kuah pliek pun ada. Biasanya, pada week end restoran menjadi tempat berkumpul pelajar, mahasiswa ataupun pekerja Indonesia yang ada di Rotterdam. Restoran akan penuh dengan wajah-wajah Indonesia, bercerita tentang kampong halaman, tentang negeri yang sedang diduduki atau hal-hal remeh yang tak begitu penting. Ada juga yang duduk sambil berdiskusi membuka laptop, ada yang bernyanyi ditemani life music local yang jago menyanyikan lagu Indonesia. Jika rindu Indonesia membuncah sampai ubun-ubun, kami semua berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan khidmat, kemudian bertepuk tangan sambil bersuit-suitan lalu berpelukan.
Kawan, ketika jauh dari negeri sendiri, nasionalisme tercipta, rindu negeri meluap-luap. Tak ada lagi teman sekampung, yang ada adalah saudara senegara.  Padahal dulu ketika SD sampai SMA  aku tak pernah merasakan ruh lagu Indonesia Raya. Upacara bendera setiap hari senin adalah kegiatan yang menyiksa, berdiri dibawah matahari pagi, mendengar petuah Pembina upacara, hormat bendera. Dalam barisan, ada saja kawan yang jahil, menarik ujung baju, memijak sepatu atau menarik telinga bahkan menceritakan Pembina upacara sambil berbisik-bisik. Yang diceritakan biasanya Pak Ahmad yang botak, Pak Zein yang berkumis seperti Pak Raden dalam cerita si Unyil, Pak Usup yang giginya agak maju, mereka akan terkikik-kikik dalam barisan sambil menutup mulut. Kawan, ketika aku sudah keluar dari negaraku tercinta, aku baru dapat menyadari semua, bahwa aku sangat mencintai Indonesiaku. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya.


Kamis, 03 Mei 2018

MENJEMPUT IMPIAN DI KEUKENHOF (12)


HATI YANG BERDARAH (12)
            Siang cerah. Aku masih terbaring di tempat tidur beristirahat sepulang jualan. Angin sepoi masuk dari jendela kamarku yang terbuka lebar, aku menguap ngantuk. Emak mengetuk pintu kamarku, agak keras. Kubuka pintu, melongok keluar, wajah Emak nampak layu, cahaya matanya suram.
            “Ada apa Mak?” aku bertanya penasaran.
            “Undangan...” Emak menyerahkan sepucuk surat undangan, warna merah marun berpita emas, cantik sekali. Kulihat nama yang punya hajat disampul undangan, aku hampir tak bisa bernafas. Jantungku terasa mau lepas, nafasku sesak, dadaku naik turun, keringat dingin mengucur. Sesuatu yang aku khawatirkan akhirnya terjadi, Zahwa tak lagi menungguku, dia sudah mendapatkan pelabuhan jiwanya. Aku ingin menangis di depan Emak, menumpahkan segala kesakitan ini. Tapi itu tak boleh terjadi, aku harus bisa bertahan, itu semua kemauanku menunda keinginan Zahwa untuk bersanding denganku. Aku tentu harus bisa menerima konsekwensi dari idealisme yang tak jelas. Idealisme tentang sebuah harga diri, yang kini sangat menyakitkanku, merontokkan sendi jiwaku.
            “Kamu harus kuat, nak...” bisikan Emak terdengar seperti sebuah degungan di telingaku. Aku mengangguk dalam, menyimpan kesedihan, Emak merengkuhku, paham akan kesakitan jiwaku.
            “Aku kuat Mak, aku kuat....aku kuat” aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, bukan Emak. Aku tertunduk dalam, sedalam laut yang semakin kelam ke dasar.
            “Kelak Allah akan memberikan jodoh yang pantas untukmu” Emak mengelus kepalaku dengan sayang. Hatiku menjerit, aku sesungguhnya sangat mencintai Zahwa. Cinta yang tak pernah aku eksploi secara fisik, cinta suci yang kujaga rapat dalam hati. Aku selalu berharap dia kelak akan mengisi sebagian hidupku, menjadi ibu anak-anakku. Tapi kini semua hancur, puzzle yang ingin ku susun berantakan. Sempurnalah  kehancuranku, hatiku berdarah.
            Malam ini, untuk pertama kali seumur hidup, aku menangis karena perempuan. Mataku basah, aku malu pada Tuhan karena jiwa yang rapuh. Dalam takbir mataku basah, dalam sujud aku terisak, dalam do’a aku berharap. Sepanjang malam aku duduk di atas sajadah, sajadah biru pemberian Zahwa setahun lalu. Semakin dalam aku sujud mencium sajadah, semakin parah terasa luka di dada.
Tuhanku yang maha perkasa
Luka terasa dalam dada
Mengiris jiwa yang hampa
Kosong tiada daya
Dia semakin tak tergapai
Kini harus rela
Melepas harap yang tak jua dekat
            Dini hari datang, aku tak mampu bangkit dari sajadah. Emak pergi jualan sendirian, membiarkanku yang terbujur tiada daya. Luluh lantak semua sendi dan hatiku, hancur harapanku. Pekerjaan tak jua ku dapat, wanita idaman pun pergi ke pelabuhan lain. Aku teringat tawaran Zeiny, aku akan menerimanya. Biarlah aku pergi jauh ke negeri orang, jika itu memang sudah jalan hidupku. Aku harus berani meninggalkan Emak sendirian demi masa depanku dan juga kebahagiannya. Aku harus kuat dan berani mengambil resiko. Bukankah Belanda adalah negara yang sangat jauh? Emak tak akan tahu pekerjaanku yang sebenarnya di sana, aku akan mengatakan kepada Emak bahwa aku bekerja di KBRI sebagai transleter. Emak pasti mengangguk saja, dan tak ada orang Medan yang tahu jika aku hanya seorang pelayan restoran. Aku harus mampu menciptakan sebuah kebohongan, bohong putih
            Minggu depan Zahwa menikah dengan seorang sarjana ekonomi yang punya nama bagus, M. Shafwan SE. Pasti dia adalah seorang lelaki gagah yang kaya, sehingga mudah saja masuk ke dalam kehidupan Zahwa. Aku bukanlah pengecut, tapi aku tak ingin menghadiri pernikahan hebat di gedung mewah itu. Aku harus segera menghubungi Zeiny dan menerima tawaran dari paman Maulidya. Aku akan menjadi pelayan restoran Indonesia di Nederlands. Aku harus mau melayani manusia berkulit merah itu makan, menerima gaji dan tip. Akan kukais rezeki di negeri yang moyangnya pernah menjajah negeriku, dan kini masa depanku juga dijajahnya. Sepertri kata Zeiny, aku akan menabung dan segera membuka usaha di Indonesia. Tak bisa kuharap lagi untuk menjadi pegawai berdasi.
            “Assalamu’alaikum Zein....” aku menelepon Zeiny selepas Magrib.
            “Wa’alaikumsalam...apa khabar?”
            “Baik... tawaran kemaren, masih berlaku enggak ya?”
            “Masih lah... tapi kalau kau mau, sabtu depan harus berangkat. Gimana ya? Paspor kan belum ada, juga urus surat-surat yang lain” suara Zeiny terdengar pesimis, aku mulai berdebar. Aku juga belum mengatakan apa-apa pada Emak, apakah aku akan mendapat restunya? Jika sabtu depan aku berangkat, berarti aku selamat dari menghadiri pernikahan Zahwa. Aku masih terdiam di ujung hand phone ku.
            “O... gini aja, kata Lili ada yang bisa mengurus surat-surat itu dengan cepat. Besok pagi kamu datangi aja pak Rahmad di jalan Ahmad Yani. Sesuai dengan apa yang sudah kami katakan, jangan keluarkan uang sesen pun. Biar beliau yang urus semua, kamu cukup ikuti prosedur aja. Gimana?”
            “Oke...”ku jawab pendek karena mendadak asing mendengar instuksi dari Zeiny. Wajar saja, dia sudah menjadi Kabag sekarang.
            “Tir, udah bilang Emak belum?”
            “Belum...”
            “Lho... bicara dululah sama Emak, nanti kalo enggak dapat restu, macet jalanmu..”
            “Aku enggak berani bilang kalau aku disana jadi pelayan, Zein...kasian Emak, masak dia banting tulang nyekolahkan aku Cuma jadi pelayan..”
            “Terserahlah Tir, mau gimana lagi?”
            “Kalau ku bilang aku kerja di KBRI gimana ya?”
            “Maksudnya?”
            “Ya.. bohong putihlah.. gimana?”
            “Ya....terserahlah. Mana ada bohong yang putih, Tir. Aku yakin sekali kau pulang nanti menjadi orang sukses di Medan, karena kau pekerja keras” aku meng amini dalam hati.
            “Zein.... kau tau?”
            “Apa?”
            “Zahwa akan menikah...”
            “Haaa?? Kapan??”
            “Minggu depan”
            “Jadi, kau terima tawaran ini karena patah hati?”
            “Tidak juga, aku ingin memperbaiki nasib. Aku udah kena pelet pajak, jadi enggak bisa kerja dimana-mana. Mungkin harus keluar negeri ya?” aku berbohong, menutupi perasaan yang luka.
            “Ah... udahlah. Nanti kau bawa pulang lima gadis Belanda. Mereka semua tergila-gila sama pemuda Indonesia. Apalagi macam kau. Oya.. malam ini juga kau minta izin Emak, besok pagi bisa kau jumpai Pak Rahmad itu ya?” telepon ditutup setelah Zeiny mengucapkan salam. Tinggallah aku termangu-mangu pada keputusanku, bagaimana mengatakannya pada Emak?
            Malam itu juga, dibawah rembulan, aku duduk menggelayut pada Emak. Menceritakan cita-citaku, hatiku yang sakit, cintaku padanya, cintaku pada Tuhan, harapan dan kenyataan. Aku juga berbohong pertama sekali dalam hidupku pada orang yang kucintai ini, aku harus berangkat ke Belanda untuk menjadi duta kuliner Indonesia. Aku akan menjadi duta untuk mengenalkan makanan Indonesia di Belanda dengan memenuhi kontrak kerja pada sebuah perusahaan kuliner. Dengan  penjelasan ini, kurasa aku tidaklah berbohong. Hanya bahasa saja yang aku perhalus, semoga Emak memberiku izin yang sangat berharga.
            Mata Emak berkaca-kaca, aku di peluknya layak anak balita. Padahal tangannya saja tak muat lagi memelukku.
            “Berapa lama kau pergi, Tir?”
            “Belum tau Mak...”
            “Apakah nanti masih bisa pulang lihat Emak?” ada cahaya rindu dimata itu.
            “Ya...aku pulang lihat Emak, aku selalu rindu karena enggak pernah jauh dari Emak”
Aku tak lagi sanggup berkata-kata. Kami adalah ibu dan anak yang malang, tak pernah terpisah sebelumnya. Kini, ketika Emak mulai menua dan aku tak jua dapat memenuhi harapannya, aku harus pergi jauh, membawa kepenatan yang tak juga selesai.
            “Pergilah..Emak akan selalu mendo’akanmu. Jangan cemaskan Emak, kita masih punya tetangga yang baik.” Mataku panas dan basah, kini aku semakin cengeng. Airmata yang memalukan, tak layak ditumpahkan seorang pemuda yang telah dewasa. Tapi dua hari ini air itu selalu ada, tak mampu lagi kubendung. Betapa cinta terkadang membuat kita lemah dan tunduk di bawahnya.
            Hari yang telah ditentukan, aku menjumpai pak Rahmad. Sosok yang ramah dan menyenangkan, tubuhnya tambun, jidat yang lapang dan berkumis tebal. Segala urusan cepat selesai, aku hanya perlu mengikutinya keluar masuk kantor imigrasi. Mengurus administrasi di Konsulat Belanda, menjawab beberapa pertanyaan, sidik jari, pas photo. Pak Rahmad sangat cekatan, agaknya dia sudah terbiasa melakukan ini.
            “Apa targetmu pergi kerja jauh-jauh?” itu adalah pertanyaan pak Rahmad yang agak sulit ku jawab.
            “Cari pengalaman, ngumpulin modal usaha” jawabku sekenanya. Pak Rahmad mengangguk tersenyum.
            “Bagus, saya setuju. Jangan pernah berpikir untuk bekerja selamanya di sana. Walau bagaimanapun, jauh lebih enak tinggal di negeri sendiri.” Aku mengangguk, pak Rahmad nampak bersahaja.
            “Aku kenal cukup baik dengan Mr.Lamek” Pak Rahmad mengisap rokoknya dalam-dalam, menghembuskan asapnya yang pekat mengepul.
            “Dia mencari orang-orang kerja di restonya Indonesia asli. Kau pasti tak merasa asing disana.”
            “Maksudnya?”
            “Nanti kau akan tahu, yang jelas Mr.Lamek adalah orang yang sangat baik. Nanti kau akan tahu, gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, menabung sebanyak-banyaknya, pulanglah dengan sukses. Buat target untuk empat sampai lima tahun.” Aku terdiam, empat sampai lima tahun? Selama itukah untuk menabung? Bukankah mata uang disana tinggi?
            Aku tak pernah menyangka, begitu besar akibat yang ditimbulkan keputusanku ini kelak. Hanya dalam tempo empat hari semua urusan dokumen selesai, aku tak mengeluarkan uang sesen pun seperti yang dipesan Zeiny. Aku mengantongi sebuah tiket pesawat menuju Netherlands, perjalanan yang cukup jauh. Aku masih tak percaya, aku tak pernah mengunjungi tempat manapun di luar sumatera. Tapi Sabtu nanti aku akan terbang ke negeri entah berantah yang jauh. Kubayangkan Zeiny yang bahagia tidur di samping istrinya, sementara aku masih harus mengembara. Mencari sesuatu yang baru saja aku mulai, Zeiny sudah mencapainya setengah, aku baru nol.