Sabtu, 01 Juni 2013

CERITA CINTA DI BALIK PENGUMUMAN KELULUSAN SMP DARUSSALAM MEDAN




            Sabtu, 1 Juni 2013. Pengumuman kelulusan siswaku tercinta, siswa SMP Darussalam Medan. Malam, aku sudah susah tidur karena belum ada hasil konkrit, tersiksa. Pagi, empat kali aku ke kamar mandi karena mendadak diserang mulas yang melilit, melintir usus dengan kejam! Agaknya, sinyal-sinyal resah di dada dan kepala memengaruhi usus dan anggota perut lainnya, resah yang komplit! (sedikit lebay). Pukul 11 siang, hasil di tangan. Alhamdulillaaaahh…siswaku lulus 100% horeeee…..terimakasih ya, Allah…terimakasih ya Allah…aku bersujud syukur.
            Pukul dua, orangtua siswa dikumpulkan di kelas, ibu Kasek memberi pengarahan. Wajah-wajah orangtua Nampak mengkerut, berlipat-lipat stress. Hasil, tentu tak boleh dibocorkan dahulu, pengumuman dimasukkan dalam amplop tertutup. Di luar, siswa/i mengintip tak kalah kalut, kasihan. Wali kelas segera mengambil posisi masing-masing, siap melepas peluru. Selepas pengarahan dan menyapa orangtua dan siswa, aku pun kembali masuk kantor. Bersiap jika ada orangtua yang ingin berkonsultasi dan lain-lain (seringnya curhat, nyeritain anaknya yang begini-begitu, maklum…remaja, masalahnya macam-macam). Belum lagi ngotot masuk ke sekolah yang belum tentu sesuai kocek orangtua, kadang anak suka maksa…
            Baiklah, orangtua pertama masuk. Wajahnya sangat resah, air mukanya keruh. Ibu yang cantik ini menanyakan nilai akhir anaknya, aku memberi bocoran. Nilai yang baik, tapi tidak terlalu tinggi, ia berulangkali mengusap wajah dan mulai bercerita.
“Ibu, anak saya mau masuk SMAN…. (SMAN favorit di kota Medan). Tapi, nilai segitu, mana lulus jalur regular? Dia ngotot mau masuk dengan tes, tapi ibu tau kan? Kalo tes itu hasilnya enggak objektif dan “pake tanda kutip”. Gimana dong?” (si ibu pake bahasa Jakarta). Aku  masih menjadi pendengar yang baik, dia melanjutkan.
“Saya udah bilang, kita enggak boleh nyogok, itu dosa! Masa mau masuk SMA aja nyogok? Wadduh! Gimana, nih? Saya pusing karena dia ngotot” si ibu semakin resah parah. Baiklah, aku tahu, ibu ini bukan resah masalah uang. Toh, ayah si siswa  yang ngotot ini punya jabatan di sebuah bank swasta nasional, pasti dia punya duit. Tapi, benar, resahnya karena masuk SMAN favorit itu melalui jalur yang “tanda kutib”. Pakaiannya sudah menunjukkan, si ibu seorang muslimah sejati, bukan muslimah tanggung. Aku coba memberi gambaran singkat untuk si ibu, dia manggut-manggut dan segera menyela “Ibu aja yang ngomong sama anak saya ya?” aku mengangguk, baiklah. Nah, akhirnya, siswaku yang ganteng duduk di hadapanku. Tubuhnya tinggi, wajahnya halus budi, hidung mancung dihiasi bibir mungil bebas rokok (tentu saja). Aku  menatap matanya, focus.
“Audy, mau lihat hasil UN?” aku memulai, mensugesti, support atau apalah namanya. Dia mengangguk, aku tahu dia berdebar. Kubuka daftar nilai dengan perlahan, membahas nilainya. Dia  manggut-manggut, wajahnya mulai kusut.
“Ngotot masuk SMAN….?”
“Iya, Bu. Nilai saya memang enggak cukup, tapi katanya ada jalur tes, kok. Kemaren sepupu saya lulus jalur itu,” upss…langsung aku sambar kata-katanya.
“Gratis? Free? Enggak pake duit?” naaahh..kan! wajah itu kembali mengkerut, dahinya berlipat.
“Enggak, sih. Katanya pake duit,” wadduh!
“Audy, kita usaha, ya? Nanti kamu daftar aja di SMAN favorit kamu. Tapi ingat! Enggak usah pake duit. Kamu tau? Menyogok dengan yang disogok itu sama dosanya. Buat apa mencari ilmu dengan cara yang enggak halal? SMA aja udah gitu, gimana dunia kerja? Muncullah nanti koruptor.” Saya berhenti sebentar, memerhatikan wajahnya yang galau.
“Kamu mau cari style di sana? Ah..sekolah swasta bergengsi juga banyak. Kamu belajar yang baik, cari bimbel yang oke, terus asah otakmu. Nanti, targetmu adalah perguruan tinggi nasional yang keren. Targetkan Unpad, ITB, IPB.” Woooww….wajah itu mulai bersinar. Dia mulai mengangguk-angguk.
“Cita-cita kamu nanti mau jadi apa?”
“Arsitek,”
“Keren. Nanti kamu tempel gambar Universitas favorit targetmu di kamar besar-besar, tulis rencana dan tujuanmu.” Ah! Mata itu kembali bersinar, manggut-manggut. Agaknya mata si ibu mulai berkaca-kaca. Aku menggunakan tekanan suara yang dahsyat, walau tak sedahsyat Mario Teguh atau Wahyudi (tentu saja, hehehe). Akhirnya, siswaku dan ibunya pulang dengan kepala tegak. Semoga yang kusampaikan bermanfaat. Meninggalkan kesan yang dalam untuk Audy. Semoga Allah memberikan semua yang terbaik untuknya. Kini, sampailah pada cerita kedua, cekitdot.
Seorang ibu masuk kantor. Dia belum lagi berbicara, tapi matanya sudah basah, dia menangis. Dia ingin memelukku, tapi meja kerja membatasi kami. Dia menyalamiku dengan erat, sesenggukan, aku semakin bingung melihat anaknya- siswaku- ikut menghapus sudut matanya yang juga basah. Dia mulai bercerita, dengan sangat emosional.
“Saya ingin berterimakasih pada Ibu,” ehmm...aku tersenyum mengangguk, itu biasa saja. Biasakan? Orangtua berterimakasih kepada guru anaknya. Tapi, ceritanya kemudian membuat aku tercekat ikut menitikkan air mata.
“Sewaktu Ibu memberi kata sambutan wisuda kemarin* ada satu kata-kata ibu yang menyadarkan saya dan merubah hidup saya,” air matanya jatuh dengan deras.
“Saya ingat kata-kata Ibu, Ibu waktu itu bilang “anak saya adalah teman dan sahabat saya” saya tersentuh sekali,” dia kembali menghapus air matanya.
“Tapi, saya selama ini tak pernah memperlakukan dia seperti sahabat. Saya marah terus, merintah dia seenaknya, jadinya...saya tertekan, dia tertekan. Kami enggak pernah nyambung, hiks.”  Ibu ini memegang tangan anaknya, mereka sama menangis, aku juga.
“Sekarang, saya memperlakukannya seperti yang ibu bilang, anak saya adalah sahabat saya. Dia enggak pernah membantah saya lagi karena enggak saya perintah-perintah dengan kasar. Kami udah nyambung, sekarang rumah jadi sejuk, semua rileks,” ibu itu makin kuat menggenggam tangan anaknya. Cahaya mata penuh cinta antara ibu dan anak ada di depan mataku kini. Tak banyak kata yang kuucapkan, aku tersenyum dan berucap syukur. Ternyata, sedikit saja kata positif mampu melahirkan makna yang cukup dalam. Semua di luar dugaan, mampu mserubah kehidupan antara ibu dan anak, dialah Zulian Agustina, siswaku di kelas 9.4.
Selamat jalan anakku, siswaku. Berjuanglah karena jalan kalian masih panjang. Ingat pesan ibu, ya? Jadilah anak yang cerdas, cerdas intelektualmu, cerdas emosimu, cerdas agamamu. InsyaAllah, sukses akan kalian raih....amiin.
*Pada waktu itu, saya menerima Miftahussalam award sebagai guru berprestasi. Dalam kata sambutan, saya mengucapkan terimakasih kepada keluarga, suami dan anak-anak saya, cahaya mata saya. “Terimakasih untuk anak-anak saya, Liza yang menjadi sahabat saya, tempat saya berdiskusi tentang isi tulisan saya. Syifa yang selalu sedia membuatkan saya teh meskipun tengah malam. Bila yang selalu siap memijat jika saya lelah. Wafi yang selalu mesupport saya agar tulisan saya cepat selesai.” Yaaaa...kira-kira begitulah bunyinya.
NB. Selamat, ya? Untuk yang mendapat nilai UN tertinggi. Farah, Iqlima, Ayu, Nancy, Nisa....semoga bisa masuk SMA favorit. Untuk Ulfa, selamat udah lulus di Matauli, do the best every where...love u all :*


Rabu, 29 Mei 2013

BUNDA, MENGAPA AKU TIDAK CANTIK? (UNTUK ANAK INDONESIA)





"Bunda, mengapa aku tidak cantik?" Sasha menatap wajah bunda yang teduh.
"Masa, sih? kamu tidak cantik?" Bunda kembali bertanya, kaget mendapati anaknya yang galau.
"Iya, semua bilang aku tuh jelek, enggak kayak Bunda. Bunda putih, mancung, tinggi.." bibir gadis kecil itu melengkung, cemberut.
"Yang ngomong gitu siapa?"
"Semua teman-temanku, Bun. Lina, Putri, Rifa, Kasya..Denni juga ikut-ikutan," bibir itu semakin melengkung, matanya mulai basah, menangis. Perempuan lembut yang dipanggil bunda itu mengelus kepala putrinya, kepala yang dihiasi rambut keriting.
"Sayang..., Bunda dulu juga tidak cantik, Bunda sangat jelek dan sering diolok-olok teman," mendengar itu, mata mendung gadis kecil itu membulat.
"Oya? kok bisa Bun? ah..Bunda bohong. Trus biar cantik Bunda luluran ya? ke salon? gimana Bun? ajarin doooong..," suara gadis kecil begitu bersemangat, ah! Bunda pasti akan membagi resep cantiknya, hmm..
"Tau enggak? Bunda tuh, baru cantik selama sebelas tahun ini,"
"Haa? ah, Bunda bohong...emang Bunda operasi plastik?"
"Husss..jangan ngaco ah, kamu ada aja. Mau Bunda kasi tau?"
"Mauuuuu....mau, cepet Bun! nanti aku praktekin,"
"Oke, dengar baik-baik ya?" gadis kecil itu membetulkan posisi duduknya, seakan siap mendengar satu cerita penting yang akan mengubah hidupnya.
"Bunda, dulu juga jelek, karena tak sepenuhnya wudhuk membasuh wajah Bunda. Shalat Bunda masih bolong-bolong, jadi cahaya wajah Bunda kusam dan buram. Dulu, Bunda juga tidak mengenakan jilbab, kulit Bunda terbuka dan terkena sengatan debu dan matahari, maka kulit bunda dulu juga hitam dan kusam.” Bunda menarik nafas panjang dan melanjutkan.
 “Nah, setelah menikah dengan Ayah, Bunda menjadi perempuan yang cantik. Shalat Bunda tak lagi bolong-bolong sehingga cahaya wudhuk terpancar. Bunda juga menutup aurat sehingga kulit bunda terlindungi, jadi...Bunda sekarang putih bersih, hehe..gimana? udah tau resep cantiknya?" singkat saja petuah bunda, mata gadis kecil itu berbinar senang.
"Segitu aja, Bun?" suaranya begitu gembira.
"Ada lagi, mau dengar?"
"Mau..mau banget, Bun!"
"Perempuan cantik itu bukan dari wajahnya, tapi dari hatinya. Itu namanya aura,"
"Maksudnya?" mata si gadis kecil menyipit.
"Hati tidak boleh menyimpan iri, dengki, dendam. Kita harus mau mema'afkan, berkata jujur, lemah lembut, trus...jangan suka marah-marah, ya?"
"Ah..Bunda, tapi teman-teman terus mengejekku,"
"Sasha sayang...kalau kamu membalasnya dengan senyum, kamu pasti akan menjadi cantik, mereka akan diam dan kagum padamu. Karena marah dan dendam akan menghalagi kecantikan, bagaimana?" Perempuan yang halus lembut itu menjentik hidung anaknya. Sasha, anaknya yang berumur sepuluh tahun tersenyum cerah. Besok, dia akan menjadi perempuan yang cantik.
Benar saja, tidak harus menunggu esok. Sore itu juga Sasha melaksanakan ashar yang biasanya lolos karena les privat. Begitu juga maghrib, selepas sholat membaca Al Qur'an bersamanya. Seterusnya Isya sebelum tidur, subuh selepas bangun tidur. Ayahnya bertanya heran     "Bunda apain tuh, Sasha? biasanya sholat disuruh-suruh. Sekarang kok rela banget," Bunda tersenyum dan bercerita tentang kegelisahan gadis kecilnya, ayah tersenyum. "Syukurlah, berarti Bunda menjadi perempuan cantik setelah menikah, sukses buat Ayah," hahay..si Ayah memuji diri sendiri. Tapi tak apalah, karena itu adanya. Siang, kebahagian memancar dari segala penjuru rumah. Senyum si gadis kecil menjelma menjadi cantik. Dia belum baligh, tapi cahaya iman sudah memancar dari segala sudut wajah dan hatinya.
"Assalamu'alaikum, anak Bunda yang cantik...," sapaan hangat setiap pagi untuk bidadari yang cantik.

*untuk anakku yang cantik 


Senin, 27 Mei 2013

INDAHNYA CIRRUS



INDAHNYA CIRRUS



Matahari sedang ada di puncak langit. Panas menyengat sampai ke ubun-ubun. Berkali-kali pak Syafiq menyeka keringat yang membasahi keningnya. Kipas angin di kelas tidak mampu membuatnya nyaman, ditambah lagi tingkah polah siswa yang semakin hari semakin ribut saja. Ini adalah kelasnya, kelas delapan dimana ia dipercaya menjadi wali kelas. Yang membuat pak Syafiq tidak nyaman karena dia baru saja mendapat laporan dari guru BK, bahwa tiga orang siswanya cabut kemarin. Ketika ditanya kemana mereka pergi, serentak mereka menjawab “Ke Warnet, Pak, main game” Internet, lagi-lagi internet. Apakah teknologi canggih itu harus disalahkan? Tentu saja tidak. Semua terjadi karena ketidak pahaman siswanya terhadap penggunaan informasi yang semakin hari semakin canggih. Satu-satunya cara adalah memberi mereka pengetahuan dengan cara yang menyenangkan. Tiba-tiba, peluh itu menyuntikkan inspirasi  ke rongga kepala pak Syafiq.
“Siapa yang punya face book?” tiba-tiba siswa yang mulai tampak layu, mengangkat kepala. Serentak mereka menjawab “Saya, Paaaak…” pak Syafiq tersenyum, kini peluru siap dilepaskan.
“Kalau sudah punya face book, berarti punya email kan?”
“Iya, Paaaak…” suara kembali bergemuruh, siswa mulai antusias.
“Nah…tahu cara kirim email, tidak?” siswa saling berpandangan, sedikit blo-on. Sebagian besar menggeleng, cahaya mata mereka penuh dengan tanda tanya. Pak Syafiq mengeluarkan laptop, beberapa siswa disuruh maju untuk memasang infokus. Suasana kelas tiba-tiba sejuk, wajah siswa tampak bergairah, mata-mata mulai melotot.
Matahari, di puncak langit. Di kelas 8-2 berlangsung tutorial menggunakan email. Pertanyaan yang bertubi-tubi dari siswa dijawab pak Syafiq dengan ringan dan santai. Si tukang bolos kebagian peran praktek langsung. Wajahnya cerah sambil manggut-manggut seakan paham benar. Hampir satu jam pelajaran habis untuk tutorial email, ini bukan pelajaran TIK. Tapi bukankah semua pelajaran berbasis IT? Pak Syafiq juga punya misi, penyampaian kegunaan internet secara sehat dan positif.
“Mulai besok, semua tugas kalian email ke email saya,” pak Syafiq menulis alamat emailnya di white board.
“Tugas LKS, Pak?” Muti si ketua kelas bertanya bingung.
“Bukan, jika saya beri tugas membuat tulisan hasil browsing internet.” Seisi kelas mengangguk senang.
“Nah..sekarang, coba lihat awan di langit,” kelas mulai gaduh, semua berebut menuju jendela.
“Tahu awan apa namanya?” siswa menggeleng sambil berteriak “Tidak tahu, Paaak…”
“Baiklah, sekarang kita cari di internet, ya?”
Pak Syafiq mengetik di google search “Jenis-jenis awan”, muncullah di layar berbagai jenis awan berikut bentuk dan namanya. Siswa terkagum-kagum, mata mereka semakin cerah menyaingi cerahnya matahari di puncak langit.
“Ayo..perhatikan dengan benar, awan apa yang kita lihat sekarang?” beberapa siswa berbisik-bisik diskusi.
“Awan cirrus, Pak!”
“Benar! ternyata internet besar manfaatnya untuk ilmu pengetahuan kan? Mulai sekarang, jangan Cuma main game atau face book. Dengan internet kamu bisa menjadi lebih pintar.”
Bell pulang berdering nyaring, siswa masih duduk tenang seakan masih menunggu pencarian oom google yang lain, pemandangan yang langka. Pak Syafiq tersenyum lega, matahari cerah dan awan cirrus mengintip dengan indahnya. Semoga, besok ada perubahan pada siswa yang sangat dicintainya. Tidak ada perubahan drastis, tapi paling tidak, ada pintu menuju ke sana.

Selasa, 30 April 2013

HAPPY BIRTHDAY MY SWEETY (HADIAH UNTUK LIZA)



HADIAH TERINDAH (TO MY LOVE)



Usia dua puluh lima tahun, aku hamil anak pertama. Hmm...segala macam perasaan tumplek-plek jadi satu. Aduuuh..bagaimana bisa ada makhluk lain dalam tubuh ringkihku? Bagaimana pula nanti aku mampu mengeluarkannya? Hiks, aku takuuut. Hari-hari yang kulalui tidak lagi menyenangkan. Segala macam bayangan buruk mengisi rongga kepalaku yang selalu bertambah pusing. Entah mengapa pula aku menjadi cengeng, seakan aku akan segera mati dan dikubur. Sementara nanti suamiku: ayah di jabang bayi akan cepat-cepat kawin lagi, arrggghhh....! suami selalu menghiburku, mengatakan banyak hal yang indah-indah. Tapi tetap saja pikiranku bandel “ya, kamu enak aja ngomong, toh bukan kamu yang ngerasain, tau!” jerit hatiku geram. Tak ada yang menyenangkan pada masa kehamilan ini, semua serba membuatku menderita, ditambah lagi kuliah yang belum selesai. Aku masih sibuk-sibuknya sidang kompri, tapi malah mual-mual.
“Kamu harus ke kampus, sayang. Lihat pengumuman, siapa tahu kamu sudah harus mengikuti sidang,” kata suamiku suatu pagi. Tapi aku malah membalikkan badan dengan malas. Ke kampus? Mengangkat kepala saja aku susahnya minta ampun. Aku melengos malas saja, dan ia tak memaksa lagi. Seminggu setelah itu aku baru ke kampus, itupun karena ia terus memintaku; tepatnya memohon agar aku melihat informasi dan bertemu teman-teman.
“Kamu perlu keluar, biar lebih segar. Bisa ngobrol sama teman, kan jadi lebih enakan,”
“Iya, mentang-mentang aku loyo ya? Enggak segar? Jelek? Enggak pernah mandi? Gitu?, huuu...huu...” aku mulai menangis sedih, alamaaak...sensitif tingkat tinggi! Hiks.
“Enggak, kamu cantik, kok. Apalagi nanti kalo udah buncit, hehehe,” lelaki itu; suamiku terkekeh. Tuh kan? Aku nangis dia malah ketawa, enggak lucuuu tauuu! Aku merepet dalam hati. Tapi aku melunak juga, ketika ia mengelus perutku yang masih rata, aku tahu betapa ia mencintaiku.
Aku ke kampus naik angkutan umum; tidak diantar tentu saja karena suamiku mengajar (lagian, enggak punya kendaraan pribadi, giculooo). Jika ia tidak mengajar, tentu saja honor akan dipotong (nasib guru honorer). Pakaianku jangan ditanya bagaimana rupanya, persis bendera dari negeri antah barantah. Celana kulot hijau, baju oranye dan jilbab coklat muda. Olalaa... aku jadi pusat perhatian di kampus! Bukan karena prestasi; seperti biasanya. Tapi karena pakaianku yang aneeehhh (selama ini aku selalu tampil sederhana, tapi enggak tabrak-tabrak warna gitu).
“Mah! Kok kemarin enggak ikut kompri?” Ratna tiba-tiba muncul dari arah belakangku. Aku terlonjak kaget.
“Haah??? Masa sih?”
“Gilak kamu ya! Memang enggak mau nyelesaikan kuliah, ha?” matanya yang dilapisi kacamata minus  melotot.
“Ayooo!!” seenaknya Ratna menarik tanganku. Aduuhh..pelan-pelan dong! Ada jabang bayi dalam perutku, fren! Aku merutuk dalam hati. Ratna membawaku ke depan papan pengumuman. Benar saja, namaku yang singkat dan teramat sangat cantik (aku pernah protes dengan nama ini) RAHIMAH, sudah distabilo berwarna merah muda, adduh! Gawaaatt. Aku terduduk di bawah papan pengumuman, suamiku benar dan kini aku menyesalinya, hiks..ma’af Im.
“Trus..gimana, nih?” suaraku terdengar pesimis.
“Daftar ulang, yook!” kembali Ratna menarik tanganku, dia memang sahabat baik yang sangat peduli, walau teramat sangat pelit. Aku harus mendaftar ulang, untuk mengikuti sidang kompri minggu berikutnya.
“Kamu kenapa enggak pernah nongol ke kampus?” tanya Ratna penuh selidik.
“Aku lagi mabok berat,” jawabku sekenanya saja. Ratna terkekeh.
“Semenjak kapan kamu mabok, ha? Biasanya juga naik angkot, hihihi,”
“Ini maboknya beda! Jedot!”
“Maksudnya?”
“Aku hamil, dua bulan,” Ratna terpekik kecil, kemudian tertawa-tawa senang. Aku tambah mual, rasa-rasanya isi perutku mendesak keluar. Bukan karena tawanya, tapi entahlah, selalu begitu dan aku tak tahu sebabnya.
“Selamat, ya?” Ratna memelukku, tapi ya Allah...mendadak aku tak suka aroma parfumnya. Padahal selama ini aku cukup akrab dengan aroma itu, hiks.
Benar saja, dalam angkot perjalanan pulang. Aku benar-benar muntah! Untunglah aku duduk dekat pintu (sudah ku- antisipasi). Pandangan mata orang-orang ku abaikan saja. Ada penghuni angkot yang prihatin, ada juga yang jijik. Huuu...ya Allah! aku mau cepat sampai rumah dan tidur, hiks! Lagi-lagi hatiku menangis.
***
Mamak sangat paham situasiku. Suaranya yang sejuk mampu meredakan gemuruh di dadaku yang tidak stabil. Ia sering datang dan membawakan makanan kesukaanku; yang belum tentu aku sentuh dan makan karena perubahan selera yang teramat sangat aneh. Aku sering mengeluh takut, tapi beliau selalu memberiku motivasi agar aku berani dan kuat.
“Mami (nenek) dulu punya anak sebelas. Melahirkan di kampung lagi, enggak ada dokter. Motong tali pusat (maksudnya plasenta) Cuma pakai bambu. Tapi Mami sehat, anak-anaknya semua sehat,” kemudian beliau melanjutkan
“Mamak juga dulu melahirkan kalian juga Cuma pakai dukun beranak, enggak pernah sekolah seperti bidan sekarang,”
“Melahirkan, sakit ya, Mak?” tanyaku ragu.
“Ah! Sakit biasa, seperti kalo kita mau buang air besar. Atau sakit senggugut, sebentar juga hilang.” Mamakku tersenyum manis, menenangkan jiwa raga. Wah! Sakit perut seperti mau BAB atau senggugut? Idiiihh.... itu sih, keciiilll. Hohoho...aku tertawa senang; tentu saja dalam hati.
Urusan sidang kompri alhamdulillah berjalan lancar dan aku lulus. Proses berikutnya aku harus menyusun skripsi. Usia kehamilanku memasuki lima bulan, aku sudah dapat merasakan ada nyawa dalam rahimku. Anakku mulai bergerak-gerak, aku mulai menikmati kehamilanku yang pertama ini. Aku berjuang keras untuk memenuhi asupan gizi bayiku. Setiap apa yang aku makan keluar lagi, seakan lambungku tak mau menerima apapun yang masuk ke dalamnya. Tapi, aku melawan! Setiap kali muntah, aku makan lagi, begitu terus menerus.
Urusan skripsi, suami turun tangan. Dia jago menulis karya ilmiah, dialah yang menggarap skripsiku. Ketika malam aku terlelap, dia masih kletak-kletok dengan mesin tik. Dia ambil minum sendiri, ambil cemilan di dapur sendiri, aku ngorok sepanjang malam dengan perut yang buncit. Tak jarang, aku ngambek karena ia telat pulang (dia mengajar ngaji malam). Tapi ia tersenyum melihatku mayun-manyun dan merayuku. Aku merengek minta ini-itu, ia mencarinya walau malam sekalipun. Aku suka marah, merengek, ngambek tapi tetap tidur di bawah ketiaknya. Ah! Jika ingat itu, betapa berdosanya aku (ma’af ya, sayang? Maklum, perubahan hormon, hihihihi).
Efek hebat aku rasakan waktu sidang meja hijau. Skripsiku dibanting habis oleh dosen barongsai (semoga ia tenang di syurga)  yang tak punya perasaan. Skripsi yang belum dijilid berhamburan di lantai, teman-teman terpaku diam; tepatnya kasihan melihatku diserang si barongsai.
“Sampah apa ini, ha? Tidak bisa dipertanggung jawabkan!” katanya dengan wajah murka. Dosen di kiri-kanannya mulai bisik-bisik, menatapku iba. Seorang mahasiswi buncit yang menjadi bulan-bulanan si barongsai berbaju oranye.
“Memang itu namanya, Pak. Harus bagaimana lagi?” aku mencoba melawan. Bagaimana aku harus mengatakannya?. Memang nama organisasi yang aku teliti; tepatnya suamiku teliti adalah HP INTIM singkatan dari Himpunan Pengajian Indonesia Tionghoa Muslim. Si Barongsai tidak terima ada INTIM-nya. Katanya vulgar. Lho? Ha? Ngomong sana! Sama yang punya organisasi, kok malah aku yang siserapahi seperti itu? Preeeet!! Barongsai jelek! Bopeng! Hhwwuuaaa...aku ingin saja menjerit marah, tapi cepat-cepat beristighfar. Semoga anakku tak begini nantinya, dibenci mahasiswa sekampus. Tiap hari dikutuk! Hiiii... kuperhatikan Pak Kifrawi, dosen yang baik hati membisikkan sesuatu kepadanya, si barongsai nampak kaget. Entah mengapa pula ia memintaku menulis sepotong ayat di papan tulis dan perut buncit itu menyembul dari balik meja sidang. Perlahan ia melunak, menyuruhku duduk dan pergi meninggalkan ruang sidang dengan wajah garang yang tertekuk. Ya Allah, jabang bayi itu menolongku, anakku menjadi berkah bagiku. Sidang selesai, tangisku pecah serasa sembilu. Bukan tangis haru bahagia, tapi tangis sedih membahana. Sedih karena si barongsai membuang skripsi yang dikerjakan suamiku sepenuh cinta sepanjang malam. Sementara aku terbuai dibalik selimut yang nyaman, hiks.
Hai...mengapa tiba-tiba si barongsai melunak, ya? Menurut cerita dari informan yang bisa dipercaya. Ternyata pak Kifrawi membisikkan ke telinga si barongsai oranye itu “Mahasiswi ini lagi hamil tua, Pak. Jangan keras amat, kalo melahirkan di sini, gimana?”. Ternyata, si barongsai ciut juga nyalinya. Takut dia jika ada bayi merah nongol di depan hidungnya, hihihi. Apakah aku hamil tua? Belum, tapi perutku nampak besar sekali dibandingkan tubuhku yang kecil. Dan, agaknya bayiku tumbuh sehat karena pola makanku yang tak mau menyerah kalah dengan muntah, entahlah.
Menjelang usia kehamilan sembilan bulan, aku wisuda. Perut yang semakin membesar membuatku tak bisa mengenakan kebaya seperti teman-teman lain. Aku mengenakan daster hamil, dengan tangan dan kaki yang mulai membengkak. Tak ada make up dan jilbab modis, tak perlu. Tapi, aku adalah manusia yang paling bahagia diantara ratusan wisudawan. Aku mampu menjadi sarjana ditengah perjuangan aku dan suami melalui jalan yang panjang. Aku juga akan segera menerima kehadiran cahaya mataku. Teman-teman menggoda jika anakku perempuan akan diberi nama “Sarjani” dan jika laki-laki akan diberi nama “Sarjono”. Aku tersenyum bahagia, tenanglah...aku telah menyiapkan sebuah nama yang sangat cantik untuknya.
***
Selepas wisuda. Aku mengungsi ke rumah orang tua menunggu kelahiran bayi pertamaku. Aku mempersiapkan diri secara fisik dan mental. Satu hari dua kali aku mengepel lantai rumah dengan berjongkok. Bersujud selama sepuluh menit selepas solat subuh dan mengkhatamkan Alqur’an untuk anakku. Berharap kelak agar Allah melancarkan lidahnya melafalkan kalam ilahi. Setiap pagi pula aku berjalan sekitar rumah, ditemani suami. Aku ingin melahirkan secara normal. Selain aku ingin menjadi perempuan sempurna, keuangan juga tidak mendukung jika aku harus menjalani caesar.
1 Mei 1995, pagi selepas subuh ada flek muncul. Aku segera memberitahukan Mamak dan suami. Wajah mereka agaknya menegang, aku juga.
“Itu tanda-tanda, kamu segera melahirkan,”
“Kapan, Mak?” aku bertanya bodoh; tepatnya bingung linglung.
“Yaaa...belum tahu, itukan masih tanda,” Mamak tak mampu menyembunyikan kegelisahannya, bukankah ini cucu pertamanya?
“Yook..kita jalan-jalan ke pasar, beli buah,” usul suamiku dan aku menyetujuinya.
Sepulang dari pasar membeli pepaya, aku mulai merasa seperti ingin buang air besar. Tapi Mamak melarangku berlama-lama di kamar mandi, dia takut bayiku keluar begitu saja. Tapi sakit itu hilang-timbul begitu saja.
“Aku ngajar enggak, ya?’ suami mulai ragu
“Ngajar aja, Bang. Nanti kalo ada apa-apa di telepon,” saranku.
“Iya, pergi aja. Mungkin melahirkannya sore nanti,” sela Mamak percaya diri.
Dua jam sepeninggal suami berangkat bertugas, kontraksi semakin menjadi-jadi. Sesuai rencana semula, aku tidak ingin melahirkan di rumah sakit dengan alasan yang bodoh; aku tak mau anakku tertukar dan biaya yang mahal. Selain itu, ada bidan senior yang tinggal dekat rumah yang menjadi tempatku periksa selama kehamilan ini. Adikku menelepon suami agar segera kembali pulang. Mamak bergerak ke rumah bidan agar segera ke rumah. Tapi, apa nyana? Bidan sedang bertugas di puskesmas dan tidak boleh meninggalkan tugasnya- dokter minta aku melahirkan di puskesmas saja. Mamak mulai panik, mami (nenek) datang dan menyuruh adik sepupuku Riza mencari bidan yang lain. Bidan datang dan memeriksa dalam “masih jauh, kayaknya sore nanti”, katanya lagi-lagi percaya diri. Karena yakin, ia pun pulang dulu dengan alasan akan melayat kerabatnya yang meninggal terlebih dulu dan akan segera kembali.
Perutku semakin melilit sakit, ketika aku mengerang Mami mengelus perutku sambil berkata “Aduuuh...bentar ya? Siapa yang nolong, nih? Jangan duluu...jangan duluu...”
Suasana rumah jadi heboh menjelang zuhur itu, suami kaget ketika sampai di rumah. Wajahnya pias serasa tak berdarah.
            “Imah sudah mau melahirkan, Im. Tapi enggak ada bidan.” Suara Mami bergetar cemas.
            “Mamak mana?”
            “Lagi usahakan panggil Kak Yat, Riza juga udah panggil Bu Tampu,” ujarku sambil meringis menahan sakit, bayiku sudah mendesak-desak ingin keluar. Ternyata sakit itu tidak sesederhana sesak BAB atau senggugut, ya Allah...
Menjelang azan Zuhur, tiga orang bidan berkumpul di rumah. Mereka tertawa-tawa sambil berdiskusi, siapa yang akan menanganiku? Akhirnya diambil keputusan aku diserahkan kepada bidan yang paling senior, Bu Tampubolon bidan sepuh yang sabar dan banyak pengalaman.
“Waah...sudah mau lahir ini, tolong..air panas!” Mamak bergerak kucar-kacir, semua serba cepat.  Anehnya, dia juga meminta Mamak menyiapkan minyak makan! Aku tertegun-tegun heran. Benar saja, dia memberi minyak makan di jalan lahir bayiku dengan sabar. Sambil terus membangkitkan semangat dengan cara yang dahsyat. Mamak membacakan do’a di kepalaku, suami seperti penonton sepakbola “Ayo..Mah! ayoo..sayaaang...pasti bisa! Ayoo..semangat ya! Dikit lagi...ayooo...yaaa..! jangan nyerah, bisaaa..bla bla bla,” crrooottt...wwwoooaaaaa....wwwooaaa......
“Laki-laki!” terdengar suara suamiku sangat bersemangat.
“Bukan, Pak. Bayinya perempuan,”
“Lho? Itu?”
“Itu tali pusat Pak, bukan burungnya, hehehe...”
Anakku lahir! Dengan berat badan empat kilogram dan panjang lima puluh sentimeter dan tidak ada luka sobek! Suara tangisnya subhanallah...alhamdulillah...aku lemas bermandi keringat bahagia. Suami, Mamak, Mami dan Bu bidan menciumiku bergantian. Bayiku diqomatkan ayahnya. Aku memeluknya tak sabar, anakku seorang bayi perempuan putih yang cantik berambut lebat ikal hitam. Matanya terpejam dengan mulutnya yang harum komat-kamit, pipi dan kulit merahnya berbulu halus, hidungnya tinggi. Kucium dia sepenuh jiwa dan harapku, kubisikkan ke telinga kecilnya “Jadi anak salehah ya, sayang? Berguna bagi sesama”. Dalam hati aku berjanji, akan memberikan seluruh yang terbaik dalam hidupnya. Melimpahkannya kasih sayang dan cinta, mendekatkannya pada sang pencipta. Dan si cantik itu kami beri nama CHALIZA NAZRA NASUTION.