Rabu, 11 Juni 2014

EPISODE MENDUNG GADISKU (3)




                Waktu terus berjalan, segenap upaya penyembuhan sudah dilakukan. Selepas berobat ke alternative (sinshe), rasa nyeri di kaki  Bila berkurang.  Kursi roda tidak lagi digunakan, dia juga sudah bisa naik turun tangga walau secara perlahan, Bila juga sudah bisa melaksanakan sholat secara normal. Baik, pengobatan dianggap selesai. Tapi, hatiku menyatakan Bila sebenarnya belum sembuh, kakinya masih pincang., Tidurnya tidak lelap dan selalu gelisah, sekali-sekali ia mengerang. Aku harus terus menjaganya. Syukurlah, dia sekolah dimana tempat aku juga bertugas, sehingga aku masih bisa terus mendampinginya. Kami sudah diskusi, Bila sepertinya harus kembali mengikuti terapi di rumah sakit dimana ia sebelumnya dirawat. Mungkin terapi mampu mengembalikan posisi kakinya yang masih pincang dan dirasanya kaki kiri lebih memanjang dari kaki kanan.
                Suatu malam, Bila sedang belajar di kamarnya untuk persiapan ujian semester. Tiba-tiba kami mendengar ia menjerit menyebut asma Allah, dengan sontak aku dan ayahnya  terlompat menghampirinya. Sama seperti kasus sebelumnya, ia menangis, mengerang sambil memeluk buku pelajaran. Aku pilu, mengelus kakinya yang katanya sakit di pergelangan kaki. Ayahnya menghembus ubun-ubunnya sambil membacakan ayat-ayat dan zikir. Secara perlahan tangisnya reda, pipi putihnya basah, matanya sembab memerah. Secara fisik Bila memang Nampak berubah, kulitnya lebih bersih karena ia tak lagi mengikuti aktifitas di luar. Biasanya, ia aktif di Pramuka sekolah, sanggar tari  dan rajin sekali mengajakku berenang. Dia kini terkungkung karena sakitnya dan selalu bertanya kapan ia akan kembali berkemah?
                Situasi membuat kami harus cepat mengambil keputusan, demi kesehatan Bila. Pengobatan medis sudah, alternative sudah, tapi hasil masih belum memuaskan. Maka, kami mengambil keputusan akan membawa Bila ke Penang. Malam itu  juga kami melacak harga tiket pesawat dengan harga paling murah. Jadwal keberangkatan kami cocokkan dengan jadwal ayahnya yang akan berangkat ke Singapura -Kuala Lumpur dalam rangka studi banding. Rencanaya, tanggal 24 nanti kami akan bertemu di Penang. Semua sudah dirinci dengan teliti, kami harus berangkat dengan pesawat pertama dan langsung ke rumah sakit. Dengan begitu, jauh lebih efektif dan “hemat”.
***
                Apakah kami berhenti berobat sementara menunggu keberangkatan? No! kali ini ada yang mengusulkan agar Bila berobat ke “orangtua”. Kami bertanya, apakah “orangtua” itu pakai bunga dan jampi-jampi? Ternyata tidak. “orangtua” ini menggunakan metode sholat dan  zikir. Maka, kembali kami bawa Bila kesana. Karena jam terbang si “orangtua” yang tinggi, pertama kali datang tidak bertemu dan harus membuat janji untuk pertemuan berikutnya. Beliau menggunakan metode zikir, Bila terus disuruh berzikir dan membaca beberapa surah pendek. Kami orangtua diminta untuk membantu. Terjadi beberapa gerakan ghaib. Ditanya hasilnya kepada Bila, katanya kakinya lebih ringan, langkahnya semakin panjang dan ia merasa nyaman. Malamnya ia tidur sangat nyenyak, tidak lagi gelisah. Untuk ini, Bila harus mengikuti tiga kali pertemuan, setiap dua hari sekali. Tapi, kakinya masih saja pincang.
                Apalagi yang bisa aku lakukan sementara menunggu keberangkatan? Browsing! Sebelumnya, aku sudah capek browsing tentang penyakit ini. Tapi entah mengapa tiba-tiba aku mengetik sesukanya saja di search “PENYAKIT YANG MENYEBABKAN PANGGUL MIRING” – karena aku tiba-tiba ingat hasil foto tulang Bila yang menggambarkan tulang belakangnya sedikit bengkok dan panggulnya miring hingga kakinya panjang sebelah. Hasil searching memuaskan dan terus mengantarku pada satu nama penyakit SKOLIOSIS. Skoliosis merupakan kelainan pada tulang belakang yang membuat postur tubuh seseorang menjadi tidak tegap. Normalnya, tulang punggung itu lurus. Tetapi pada penderita skoliosis, tulang punggungnya jadi melengkung, menyerupai huruf S atau huruf C. Penyebab skoliosis belum diketahui secara pasti. Ada yang karena keseringan bawa barang berat, ada yang karena keseringan duduk miring-miring, dan katanya ada yang karena keturunan atau disebabkan kejang otot. Semua semakin jelas. Bukankah Bila sebelumnya olahraga di sekolah? Prediksi pertama ia mengalami kejang otot. Bukankah bisa saja Skoliosis itu berawal dari kejang otot tersebut? Berarti masalah Bila bukan di syaraf, melainkan tulang. Metode penyembuhan bisa dilakukan dengan operasi untuk kasus kemiringan yang berat dan terapi untuk kasus kemiringan yang ringan dan sedang- semoga Bila masuk kasus ringan, ya?
                Semua terasa semakin jelas, tapi yang menjadi pertanyaan adalah “MENGAPA DOKTER TIDAK MENDIAGNOSA JIKA BILA MENGALAMI SKOLIOSIS?” Bukankah Bila juga ditangani oleh dokter orthopedic? Entahlah, dokter is a human, right? Dan itu menuntut kita untuk lebih cerdas.

Kamis, 29 Mei 2014

EPISODE MENDUNG GADISKU (2)




            Memang, hari-hari yang kulalui berikutnya begitu panjang. Air mata terus mengalir, kusembunyikan dari gadis kecilku agar hatinya tak resah. Banyangan kecacatan fisiknya menghantui segenap pikiranku. Aku siap atas segala kemungkinan, tapi tentu saja setelah segala upaya dilakukan. 1 Mei libur may day, aku ingin segera membawanya ke Rumah sakit, tapi urung karena ia menangis menolak “Bila enggak mau diinfus” keluhnya lemah. Jadilah hari itu kami hanya di kamar bersamanya, menyaksikan air matanya yang mengalir ketika sakit di pahanya datang, menyayat hati yang semakin perih. Ayah berkali-kali mengelus pahanya, menghapus airmatanya dan terus mensupport bahwa Bila pasti akan sembuh.
            Jum’at pagi, 2 Mei kami membawa Bila ke salah satu Rumah Sakit Swasta atas hasil diskusi keluarga dan adik yang mengerti urusan medis. Di Rumah Sakit Bila langsung ditangani Direktur, langsung diambil foto pelviksnya dan segalanya serba cepat dan dipermudah. Hasil foto awal, tulang panggul Bila miring sehingga kakinya berkesan panjang sebelah. Tapi tidak ada masalah tulang sama sekali, dokter curiga pada otot. Kami sudah minta foto MRI, tapi tim dokter minta ditunda dulu karena itu dianggap belum perlu. Beberapa kali Bila menjalani pemeriksaan darah, semua hasilnya bagus. Dokter bergerak pada kecurigaan yang lain, TBC tulang, tapi hasil mantuk juga negative. Kemudian, diagnose yang lain transient synovitys. Dokter tim yang menangani Bila terus berdiskusi, dokter tulang, dokter syaraf (2 orang), dokter fisioterapi dan dokter anak.
            Sementara itu, Bila terus menangis menahan sakit di pahanya. Dia tertidur pulas namun tiba-tiba berteriak “Allahu akbar! Sakit Ma! Sakit Mama!” aku tak pernah bisa tidur nyenyak, ditambah lagi aku harus menjalankan tugas dalam pelaksanaan UN siswaku. Ayahnya juga harus berangkat menjalankan tugas ke Bandung selama tiga hari sementara beberapa perjalanan sudah dibatalkan. Atas anjuran dokter Bila menjalani terapi otot, Bila disorong dengan tempat tidur dari lantai tiga ke lantai satu, aku dan ayahnya mendampingi.  Segala macam alat ditempelkan ke pahanya, menimbulkan reaksi panas. Tiga kali terapi tak ada reaksi malah semakin sakit. Terapi keempat Bila menangis menyerah, dan adikku- karena aku tugas, Bila dijaga Cicik (om) nya- harus menanda tangani surat pernyataan menolak terapi. Hasil diagnose akhir, di paha Bila ada syaraf yang “nyelip”.
            Hari kesembilan di Rumah sakit, keluarga kembali diskusi langkah apa yang harus dilakukan untuk kesembuhan Bila. Bila masih melakukan BAK dengan pispot karena kaki kirinya tak bisa berfungsi dengan baik karena setiap bergerak timbul rasa sakit yang luar biasa. Ayahnya cenderung ingin membawa Bila ke Penang, maka segera diurus passport secara online agar prosesnya cepat dan jadwal foto yang bisa disesuaikan. Tapi sementara menunggu proses selesai, adikku menganjurkan agar Bila berobat alternative saja dulu. Maka kami memanggil seorang ahli pengobatan alternative ke rumah sakit untuk melihat kondisi Bila. Dan memang ia menganjurkan sebaiknya Bila dibawa pulang dan menjalani pengobatan alternative saja.
            Maka, hari ke sepuluh kami memutuskan keluar dari rumah  sakit setelah minta izin dengan tim dokter secara baik-baik. Kami mengucapkan banyak terimakasih atas segala pelayanan yang baik, perhatian dan segala dukungannya. Kami mengatakan bahwa Bila akan kami bawa ke Penang dan tim dokter setuju “Ya, semoga di sana nanti semua tuntas” ujar salah satu dokter. Hari itu juga, Bila kami bawa ke pinggiran kota Medan untuk menjalani pengobatan. Dan…hari-hari berikutnya masih terasa amat panjang, sepanjang jalan yang penuh harapan…

Kamis, 15 Mei 2014

EPISODE MENDUNG GADISKU (1)




                Minggu yang cerah, Family day is coming…seperti biasa, kami bersih-bersih rumah, masak bersama anak-anak dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Tapi, minggu ini banyak sekali undangan walimah. Jika sudah begitu, berarti waktu banyak habis di luar. Baiklah, silaturrahmi harus tetap jalan namun kebersamaan dengan anak-anak juga tak boleh hilang, maka mereka semua diajak menghadiri undangan. Tapi, si sulung- Kak Za punya alasan untuk tidak ikut, begitu pula dengan dua keponakanku Iyan dan Uni. Karena mereka juga harus menyelesaikan tugas sekolah dan kuliah yang cukup banyak, maka ikutlah Syifa, Bila dan Wafi.
                Hmm…seperti kebiasaan Bila, si nomor tiga. Jika bepergian, ia tak pernah bisa memilih pakaiannya sendiri, aku harus selalu turun tangan, padahal baju tinggal ambil di lemari.
“Mama…Bila pake baju apa?” wajahnya menyembul dari pintu kamarku, wajah putih yang mungil. Ia baru sembuh dari sakit demam dan sempat dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Tapi hari ini wajahnya sudah segar, ia juga sudah lincah bergerak, wajahnya cerah. Menurut dokter, Bila demam biasa – karena hasil tes darah semua menunjukkan hasil yang baik.
“Bila cari sendiri aja, ya? Yang penting cocok buat dipake untuk pesta,” aku mencoba mengajarkannya mandiri dan pede dengan pilihannya sendiri. Tapi, gadis kecilku menekuk wajahnya.
“Mama aja yang pilihin, Bila enggak tau…” wadduh..suara halusnya membuatku takluk. Maka, aku langsung turun tangan memilih gaun untuknya. Karena ia sudah beranjak remaja, banyak pakaiannya yang sudah tidak muat dipakai. Aku memilih sebuah gaun dari tumpukan daganganku, gamis hitam sifon dengan taburan payet di dada. Untuk jilbab, aku memilih jilbab paris merah polos yang aku ikat membentuk turban. Gadis kecilku tampil cantik, ia memang sedang beranjak remaja. Kakak-kakaknya terpesona, kaget melihat adiknya yang sudah beranjak remaja. Uni –kakak sepupunya malah bekerjab-kerjab lucu.
Perjalanan menghadiri walimah yang menyenangkan. Silaturrahmi berjalan dengan lancar. Menghadiri pernikahan Diana Zahar dan  Aida, dua sahabat baikku. Karena jarak lokasi yang berjauhan, kami sampai di rumah sudah menjelang magrib. Dan malamnya kami sudah sibuk dengan persiapan esok, menyiapkan segala keperluan tugas dan sekolah mereka. Esok, yang tak pernah aku lupakan seumur hidup, senin yang suram L
***
Senin malam, Bila mengeluh kakinya sakit sehabis olahraga di sekolah. Kami menanggapinya dengan santai, kakaknya tertawa. “Itu sakit biasa, toh Bila udah lama enggak olahraga, “ kata Kak Liza santai. “Adduuh…Bila lebay, sakit dikit nangis, nanti juga sembuh. Itu sakit biasa, namanya juga Olahraga,” kata Kak Syifa. “Enggak apa-apa, Kak. Lawan aja sakitnya..” kata Wafi. “Iya Bila, itu sakitnya enggak apa-apa, kok” kata Kak Uni. Tapi, wajah Bila meringis menahan sakit. Esoknya, ia kembali sekolah seperti biasa. Pertengahan jam belajar, ia menemuiku di kantor dengan wajah pucat.
“Mama…Bila enggak tahan, kaki Bila sakit,”
“Oke, istirahat aja ya? Nanti kalo enggak sakit lagi, Bila masuk,” Bila kuantar ke ruang UKS untuk beristirahat. Malamnya Bila demam, suhu tubuhnya meninggi dan aku memberinya obat penurun panas. Paginya, Kak Liza mengantarnya ke tukang kusuk langganan, mungkin Bila keseleo pada waktu Olahraga. Tapi malamnya dia kembali mengerang kesakitan. Kata Mami, mungkin dia terkena “bahal”, ada gumpalan kecil di balik kulit selangkangannya. Maka, aku pun membuat ramuan untuk ditapalkan di tempat yang sakit. Tapi semua tidak bereaksi, dan gadisku masih terus menangis menahan sakit yang menyelimuti selangkangan dan pahanya. Malam rabu, Ayah mengajak makan di luar karena Ayah lulus sidang tesisnya. Bila tetap tidak dapat menikmati, aku memapahnya yang berjalan pincang, entah mengapa, kaki kirinya berat sekali.
Rabu sore (30 April 2014), sepulang kerja, aku menghampiri gadisku yang berbaring di kamar. Rencananya, malam ini keluarga besar akan berkumpul dan makan malam di luar. Besoknya, 1 Mei Kak Liza berulang tahun, Ayah lulus S2 dan Bunda (adikku) juga lulus seleksi S2 di PTN bergengsi. Semua sudah direncanakan dengan matang. Pikirku, kondisi Bila tentu bukan masalah yang serius dan bukan pula penghalang kami untuk bersenang-senang. Dia juga dapat menikmati kebersamaan dalam keluarga dan agar lebih bersemangat. Aku juga mempersiapkannya untuk bersih-bersih di kamar mandi.
“Sayang, coba jalannya biasa aja. Kalo kakak pincangin, takutnya pincang beneran lho..” aku masih mensugestinya.
“Enggak bisa, Mamaaa…” mata gadisku memerah.
“Bisa, sayaaang..tahan aja sakitnya, jangan diikutin cara jalan yang salah..” aku sedikit memaksa.
“Enggak bisa, Mamaaaaaa… kaki Bila panjang sebelah!” mata itu mulai basah, gadisku menangis keras. Aku serasa disambar petir, jantungku mulai bekerja lebih cepat, aku menahan diri, mencoba menahan diri.
“Coba Bila tegak…” kuperhatikan kedua kaki anakku, yang satu jinjit dan satu lagi menyentuh lantai.
“Coba Bila tidur,” jantungku semakin cepat. Bila berbaring, kuluruskan kedua kakinya. Kulihat tumitnya, yang kiri lebih panjang, tungkainya juga. Cepat-cepat aku meraih handphone dan berlari turun meninggalkan kamar. Tangisku pecah, jantungku berpacu dengan sangat cepat, aku kalap. Ketelepon ayahnya yang sedang menjemput Wafi les sempoa. Kak Liza menenangkanku, ia memang sudah semakin dewasa.
“Mama jangan nangis, nanti dilihat sama Bila dia juga jadi stress. Bila enggak apa-apa kok, itu perasaan Mama aja,” si sulung memelukku, menepuk-nepuk bahuku menenangkan.
“Tapi, Mama lihat kakinya panjang sebelah Kaaak…” Tangisku semakin keras.
Dan…setelah ini, hari-hari semakin panjang. Berjuang dengan airmata dan do’a, demi gadisku yang beranjak remaja. Gadisku yang halus budi bahasanya, selalu memeluk dan menciumku tanpa bosan dan risih meski aku sedang berkeringat. Gadisku yang selalu berterimakasih meski aku hanya memberinya sebuah permen.


Sabtu, 19 April 2014

GADIS BERSARUNG




            Pagi masih berselimut kabut. Daun-daun mangga dan anggrek masih basah berembun. Udara pagi menggigit dingin.  Aku masih tepekur di sudut  halaman rumah, jongkok di bawah pohon jambu, merapatkan jaket. Kuperhatikan rumah di sebelah utara, rumah bercat hijau lumut bersih. Halaman yang banyak ditumbuhi bunga-bunga, berpagar tanaman alam nan asri. Rumah itu, rumah yang menarik perhatianku selama seminggu ini. Rumah yang selama ini sama saja dengan rumah yang ada di komplek tempat aku tinggal. Rumah itu kini sangat  berbeda, atau tepatnya penghuni yang sangat berbeda.
            Yang kutunggu akhirnya muncul juga, pemandangan unik yang selalu aku tunggu seminggu ini, setiap pagi. Seorang gadis sibuk menyiram bunga dengan selang air. Tidak berapa lama kemudian muncul gadis lainnya dengan sapu lidi, menyapu daun-daun melati yang gugur di atas rumput jepang yang rapat seperti beledru. Selang beberapa menit berikutnya muncul lagi seorang gadis; perkiraanku masih duduk di bangku SMP. Suara canda mereka benar-benar mampu memecah  pagi yang hening. Sesekali terdengar suara ibunya agar mereka jangan terlalu membuat keributan, tak enak pada tetangga. Tapi, entahlah aku suka melihat mereka, kompak, lucu dan penampilan yang tak biasa. Pemandangan aneh yang selalu kulihat seminggu pagi ini adalah tak lain dan tak bukan, ketiga gadis cantik itu memakai kain sarung. Kain yang biasa aku gunakan untuk solat berjama’ah di masjid komplek. Mengapa hari gini masih ada gadis kota bersarung?
            “Ferza!” aku terkejut mendengar suara mama yang agaknya sibuk mencariku yang sudah menghilang dari kamar. Belum sempat aku menjawab, mama sudah ada di sampingku, berkacak pinggang dan melotot!
            “Ya, Allah! Ngapain kamu di sini? Enggak sekolah?” belum aku menjawab, pandangan mama sudah menuju ke arah halaman rumah gadis itu.
            “Merhatiin anak Tante Husna?” syukur, mama tak marah. Mama tersenyum kecil, bibirnya dimonyongkan beberapa senti.
            “Hehehe, naksir yang mana nih?” mama menggoda, pipiku terasa panas, mungkin memerah.
            “Enggak ah, Ma! Ferza siap-siap, ya!” aku berlari masuk rumah, mama menyusul sambil tertawa.
            “Yang mana, nih! Biar mama comblangin!” ya Allah, nih mama buat malu aja, rutukku dalam hati. Aku kelas tiga SMA, tapi sangat pemalu, apalagi sama perempuan, hii...aku takut!
Aku masuk kamar mandi dengan perasaan tak menentu, aku tidak menyukai mereka seperti yang dikatakan mama, tapi mereka itu sangat unik. Mereka, tiga orang gadis bersarung.
            Aku masih memanaskan motorku, pemandangan rutin itu muncul lagi dari depan pintu pagar. Tiga gadis bersarung berubah total menjadi tiga gadis yang sangat cantik dan modis. Seorang diantara mereka; mungkin si sulung mahasiswa karena berpakaian bebas, menyetir mobil jazz silver. Dua adiknya berseragam SMA dan SMP ikut bersamanya. Sebelum berangkat, kehebohan kembali terjadi. Mereka akan berebut menyalami ibunya dan mencium bergantian, memeluk beramai-ramai. Mereka akan tertawa bersama-sama, melambai ke arah ibunya sampai mobil bergerak tak kurang dari seratus meter. Aku, sangat menyukai pemandangan ini. Ah! Aku tak punya saudara perempuan.
            ***
            Sudah hampir satu bulan lamanya aku menjalani rutinitas jongkok di bawah pohon jambu memerhatikan tiga gadis cantik yang unik. Mama semakin heran dan mulai mengajakku bertandang ke rumah Tante Husna, terang saja aku menolak. Mengapa harus bertandang tanpa sebab? Ihh...kan malu.
            “Ferza, penyakitmu itu sudah akut. Kalo masih gitu juga nanti Mama bawa ke psikolog!” wadduh, mama mulai mengancam.
            “Aku enggak stres kok, Ma. Enggak juga depresi apalagi gila.”  Aku nyengir kambing sambil menggigit roti.
            “Trus, ngapain juga kamu nongkrong tiap pagi di bawah pohon jambu merhatiin mereka? Kamu aneh, tau!” mama mulai sengit.
            “Mereka itu unik, Ma. Mana ada gadis hari gini bersarung? Trus mereka sangat kompak, bahagia, sayang sama ibunya tuh, sweeeett banget,” aku mulai alay.
            “Trus? Kamu enggak bahagia, gitu?”
            “Aduuh...Mama princess yang cantik, aku bahagia Mama sayang. Tapi aku kesepian seorang diri, enggak punya saudara perempuan. Mas Tegar malah kuliahnya jauh banget, aku kan sedih..hiks,” aku bertambah lebay. Tapi, warna wajah mama berubah suram dan aku mulai menyesal.
            “Tapi masih untung kok aku punya mama princess, hehehe,” aku semakin alay. Tapi mungkin itulah cara membuat mama bahagia. Mama menjitak jidatku sayang, sambil tertawa memamerkan sudut gigi serinya yang sompel, tapi suer! Mama masih sangat cantik.
            “Kamu antar ini ke rumah Tante Husna, ya?” mama menyerahkan sekotak brownis kukus yang masih hangat dan harum. Aku serasa tak berjejak ke tanah, papa yang asyik membaca koran nyengir, ah!
            “Wadduh, Mama! Ini namanya pemerkosaan hak asasi,” aku mulai asal nyablak, mama melotot.
            “Kamu kalo ngomong enggak pake kamus ya, Za?” papa mulai ikut campur.
            “Aduuh, Pa! Yang lain aja deh, disuruh cuci mobil, cuci WC, nyiram bunga, Ferza enggak nolak kok,” senyum papa semakin lebar.
            “Ayolah...nanti brownisnya dingin, enggak enak lagi. Demi mama princess ya? Pliisss..” mama mulai memelas, alaaahhh...ini ilmu mama yang paling mujarab dan membuat aku selalu mengiyakannya. Berat hati aku menerima kotak itu dan harus mengantarnya ke rumah depan. Apakah gadis bersarung ada di rumah?
            Rumah itu sepi, tak ada tanda ada orang di rumah, padahal ini hari minggu. Aku mulai ragu melangkah, tapi aku harus menyampaikan amanah mama, sekotak brownis hangat. Perlahan, kutekan bel, terdengar suara denting beberapa kali. Huff...ada suara langkah menuju pintu.
            “Assalamu’alaikum...”
            “Wa’alaikum salaaamm....” suara dari dalam, tepat di balik pintu.
            “Lho? Ah...Tante kira tamu jauh, rupanya kamu. Ada apa, nih?” aku tersenyum dan menarik nafas lega. Bersyukur karena Tante Husna yang membukakan pintu.
            “Ini, Tante. Titipan Mama, masih hangat, fresh from the oven, Hehehe..” kucoba bercanda walau terdengar garing. Itu kan brownis kukus, kenapa pula kukatakan dari oven?
            “Adduuhh...makasih banyak. Oya, kamu tunggu bentar, ya? Tante juga buat sup buah, lebih enak dari yang dijual di cafe, ntar ya?” aku belum menjawab, Tante Husna sudah menghilang ke ruang belakang. Aku duduk di teras sambil menunggu. Aku lega tidak berhadapan dengan ketiga gadis bersarung itu. Namun...sesungguhnya hatiku bertanya-tanya penasaran, kemana mereka? Ma’af, aku sedikit tidak berlaku sopan, karena apa? Karena aku mengintip ruang tamu, taman samping, garasi sampai beberapa kali.
***
            Pagi yang hujan, dingin menggigit tulang. Waktu yang paling nyaman meringkuk di balik selimut, memeluk guling. Tapi ini adalah hari yang penting buatku, aku harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ada pertandingan seleksi daerah untuk pertandingan nasional karate di Bali nanti. Bali? Ah...siapa yang tidak ingin ke sana? Gratis pula. Hmmm..itu adalah target, aku harus lulus seleksi daerah, menuju Bali dan aku harus pulang membawa medali emas untuk daerah tercinta.
            “Ready to be a winner?”        papa  menyambutku di meja makan, masih berkain sarung, tersenyum.
            “Ya, do’akan ya, Pa?” aku meneguk segelas jus yang dicampur madu, buatan mama.
            “Persiapan kamu, gimana?”
            “Insya Allah, semaksimal mungkin, Pa”
            “Peta kekuatan lawan?” papa menatapku serius, aku menarik nafas panjang.
            “Lawan harus  dibayangkan selalu lebih hebat, lebih kuat dan lebih segalanya,”
            “Bagus, artinya..kamu tidak boleh menyepelekan lawan,” papa tersenyum, mengucek-ngucek rambutku.
            Pagi masih hujan, tak ada matahari dan aku tak pula jongkok di bawah pohon jambu untuk memerhatikan tiga gadis bersarung. Aku benar-benar fokus pada pertandingan pagi ini. Karena cuaca yang buruk, aku diantar papa ke gelanggang tempat biasa aku latihan karate. Tempat itu pula yang digunakan hari ini untuk pertandingan seleksi. Baju karate putih dan sabuk hitamku sudah di dalam tas sejak malam tadi. Karena diantar papa, aku memutuskan memakai baju kebanggaanku itu dari rumah.
            Gelanggang sudah ramai, banyak orang yang tidak aku kenal. Aku segera menjumpai pelatih dan teman-teman satu tim. Simpai Ayi menyambutku setelah aku memberi hormat dengan mengucapkan “osh”.
            “Kamu, Ferza...masuk di pertandingan kedua. Lawan pertamamu Yudha, kamu ingat Yudha? Anggota Dojo Mifta? Ingat kan?” Simpay Ayi berkata tegas dengan matanya yang tajam.
            “Osh!..ingat Simpai,” kujawab tak kalah tegas, Simpay Ayi mengangguk. Yudha itu atlit yang tangguh, aku pernah kalah dengannya pada pertandingan yang lalu, tapi apakah aku harus takut? No! Pantang takut dan pantang menyerah, tapi harus tetap rendah hati, itu adalah janji karate.
Its show time, pertandingan demi pertandingan berlalu hingga giliranku tiba. Yudha berperawakan tidak terlalu tinggi, tapi ia nampak kekar dan tangguh. Kulit wajahnya  bening, pandangannya tajam, wajahnya tegang tanpa ekspresi. Setelah membungkuk hormat, Yudha menyerang duluan. Aku menerima tendangan dan membalas dengan pukulan. Mempelajari gerakan Yudha, aku memutuskan menggunakan Goju-ryu. Paduan gerakan yang kurasa sangat efektif dengan pernapasan yang kuat. Pertandingan demi pertandingan aku menangkan, tiket ke Bali sudah di tangan. Tapi, perasaanku tak enak. Salah satu gadis bersarung itu ada di barisan atlit putri, ah.. ketika aku dipanggil ke panggung menerima medali dia juga dipanggil untuk kategori putri, medali emas.
             “Kamu atlit karate juga, ya?” gadis bersarung itu menghampiriku, setelah turun dari tribun dan mengulurkan tangannya. Aku sambut, sedikit gemetar. Aku kan sudah katakan, aku takut sama perempuan, entah mengapa, super lebay.. aku mengangguk dan tiba-tiba berani menjawab.
            “Ya…gitu deh. Aku malah enggak nyangka, kamu juga atlit karate,”
            “Kenapa? Karena aku suka memakai sarung? Hahahaha…” tawanya lepas, gigi putihnya Nampak rapi berderet-deret. Aku menelan ludah, cemas.
            “Kamu kan suka mengamati kami setiap pagi, unik kan?” senyum itu menggoda, dia seusiaku dan berani sekali. Wajahku memanas dan tak bisa menjawab, kakiku mendadak gemetar. Aku ingin lari saja, malu tak kepalang tanggung. Gila!
            “See you tomorrow morning, bye….” Ia berlalu sambil tersenyum lagi, kakiku masih   terpacak di ubin dingin. Tomorrow morning? Keningku mengkerut.
            “Jangan di bawah pohon jambu, banyak nyamuk! Kamu bantuin kita aja nyiram bunga!” senyum itu semakin lebar. Aku merasa dunia runtuh, alamaaaakkk…malunya! Satu rombongan pula nanti berangkat ke Bali. Aiiihh… ada koper? Ada koper? Buat nyimpan mukaku? Hiks