Jalanan itu sangat panjang. Berliku-liku seakan tak berbatas. Aku menguap, meregangkan tangan mengusir penat yang merajai tubuh. Kulakukan segala melalui jalan itu, dengan senyum, marah, kesal, kecewa, bahagia, resah, gelisah, lelah, layu, semangat dan bahagia. Ku telusuri jalan ini dengan penuh asa dan cita-cita, menepis semua legenda dengan keyakinan penuh atas segala usaha. Ku yakin, Tuhanku yang maha segalanya akan memudahkanku melewati jalan itu.
Jalan itu masih panjang, berkelok, belok, menikung dan terkadang lurus. Jalan yang melewati jurang dan ngarai, hutan dan bagai... itu adalah jalan kehidupan.
Selasa, 24 Januari 2012
Kamis, 29 Desember 2011
KISAH HUJAN
Langit pagi cerah...aku dan putri sulungku bergegas meninggalkan rumah. Memburu hari agar tercapai semua rencana, lagi ada waktu. Planning hari ini hanya berkepentingan kami berdua, mengisi libur walau sebenarnya liburku tak jelas. Aku masuk kantor sekadar ceklock absen, karena tak ada pekerjaan penting lain. Siswa semua libur, sementara kami pimpinan dan orang kantor harus tetap duduk manis di meja, menunggu tamu, atau sekedar nongol dan hilang. Target hari ini, kami akan mengambil honor yang tak seberapa di harian lokal. Maklum, cerpen hasil karya yang di muat di harian lokal dibayar rendah. Tapi tak apalah, yang penting aku dan si sulung dapat mengekspresikan diri, menyalurkan hobi. Kemudian, hasil honor menulis akan kami belikan buku. Selalu seperti itu, karena dengan begitulah kami bisa punya buku, memenuhi hasrat membaca.
Aku, tak mampu meninggalkan meja kerja sampai menjelang siang. Tak enak hati plus tak terbiasa. Sebelas tiga puluh kami berangkat ke Harian tujuan kami, memburu waktu karena biasanya orang kantor istirahat jam setengah satu sampai jam dua siang. Alhamdulillah jalan lancar dan tak macet. Kami melapor ke Sekretaris Redaksi di lantai tiga dan mengambil slip bukti penerbitan tulisan lalu mengambil honor di lantai satu. Keluar kantor Harian, langit mulai gelap. Awan tampak hitam menggelantung seakan siap jatuh berhamburan dan marah. Kami mulai ragu melanjutkan rencana semula, memburu buku di Merdeka Walk. Itu adalah area terbuka, pasti jika hujan turun kami akan kuyub. Ah... yang penting kami sholat dulu, menyelesaikan laporan tengah hari pada sang Khaliq. Kami meluncur ke sebuah mesjid gagah di area sepi yang elegan, sholat zuhur ditemani mukena mesjid yang harum, bersih dan terawat. Keluar Mesjid, langit mulai merajuk, tersedu, menangis. Kami memutar arah tujuan, menuju pusat perbelanjaan, makan siang dan membeli buku sekedarnya.
Apa nyana? langit mengamuk marah, hujan bagai tumpah ruah, jalanan buram karena air yang semakin rapat. Sialnya lagi, mobil tuaku tak ber AC. Sekalian lengkaplah kegelapan jalan,di tambah angin yang menderu, petir menyambar liar. Kesalahan pertama aku lakukan, masuk area parkir dari arah berlawanan. Abang beca yang parkir menghindari hujan berteriak marah, ku buka jendela mobil sambil meminta ma'af dan mohon bantuan karena aku akan memundurkan si tua ini. Demi melihat wajahku menyembul dari jendela mobil, para abang beca tersenyum lunak. Mungkin mereka terpana, melihat wajah Ibu yang cantik dan halus tutur bahasanya (hehehe... narsis deh..). Si tua masuk dengan lancar ke area parkir yang rapat dan padat, kaca mobil buram dan pekat.
Kini, kesalahan kedua aku lakukan. Mencari area parkir yang kosong dan lapang tak mudah, si sulung terlalu percaya diri sementara aku ragu pada diri sendiri. Area sempit, kuputar haluan mobil, gagal, aku prustasi, si sulung menyulutku dengan bahasa manisnya " Bisa tuh Ma.... you can do it, its big space Ma..." Ku ulangi lagi dari arah depan, dan itu terjadi. Ciiitt... si tua nyangkut, kulihat spion, bertambah prustasi. Si sulung yang dari tadi bersemangat mulai pias, kakiku gemetar menginjak pedal, mengagak-agak arah stir agar lepas dari mobil yang nyangkut.
Si sulung mulai merepet-repet takut, aku menghardiknya tak kalah takut, " Don't panic Za!!, we are out of here!." Akhirnya, semua masih dapat kukendalikan, memutar balik arah mobil, pulang?. No!.. si sulung merepet kelaparan,aku tak ingin buah hatiku kelaparan di jam makan siangnya. Aku mencari area lain, agak jauh dan lapang.
Di pusat perbelanjaan kota ini,si sulung makan Pizza dengan lahapnya. Kami membeli buku di salah satu toko buku, sebuah Novel pencerahan. Honornya menulis yang tak seberapa dia belikan oleh-oleh untuk adiknya yang tinggal di rumah. Ku perhatikan putri Remajaku yang bersemangat membeli hadiah untuk adiknya. Ternyata, sulungku ini menyayangi saudara2nya. Aku masih berpikir tentang si tua yang kuparkir dalam keadaan babak belur. Aku akan menceritakan semua apa adanya pada suami tercintaku, tentang si tua yang menjerit ciiiiiiiitttt.
Aku, tak mampu meninggalkan meja kerja sampai menjelang siang. Tak enak hati plus tak terbiasa. Sebelas tiga puluh kami berangkat ke Harian tujuan kami, memburu waktu karena biasanya orang kantor istirahat jam setengah satu sampai jam dua siang. Alhamdulillah jalan lancar dan tak macet. Kami melapor ke Sekretaris Redaksi di lantai tiga dan mengambil slip bukti penerbitan tulisan lalu mengambil honor di lantai satu. Keluar kantor Harian, langit mulai gelap. Awan tampak hitam menggelantung seakan siap jatuh berhamburan dan marah. Kami mulai ragu melanjutkan rencana semula, memburu buku di Merdeka Walk. Itu adalah area terbuka, pasti jika hujan turun kami akan kuyub. Ah... yang penting kami sholat dulu, menyelesaikan laporan tengah hari pada sang Khaliq. Kami meluncur ke sebuah mesjid gagah di area sepi yang elegan, sholat zuhur ditemani mukena mesjid yang harum, bersih dan terawat. Keluar Mesjid, langit mulai merajuk, tersedu, menangis. Kami memutar arah tujuan, menuju pusat perbelanjaan, makan siang dan membeli buku sekedarnya.
Apa nyana? langit mengamuk marah, hujan bagai tumpah ruah, jalanan buram karena air yang semakin rapat. Sialnya lagi, mobil tuaku tak ber AC. Sekalian lengkaplah kegelapan jalan,di tambah angin yang menderu, petir menyambar liar. Kesalahan pertama aku lakukan, masuk area parkir dari arah berlawanan. Abang beca yang parkir menghindari hujan berteriak marah, ku buka jendela mobil sambil meminta ma'af dan mohon bantuan karena aku akan memundurkan si tua ini. Demi melihat wajahku menyembul dari jendela mobil, para abang beca tersenyum lunak. Mungkin mereka terpana, melihat wajah Ibu yang cantik dan halus tutur bahasanya (hehehe... narsis deh..). Si tua masuk dengan lancar ke area parkir yang rapat dan padat, kaca mobil buram dan pekat.
Kini, kesalahan kedua aku lakukan. Mencari area parkir yang kosong dan lapang tak mudah, si sulung terlalu percaya diri sementara aku ragu pada diri sendiri. Area sempit, kuputar haluan mobil, gagal, aku prustasi, si sulung menyulutku dengan bahasa manisnya " Bisa tuh Ma.... you can do it, its big space Ma..." Ku ulangi lagi dari arah depan, dan itu terjadi. Ciiitt... si tua nyangkut, kulihat spion, bertambah prustasi. Si sulung yang dari tadi bersemangat mulai pias, kakiku gemetar menginjak pedal, mengagak-agak arah stir agar lepas dari mobil yang nyangkut.
Si sulung mulai merepet-repet takut, aku menghardiknya tak kalah takut, " Don't panic Za!!, we are out of here!." Akhirnya, semua masih dapat kukendalikan, memutar balik arah mobil, pulang?. No!.. si sulung merepet kelaparan,aku tak ingin buah hatiku kelaparan di jam makan siangnya. Aku mencari area lain, agak jauh dan lapang.
Di pusat perbelanjaan kota ini,si sulung makan Pizza dengan lahapnya. Kami membeli buku di salah satu toko buku, sebuah Novel pencerahan. Honornya menulis yang tak seberapa dia belikan oleh-oleh untuk adiknya yang tinggal di rumah. Ku perhatikan putri Remajaku yang bersemangat membeli hadiah untuk adiknya. Ternyata, sulungku ini menyayangi saudara2nya. Aku masih berpikir tentang si tua yang kuparkir dalam keadaan babak belur. Aku akan menceritakan semua apa adanya pada suami tercintaku, tentang si tua yang menjerit ciiiiiiiitttt.
Selasa, 27 Desember 2011
MIMPIKU......
Betapa aku banyak bermimpi. Sejak dulu, aku adalah pemimpi. memimpikan hidup dan masa depan yang baik, nyaman, bahagia. sebagian mimpi telah terwujud, namun masih ada yang tertunda. Ketika remaja, aku bermimpi kelak tulisanku akan dimuat di koran dan majalah. Selanjutnya aku ingin punya buku sendiri. Waktu berjalan... Mamak dan bapak tak mengijinkan aku menjadi wartawan yang aku impikan. Aku pasrah... sambil terus menulis dan mengirimkan karyaku di koran2 lokal, aku kuliah di pendidikan.
Aku menikah di usia 23 tahun, masih kuliah. Aku ikhlas mendampingi suamiku yang baik, shaleh, imamku, sandaranku yang gagah. Suamiku adalah sahabatku. Waktu berjalan diselimuti kebahagiaan yang dalam, aku di anugerahi Allah empat anak yang sehat, cerdas dan cantik. Aku, terus menulis tanpa keinginan untuk publikasi.
Aku menasehati anakku melalui cerpen, menanam nilai2 moral pada anakku melalui cerpen yang aku buat sendiri. Menyatakan cinta yang dalam pada suami melalui puisi. Suamiku bukanlah peminat sastra, dia tak pernah membaca tulisanku. tapi dia sangat mendukungku.
Aku, mulai lagi menulis dan mempublikasikan karya ketika usia sudah 40. Anak2 ku sudah remaja, dan si sulung juga menulis. Aku bangkit, serasa kembali muda. kini aku ingin kembali meraih cita2 ku yang sempat tertunda, punya buku. Akankah terwujud?. Sesekali aku tersentak dari mimpiku, layakkah aku punya sebuah buku? apakah aku terlalu narsis dalam mengekspresikan diri?. Entahlah... terkadang kepercayaan diri itu hanyut dalam arus angin kompetisi. Tapi aku adalah tipe manusia yang penuh semangat. Semangat yang selalu aku syukuri, yang menyambutku setiap pagi. Semangat yang selalu membangkitkanku dengan kepala tegak dan senyum, menyapa buah hatiku tercinta " Good morning sweetheart.... lets start to day, happy day.. Semangat!!". Aku harus menebar semangat setiap pagi pada keluargaku, kebahagiaan terbesar yang telah dianugrahkan Allah untuk kami....I love my Family.
Oya.. sebagai seorang Ibu, egoiskah aku? punya impian pribadi?. I don't think so.
Ku katakan, itu adalah impian remaja yang tertunda. Impianku yang lain sebagai Ibu adalah mengantarkan anakku ke gerbang sukses dan bahagia. Akankah?... aku mohon waktu kepada Allah, agar semua bisa terwujud.. Amiiinnn.
Aku menikah di usia 23 tahun, masih kuliah. Aku ikhlas mendampingi suamiku yang baik, shaleh, imamku, sandaranku yang gagah. Suamiku adalah sahabatku. Waktu berjalan diselimuti kebahagiaan yang dalam, aku di anugerahi Allah empat anak yang sehat, cerdas dan cantik. Aku, terus menulis tanpa keinginan untuk publikasi.
Aku menasehati anakku melalui cerpen, menanam nilai2 moral pada anakku melalui cerpen yang aku buat sendiri. Menyatakan cinta yang dalam pada suami melalui puisi. Suamiku bukanlah peminat sastra, dia tak pernah membaca tulisanku. tapi dia sangat mendukungku.
Aku, mulai lagi menulis dan mempublikasikan karya ketika usia sudah 40. Anak2 ku sudah remaja, dan si sulung juga menulis. Aku bangkit, serasa kembali muda. kini aku ingin kembali meraih cita2 ku yang sempat tertunda, punya buku. Akankah terwujud?. Sesekali aku tersentak dari mimpiku, layakkah aku punya sebuah buku? apakah aku terlalu narsis dalam mengekspresikan diri?. Entahlah... terkadang kepercayaan diri itu hanyut dalam arus angin kompetisi. Tapi aku adalah tipe manusia yang penuh semangat. Semangat yang selalu aku syukuri, yang menyambutku setiap pagi. Semangat yang selalu membangkitkanku dengan kepala tegak dan senyum, menyapa buah hatiku tercinta " Good morning sweetheart.... lets start to day, happy day.. Semangat!!". Aku harus menebar semangat setiap pagi pada keluargaku, kebahagiaan terbesar yang telah dianugrahkan Allah untuk kami....I love my Family.
Oya.. sebagai seorang Ibu, egoiskah aku? punya impian pribadi?. I don't think so.
Ku katakan, itu adalah impian remaja yang tertunda. Impianku yang lain sebagai Ibu adalah mengantarkan anakku ke gerbang sukses dan bahagia. Akankah?... aku mohon waktu kepada Allah, agar semua bisa terwujud.. Amiiinnn.
Kamis, 22 Desember 2011
IBU, sosok hebat di Dunia
Apa yang bisa dikatakan melihat jasa seorang Ibu?. Semua manusia pasti akan berkata bahwa Ibunya adalah makhluk terhebat di jagad raya. Seorang Ibu tak pernah mengenal kata lelah dalam menjalani hidupnya, mengurus kita anaknya. Ibu... adalah sosok perempuan yang dahsyat!. Ketika kita masih ada dalam raganya, kita begitu dekat dengan jantungnya, merasakan setiap getaran yang ada, kita hidup dan tumbuh di sana. Ketika kita lahir, ibu meregang nyawa dengan bahagia, rindu merenda hatinya, bertanya dalam dada, seperti apakah wajah anaknya?.
Duhai kawan...malam kita menangis, mengganggu lelap tidurnya karena lelah mengurus kita anaknya. Marahkah ia? tak! ia tak marah, tersenyum dalam malam menyusui kita, merasakan nafas hangat anaknya. Ketika dia sedang makan kita membuang sesuatu yang busuk dari dalam perut, ia akan berhenti menikmati makannya dan segera menyapa kita dengan sayang, ia tak ingin anaknya lama-lama dalam kotoran. Duhai Ibu... kau memang perempuan terdahsyat di jagad raya...
Kawan... kau tau?. Ibu.. punya daftar kerja jauh diatas para ayah. Ibu bekerja, tapi juga harus mengurus rumahnya. Ada pembantu? Ibu tak boleh lepas tangan, tetaplah terjun dalam kancah rumah. Ibu... selalu memberi cinta dan menebar aura sayang di rumah dan keluarganya. kemana anak akan mengadu jika ada masalah?, Ibu tujuannya. Ketika anak menangis, Ibu yang di panggilnya.
Duhai para Ibu, jadilah Ibu yang dahsyat untuk anak-anaknya. Tetaplah menjadi Ibu yang hebat di rumah. Tetaplah jadi wanita hebat dalam pekerjaan dan pofesi. Tebarkan cinta dan aura semangatmu pada siapa saja. Jadilah engkau, sebagai Ibu yang dapat mengguncang buaian dengan tangan kananmu, dan mengguncang dunia dengan tangan kirimu. Selamat Hari Ibu, untuk Ibu yang ada di seluruh dunia...
Duhai kawan...malam kita menangis, mengganggu lelap tidurnya karena lelah mengurus kita anaknya. Marahkah ia? tak! ia tak marah, tersenyum dalam malam menyusui kita, merasakan nafas hangat anaknya. Ketika dia sedang makan kita membuang sesuatu yang busuk dari dalam perut, ia akan berhenti menikmati makannya dan segera menyapa kita dengan sayang, ia tak ingin anaknya lama-lama dalam kotoran. Duhai Ibu... kau memang perempuan terdahsyat di jagad raya...
Kawan... kau tau?. Ibu.. punya daftar kerja jauh diatas para ayah. Ibu bekerja, tapi juga harus mengurus rumahnya. Ada pembantu? Ibu tak boleh lepas tangan, tetaplah terjun dalam kancah rumah. Ibu... selalu memberi cinta dan menebar aura sayang di rumah dan keluarganya. kemana anak akan mengadu jika ada masalah?, Ibu tujuannya. Ketika anak menangis, Ibu yang di panggilnya.
Duhai para Ibu, jadilah Ibu yang dahsyat untuk anak-anaknya. Tetaplah menjadi Ibu yang hebat di rumah. Tetaplah jadi wanita hebat dalam pekerjaan dan pofesi. Tebarkan cinta dan aura semangatmu pada siapa saja. Jadilah engkau, sebagai Ibu yang dapat mengguncang buaian dengan tangan kananmu, dan mengguncang dunia dengan tangan kirimu. Selamat Hari Ibu, untuk Ibu yang ada di seluruh dunia...
Selasa, 20 Desember 2011
LIBUR TLH TIBA....
Liburan euuyy...
Yups!! liburan semester telah tiba, siswa libur, kita libur juga dong!. Itulah enaknya jadi bapak dan ibu guru, hehehe...
Eh... liburan kemana ya?. Mmmmhh.. kayaknya liburan kali ini di kasi tema " HOLIDAY ON THE ROAD ". Lho... kok holiday on the road?. ya... gitulah, maksudnya banyak yang mau di jalani selama liburan ini, tapi bukan melulu nyantai di pantai ampe kucai dan lebay (hehehehe). ada beberapa proyek tertunda (cyee..) yang harus diselesaikan, mumpung ada waktu. Oke... mau tau? cekit dot.
1. Liburan awal, kayaknya ke gunung dulu deh. menikmati udara segar ama keluarga tercinta, buah hati belahan jiwa. Bersama suami yang baik dan ganteng (hehehe, narsis ya?)dan anak2 yang cantik dan cakep ( narsis lagi). Nginapnya semalam aja, kalo lama2 duitnya gak cukup. Turun, singgah di waterpark nemani anak2 berenang ampe kenyang.
2. Hari berikutnya.. ke beberapa harian untuk ambil honor tulisan(asyeeekk), sekalian silaturrahmi. soalnya mereka udah lama gak ketemu saya hahahaha... (sok dikenal!)
3. selanjutnya, ada janji ama penerbit yang mau buat buku saya. Mmmmhhh... jadi enggak ya?. tapi yaa... ketemuan aja dulu, nanti deh.. di bahas.
4. trus... mau hunting buku sama si sulung, dia penulis juga lho...sama kayak mamanya. Eh... jago baca juga, sama seperti mamanya, tapi sayang deh..wajahnya blasteran ayahnya tulen, wajah saya enggak nyangkut! hiks..hiks..hiks..
5. ni.. penting juga, saya akan manjakan keluarga dengan masakan saya yang enak.. hehehe. seperti ayam goreng, ikan goreng, telur goreng, ubi goreng, hahahaha..!!
6. Mmmmhh .... apa lagi ya?. Nulis dooongg... kalo enggak nulis saya pusing dan demam (kayak candu ya?). saya enggak peduli penerbit mau nerbitkan tulisan saya apa enggak. I don't care, write is write!. Tapi please.... kalo saya kirim ke majalah atau koran, terbitin dunk...saya akan melompat lompat seperti kijang lepas kalo tulisan saya dimuat lho.. Emang sih.. dari dulu maruknya enggak ilang-ilang, hehehe
7. He... ini enggak kalah penting! selama liburan saya akan menyediakan waktu untuk memanjakan diri. Seperti... mandi, sikat gigi, keramas pake shampoo, lho? itukan standart ya?, trus.. apa dong?.
8. Ya..agaknya perawatan sedikit special ya?. Seperti luluran, creambath, masker, meni pedi. Tapi dirumah aja..hemat dan lebih privacy. Tul...??
9. Ada juga yang enggak kalah penting lho.. saya akan belajar bagaimana membuat Blog saya ini semakin cantik dan enak dilihat. soalnya... saya gaptek banget, maklum deh...produksi tahun rendah tapi sok tahun tinggi, hahaha..(lucu enggak ya?)
Well... itu adalah rencana liburan yang ada di otak saya yang bertabur mimpi seperti taburan pasir di pantai. But its oke.. saya akan menjalaninya sesuai rencana, selebihnya Allah yang akan menentukan. Siapa tau ada yang traktir saya keliling Eropa atau Asia, saya ikhlas kok.. bener! suerrr!...
Yups!! liburan semester telah tiba, siswa libur, kita libur juga dong!. Itulah enaknya jadi bapak dan ibu guru, hehehe...
Eh... liburan kemana ya?. Mmmmhh.. kayaknya liburan kali ini di kasi tema " HOLIDAY ON THE ROAD ". Lho... kok holiday on the road?. ya... gitulah, maksudnya banyak yang mau di jalani selama liburan ini, tapi bukan melulu nyantai di pantai ampe kucai dan lebay (hehehehe). ada beberapa proyek tertunda (cyee..) yang harus diselesaikan, mumpung ada waktu. Oke... mau tau? cekit dot.
1. Liburan awal, kayaknya ke gunung dulu deh. menikmati udara segar ama keluarga tercinta, buah hati belahan jiwa. Bersama suami yang baik dan ganteng (hehehe, narsis ya?)dan anak2 yang cantik dan cakep ( narsis lagi). Nginapnya semalam aja, kalo lama2 duitnya gak cukup. Turun, singgah di waterpark nemani anak2 berenang ampe kenyang.
2. Hari berikutnya.. ke beberapa harian untuk ambil honor tulisan(asyeeekk), sekalian silaturrahmi. soalnya mereka udah lama gak ketemu saya hahahaha... (sok dikenal!)
3. selanjutnya, ada janji ama penerbit yang mau buat buku saya. Mmmmhhh... jadi enggak ya?. tapi yaa... ketemuan aja dulu, nanti deh.. di bahas.
4. trus... mau hunting buku sama si sulung, dia penulis juga lho...sama kayak mamanya. Eh... jago baca juga, sama seperti mamanya, tapi sayang deh..wajahnya blasteran ayahnya tulen, wajah saya enggak nyangkut! hiks..hiks..hiks..
5. ni.. penting juga, saya akan manjakan keluarga dengan masakan saya yang enak.. hehehe. seperti ayam goreng, ikan goreng, telur goreng, ubi goreng, hahahaha..!!
6. Mmmmhh .... apa lagi ya?. Nulis dooongg... kalo enggak nulis saya pusing dan demam (kayak candu ya?). saya enggak peduli penerbit mau nerbitkan tulisan saya apa enggak. I don't care, write is write!. Tapi please.... kalo saya kirim ke majalah atau koran, terbitin dunk...saya akan melompat lompat seperti kijang lepas kalo tulisan saya dimuat lho.. Emang sih.. dari dulu maruknya enggak ilang-ilang, hehehe
7. He... ini enggak kalah penting! selama liburan saya akan menyediakan waktu untuk memanjakan diri. Seperti... mandi, sikat gigi, keramas pake shampoo, lho? itukan standart ya?, trus.. apa dong?.
8. Ya..agaknya perawatan sedikit special ya?. Seperti luluran, creambath, masker, meni pedi. Tapi dirumah aja..hemat dan lebih privacy. Tul...??
9. Ada juga yang enggak kalah penting lho.. saya akan belajar bagaimana membuat Blog saya ini semakin cantik dan enak dilihat. soalnya... saya gaptek banget, maklum deh...produksi tahun rendah tapi sok tahun tinggi, hahaha..(lucu enggak ya?)
Well... itu adalah rencana liburan yang ada di otak saya yang bertabur mimpi seperti taburan pasir di pantai. But its oke.. saya akan menjalaninya sesuai rencana, selebihnya Allah yang akan menentukan. Siapa tau ada yang traktir saya keliling Eropa atau Asia, saya ikhlas kok.. bener! suerrr!...
Senin, 21 November 2011
Cerpen
EMAK
Rahimah Ib
Langit begitu pekat diiringi gerimis halus ketika aku keluar rumah. Disampingku, Ibu merapatkan jaketnya sambil mendekapkan tangannya di dada, memandang langit yang gelap.
“ hujan lagi…”, desisnya halus terdengar kecewa.
“ enggak usah jualan ya Mak?... dingin kali”, kujawab desisan Emak, Ibuku.
“ enggak apa-apa, kau piker Emak tak biasa dengan udara dingin?”, Ibu menjawab sambil menatapku tajam dalam remang, aku diam.
Kami menembus gerimis yang mulai merapat, kudekap Emak yang ringkih sepenuh jiwaku, manusia yang paling kucintai dalam hidupku.
Usiaku masih tujuh tahun ketika Ayah harus kembali menghadapNya. Ibuku adalah wanita Melayu yang biasa tinggal di rumah. Sebagai wanita yang tidak punya pendidikan dan keterampilan, Ibu limbung menghadapi ekonomi keluarga walaupun Ibu hanya perlu menghidupi aku, anak tunggalnya. Aku masih ingat ketika Ibu harus berjuang berjualan rokok di lampu merah, menjajakan Koran dan akhirnya Ibu berjualan sayur di Pasar, setiap pagi bercumbu dengan dingin dan embun. Setiap pagi pula aku menemani Ibu keluar rumah jam tiga pagi, memilih sayuran yang akan dijual pada pembawa sayur dari gunung dan duduk jualan pada lapak terbuka hingga jam tujuh. Untuk selanjutnya aku punya aktifitas lain, kuliah, diskusi dan nongkrong di perpustakaan untuk mencari literature tulisan, istirahat pada pukul sembilan malam. Jika banyak tulisan yang harus kugarap, aku hanya istirahat tiga jam. Mahasiswa kaya dan malas adalah ladang rezeki bagiku, karena mereka akan mencari aku untuk membuatkan skripsi atau sekedar makalah dan proposal.
Pernah kukatakan pada Emak agar dia tidak usah lagi berjualan, tapi Emak merepet-repet panjang sampai terbatuk-batuk, kasihan. Emak mengatakan dia akan berhenti jualan jika aku sudah sarjana, kekantor pakai dasi, punya keluarga dan ia akan menjaga anakku, cucunya. Setelah itu aku tak berani lagi menyinggung masalah keinginanku agar dia tak lagi berjualan, aku sadar sepenuhnya bahwa tiap butir nasi yang kumakan adalah keringat Emak, bahkan darah yang mengalir dalam tubuhku adalah keringat Emak. Pernah kutanyakan pada Emak mengapa ia tak mau menikah lagi, dia cuma berkata
“ tak ada yang Emak harapkan lagi dalam hidup ini selain kau, Zul. Kau belahan jiwa emak, harapan masa depan Emak, Cuma kau yang berharga dalam hidup Emak nak… jangan kau tanyakan itu lagi ya?...”, Emak mengelus kepalaku dengan mata yang berkaca-kaca, kupeluk Emak dengan mata panas menahan tangis. Ah…Emak, ma’afkan aku jika menyinggung perasaanmu.
Kata-kata Emak yang mengatakan aku adalah harapannya dapat kurasakan sampai sekarang. Setiap pagi di pasar Emak memesan susu dan nasi gurih komplit di warung untuk menu sarapanku, padahal Emak tak pernah minum susu. Sore hari dia memasakkan aku makanan apa saja yang dianggapnya aku suka, Emak memberiku makanan cukup gizi dan aku tumbuh menjadi laki-laki yang sehat dan proporsional. Dari aku SD, Emak sering memberiku buku cerita, walaupun itu cuma buku bekas yang sayang jika dijadikan kertas pembungkus. Aku pernah protes mengapa sampai sekarang aku harus minum susu, Emak berkata
“ biar kau sehat Zul, kau kurang tidur, emak tak mau kau sakit nak…”
“ tapi Emak enggak pernah minum susu, Emak sehat….”, jawabku sekenanya. Emak tertawa, menepuk bahuku dengan sayang
“ Emak tak perlu perpikir untuk belajar lagi nak…, Emak tak mau jadi sarjana, Emak tak kuliah. Kau tau? Kurang tidur itu membuat orang menjadi bodoh, kalau kau tak cukup gizi dan kurang tidur jadi tambah bodohlah kau, ngerti?..”, Emak bangkit sambil terkekeh-kekeh menunjukkan giginya yang masih rapi, sesungguhnya Emak adalah wanita yang sangat cantik. Aku masih terpaku diam, benarkah kata Emak?. Terkadang Emak yang tak sekolah jauh lebih pintar daripada aku, kurang tidur dan kurang gizi membuat orang menjadi bodoh adalah ilmu baru bagiku. Betapa hebatnya Emak mempersiapkan aku, menjadi pemuda sehat dan meraih beasiswa sepanjang pendidikannya. Semakin aku kagum pada perempuan paruh baya yang bak pendekar ini, Emakku.
Pagi ini, susu itu muncul lagi dihadapanku, aku mau muntah. Emak menyodorkannya penuh sayang, ah.. aku tak ingin mengecewakannya. Kuambil gelas yang disodorkan Emak
“ aku minum di tempat Minun ya Mak?..”, Minun adalah penjaga warung langganan emak beli sarapan pagi, emak mengangguk dan aku segera melesat seperti peluru lepas. Di warung, Minun sudah tersenyum menunjukkan gigi taringnya yang agak mencuat.
“ tambah kopi kan?”, dia sudah tau apa yang kumau, aku cuma mengangguk. Setelah itu, dia habis menggodaku dan mengumpamakan bahwa aku adalah pemuda yang masih disusui Emakku, kurang ajar betul.
“ kok lama Zul?..”, tegur Emak ketika aku kembali dari curi-curi minum susu dicampur kopi di warung Minun.
“ iya Mak.. diajak ngobrol sama Minun…”, aku mengambil tempat disisi Emak.
“ pasti susunya dicampur kopi, iyakan?..”, Emak menudingku dengan wajah menggoda, aku terhenyak sadar bahwa seminggu ini aku sudah membohonginya.
“ dasar anak muda…”, Emak mendesis, tapi tak marah.
“ aku muak Mak dua puluh tahun minum susu terus… enggak apa-apa ya? “, aku memelas, Emak mengangguk tersenyum ikhlas. Duhai.. kupeluk Emak, kucium Emak, Emak tercintaku.
“ Wak… kawinkan saja si Zul itu!! Sudah tua masih lagi melendot sama Emaknya..!!”. Siahaan yang menjual sayur disebelah Emak berteriak membuat orang-orang dipasar melihat kami. Mendengar itu si Johar yang menjual ayam potong menimpali
“ iya Wak.. kasi bini sama dia Wak…”, pasar tambah riuh
“ tenang kelen… udah ada calonnya, biar dia sarjana dulu, bekerja, baru dikasinya aku menantu..”, jawaban Emak membuatku terhenyak, kutatap Emak penuh tanya.
“ itu… si Zahwa..”, Emak berbisik ditelingaku, aku melotot kaget.
Sahabat, Zahwa adalah wanita lain selain Emak. Wanita yang juga sangat menghormati Emak, wanita yang kusayangi dalam sisi yang berbeda.
Sahabat, nanti aku akan menceritakan padamu tentang perempuan itu, Zahwa namanya.
Medan, Maret 2011
(terbit di Waspada Mei 2011)
Rahimah Ib
Langit begitu pekat diiringi gerimis halus ketika aku keluar rumah. Disampingku, Ibu merapatkan jaketnya sambil mendekapkan tangannya di dada, memandang langit yang gelap.
“ hujan lagi…”, desisnya halus terdengar kecewa.
“ enggak usah jualan ya Mak?... dingin kali”, kujawab desisan Emak, Ibuku.
“ enggak apa-apa, kau piker Emak tak biasa dengan udara dingin?”, Ibu menjawab sambil menatapku tajam dalam remang, aku diam.
Kami menembus gerimis yang mulai merapat, kudekap Emak yang ringkih sepenuh jiwaku, manusia yang paling kucintai dalam hidupku.
Usiaku masih tujuh tahun ketika Ayah harus kembali menghadapNya. Ibuku adalah wanita Melayu yang biasa tinggal di rumah. Sebagai wanita yang tidak punya pendidikan dan keterampilan, Ibu limbung menghadapi ekonomi keluarga walaupun Ibu hanya perlu menghidupi aku, anak tunggalnya. Aku masih ingat ketika Ibu harus berjuang berjualan rokok di lampu merah, menjajakan Koran dan akhirnya Ibu berjualan sayur di Pasar, setiap pagi bercumbu dengan dingin dan embun. Setiap pagi pula aku menemani Ibu keluar rumah jam tiga pagi, memilih sayuran yang akan dijual pada pembawa sayur dari gunung dan duduk jualan pada lapak terbuka hingga jam tujuh. Untuk selanjutnya aku punya aktifitas lain, kuliah, diskusi dan nongkrong di perpustakaan untuk mencari literature tulisan, istirahat pada pukul sembilan malam. Jika banyak tulisan yang harus kugarap, aku hanya istirahat tiga jam. Mahasiswa kaya dan malas adalah ladang rezeki bagiku, karena mereka akan mencari aku untuk membuatkan skripsi atau sekedar makalah dan proposal.
Pernah kukatakan pada Emak agar dia tidak usah lagi berjualan, tapi Emak merepet-repet panjang sampai terbatuk-batuk, kasihan. Emak mengatakan dia akan berhenti jualan jika aku sudah sarjana, kekantor pakai dasi, punya keluarga dan ia akan menjaga anakku, cucunya. Setelah itu aku tak berani lagi menyinggung masalah keinginanku agar dia tak lagi berjualan, aku sadar sepenuhnya bahwa tiap butir nasi yang kumakan adalah keringat Emak, bahkan darah yang mengalir dalam tubuhku adalah keringat Emak. Pernah kutanyakan pada Emak mengapa ia tak mau menikah lagi, dia cuma berkata
“ tak ada yang Emak harapkan lagi dalam hidup ini selain kau, Zul. Kau belahan jiwa emak, harapan masa depan Emak, Cuma kau yang berharga dalam hidup Emak nak… jangan kau tanyakan itu lagi ya?...”, Emak mengelus kepalaku dengan mata yang berkaca-kaca, kupeluk Emak dengan mata panas menahan tangis. Ah…Emak, ma’afkan aku jika menyinggung perasaanmu.
Kata-kata Emak yang mengatakan aku adalah harapannya dapat kurasakan sampai sekarang. Setiap pagi di pasar Emak memesan susu dan nasi gurih komplit di warung untuk menu sarapanku, padahal Emak tak pernah minum susu. Sore hari dia memasakkan aku makanan apa saja yang dianggapnya aku suka, Emak memberiku makanan cukup gizi dan aku tumbuh menjadi laki-laki yang sehat dan proporsional. Dari aku SD, Emak sering memberiku buku cerita, walaupun itu cuma buku bekas yang sayang jika dijadikan kertas pembungkus. Aku pernah protes mengapa sampai sekarang aku harus minum susu, Emak berkata
“ biar kau sehat Zul, kau kurang tidur, emak tak mau kau sakit nak…”
“ tapi Emak enggak pernah minum susu, Emak sehat….”, jawabku sekenanya. Emak tertawa, menepuk bahuku dengan sayang
“ Emak tak perlu perpikir untuk belajar lagi nak…, Emak tak mau jadi sarjana, Emak tak kuliah. Kau tau? Kurang tidur itu membuat orang menjadi bodoh, kalau kau tak cukup gizi dan kurang tidur jadi tambah bodohlah kau, ngerti?..”, Emak bangkit sambil terkekeh-kekeh menunjukkan giginya yang masih rapi, sesungguhnya Emak adalah wanita yang sangat cantik. Aku masih terpaku diam, benarkah kata Emak?. Terkadang Emak yang tak sekolah jauh lebih pintar daripada aku, kurang tidur dan kurang gizi membuat orang menjadi bodoh adalah ilmu baru bagiku. Betapa hebatnya Emak mempersiapkan aku, menjadi pemuda sehat dan meraih beasiswa sepanjang pendidikannya. Semakin aku kagum pada perempuan paruh baya yang bak pendekar ini, Emakku.
Pagi ini, susu itu muncul lagi dihadapanku, aku mau muntah. Emak menyodorkannya penuh sayang, ah.. aku tak ingin mengecewakannya. Kuambil gelas yang disodorkan Emak
“ aku minum di tempat Minun ya Mak?..”, Minun adalah penjaga warung langganan emak beli sarapan pagi, emak mengangguk dan aku segera melesat seperti peluru lepas. Di warung, Minun sudah tersenyum menunjukkan gigi taringnya yang agak mencuat.
“ tambah kopi kan?”, dia sudah tau apa yang kumau, aku cuma mengangguk. Setelah itu, dia habis menggodaku dan mengumpamakan bahwa aku adalah pemuda yang masih disusui Emakku, kurang ajar betul.
“ kok lama Zul?..”, tegur Emak ketika aku kembali dari curi-curi minum susu dicampur kopi di warung Minun.
“ iya Mak.. diajak ngobrol sama Minun…”, aku mengambil tempat disisi Emak.
“ pasti susunya dicampur kopi, iyakan?..”, Emak menudingku dengan wajah menggoda, aku terhenyak sadar bahwa seminggu ini aku sudah membohonginya.
“ dasar anak muda…”, Emak mendesis, tapi tak marah.
“ aku muak Mak dua puluh tahun minum susu terus… enggak apa-apa ya? “, aku memelas, Emak mengangguk tersenyum ikhlas. Duhai.. kupeluk Emak, kucium Emak, Emak tercintaku.
“ Wak… kawinkan saja si Zul itu!! Sudah tua masih lagi melendot sama Emaknya..!!”. Siahaan yang menjual sayur disebelah Emak berteriak membuat orang-orang dipasar melihat kami. Mendengar itu si Johar yang menjual ayam potong menimpali
“ iya Wak.. kasi bini sama dia Wak…”, pasar tambah riuh
“ tenang kelen… udah ada calonnya, biar dia sarjana dulu, bekerja, baru dikasinya aku menantu..”, jawaban Emak membuatku terhenyak, kutatap Emak penuh tanya.
“ itu… si Zahwa..”, Emak berbisik ditelingaku, aku melotot kaget.
Sahabat, Zahwa adalah wanita lain selain Emak. Wanita yang juga sangat menghormati Emak, wanita yang kusayangi dalam sisi yang berbeda.
Sahabat, nanti aku akan menceritakan padamu tentang perempuan itu, Zahwa namanya.
Medan, Maret 2011
(terbit di Waspada Mei 2011)
Selasa, 15 November 2011
CERPEN
PEREMPUAN KEDUA
By. Rahimah Ib
Trotoar kampus masih basah ketika aku melangkahkan kaki menembus gerimis tipis. Jalanan hitam penuh pasrah menerima tumpahan bunga kuning akasia yang gugur, pemandangan jalanan yang indah, paduan warna yang harmonis. Kutarik nafas panjang, aroma khas bunga akasia menyergab hidung, aku suka dan menikmatinya. Hujan, entah mengapa aku suka menikmatinya walau terkadang tidak menguntungkan. Udara sejuk, air yang jatuh dari langit, daun yang basah adalah lukisan ajaib bagiku.
“ teeeetttt...”, hups...! aku terhenyak dari lamunan, kuperhatikan mobil yang berhenti tepat disisi kananku.
“ bareng yok Zul!, hujan nih....”, sebingkai wajah muncul dari kaca jendela mobil, wajah yang cantik dan sangat kukenal.
“ serius nih...”, jawabku basa basi
“ iyalah... ayok!..”, wajah cantik itu tersenyum lucu, dia pasti tahu jika aku berbasa-basi, aku tak lagi berkomentar dan masuk kedalam mobil, agaknya gerimis tambah merapat.
“ langsung pulang?”, perempuan cantik yang duduk di belakang stir itu memulai percakapan.
“ iya.. aku turun di perempatan aja”
“ enggak usah... langsung kuantar aja, kita kan satu arah “, tawarannya begitu serius
“ enggak usah, aku jadi enggak enak nih..”, aku juga serius, tanpa basa basi. Kikuk juga rasanya berlama-lama dekat perempuan ini, mobilnya sejuk dan wangi. Pipinya putih bak pualam, matanya cerah benderang, fisiknya sudah menjelaskan kalau dia seorang yang hidup dalam kesenangan tanpa beban. Sementara aku?, aku adalah laki-laki yang bergelimang perjuangan. Kasih sayang, pendidikan dan motivasi Ibu lah yang membuat aku menjadi kuat, tanpa itu? Jiwaku telah lama mati.
Perempuan cantik itu tak menjawab, pandangannya serius memandang jalan yang dipadati kendaraan lain. Hujan membuat pengendara sepeda motor panik dan ingin cepat sampai, ini kondisi yang berbahaya untuk pengendara mobil jika tidak hati-hati. Aku diam, mendekap tangan di dada, memandang kedepan dengan hujan yang semakin merapat. Kami tenggelam dalam diam.
Mobil berbelok memasuki gang menuju rumahku, sebagai lelaki aku merasa tak enak hati diantar seorang perempuan. Tapi aku juga tak mampu menolak niat baik perempuan ini, tulus sekali, ketulusan yang terpancar dari dalam jiwa yang bisa kubaca dari sorot matanya.
“ singgah yok….”, tawaranku ketika mobil berhenti di depan rumah. Perempuan itu mengangguk tersenyum, alamaaak… aku Cuma basa basi, tapi dia tanggapi, wah..
Emak menyongsong didepan pintu rumah, tersenyum seperti anak yang dibawakan oleh-oleh permen, aku Cuma cengar cengir kuda melihat mata emak yang mendadak genit.
“ Wa… emak ada buat ubi rebus, mau?...”, aha.. Emakku terlalu pede fren…
“ wah…Awa suka tuh mak.., mama juga sekali-sekali masih buat ubi rebus, dikasi gula merah sama kelapa”.
“ suka ubi rebus wa?...”, kupastikan jawaban perempuan itu, Zahwa.
“ ya iyalah… itu makanan sehat Zul, di keluarga kami kalo bikin kudapan tuh ya.. ubi goreng, pisang goreng, bakwan, buat cake juga jarang..”, aku tertegun antara percaya dan tidak, apakah Zahwa hanya ingin menjaga perasaanku sebagai seorang lelaki miskin?.
Aku tak ingin membahasnya, aku sibuk dengan kegiatanku yang baru, memperhatikan Zahwa yang makan ubi rebus dengan asap yang masih mengepul ditemani Emak sambil tertawa-tawa. Sesekali kulongok mobil yang diparkir Zahwa didepan rumah, takut ada kendaraan lain yang tak bisa lewat karena gang rumahku yang sangat sempit. Zahwa pamit setelah duapuluh menit duduk menikmati ubi rebus sambil bercerita dengan Emak. Heran.. aku tak dilibatkan mereka dalam pembicaraan, hanya Emak sesekali mengerling kearahku, dasar perempuan…
Sahabat… sulit kujelaskan dengan kata-kata tentang perempuan itu, Zahwa namanya. Dia seorang perempuan yang hidup makmur, gemah ripah lohjinawi. Aku yakin sekali jika perempuan itu tak pernah dihinggapi penderitaan. Ayahnya seorang Profesor dan ibunya seorang dokter spesialis ortopedi. Aku juga heran mengapa bisa dekat dengan perempuan yang beda fakultas ini, dia di kedokteran sementara aku di hukum. Yang menyatukan kami hanya Organisasi kampus di kelompok Jurnalis Kampus, itu saja. Aneh, selalu ada kesempatan bertemu dan dia selalu punya tawaran baik mengantarku pulang, bicara dengan Emak dengan sangat akrab seakan seorang anak yang bicara dan curhat dengan Ibunya. Dan.. Emak yang terlalu pede seakan-akan Zahwa adalah calon menantunya. Walah..aku tak pernah mimpi bisa memiliki perempuan ini, tak pernah!!. Siapa yang terlalu bodoh memilih aku sebagai pacar atau bahkan pasangan hidup?. Aku Zulkarnaen.. pemuda yang dari kecil sudah yatim, berjuang hidup bersama Emak tercintanya, yang miskin tak punya harta, kendaraan jelek pun tak punya. Semangat hidup, lampu dalam gelap itu hanyalah Emak, dan..sang pencipta tentunya.
“ heh.. melamun..”, Emak muncul disampingku,menepuk lembut bahuku.
“ mikirin si Zahwa ya??”, Emak menatapku menggoda.
“ Mak.. si Zahwa itu anak orang kaya, anak dokter. Kita orang miskin mak, mana mau dia sama Zul, dia Cuma kasian lihat Zul kemana-mana naik angkot, makanya dia mau antar, itu aja. Udah ah.. Emak terlalu pede, nanti aku cari aja perempuan lain untuk jadi menantu Emak, yang selevel…”.Aku bangkit, Emak menarik tanganku.
“ duduk Zul..”, Emak menatapku tajam, aku tak berani membalasnya, aku kembali duduk.
“ Emak tidak pernah mimpi nak…, status bukanlah segalanya. Emak suka Zahwa bukan karena dia seperti yang kau bilang anak orang kaya, dia perempuan yang membuat Emak senang serasa menemukan anak perempuan. Dia bukan perempuan biasa Zul. Besok kalau kau jumpa dia, kau perhatikan betul cahaya matanya, tak bisa dibohongi kalau dia suka sama kau nak, cinta dia sama kau..”. Aku tertegun, benarkah Emak terlalu pede?.
“ Oke , kalau aku pacaran sama dia, pake apa aku pergi ngapel?, naik sepeda?.. ah Mak.. udahlah.. jauh kali cita-cita Emak, nanti Emak sakit hati”. Aha… bukannya aku yang sakit hati?, aku bangkit lagi ingin melakukan sesuatu yang tadi tertunda.
“ la.. mau kemana? Emak belum selesai cakap Zul…”
“ mau mandi Emakku sayang… trus sholat Emakku tercinta.. habis itu aku mau menghabiskan ubi rebus Emak yang enak, oke?”, kutepuk-tepuk bahu Emak yang tersenyum-senyum lucu, diapun mengangguk takzim.
Aku mandi, bayangan Zahwa menari-nari didalam ember. Di kamar, bayangan Zahwa menari-nari di cermin. Aku sholat bayangan Zahwa menari-nari di atas sajadah, walah….kenapa jadi gini? Emaaaaaakkkkkkk………..Zahwa menari dimana-mana, seperti udara dan angin, menguap keatas, menggumpal menjadi awan dan turun menjadi hujan. Ku lahap ubi rebus cepat-cepat, Emak perempuan pertama dalam hidupku melihatku dengan pandangan aneh. Zahwa perempuan kedua dalam hatiku tersenyum dalam bayangan, menari-nari dalam pikiran.
Fren… kisahku masih panjang tentang perempuan kedua ini, nanti aku akan menceritakannya untukmu, ketika hujan sudah reda tentunya. (Telah terbit di Harian Waspada Minggu 16 Okt 2011)
By. Rahimah Ib
Trotoar kampus masih basah ketika aku melangkahkan kaki menembus gerimis tipis. Jalanan hitam penuh pasrah menerima tumpahan bunga kuning akasia yang gugur, pemandangan jalanan yang indah, paduan warna yang harmonis. Kutarik nafas panjang, aroma khas bunga akasia menyergab hidung, aku suka dan menikmatinya. Hujan, entah mengapa aku suka menikmatinya walau terkadang tidak menguntungkan. Udara sejuk, air yang jatuh dari langit, daun yang basah adalah lukisan ajaib bagiku.
“ teeeetttt...”, hups...! aku terhenyak dari lamunan, kuperhatikan mobil yang berhenti tepat disisi kananku.
“ bareng yok Zul!, hujan nih....”, sebingkai wajah muncul dari kaca jendela mobil, wajah yang cantik dan sangat kukenal.
“ serius nih...”, jawabku basa basi
“ iyalah... ayok!..”, wajah cantik itu tersenyum lucu, dia pasti tahu jika aku berbasa-basi, aku tak lagi berkomentar dan masuk kedalam mobil, agaknya gerimis tambah merapat.
“ langsung pulang?”, perempuan cantik yang duduk di belakang stir itu memulai percakapan.
“ iya.. aku turun di perempatan aja”
“ enggak usah... langsung kuantar aja, kita kan satu arah “, tawarannya begitu serius
“ enggak usah, aku jadi enggak enak nih..”, aku juga serius, tanpa basa basi. Kikuk juga rasanya berlama-lama dekat perempuan ini, mobilnya sejuk dan wangi. Pipinya putih bak pualam, matanya cerah benderang, fisiknya sudah menjelaskan kalau dia seorang yang hidup dalam kesenangan tanpa beban. Sementara aku?, aku adalah laki-laki yang bergelimang perjuangan. Kasih sayang, pendidikan dan motivasi Ibu lah yang membuat aku menjadi kuat, tanpa itu? Jiwaku telah lama mati.
Perempuan cantik itu tak menjawab, pandangannya serius memandang jalan yang dipadati kendaraan lain. Hujan membuat pengendara sepeda motor panik dan ingin cepat sampai, ini kondisi yang berbahaya untuk pengendara mobil jika tidak hati-hati. Aku diam, mendekap tangan di dada, memandang kedepan dengan hujan yang semakin merapat. Kami tenggelam dalam diam.
Mobil berbelok memasuki gang menuju rumahku, sebagai lelaki aku merasa tak enak hati diantar seorang perempuan. Tapi aku juga tak mampu menolak niat baik perempuan ini, tulus sekali, ketulusan yang terpancar dari dalam jiwa yang bisa kubaca dari sorot matanya.
“ singgah yok….”, tawaranku ketika mobil berhenti di depan rumah. Perempuan itu mengangguk tersenyum, alamaaak… aku Cuma basa basi, tapi dia tanggapi, wah..
Emak menyongsong didepan pintu rumah, tersenyum seperti anak yang dibawakan oleh-oleh permen, aku Cuma cengar cengir kuda melihat mata emak yang mendadak genit.
“ Wa… emak ada buat ubi rebus, mau?...”, aha.. Emakku terlalu pede fren…
“ wah…Awa suka tuh mak.., mama juga sekali-sekali masih buat ubi rebus, dikasi gula merah sama kelapa”.
“ suka ubi rebus wa?...”, kupastikan jawaban perempuan itu, Zahwa.
“ ya iyalah… itu makanan sehat Zul, di keluarga kami kalo bikin kudapan tuh ya.. ubi goreng, pisang goreng, bakwan, buat cake juga jarang..”, aku tertegun antara percaya dan tidak, apakah Zahwa hanya ingin menjaga perasaanku sebagai seorang lelaki miskin?.
Aku tak ingin membahasnya, aku sibuk dengan kegiatanku yang baru, memperhatikan Zahwa yang makan ubi rebus dengan asap yang masih mengepul ditemani Emak sambil tertawa-tawa. Sesekali kulongok mobil yang diparkir Zahwa didepan rumah, takut ada kendaraan lain yang tak bisa lewat karena gang rumahku yang sangat sempit. Zahwa pamit setelah duapuluh menit duduk menikmati ubi rebus sambil bercerita dengan Emak. Heran.. aku tak dilibatkan mereka dalam pembicaraan, hanya Emak sesekali mengerling kearahku, dasar perempuan…
Sahabat… sulit kujelaskan dengan kata-kata tentang perempuan itu, Zahwa namanya. Dia seorang perempuan yang hidup makmur, gemah ripah lohjinawi. Aku yakin sekali jika perempuan itu tak pernah dihinggapi penderitaan. Ayahnya seorang Profesor dan ibunya seorang dokter spesialis ortopedi. Aku juga heran mengapa bisa dekat dengan perempuan yang beda fakultas ini, dia di kedokteran sementara aku di hukum. Yang menyatukan kami hanya Organisasi kampus di kelompok Jurnalis Kampus, itu saja. Aneh, selalu ada kesempatan bertemu dan dia selalu punya tawaran baik mengantarku pulang, bicara dengan Emak dengan sangat akrab seakan seorang anak yang bicara dan curhat dengan Ibunya. Dan.. Emak yang terlalu pede seakan-akan Zahwa adalah calon menantunya. Walah..aku tak pernah mimpi bisa memiliki perempuan ini, tak pernah!!. Siapa yang terlalu bodoh memilih aku sebagai pacar atau bahkan pasangan hidup?. Aku Zulkarnaen.. pemuda yang dari kecil sudah yatim, berjuang hidup bersama Emak tercintanya, yang miskin tak punya harta, kendaraan jelek pun tak punya. Semangat hidup, lampu dalam gelap itu hanyalah Emak, dan..sang pencipta tentunya.
“ heh.. melamun..”, Emak muncul disampingku,menepuk lembut bahuku.
“ mikirin si Zahwa ya??”, Emak menatapku menggoda.
“ Mak.. si Zahwa itu anak orang kaya, anak dokter. Kita orang miskin mak, mana mau dia sama Zul, dia Cuma kasian lihat Zul kemana-mana naik angkot, makanya dia mau antar, itu aja. Udah ah.. Emak terlalu pede, nanti aku cari aja perempuan lain untuk jadi menantu Emak, yang selevel…”.Aku bangkit, Emak menarik tanganku.
“ duduk Zul..”, Emak menatapku tajam, aku tak berani membalasnya, aku kembali duduk.
“ Emak tidak pernah mimpi nak…, status bukanlah segalanya. Emak suka Zahwa bukan karena dia seperti yang kau bilang anak orang kaya, dia perempuan yang membuat Emak senang serasa menemukan anak perempuan. Dia bukan perempuan biasa Zul. Besok kalau kau jumpa dia, kau perhatikan betul cahaya matanya, tak bisa dibohongi kalau dia suka sama kau nak, cinta dia sama kau..”. Aku tertegun, benarkah Emak terlalu pede?.
“ Oke , kalau aku pacaran sama dia, pake apa aku pergi ngapel?, naik sepeda?.. ah Mak.. udahlah.. jauh kali cita-cita Emak, nanti Emak sakit hati”. Aha… bukannya aku yang sakit hati?, aku bangkit lagi ingin melakukan sesuatu yang tadi tertunda.
“ la.. mau kemana? Emak belum selesai cakap Zul…”
“ mau mandi Emakku sayang… trus sholat Emakku tercinta.. habis itu aku mau menghabiskan ubi rebus Emak yang enak, oke?”, kutepuk-tepuk bahu Emak yang tersenyum-senyum lucu, diapun mengangguk takzim.
Aku mandi, bayangan Zahwa menari-nari didalam ember. Di kamar, bayangan Zahwa menari-nari di cermin. Aku sholat bayangan Zahwa menari-nari di atas sajadah, walah….kenapa jadi gini? Emaaaaaakkkkkkk………..Zahwa menari dimana-mana, seperti udara dan angin, menguap keatas, menggumpal menjadi awan dan turun menjadi hujan. Ku lahap ubi rebus cepat-cepat, Emak perempuan pertama dalam hidupku melihatku dengan pandangan aneh. Zahwa perempuan kedua dalam hatiku tersenyum dalam bayangan, menari-nari dalam pikiran.
Fren… kisahku masih panjang tentang perempuan kedua ini, nanti aku akan menceritakannya untukmu, ketika hujan sudah reda tentunya. (Telah terbit di Harian Waspada Minggu 16 Okt 2011)
Langganan:
Postingan (Atom)