Kamis, 06 September 2012
SAMPAH. MASALAHKU, MASALAHMU, MASALAH KITA SEMUA.
Fren, saatnya berbagi informasi. Tanggal 4 sampai dengan 6 September kemarin, saya punya kesempatan untuk mengikuti Bimbingan Teknis lingkungan hidup. Materi yang dibahas seputar lingkungan hidup dan cara pengelolaan sampah serta daur ulang sampah organic dan non organic. Ternyata, masalah sampah bukanlah masalah sepele. Medan adalah kota besar berpenduduk 2 juta jiwa, seluas 26.510 hektar, terdiri dari 21 kecamatan dan 151 kelurahan. Sampah yang dihasilkan perhari mencapai 1.543 ton, berarti tiap-tiap KK menghasilkan 500-600 gr sampah padat setiap hari. Kamu tahu? Sampah yang terangkut ke TPA hanya 68%, sisanya 32% belum terangkut, artinya itulah sampah yang masih Nampak berserakan di beberapa tempat di kota Medan dan sangat mengganggu pemandangan, uuiihh…ckckckck.
Kawan, saya sering merasa “eneg” membicarakan masalah sampah. Tahu kenapa? Karena sampah adalah masalah yang sangat melelahkan buat saya pribadi. Saya pernah bercerita-kan? Bahwa sampah adalah bagian dari kegiatan rutinitas pagi saya. Setiap hari saya harus memasukkan sampah ke mobil, beserta putra-putri saya yang siap berangkat sekolah. Semua itu terpaksa dilakukan karena sekitar tempat tinggal saya tidak ada instansi yang bertanggung jawab mengelola sampah, plus saya juga tidak punya halaman yang bisa dibuat galian lobang sebagai tempat sampah. Saya tinggal di Kabupaten Deli Serdang yang berbatasan dengan Kota Medan, nah…ketika memasuki kota Medan banyak ditemukan sepanjang jalan tempat pembuangan sampah yang legal dan teratur. Maka, sampah itu akan saya buang di sana. Tragisnya, sering karena macet dan buru-buru, saya lupa menurunkan sampah. Ditambah lagi sifat lupa, karena otak saya terus menulis sepanjang jalan, sehingga saya lupa semua, termasuk lupa membuang sampah Jadilah sampah bertahan di mobil sampai sore hari ketika saya pulang bertugas. Kawan, bayangkan saja bagaimana aroma yang ditimbulkannya, ah…pengharum tak mampu meredamnya, heh.
Ternyata, masalah pengelolaan sampah perlu kebijaksanaan dari kita manusia yang selalu memproduksi sampah. Sadar atau tidak, sampah itu adalah masalah. Jika kita hanya membuangnya saja ke tempat pembuangan sampah (seperti yang saya lakukan) itu bukanlah menyelesaikan masalah, tetapi memindahkan masalah. Memindahkan masalah sampah rumah tangga ke masalah sampah kota dan seterusnya. Di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) juga gunungan sampah tetap menjadi masalah bagi sekitar. Nah…bagaimana cara mengelola sampah yang baik, sehingga produksi sampah yang kita buang menjadi minim?, nih dia:
1. Pisah sampah organic dan non organic.
2. Untuk sampah organic, jika kita tidak mampu mengolahnya menjadi pupuk maka sebaiknya sampah ini bisa di”sumbangkan” kepada tetangga yang memiliki ternak seperti ayam, itik, dll. Sehingga makanan sisa, potongan sayur atau kulit buah menjadi sumber makanan bagi makhluk lain. Benar yang dikatakan ibu saya, beliau selalu memelihara ayam atau itik agar makanan sisa dapur masih bernilai manfaat. Tapi sayang, saya tidak memelihara satu jenis binatang-pun, walau hanya seekor kucing yang lucu. Saya tidak berani, bisa mengurus anak yang empat saja sudah syukur, konon mau mengurus binatang?, ckckckckck….
3. Manfaatkan kertas dengan sebaik-baiknya. Jangan sedikit-sedikit meremas kertas dan membuangnya begitu saja. Jika kita mengkonsep sesuatu, gunakan sisi kertas yang yang masih kosong dan tidak terpakai lagi. Jika kertas tersebut sudah “penuh” tetap jangan diremas, tapi susun rapi dalam kotak dan ketika sudah cukup banyak dapat dijual kepada penampung barang bekas. Jika kita cukup kreatif, kertas ini juga dapat didaur ulang sehingga menghasilkan kertas yang bernilai ekonomi tinggi. Sisa plastic kemasan juga bisa dijadikan tas, topi, payung, dll
4. Nah…bagi ibu-ibu yang cantik (ehhmmm..). Kalau belanja ke Pasar, bawa keranjang, ya?. Jangan sedikit-sedikit minta plastic kresek dengan penjual, atau malah beli kantongan plastic yang besar. Tindakan ini menghasilkan sampah yang banyak di rumah. Bayangkan saja, jika kita belanja banyak jenis ikan, sayuran atau buah masing-masing menggunakan plastic, berapa plastic yang dibuang?. Jika kita meminimalisir penggunaan plastik saat belanja, alangkah bijaksananya. Kawan tahu? Limbah plastic tidak dapat diurai dalam tempo 100 tahun! (wwooowww…seremkan?).
5. Ketika membeli makanan, contoh: mie goreng, lontong, sate dll untuk dibawa pulang, bawalah wadah dari rumah (jangan gengsi ya?). Ini adalah tindakan mulia untuk mengurangi produksi sampah. Bahkan ada satu produk plastic terkenal yang mempromosikan tindakan ini, untuk go green Indonesia. Jika itu baik, why not?, lets do it!.
6. Jika ada sepatu bekas, pakaian bekas atau benda lain yang masih layak digunakan tapi tidak lagi kita butuhkan, ada baiknya disumbangkan kepada yang membutuhkan. Jika keluarga, tetangga kita semua sudah hidup layak. Ada baiknya barang-barang tersebut dimasukkan ke dalam kardus, ikat rapi dan tulis atas kardus dengan tulisan yang jelas “PAKAIAN LAYAK PAKAI.” Letak kardus dengan rapi di sekitar pembuangan sampah (tapi jangan dicampur dengan sampah ya?). Saudara-saudara kita pemulung yang mulia tentu dengan senang hati menyambutnya. Kawan, jangan pernah memandang sebelah mata pada pemulung, tanpa mereka entah apa yang akan terjadi dengan dunia kita. Mau tidak mau, mereka adalah manusia mulia yang berjasa menyelamatkan bumi dengan cara mereka, menjadikan sampah sebagai sumber penghasilan.
Kesimpulannya adalah, mari kita melakukan tindakan 3 R terhadap sampah yang kita hasilkan setiap hari, yaitu:
1. Reuse, berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama atau lainnya (menggunakan kertas bekas, memberi makanan sisa kepada ternak)
2. Reduce, berarti upaya mengurangi sampah yang dihasilkan setiap hari (membawa keranjang ketika belanja ke pasar, membawa wadah ketika membeli makanan)
3. Recycle, berarti mendaur ulang sampah menjadi produk baru yang bermanfaat (kertas yang didaur ulang, plastic pembungkus yang dibuat tas,dll).
Oke, kawan yang baik. Ini sekedar oleh-oleh dari Bimtek lingkungan hidup yang diadakan Yayasan Perguruan Istiqlal Delitua Kabupaten Deli Serdang. Insyaallah, nanti saya akan usul juga supaya dilaksanakan ditempat saya bertugas, SMP Darussalam Medan. Tulisan kecil, semoga bermanfaat ya!. Semoga juga saya dapat mengelola sampah dengan baik, dan enggak stress lagi…hehehe.
Jumat, 27 Juli 2012
CERPEN "PESONA KERUPUK"
PESONA KERUPUK
Rahimah Ib
“Mama....laparr,” si bungsu mulai merengek.
“Sebentar, ya sayang? Tuh ada permen, minum air putih aja dulu,” Annisa konsentrasi dibelakang stir. Annisa menarik nafas panjang, pukul empat sore, si bungsu memang punya selera makan yang sangat baik. Makan tak mengenal waktu, tubuhnyapun sangat subur.
“Tapi Fari mau makan, Mama.Bukan mau minum.”
“Kak Fa....masih ada roti?,” Annisa bertanya pada si sulung, yang mulai terganggu dengan rengekan adiknya.
“Enggak ada, Ma. Habis,”
“Mama....lapar,”
“Sebentar sayang...orang sabar disayang Allah, ya?” Annisa mulai membujuk si bungsu yang mulai merajuk.
“Rafi tuh Ma!. Makan aja yang dipikirin!, tadi di Sekolah jajannya juga udah banyak!,” Fara bersuara keras, jengkel. Suara mereka bersahut-sahutan. Suasana semakin tak nyaman, Annisa mencoba bersabar. Di lampu merah, mata Annisa tertumpu pada seorang pedagang kerupuk.
“Kita beli kerupuk, ya? Kayaknya enak tuh, mau kan?,” cepat-cepat Fari mengangguk. Bibirnya ditarik tiga senti, tersenyum.
Annisa menurunkan kaca jendela mobil, melambai kearah penjual kerupuk, lelaki itu mendekat.
“Kerupuk, Ibu?,” suara yang sopan diiringi senyum yang luar biasa. Annisa tertegun.
“Iya, Bang. Berapa?,”
“Sepuluh ribu, Ibu. Untuk kebahagian pemuda kecil disamping Ibu,” senyum yang ramah dan ikhlas. Dia tersenyum kearah Fari, anak lelaki tujuh tahun itu tersenyum, seakan laparnya menguap naik keawan. Fari merasa bangga, disapa pemuda kecil. Suara dan bahasa lelaki penjuak kerupuk itu seharusnya diletakkan ditempat yang terhormat, suara dan senyum pesona berkelas.
“Eh..iya, dua ya?,” Annisa menyerahkan uang dua puluh ribuan. Lelaki itu menerima dengan sopan dan senyum tetap mengembang.
“Terimakasih,Ibu. Semoga selamat sampai rumah, dan kerupuk saya membawa berkah untuk pemuda kecil ini,” lelaki itu berlalu. Annisa masih tercenung, apa yang dikatakan lelaki itu adalah hal biasa yang tidak terlalu istimewa. Bukankah pedagang mencari simpati pelanggan?, itu sudah basi. Tapi tidak dengan lelaki yang ditemui hari ini, senyumnya penuh keikhlasan, cahaya matanya penuh dengan kehangatan, memandang Fari seperti pandangan seorang Ayah pada anaknya, tulus.
“Mama!, lampunya sudah hijau!,” Fara berteriak dari jok belakang, Annisa tergeragap, klakson bertubi-tubi dari arah belakang, sopir angkot berteriak kasar. Annisa cepat-cepat menginjak gas, inilah Medan...batinnya. Semua orang tampak keras dan kasar, senyum si penjual kerupuk tadi terasa bagai embun muncul di siang hari. Langka, dan pasti tak pernah ada.
Malam hari, senyum penjual kerupuk menjadi tema pembicaraan di kamar. Annisa berapi-api bercerita, suaminya yang tenang hanya senyum-senyum.
“Sangat berkesan ya, Ma?,”
“Iya, Pa. Gaya bicaranya seperti eksekutif, senyumnya tuluuus banget. Cocok jika dia berhadapan dengan costumer, semuanya pasti terkesan. Perusahaan beruntung punya karyawan seperti itu,” Annisa masih berapi-api. Ada juga harapan yang muncul tiba-tiba, siapa tahu suaminya ingin menolong lelaki itu. Mengangkatnya sebagai karyawan, bukankah lelaki itu punya pesona eksekutif?. Suaminya menutup buku yang sedang dibacanya, menatap dirinya dengan serius.
“Itu tidak sesederhana yang Mama pikir. Bagaimana dengan pendidikannya? Pola pikirnya?. Yang Mama lihat itu hanya kulit luar, Mama kan ketemu di lampu merah, dalam hitungan detik saja. Jangan terlalu dipikirkan, nanti Papa enggak bisa tidur.” Suaminya mulai mengerling jenaka, Annisa melempar bantal dan terkekeh.
Hari-hari berikutnya di lampu merah, kerupuk menjadi sajian spesial diperjalanan pulang. Padahal selama ini Annisa sangat selektif memilih makanan untuk anak-anaknya. Kerupuk adalah jenis makanan yang digoreng, bukankah minyak goreng sekarang sangat mengkhawatirkan?. Ada minyak goreng yang dibeningkan dengan plastik, agar minyak bekas yang berwarna gelap menjadi bening dan makanan yang digoreng garing. Atau minyak goreng yang dicampur lilin, agar makanan yang digoreng kelihatan cantik mengkilat. Annisa merinding, tapi pesona senyum sipenjual kerupuk telah mampu meluluh lantakkan prinsipnya. Senyum tulus, bahasa sopan yang membuat dirinya terharu setiap hari. Memandang si penjual kerupuk yang tak pernah merasa lelah, senyum tetap mengembang, seakan Allah menciptakannya hanya untuk tersenyum.
Jika hari hujan, Annisa dan anak-anaknya akan kehilangan. Mencari-cari sipenjual kerupuk yang sedang berteduh di emperan pertokoan. Pernah juga mereka membeli kerupuk pada pedagang lain, tapi anak-anaknya protes karena kerupuknya tidak enak seperti kerupuk “oom jenggot”. Anak-anaknya menggelar lelaki itu dengan “Oom Jenggot” karena lelaki itu memang memiliki sedikit jenggot di dagunya. Annisa bingung mengapa rasa kerupuk itu bisa berbeda, Annisa sudah meneliti merek yang ada di plastik pembungkus. Sama saja. Kesimpulannya adalah lelaki itu menjual dengan ketulusan, senyum keikhlasan. Sama juga seperti makanan yang dihidangkan dengan senyum dan cinta, pasti berbeda dengan makanan yang dihidangkan dengan amarah atau cuek. Walau itu dari jenis yang sama.
Satu kilometer menjelang lampu merah, jalanan macet parah. Annisa menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dua anaknya yang sudah gelisah, berharap dapat segera menyapa “Oom jenggotnya”. Tapi kemacetan ini diluar kebiasaan, banyak orang berlarian kearah lampu traffic light, beberapa orang berbincang-bincang di pinggir jalan. Sepertinya ada yang tidak beres di depan sana, batin Annisa.
“Ada apa, Dik?,” Annisa melongok keluar dari jendela mobil, bertanya kepada pemuda yang ingin menyeberang melintas dari depan mobilnya.
“Kecelakaan, Bu!,”
“Mobil atau sepeda motor, Dik?,” Annisa cemas, karena suaminya juga selalu melintasi jalan yang sama dengannya setiap hari.
“Penjual kerupuk, Bu. Kakinya disambar truk..,” Annisa lunglai, ia lupa mengucapkan terimakasih pada pemuda yang sudah memberinya informasi. Pedagang kerupuk? Apakah lelaki yang punya senyum tulus dan membuat dia dan anak-anaknya jatuh hati?. Annisa terus berdo’a dalam hati, semoga bukan. Semoga Allah tidak lebih memberi cobaan pada lelaki itu, lelaki yang sangat ikhlas menjalani kehidupannya, keikhlasan yang terpancar dari senyumnya.
Annisa tidak pernah lagi melihat si penjual kerupuk yang punya senyum ikhlas itu. Anak-anak kehilangan sosok “Oom Jenggot” yang tersenyum ramah menyapa, memanggil Rafi dengan “pemuda kecil”atau menyapa Fara dengan “gadis cantik”. Rutinitas membeli kerupuk pada perjalanan pulang tidak lagi dilakukan, anak-anak tidak mau kerupuk yang dijual pedagang lain. Jendela mobil tidak lagi dibuka pada Traffic Light, semua dingin. Sudah tiga bulan.
Hati Annisa mengatakan, bahwa kecelakaan tempo hari telah menimpa “Oom Jenggot” anak-anaknya. Tapi dia sama sekali tidak tahu harus mencari kemana. Betapa Annisa merasakan kesia-siaan, ingin menolong tapi tidak menyegerakan, mengapa ia harus menunda untuk mengetahui tentang lelaki itu lebih banyak?. Bertanya sejenak tentang keluarganya, atau bertanya siapa namanya, atau dimana alamatnya?. Bukankah suaminya yang memiliki perusahaan besar mampu mempekerjakan lelaki tulus itu?. Mengapa menunda? Mengapa?.
Lampu traffic light menyala merah, angka seratus dua puluh enam, Annisa menetralkan porsneling. Jendela mobil diketuk seseorang, Annisa menoleh dan segera menurunkan kaca jendela.
“Assalamu’alaikumIbu,beli kerupuk?,” wajah berbingkai senyum tulus itu! Dia di sini!.
“Oom Jenggot!! ,” Anak-anak berebut mencondongkan wajah ke kaca jendela depan, menyapa lelaki bersenyum tulus itu. Tapi Annisa ingin menangis, ada sesuatu yang berbeda. Lelaki itu menopang tubuhnya dengan tongkat diketiaknya, kakinya hanya satu yang sempurnamenopangtubuhnya. Sebelahkirihanyasebataspaha.
“Oom... kaki Oom kenapa?,” Rafi merasa aneh terhadap pemandangan ini.
“Ohh...sudah diambil Allah, karena Oom enggak hati-hati. Kamu pemuda kecil, harus hati-hati ya?.”
Senyum itu tidak pernah berubah, walau lelaki itu sudah berkaki satu. Senyum tulus ikhlas tetap terpancar, membawa plastik berisi kerupuk dengan satu kaki bertopang kruk. Annisa meneteskan air mata, tak sepantasnya lelaki tulus itu disini. Ia harus menolongnya, segera! Tidak bisa lagi ditunda.
Kamis, 26 Juli 2012
CERITA RAMADHAN 2
PEMANDANGAN MIRIS
Ramadhan mulia, selalu membawa cerita.
Selepas subuh, matahari belum muncul. Aku dan suami bergerak untuk silaturrahim ke rumah teman sekaligus membicarakan beberapa urusan. Langit masih pucat, udara sejuk, angin semilir terasa nikmat di bulan Ramadhan. Belum jauh dari rumah, pemandangan tak sedap sudah menghadang mata, kucoba beristighfar dalam hati, semoga Allah menguatkan aku untuk tidak membahas pemandangan itu. Ah..beberapa pasang insan berkendaraan motor berpelukan tanpa beban, adduhh..bagaimana puasanya?. Jarak beberapa kilometer, kembali ditemukan tiga orang ABG berkendaraan motor memakai celana pendek yang ketika dia duduk nyaris seperti memakai celana dalam. Ya..Allah, gejala apa ini?. Kepalaku berdenyut-denyut, suami hanya berdecap sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Seingatku, ketika aku remaja, memang ada istilah “Asbuh” alias Asmara Subuh. Selepas sholat subuh, kami masih sempat tadarus di Mesjid. Kemudian kami jalan-jalan bersama teman, masih memakai sarung dan mukena. Memang laki-laki bersama kaumnya, dan perempuan begitu juga. Jika ada yang naksir, pakai ‘mak comblang’. Tapi, kawan…tak ada istilah boncengan, apalagi berpelukan pinggang layaknya suami istri. Ya Allah…zaman apa ini? Aku hanya bisa berdo’a semoga Allah melindungi anak dan generasiku dari kerendahan moral. Entahlah…
Menjelang siang, kami pergi berbelanja, karena Alhamdulillah ada sedikit rezeki yang bisa dibelanjakan untuk keperluan lebaran anak-anak. Kami mendiskusikan tempat belanja, Ayah berpendapat kami sebaiknya berbelanja di Mall saja. Karena tempatnya nyaman, sehingga diharapkan anak-anak (terutama si bungsu) tidak tergoda puasanya karena haus dan lapar. Baiklah, mobil meluncur ke sebuah pusat perbelanjaan besar di kotaku. Sebelumnya kami singgah dulu ke Mesjid besar sekitar pusat perbelanjaan, menunaikan sholat Zuhur. Setelah itu kami kembali bergerak menuju Pusat Perbelanjaan yang dimaksud.
Duhai…apa yang terjadi? Masih berjarak beberapa meter dari pintu masuk, aroma makanan sudah menyergap. Aroma kentang dan ayam di goreng, roti yang baru keluar dari oven sudah menyergap dan menari-nari di depan hidung. Betul, si bungsu sudah mendengus-dengus, tapi tak berani berkata apa-apa. Kami memaklumi saja dan pura-pura tidak tahu. Di dalam, food court juga tak berpengaruh pada suasana Ramadhan, resto-resto penuh, si bungsu mulai mengeluh, ah..beratnya.
Di Departmen Store, lain lagi. Harga baju selangit, modelnya juga tidak terlalu bagus walau dari segi kualitas memang baik. Selera gadis remajaku memang ‘mengerikan’ aku harus mengeluarkan uang lima ratus ribu hanya untuk tiga potong atasan, peeuhh. Baiklah, tak mungkin diteruskan, ini bukan area kita. Tanpa basa-basi aku mengajak suami beralih saja ke pasar tradisional, aku harus logis untuk memenuhi kebutuhan empat anakku. Untuk menjaga keamanan puasa si bungsu, hanya aku dan kakak-kakaknya saja yang turun belanja, sementara si bungsu dan Ayahnya kembali ke Mesjid. Mesjid, adalah tempat yang sejuk dan nyaman untuk ibadah sekaligus beristirahat, si bungsu diajak menyimak ayahnya membaca Alquran.
Alhamdulillah, di pasar tradisional semua didapat dengan murah dan kualitas yang bagus dan layak. Semua kebagian keperluan lebaran, syukurlah. Anak-anakpun menjadi senang dan tak mengeluhkan capek mutar-mutar pasar karena mamanya cerewet menawar harga (hihihi penyakit emak-emak).yOOK...nanti ada cerita Ramadhan lainnya..
Selasa, 24 Juli 2012
INFORMASI FAM INDONESIA
Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
Motto: "Membina dengan Hati Calon Penulis Islami"
SELAMAT DATANG DI RUMAH FORUM AKTIF MENULIS (FAM) INDONESIA
Selasa, 03 Juli 2012
Panduan dan Formulir Pendaftaran Keanggotaan FAM Indonesia
FAM INDONESIA
Silakan panduan ini dibaca dan dipelajari. Didalamnya sudah dilengkapi info seputar Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Kami harapkan Anda segera bergabung dalam wadah kepenulisan nasional ini. Kita jalin silaturahim dan berbagi ilmu kepenulisan bersama penulis-penulis lainnya yang tergabung dalam wadah FAM Indonesia.
Saat ini anggota FAM sudah cukup banyak dan berdomisili diberbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Di beberapa kota sudah mulai membentuk perwakilan/cabang FAM Indonesia. Kesempatan tidak datang dua kali. Kapan lagi bisa bergabung dan saling memotivasi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama. Semangat itu naik turun. Oleh karena itu perlu ada orang-orang yang bisa saling memberi motivasi agar semangat tetap stabil. Diharapkan, bisa konsisten menulis setelah bergabung dengan FAM Indonesia.
Jika Anda siap menjadi anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, silakan ISI FORMULIR dan kirimkan 1 contoh tulisan Anda, bisa berupa cerpen, puisi, esai, dan lainnya ke alamat email: forumaishiterumenulis@yahoo.com. Jika kesulitan lewat email, boleh dikirim lewat inbox facebook: “Aishiteru Menulis” atau fb: “Aliya Nurlela”. Tulisan tersebut nantinya akan diulas oleh tim penulis FAM Indonesia. Jika ada yang perlu ditanyakan, silakan kontak lewat facebook “Aliya Nurlela” atau nomor kontak kami: 081 259 821 511.
Kami memiliki group di facebook untuk berbagi seputar dunia tulis menulis dan menampilkan kegiatan-kegiatan FAM Indonesia. Nama groupnya “FORUM AISHITERU MENULIS (FAM) INDONESIA”. Group ini untuk umum, baik anggota atau bukan dengan syarat beragama muslim. Menjadi anggota group ini, bukan berarti Anda telah menjadi anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Menjadi anggota FAM Indonesia tetap harus mendaftar terlebih dahulu, mengisi formulir, mengirim contoh tulisan dan membayar registrasi keanggotaan (anggota resmi FAM Indonesia akan mengantongi Id Card FAM Indonesia). Anggota group tidak mendapat bimbingan khusus, hanya sekadar mendapat info up-date saja di dinding group. Sementara anggota group yang sekaligus anggota FAM Indonesia akan mendapat bimbingan khusus seputar dunia kepenulisan. Segeralah bergabung menjadi anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia!
Biaya registrasi keanggotaan FAM Indonesia sesuai tingkatan usia: Pelajar Rp. 60 ribu, Mahasiswa Rp. 65 ribu, Umum Rp. 75 ribu (Lebih jelas baca PROFIL FAM INDONESIA). Biaya registrasi termasuk sangat murah, sebab berlaku untuk jangka waktu 1 tahun keanggotaan, mendapat bimbingan, konsultasi khusus kepenulisan, peluang-peluang dalam bidang kepenulisan/penerbitan. Untuk mengikuti bimbingan menulis online disejumlah lembaga kursus, minimal peserta harus merogoh kocek sekitar Rp. 200 ribu - 1 juta untuk beberapa kali pertemuan. Dalam wadah FAM Indonesia tidak berlaku aturan itu. Registrasi keanggotaan FAM berbiaya murah. Kami harapkan, pengiriman biaya registrasi bisa bersamaan dengan pengiriman formulir dan tulisan Anda, atau selambat-lambatnya seminggu setelah pengembalian formulir.
Pengiriman biaya registrasi keanggotaan ditransfer ke: ALIYAH NURLAELLA,
BNI Cabang Kediri, Nomor Rekening: 0257598722, atau BRI CABANG MALANG UNIT KASEMBON, NO. REK: 6370-01-003143-53-3. Jika telah mengirim biaya registrasi, konfirmasi ke nomor Hp. 081 259 821 511.
Kami persilakan Anda untuk ikut andil menyumbang buku-buku (baik baru atau bekas) untuk Taman Baca FAM Pusat (tidak keharusan). Semoga buku-buku tersebut akan memberi manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar, hingga semakin menumbuhkan cinta membaca dan menulis di kalangan generasi muda Indonesia.
Salam aishiteru!
ALIYA NURLELA
Sekjen FAM Indonesia
Bagaimana Cara Bergabung Menjadi Anggota FAM Indonesia?
1. Mengisi FORMULIR PENDAFTARAN
2. Mengirim satu contoh tulisan (cerpen, puisi, esai dll) saat pendaftaran
3. Membayar biaya registrasi (sesuai tingkatan usia)
Jika semua syarat telah terpenuhi, maka yang bersangkutan bisa dinyatakan sebagai anggota resmi FAM Indonesia. Anggota resmi berhak mengikuti berbagai kegiatan FAM Indonesia, mengantongi Id Card, buku-buku karya anggota dipromosikan sepenuhnya oleh FAM Indonesia, dan dapat berpeluang menjadi pengurus cabang di masing-masing kabupaten/kota. Bagi anggota resmi FAM Indonesia dapat mengikuti Lomba Cipta Cerpen dan Cipta Puisi tingkat Nasional (gratis, tidak dipungut biaya) yang diadakan oleh FAM Indonesia setiap tahunnya. Anggota resmi juga berhak mencantumkan nama FAM sebagai identitas tulisannya, baik yang diposting di dalam group, status facebook, atau yang dikirim ke media massa (Contoh: Najla El Dyna, anggota FAM Malang).
Salam aishiteru!
ALIYA NURLELA
Sekjen FAM Indonesia
CERPEN YASIN ABIRU SABIL UNTUK WAFI
Cerpen ini untuk ade Wafi, buah hatinya Bunda Imah yang hari ini tamat shaumnya, dan untuk ponakan2ku juga yang tamat. Barokallohu fiikum.
“Shaum Teh Shiip!”
“Bunda, Wafi lemes banget nie”, manja Wafi pada bundanya. Wafi si kecil yag kini duduk di bangku SD kelas 2 adalah buah hati tercinta bundanya, bunda Imah sapaannya. “Sini nak, biar bunda cerita supaya lemesnya hilang”. “Bukan itu bun yang Wafi mau, Wafi mau buka saja ah abisnya lihat si Timmy ( red : tokoh kambing junior di film Shaun The Sheep) makan eskrim di film barusan Wafi jadi ngiler bun!”. “Aduh nak, makanya jangan keseringan nonton film GJ kaya gituh!. Udah yah, bunda cerita saja judulnya “Shaum Teh Shiip!”, ada hadits bagus juga nie , Wafi mau tahu gak?”. Bunda Imah memang paling hebat kalau sudah bercerita, dan ini juga hoby unik bunda yang satu ini. “Shaum Teh Shiip?, apaan tuh bunda?, itu kaya film kesukaan Wafi aja “ Shaun The Sheep”!. “ Yah , mkasud bunda Shaum Itu Bagus, dan banyak keistimewaannya nak”. “ Oooh, Bunda lucu deh , si Timmy juga kalah lucu ma bunda.hehehe”.
*****
“Dengarkan bunda yah nak, bunda bacakan hadits qudsinya”. Bunda Imah pun mulai bercerita, namun si kecil Wafi bertanya seketika. “ Bun, hadits qudsi tuh apa yah?, apa bedanya sama hadits Nabi?, ah Wafi jadi penasaran nie!”. “Waah, anak bunda yang satu ini memang selalu pengen tahu saja yah. Bagus nak, kalo gak faham Wafi harus nanya yah, biar gak linglung.heehe. jadi hadit qudsi tuh : hadits yang diriwayatkan oleh Rasululloh dari Rabbnya melalui tiga cara : melalui wahyu, mimpi dan , ilham. Disebut dengan istilah hadits-hadits qudsi karena dikaitkan dengan nama Al Quds yang artinya suci dan bersih. Disebut dengan istilah hadits-hadits Ilahi karena dikaitkan dengan nama Al Ilaah yakni Alloh. Begituh kiranya nak, Wafi faham sekarang?”. “ InsyaaAlloh faham bun”. “ Yah sudah, kalo gituh bunda bacakan yah!”.
*****
Keutamaan Bulan Ramadhan
Apabila datang malam pertama bulan ramadhan, Alloh SWT memandang makhlukNya, dan apabila Alloh memandang seorang hamba berarti selamanya Alloh tidak akan mengazabnya. Pada setiap harinya Alloh membebaskan sejuta orang dari neraka, dan apabila tiba malam kedua puluh sembilan Alloh membebaskan pada saat itu sebanyak semua orang yang dibebaskanNya dalam sebulan penuh. Apabila datang malam fitri, maka gemparlah para malaikat dan Alloh Yang Maha Perkasa menampakan diri ( cahaya) Nya sekalipun Alloh SWT tidak dapat disifati. Lalu Alloh berfirman melalui wahyuNya kepada para malaikat, sedangkan mereka pada keesokan haarinya akan mengalami hari raya, “Wahai para malaikat, apakah balasan seorang buruh apabila telah menunaikan pekerjaannya dengan sempurna?”. Para malaikat menjawab, “Upahnya diberikan kepadanya dengan sempurna.” Alloh SWT berfirman , “Saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya Aku mengampuni mereka.” ( Diketengahkan oleh Al Ashbahani melaui Abu Hurairah ra.).
****
“Waah, Alloh baik sekali yah bunda”. “Iyah nak, makanya sahum ramadhan kali ini harus tamat yah nak, karena Shaum Teh Shiip!”. “ Iyah bun, insyaaAlloh Wafi pasti tamat”.
****
Kumandang adzan maghrib pun bersautan dari surau ke surau. Wafi senang bukan main, dia pun berhamdallah dan besorak riang “Allhamdulillah, horeee…Wafi tamat shaum hari ini bundaaa., makasih yah bun ceritanya”. “ Sama-sama , bunda sayang Wafi”. “ Wafi juga sayang bunda selalu”.
By : Yasin Abiru Sabil
FAM 537M Bandung
Terimakasih Yasin, untuk cerpennya. Indahnya persaudaraan di FAM, saling peduli dan berbagi. Salam aishiteru
CERITAKU TENTANG RAMADHAN (1)
Assalamu'alaikum Fren.
Ramadhan selalu punya seribu lebih kisah ya?
Begitu juga dengan diriku, ada kisah bahagia ada juga kisah yang membuat hati perih dan miris.
Tapi, alhamdulillah, paling tidak puasa pertama si bungsu tamat, tidak lagi putus sambung seperti tahun sebelumnya. Baiklah, untuk "melalaikan" waktu ayah punya trik tersendiri, hingga Wafi benar-benar lalai dan sadar ketika waktu berbuka semakin dekat. Apa itu? ayah mengajarinya bermain catur, dia sangat tertarik dengan perjalanan raja, pion dan kroninya. Tak terasa, "dug..dug..dug.." beduk berbunyi. Minuman, makanan, puding, buah semuanya tandas! hahaha.
Rabu, 20 Juni 2012
CERPEN, LARA DALAM HUJAN
LARA DALAM HUJAN *
Rahimah Ib
Langit pekat, angin berdesir-desir melewati gedung tinggi di perkotaan, menyusup dari bingkai jendela. Biasanya, sebentar lagi akan turun hujan, mengguyur bumi tanpa perasaan. Aku duduk di depan jendela kamar, menanti hujan dengan harapan yang membuncah memayungi jiwa yang hampa. Aku suka hujan, sangat suka.
Hujan, membawa kesejukan dan aroma yang dalam. Hujan, tak pernah mampu memudarkan semangatku dalam hal apapun. Dan hujan, gemuruhnya mampu menyembunyikan tangisan pilu hatiku yang meratap menyayat.
“Nina.!!, sebentar lagi hujan! Angkat jemuran, cepat!,” Suara Ibu, mengetuk pintu kamarku dan membuyarkan konsentrasiku menanti hujan. Aku beranjak, menyeret kakiku yang tak normal, membuka pintu.
“Cepat!, jangan terus melamun! ” cahaya mata Ibu menusukku, aku tunduk. Berlalu menuju halaman belakang rumah, menunaikan perintah Ibu.
Terkadang aku merasa ibu sangat tidak adil terhadapku, sangat nyata ia tak menyukaiku. Ketika Ibu pergi arisan atau belanja, aku tak pernah menyertainya karena tak pernah di ajak sama sekali. Yang menjadi anak favoritnya adalah Siska, adikku. Kurasa, semua kasih sayang dan fasilitas tumpah ke Siska. Sementara aku diperlakukan sebelah mata, seakan tidak punya hak istimewa.
Aku yakin sekali dengan perkiraanku sendiri, aku adalah gadis yang tak bisa membanggakannya. Aku cacat, kaki dan tangan sebelah kiriku kecil, tidak dalam ukuran normal. Kaki dan tangan kiriku lemah, jika berjalan aku harus menyeretnya karena tak kuat melangkah. Satu-satunya penghiburku adalah membaca, dan menulis apapun yang ada dalam pikiran dan perasaan. Berjilid-jilid buku sudah kutulis, entah apa saja isinya aku juga sudah lupa. Semakin lama, semakin aku mahir menulis walau aku tak yakin dengan kwalitas tulisanku sendiri. Yang aku harapkan hanya aku dapat membagi dukaku pada kertas kosong, kutulis dengan penaku. Mencurahkan isi hati agar terasa lapang dan lega, itu saja.
Seperti hari ini, Siska belum pulang karena mengikuti Les piano. Aku sudah dirumah dari tadi, karena aku tidak didaftarkan ibu les apapun. Siska? Daftar lesnya sangat padat, mulai Bahasa Inggris, Bimbel sampai les piano. Karena kegiatannya banyak, Siska jarang dirumah. Otomatis akulah yang membantu ibu untuk urusan rumah. Mulai menyapu, mengepel lantai, mencuci piring sampai masak. Tentu saja aku mengerjakannya dengan lamban, karena kondisiku yang tidak sempurna. Ibu sering marah sampai terkadang mengucapkan kata-kata yang pedih, aku diam, menangis sendirian, menanti hujan. Berharap, hujan dapat menenggelamkan dukaku, isakku, raungku.
Kini, hujan itu turun, air serasa tumpah dari langit, aku belum selesai mengangkat pakaian yang dijemur dan telah mengering pula. Ibu berteriak di beranda belakang, berharap aku dapat melangkah dengan cepat, sayang pada pakaian kering yang kupeluk kuat. Apalah daya, aku tak kuat, kakiku amatlah lemah. Kuseret sekuatnya, tapi aku tak bisa, aku basah oleh hujan, pakaian kering yang kuangkat dengan susah payah juga basah oleh hujan. Aku menangis dalam hati, airmataku bercampur hujan namun tak ada isak.
“Kok lama ha? Itulah jadinya, pakaian kering jadi basah lagi..! ” Ibu menyambutku dengan marah, matanya merah, seperti biasa, aku tunduk saja. Aku tak pernah menjawab, tak berani, padahal hatiku sudah meraung-raung pilu.
“Kamu harus jemur pakaian itu di garasi, cepaat…!,” Ibu berteriak lagi. Dia nyaris tak pernah berkata lembut padaku. Bencikah Ibu padaku? Pada keadaanku yang tak sempurna? Benci pada kaki dan tangan kiriku yang lemah? Benci padaku yang lamban?. Aku tak pernah bisa menjawab itu semua, semua kutumpahkan saja dalam tulisan, biarlah.
Malam ini, hujan kembali menenggelamkan isakku. Siska sudah tidur diranjangnya. Dia juga tak pernah peduli padaku, itu karena kesibukannya yang luar biasa. Dia mudah tertidur karena kelelahan menuntut ilmu, sedangkan aku tidur karena kelelahan menangis, atau lelah karena tugas rumah yang mengakibatkan tulang kakiku berdenyut-denyut. Tak ada yang perduli sama sekali. Ayah juga terlalu sibuk.
*****
“ Dia demam, panasnya tinggi sekali “ lamat-lamat kudengar suara Ayah, tangannya yang kekar meraba keningku, aku menggigil, tak mampu bergerak.
“ Pasti karena kena hujan kemarin sore, dia sih…lamban sekali “ Ibu bersuara, kesal.
“ Kamu terlalu memaksakannya Bu, dia memang tak bisa cepat, masa kamu paksa? “ Ayah menyela, mencoba membelaku.
“ Kita harus membawanya kedokter, sekarang…”
“ Dikasi Parasetamol aja Yah, pagi gini mana ada dokter praktek “ Siska menimpali.
“ Kita bawa ke Oom Bayu, panasnya tinggi sekali, Ayah khawatir ”
Semua suara itu kudengar sayup-sayup, aku kedinginan luar biasa. Gerak tubuhku tak dapat kukontrol, gigiku gemeretuk. Tulang tungkai kaki kiriku berdenyut luar biasa, serasa menjalar sampai ke ubun-ubun, mataku panas dan berair. Siska menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal, tak berpengaruh, tetap saja aku menggigil. Seingatku, aku tak pernah merasakan sakit seperti ini. Jikapun demam, tidak sampai menggigil. Jikapun tulang tungkai kaki kiriku berdenyut, sakitnya tidak sedahsyat ini. Aku setengah sadar, suara Siska berteriak panik ditelingaku terasa amat jauh, suara Ibu dan Ayah juga terdengar samar, suara itu memanggil namaku silih berganti, ramai sekali, semua sayup dan hilang.
***
Ruangan itu berwarna pink, dihiasi langit-langit putih yang bersih. Jelas, ini bukan kamarku. Aku melirik kekiri, selang infus menggantung, dihubungkan keurat lengan kiriku. Ya, aku ada di kamar rumah sakit. Ayah, Ibu dan Siska mengelilingiku, mata mereka nampak cemas, aku menangis.
“ Kenapa sayang? “ Ayah membelai kepalaku. Aku sedih sekali, walau aku terlahir cacat, aku tak pernah merasakan tinggal dikamar sebuah rumah sakit.
“ Nina kenapa, Yah?. Kenapa harus diinfus? “
“ Enggak apa-apa, panasnya tinggi sekali, kamu harus dibantu dengan cairan infus “ Ibu menimpali, suaranya lembut, aku semakin ingin menangis. Suara Ibu yang selalu kuharapkan, kurindukan dan selalu kuimpikan.
“ Siska enggak sekolah?, “ kulirik adikku yang duduk di kelas tiga esempe. Siska menggeleng, mengusap matanya yang merah.
“ Ini hari Minggu, Kak...” Aku terpana, tercekat dalam kebingungan. Seingatku, aku mengangkat kain dari jemuran dan terkena hujan hari Kamis sore. Kemudian Jum’at pagi aku demam dan tak sadarkan diri. Hari ini Minggu, artinya......aku pingsan lebih dari dua puluh empat jam!, ya Allah..
“ Nina sakit apa, Yah? “ air mataku mengalir bagai anak sungai, aku sudah bisa merasakan sesuatu yang tidak beres dengan diriku. Ibu dan Siska menangis, Siska menelungkupkan wajah dikakiku yang tertutup selimut. Ibu menangis, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ayah, bibirnya gemetar menahan sesuatu, aku semakin cemas.
“ Katakan, Yah.....Nina enggak apa-apa kok, Nina kuat “ kucoba menguatkan diri, walau jantungku berdebar.
“ Nina kuat? “
“ Kuat, Yah....sangat kuat “ kuyakinkan Ayah.
“ Jangan putus asa ya?, “ aku mengangguk.
“ Nina, kena kanker tulang Nak... tapi bisa sembuh kok, masih stadium satu. Kita berobat ya? Ayah akan usahakan kemana saja....” bibir Ayah bergetar, matanya merah. Aku tercekik, tak bisa berkata apa-apa. Ternyata, ini jawaban atas kesakitanku selama ini. Tungkai kiri yang sering berdenyut dan sakitnya minta ampun. Sakit yang tak pernah kuceritakan pada siapapun. Sakit yang hanya kutenggelamkan bersama hujan. Sakit yang tak pernah diketahui Siska walau kami satu kamar.
Kamar rumah sakit itu kini penuh dengan tangis. Ibu dan Siska memelukku dengan kuat, Ibu hampir meraung-raung. Ternyata, mereka semua mnyintaiku. Tapi kenapa baru sekarang? Ketika aku semakin mendekati waktuku?. Aku ragu pada Ayah, kankerku tidak pada stadium satu, mungkin saja sudah stadium empat.
“ Boleh Nina minta sesuatu, Yah? “
“ Apa, sayang? “
“ Tolong pinjamlan Nina Laptop Ayah, ya? “
“ Untuk apa? “
“ Nina akan menulis, menulis semua yang Nina rasakan selama ini. Kalaupun waktu Nina habis, ada yang Nina tinggalkan. Jadi kenangan, “ air mataku berderai, betapa singkat waktuku, usiaku baru tujuh belas tahun, saat indah masa remaja, tapi tak pernah kurasa bahagia.
“ Ma’af sayang.... ma’afkan Ibu, nak....” Ibu memelukku, pelukan hangat yang nyaris tak pernah kurasakan. Biarlah, kini sakitku kuanggap saja sebagai hikmah. Jika memang harus begini mereka menyayangiku. Tapi kini aku tahu, bahwa mereka sangat menyintaiku.
* Telah dimuat di Koran Digital Koran_Cyber.com
Langganan:
Postingan (Atom)