Selasa, 21 Oktober 2014

BINGKAI YANG KUSAM (Cerpen kecil yang menggelitik)




  
            Angin gemerisik meniup batang padi yang mulai menguning, orang-orangan sawah gemulai bergerak sesuai irama. Aku masih duduk di rangkang[1] menunggu petang, menanti matahari terbenam di sebelah barat tenggelam ditelan laut di ujung persawahan. Kutarik nafas panjang, menikmati segarnya udara sambil menyantab sisa timphan[2] yang tadi diantar Nyakchik[3] sebagai kudapanku, mengisi sore di sawah. Di sebelah utara terdengar sayup-sayup berkumandang sholawat Nabi, dari dayah Teungku Adi. Suaranya terdengar serak kelelahan, seakan ingin menunjukkan kelelahan yang sama, ketika dia membimbing santri di dayahnya yang semakin sepi saja.
            Matahari yang kutunggu semakin bersembunyi malu-malu, tenggelam ke dalam laut. Suara ombak berderu-deru, angin menampar pipiku, air laut mulai pasang. Aku bergerak pulang, menyusuri pematang sawah dengan lega dan gembira. Akhir-akhir ini, sunset agak langka di lautku. Karena cuaca yang tak menentu, matahari sore sering tertutup awan, yang tampak hanya bias cahaya merah saga saja. Suara Teungku Adi yang bersholawat sudah berubah menyenandungkan ayat Al Qur’an, merdu mendayu. Teungku yang tambun hitam itu punya suara luar biasa, serak dan lelah tapi tetap memesona.
            Di halaman belakang, umi sibuk memasukkan ayam ke kandang agar tak dimangsa Musang. Musang di kampungku ganas sekali, ketika mulai gelap, mereka semua mulai mencari mangsa. Jangan harap ada ayam selamat jika berkeliaran dalam gelap dan tak segera masuk kandang. Umi Nampak kelelahan mengejar ayam-ayamnya yang montok, Umi mengeluh resah, ayam semakin liar, aku terkekeh, umi marah.
            “Gadoh kakhem, sit ka kaeu lon meularat bak parohj ih, ken ka bantu,”[4] umi mengomel sambil membetulkan kain sarungnya yang hampir melorot.
            “Umi lucu”
            “Peu lucu, galak that ka eu lon sosah…”[5] umi sensitive, cepat marah, tapi baik hati. Aku atur strategi, umi kusuruh mengusir ayam ke arahku. Aku siap dengan jala ikan abu yang tersangkut di pohon belimbing. Dalam sekejab, ayam-ayam gemuk yang bandel itu masuk ke dalam perangkapku. Aku gembira, umi tersenyum tak marah lagi, tapi tak mau bilang terimakasih dan memuji aku anaknya yang hebat. Ah! Umi.
            Menjelang magrib, aku bersiap berangkat ke dayah untuk sholat berjama’ah  dan sedikit mengkaji tafsir sambil menunggu sholat isa. Dayah biasanya menjadi tempat kami anak muda mangkal pada malam hari. Tapi kini keadaan sudah jauh berubah, dayah sepi. Hanya aku dan beberapa kawan yang masih mangkal disini. Ada juga remaja perempuan, mereka duduk dibagian belakang, mengkaji tafsir yang dipandu Teungku Adi. Sebenarnya, jiwa remajaku ingin sekali menatap perempuan-perempuan cantik itu, tapi aku tak berani. Jangankan menatap, melirik saja aku sudah gemetar, suara deheman Teungku Adi membuat jantungku seakan lepas.
            “Padum droe nyeng trok Nu?”[6] teungku Adi bertanya, setelah aku selesai mengabsen kawan-kawan.
            “ Siploh, teungku”[7]
            “Gata, padum Mala?”[8] kini giliran Mala yang mendapat pertanyaan, dia bertugas mengabsen anak perempuan.
            “Tujoh, Teungku. Dek Yah saket, hanjeut i jak” [9]Mala menjelaskan, tunduk. Aku terkesiap mendengar Dek Yah sakit. Aku suka senyum Dek Yah, aku sering berdebar-debar, tapi aku tak pernah berani menyapanya, takut dan gemetar rasanya. Mendengar namanya saja dadaku hangat, dengan debar jantung yang berirama indah. Dek Yah, ibarat foto berbingkai putih, bersih dan cantik.
            Mendengar jumlah muridnya yang datang, Teungku Adi menarik nafas kecewa. Dibuangnya pandang sejauh-jauhnya, kosong. Tapi Teungku Adi berusaha menutup rasa kekecewaannya. Dia tetap membimbing kami sebaik-baiknya, kami begitu takzim padanya. Dulu, ketika DOM dayah ini ramai sekali. Karena orangtua ingin mengamankan anak laki-lakinya disini dari kekejaman tentara yang buta. Setelah tsunami, dayah ini juga ramai, mungkin semua sadar kematian begitu dekat dan datang dengan tiba-tiba. Semua mengaji, pada hari Rabu dan Sabtu ibu-ibu berkumpul di dayah. Pada hari senin dan jum’at giliran bapak-bapak berkumpul, mengaji, membaca kitab dan mengkaji tafsir, atau sekedar mendengar tausiyah dari teungku muda ini. Kini, setelah tahun-tahun sulit berlalu, kemudahan dan kemakmuran merapat, dan dayah ini menjadi sepi. Seakan ditinggal penduduk dari kamp pengungsian, kembali pulang kerumah masing-masing.
            Kawan, kukatakan padamu. Kini kawan-kawan remajaku suka nongkrong di cafe yang ada di kota. Mereka duduk membahas pertandingan bola atau hal yang tidak penting lainnya, sambil minum kopi dan makan mie favorit kami. Mie enak yang berbumbu lezat, di tambah kepiting bulat yang mengangkang di atas piring, kepiting yang pernah membuat gigi seriku sompel. Di cafe-cafe itu biasanya ada layar lebar, mereka bisa menonton siaran TV melalui layar lebar itu. Jika ditanya, aku juga suka suasana kota, tapi Umi dan Nyakchik pasti akan membunuhku jika meninggalkan dayah. Aku hidup dan tinggal ditengah-tengah orang yang ta’at. Abu, jangan ditanya lagi. Lima waktu dia ke mesjid di samping dayah Teungku Adi, jika dia sedang tidak melaut.
            Kampungku kini jauh berubah. Gadis-gadis selepas magrib nonton sinetron yang tak pernah ada habis-habisnya. Remaja lelaki melesat ke kota, mencari tempat nongkrong. Tinggallah kami yang “kolot” mengaji di dayah, membuka kitab, membaca Alqur’an yang agung dengan menyampirkan do’a keselamatan agar terhindar dali bala. Kini remaja putra-putri kembali berani duduk berdua di tepi laut, tak lagi takut dengan polisi syari’ah. Ada juga yang sudah berani berpakaian modis dengan celana ketat. Teungku Adi selalu mengingatkan agar remaja putri di dayah memakai rok, bukan celana panjang, apalagi yang ketat.
            Malam mulai beranjak naik semakin tinggi, aku berjalan pulang dari dayah sendirian dalam jalan kampung yang gelap. Di depan rumah Dek Yah aku tertegun, mataku menatap sepasang bayangan duduk dibawah pohon mangga yang gelap. Suara perempuan yang tertawa terkikik-kikik manja itu suara Dek Yah. Entah siapa lelaki temannya bercakap aku tak tahu. Dadaku berdebar kencang, bukankah Mala mengatakan bahwa Dek Yah sakit? Apakah perempuan yang kukagumi ini berbohong? Mengapa pula dia duduk bergelap-gelapan? Seribu tanya menyesak di dada, nafasku semakin memburu sambil berlalu, pura-pura tak tahu.
            Paginya kampung gempar oleh berita Dek  Yah yang ditangkap keuchik[10]. Informasi yang kudapat, lelaki yang bersamanya itu Mahdan. Lelaki kampung yang serampangan dan tak pernah menginjak dayah. Lelaki besar cakap dan besar pula urat lehernya. Mengapa Dek Yah bisa terpesona padanya sehingga rela menghinakan diri sendiri?. Kepalaku berdenyut-denyut karena terlalu banyak pertanyaan yang tak bisa kujawab membebaninya. Satu-satunya kelebihan Mahdan adalah fisik yang hebat. Dia tampan dan selalu tampil rapi, walau kerjaannya hanya keliling kampung tebar pesona, hidup dari harta kekayaan bapaknya.
            Seminggu setelah Dek Yah dinikahkan, kampung kembali gempar. Kabar beritanya, Dek Yah disiksa Mahdan, Dek Yah jadi korban KDRT. Mahdan memukuli istrinya dengan kejam diiringi sumpah serapah yang memalukan. Badan Dek Yah babak belur, pipinya yang putih lebam, matanya seperti kena tinju, biru tua. Tak habis-habisnya warga kampung membahasnya, di dayah juga.
                        “ Nyan akibat inong hana harga”[11] Tengku Adi memulai tausiahnya, teman-teman perempuan menunduk.
            “Hana ridho Allah bak awak nyan, sebab bak phon pieh ka dosa. Meunyo rumoh tangga ta bina ngen ridho Allah, Insyaallah sakinah, mawaddah warahmah. Bek that teupeudaya ngon donya, shit donya hana abeh-abeh. Maken ta let, maken jioh..”[12] Teungku Adi menyeruput kopinya, kemudian melanjutkan
            “ Agam yeung got geujok le Allah u inong yang got, meunan chit seubalek jieh. Keuneuk meurumpok jodoh yeung got, ta mulai bak droe keu droe teueh”[13]
            Teungku Adi benar, bahwa lelaki yang baik adalah untuk perempuan yang baik, begitu juga sebaliknya. Jika ingin mendapat jodoh yang baik, mulailah dari diri sendiri menjadi orang baik. Malam itu, kembali aku pulang menembus jalan kampung yang gelap sendirian, melewati rumah Dek Yah yang gelap pula. Sayup-sayup kudengar suara tangisan perempuan, aku merinding, apakah itu tangisan hantu? Kupasang telinga dengan awas, suara itu dari dalam rumah, suara tangisan halus perempuan, suara Dek Yah. Aku miris dan perih, kasihan perempuan cantik itu, tak seharusnya dia menderita. Tapi apa mau dikata? Harga dirinya hanya sebatas itu. Aku terus berjalan menuju rumah, dalam gerimis yang mulai jatuh aku berdo’a, semoga Allah kelak memberiku jodoh yang baik. Dek Yah, telah memilih jalan hidupnya,  hidup dalam bingkai yang kusam.

Medan, Maret 11. Untuk semua perempuan hebat di dunia J
*Rahimah Ib adalah anggota FAM Medan dan aktif mengajar di SMP Darussalam Medan.



[1] Pondok kecil di sawah, biasa digunakan untuk beristirahat
[2] Makanan khas Aceh, kue dari tepung pulut yang dibungkus daun pisang muda
[3] Nenek

[4] “ketawa saja kamu, sudah tahu saya susah ngusir ayam, bukannya dibantu”
[5] Apa yang lucu, suka lihat saya susah
[6] Berapa orang yang datang, Nu?
[7] Sepuluh, Teungku
[8] Kamu, berapa Mala?
[9] Tujuh, Teungku. Dek Yah sakit, tidak bisa datang
[10] Kepala kampung
[11] Itu akibatnya perempuan tidak berharga
[12] Allah tidak meridhoi mereka karena sudah diawali dengan perbuatan dosa. Jika rumah tangga dibina dengan ridho Allah, Insya Allah sakinah, mawaddah warahmah. Jangan terpedaya dengan dunia. Dunia tak ada habisnya, makin dikejar makin jauh
[13] Lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, demikian juga sebaliknya. Jika ingin mendapatkan jodoh yang baik, mulailah dari diri sendiri.

Kamis, 25 September 2014

EPISODE MENDUNG YANG PANJANG




                Waktu bagiku ibarat benang kusut yang harus kuurai dengan teliti satu persatu, helai perhelai, teliti dan sabar. Benang kusut itu adalah awal tahun ajaran baru, aku harus meyelesaikan roster pelajaran untuk 14 rombel, memastikannya tidak “bertabrakan”, roster fullday, pembagian jam mapel, silabus rpp, buku, dll,dll. Aku menikmati seluruh aktifitas itu, mengurai perlahan, sabar dan semua akan selesai tepat pada waktunya. Ketika semua sudah lengang, aku akan menulis kembali secara konvensional, menekan tuts keyboard si Cepi yang mungil. Secara konvensional? Ya..karena jika tidak, aku akan terus menulis dalam ruang otak dan imajinasiku, aku terus menulis dalam diam maupun sadarku, berlebihan memang. Baiklah, aku akan bercerita tentang kisah gadis kecilku yang ternyata belum usai juga.
Malam perlahan beranjak naik, awan pekat menyelimuti kota Medan, namun hujan tidak turun, dingin. Dua travel bag sudah siaga di bagasi mobil, berikut segala macam report keadaan kaki Bila ada di dalam tas, makanan kecil dan rendang kering. Ya, aku akan membawa Bila ke Penang, Rumah Sakit Lam Wah Ee. Kami berangkat berdua, pesawat pertama jam 5.10 wib. Karena ayah Bila ada acara di Singapore dan Kuala Lumpur, maka ia akan menyusul kami ke Penang melalui jalur darat. Bandara Kuala Namu yang cukup jauh dari rumah menjadi kendala. Untuk naik taksi tengah malam, aku ciut. Membawa mobil dan parkir di bandara selama empat hari juga rasanya tak berani. Maka, aku minta tolong adik untuk mengantar kami pada jam 11 malam- tak tega jika minta ia mengantar jam 2 malam. Kami menembus gelap, melewati perkotaan dan jalan lengang menuju bandara, kebun sawit tanpa penerang jalan.
Bandara sepi, hanya ada beberapa orang yang bernasib sama seperti kami, menunggu pagi tidur di kursi-kursi panjang yang biasa dijadikan kursi tunggu. Aku coba melakukan hal yang sama, tapi gagal. Bila sepertinya tidak tertarik, dia asyik bermain game di ponsel. Wajahnya cerah, senyumnya tetap indah, dia tidak pernah mengeluh- justru itu yang membuat hatiku hancur melihat langkah kakinya yang tak sempurna. Jam 3.30 kami melakukan check in, membayar airport tax- 200 ribu per orang, mencekik tenggorokan. Sebelum boarding pass, aku menyempatkan membeli satu cup kopi dan menyeruputnya sampai habis. Bila tidak bisa minum susu pagi hari- perutnya mulas- aku menyuruhnya makan biscuit kering dan minum air putih. Tepat pukul 5.10 pesawat lepas landas, membelah langit gelap, melewati laut, hanya 45 menit, kami mendarat di Bayan Lepas, Penang.
***
Pinpin dan suaminya menyambutku dengan senyum paling manis- tentu saja, wajahku adalah ringgit di matanya. Bisnis mereka maju pesat, menjemput tamu yang ingin berobat, menyediakan jasa taxi dan kamar.  Dengan setia ia dan suaminya mengangkat dua travel bag yang kami bawa, menanya ini itu, memberi tahu ini-itu. Aku diam saja, toh dia juga tahu ini bukan kedatanganku yang pertama. Aku sudah tahu SOP ala Pinpin. Jangan begini, jangan begitu, hati-hati, hindari ini-itu, dll. Standart SOP Luar negeri lah. Setelah mengantar kami ke penginapan, menyimpan tas, kami mendapat kamar di sebuah rumah di jalan Lengkok Batu Lancang, jalan yang sama dengan kedatanganku yang lalu. Pinpin berbaik hati mengantar kami langsung ke rumah sakit dan mengganti nomor ponselku. Itu memang harus dilakukan pertama kali, agar dapat berkomunikasi dengan keluarga. Dan, Pinpin langsung menyimpan nomornya di ponselku. “Yu kalau perlu apa-apa bilang Ua, ya? Hati-hati, passport Yu jaga baik-baik, tas selempang saja,” aku mengangguk. Bahasa Pinpin sangat mudah dicerna, Pinpin China Medan yang membuka usaha ini di Penang.
Langkah pertama adalah aku mengambil nomor antrian, ada dua box kecil. Satu untuk nomor antrian pasien lama dan satu lagi untuk pasien baru. Aku menekan tombol di kotak pasien baru, dan duduk menunggu nomor dipanggil melalui monitor kecil yang terpasang disetiap sudut pandangan.  Setelah sebelumnya membeli sacangkir cappuccino di mesin kopi sebelah belakang rumah sakit. Rumah sakit ini tidak asing, karena sebagian besar pasien berasal dari Indonesia. Setelah nomor antrian kami dipanggil, aku menuju meja pendaftaran. Menjawab semua pertanyaan petugas India berwajah cantik tapi terkesan culas- tapi dia baik, tegas, tanpa basa-basi, patah-patah. Pertanyaannya standart, nama, alamat di Indon, alamat di Penang, ke dokter mana, keluhan apa, nomor passport, nomor telepon, email.  Jangan heran, kode pos alamat di Indonesia tak boleh lupa. Klik! Kami mendapat petunjuk darinya agar konsul ke dokter Tan Cheng Aun, spesialis ortophedic surgeon. Bukankah aku masih bingung? Apakah Bila positif skoliosis atau ada sesuatu di sendi pangkal pahanya? Allah lah yang tahu. Jadwal konsul masih 2 jam lagi, kami memilih tetap di rumah sakit, menunggu. Jika kembali ke penginapan, aku tidak yakin bisa kembali tepat waktu, mengingat mata yang terasa berat dan Bila yang mulai mengeluh ngantuk. Jadilah kami pengamat amatiran, namun Bila terhibur karena jaringan wifi yang berlari kencang., seperti kijang.
Pukul setengah sebelas, giliran kami menemui dokter. Dr. tan menyambut dengan ramah, perawakannya kecil, kulit putih, wajah cerah bercahaya, suaranya lembut, sangat bersahabat. Hasil dialog yang sesekali diselingi bahasa Inggris, melayu dan pada bagian tertentu diterjemahkan oleh perawat melayu, Dokter Tan paham maksud dan tujuan kami. Seperti biasa, MRI harus dilakukan sebelum mengambil tindakan. Dokter bertanya kapan kami pulang, aku menjawab dengan jujur. Karena daftar antrian MRI sudah penuh, kami dianjurkan kembali besok pagi. Pukul sebelas kami pulang ke jalan Lengkok Batu Lancang, berjarak sekitar 300 meter dari rumah sakit.  Sebelumnya, kami singgah dulu ke Sun Supermarket,  membeli beras dan air mineral. Bla merengek minta jalan-jalan ke Queensbay – aku pernah bercerita tentang keelokan pemandangan depan mall yang menghadap ke laut. Tapi aku keberatan karena kondisi kakinya yang sakit. Setelah menanak nasi di rice cooker, aku menunggu zuhur setelah itu kami ketiduran sampai petang. Aku terbangun ketika ponsel berbunyi, ayah sudah sampai ke Lengkok Batu Lancang. Di pintu pagar ayah berdiri, disaput langit jingga, matanya begitu lelah namun tetap hangat. Dari pancaran cahaya itu aku tahu, kami akan menghadapi semua ini bersama, dibawah lindungan Allah tentu saja.
***
                Kami sekarang sudah bertiga, terasa lebih ringan. Bila masuk ke ruangan MRI, sekitar dua jam. Aku dan ayahnya menunggu di luar, cemas. Selesai, kami langsung diantar menuju ruangan dokter. Eh…gambar hasil MRI langsung terkoneksi ke ruangan dokter, kami masuk dan dia Nampak sedang mengamati hasil foto yang terpampang di monitor computer. Dokter Tan memberi penjelasan, sederhananya adalah, ada cairan di tulang selangkangan Bila dan harus dibuang. Dokter bilang itu operasi kecil, padahal cuma disedot melalui suntikan. Bila harus tinggal di rumah sakit dan sore ini langsung diambil tindakan.
                Semua serba cepat, kami membayar deposit sebesar 1800 ringgit- biasanya uang ini berlebih dan dikembalikan. Bila langsung masuk ke ruang tindakan, punggung tangannya ditanam jarum suntik, dibungkus kain kasa lembut dengan tebal. Bila tampak nyaman saja, tertawa-tawa ditemani ayahnya yang terus berceloteh lucu- aku tak pernah berani menyaksikan momen ini. Suntikan awal, Bila enjoy saja. Sama dengan suntikan-suntikan keesokan harinya, langsung tiga kali, spuitnya besar-besar, Bila tak mengeluh dan malah bilang “enak, Ma. Dingin..” haaa?? Padahal ketika 12 hari di rumah sakit tanah air dia menjerit melihat jarum suntik. Penyedotan petang itu berjalan lancar, kami menyaksikan cairan bening kuning- seperti minyak goreng- dalam tiga tabung kecil. Dokter Tan menemui kami dan menjelaskan semua sudah berjalan baik dan cairan akan diperiksa lebih lanjut di laboraturium, hasilnya akan dikirin melaui email. Dua  malam di rumah sakit, kami sudah bisa pulang. Dokter bilang “Everything is oke” dan tak perlu control. Bila, masih menuntut jalan-jalan, dasar anak-anak. Tak apa, kami memilih naik rapid ke Komtar, beli coklat di Mydin dan souvenir di Penang Road. Kami ditemani Cik Dah dan Abah- Cik Dah menikah dengan Abah yang berasal dari Perak dan mereka sengaja ke Penang untuk menjenguk Bila.
Sore, kami langsung bergegas ke Bandara. Jadwal pesawat ke KNIA pukul empat sore, sementara ayah berangkat pukul sepuluh malam. Pesawat kami berbeda, ayah mencari tiket yang paling murah- karena sebenarnya tiket pulangnya melalui Kuala Lumpur. Sesuai perjanjian, kami akan menunggu beliau di Bandara Kuala Namu dan pulang ke rumah bersama, naik damri. Kata ayah, tak usah dijemput karena akan merepotkan orang lain. Ayah selalu begitu. Syukurlah, Bandara Kuala Namu nyaman dan menyenangkan, banyak resto yang meyajikan makanan lezat. Menunggu yang biasa membosankan jadi menunggu yang menyenangkan. I love my Town…




Rabu, 11 Juni 2014

EPISODE MENDUNG GADISKU (3)




                Waktu terus berjalan, segenap upaya penyembuhan sudah dilakukan. Selepas berobat ke alternative (sinshe), rasa nyeri di kaki  Bila berkurang.  Kursi roda tidak lagi digunakan, dia juga sudah bisa naik turun tangga walau secara perlahan, Bila juga sudah bisa melaksanakan sholat secara normal. Baik, pengobatan dianggap selesai. Tapi, hatiku menyatakan Bila sebenarnya belum sembuh, kakinya masih pincang., Tidurnya tidak lelap dan selalu gelisah, sekali-sekali ia mengerang. Aku harus terus menjaganya. Syukurlah, dia sekolah dimana tempat aku juga bertugas, sehingga aku masih bisa terus mendampinginya. Kami sudah diskusi, Bila sepertinya harus kembali mengikuti terapi di rumah sakit dimana ia sebelumnya dirawat. Mungkin terapi mampu mengembalikan posisi kakinya yang masih pincang dan dirasanya kaki kiri lebih memanjang dari kaki kanan.
                Suatu malam, Bila sedang belajar di kamarnya untuk persiapan ujian semester. Tiba-tiba kami mendengar ia menjerit menyebut asma Allah, dengan sontak aku dan ayahnya  terlompat menghampirinya. Sama seperti kasus sebelumnya, ia menangis, mengerang sambil memeluk buku pelajaran. Aku pilu, mengelus kakinya yang katanya sakit di pergelangan kaki. Ayahnya menghembus ubun-ubunnya sambil membacakan ayat-ayat dan zikir. Secara perlahan tangisnya reda, pipi putihnya basah, matanya sembab memerah. Secara fisik Bila memang Nampak berubah, kulitnya lebih bersih karena ia tak lagi mengikuti aktifitas di luar. Biasanya, ia aktif di Pramuka sekolah, sanggar tari  dan rajin sekali mengajakku berenang. Dia kini terkungkung karena sakitnya dan selalu bertanya kapan ia akan kembali berkemah?
                Situasi membuat kami harus cepat mengambil keputusan, demi kesehatan Bila. Pengobatan medis sudah, alternative sudah, tapi hasil masih belum memuaskan. Maka, kami mengambil keputusan akan membawa Bila ke Penang. Malam itu  juga kami melacak harga tiket pesawat dengan harga paling murah. Jadwal keberangkatan kami cocokkan dengan jadwal ayahnya yang akan berangkat ke Singapura -Kuala Lumpur dalam rangka studi banding. Rencanaya, tanggal 24 nanti kami akan bertemu di Penang. Semua sudah dirinci dengan teliti, kami harus berangkat dengan pesawat pertama dan langsung ke rumah sakit. Dengan begitu, jauh lebih efektif dan “hemat”.
***
                Apakah kami berhenti berobat sementara menunggu keberangkatan? No! kali ini ada yang mengusulkan agar Bila berobat ke “orangtua”. Kami bertanya, apakah “orangtua” itu pakai bunga dan jampi-jampi? Ternyata tidak. “orangtua” ini menggunakan metode sholat dan  zikir. Maka, kembali kami bawa Bila kesana. Karena jam terbang si “orangtua” yang tinggi, pertama kali datang tidak bertemu dan harus membuat janji untuk pertemuan berikutnya. Beliau menggunakan metode zikir, Bila terus disuruh berzikir dan membaca beberapa surah pendek. Kami orangtua diminta untuk membantu. Terjadi beberapa gerakan ghaib. Ditanya hasilnya kepada Bila, katanya kakinya lebih ringan, langkahnya semakin panjang dan ia merasa nyaman. Malamnya ia tidur sangat nyenyak, tidak lagi gelisah. Untuk ini, Bila harus mengikuti tiga kali pertemuan, setiap dua hari sekali. Tapi, kakinya masih saja pincang.
                Apalagi yang bisa aku lakukan sementara menunggu keberangkatan? Browsing! Sebelumnya, aku sudah capek browsing tentang penyakit ini. Tapi entah mengapa tiba-tiba aku mengetik sesukanya saja di search “PENYAKIT YANG MENYEBABKAN PANGGUL MIRING” – karena aku tiba-tiba ingat hasil foto tulang Bila yang menggambarkan tulang belakangnya sedikit bengkok dan panggulnya miring hingga kakinya panjang sebelah. Hasil searching memuaskan dan terus mengantarku pada satu nama penyakit SKOLIOSIS. Skoliosis merupakan kelainan pada tulang belakang yang membuat postur tubuh seseorang menjadi tidak tegap. Normalnya, tulang punggung itu lurus. Tetapi pada penderita skoliosis, tulang punggungnya jadi melengkung, menyerupai huruf S atau huruf C. Penyebab skoliosis belum diketahui secara pasti. Ada yang karena keseringan bawa barang berat, ada yang karena keseringan duduk miring-miring, dan katanya ada yang karena keturunan atau disebabkan kejang otot. Semua semakin jelas. Bukankah Bila sebelumnya olahraga di sekolah? Prediksi pertama ia mengalami kejang otot. Bukankah bisa saja Skoliosis itu berawal dari kejang otot tersebut? Berarti masalah Bila bukan di syaraf, melainkan tulang. Metode penyembuhan bisa dilakukan dengan operasi untuk kasus kemiringan yang berat dan terapi untuk kasus kemiringan yang ringan dan sedang- semoga Bila masuk kasus ringan, ya?
                Semua terasa semakin jelas, tapi yang menjadi pertanyaan adalah “MENGAPA DOKTER TIDAK MENDIAGNOSA JIKA BILA MENGALAMI SKOLIOSIS?” Bukankah Bila juga ditangani oleh dokter orthopedic? Entahlah, dokter is a human, right? Dan itu menuntut kita untuk lebih cerdas.