Kamis, 08 Februari 2018

MENJEMPUT IMPIAN DI KEUKENHOF -MIK (1)



            Bagian 1:

                            

                                 Emak, The Best Woman in The Word

 Tentang Petir

         



PETIR untuk sebuah nama? Sangat aneh, janggal dan asing. Tapi itu adalah namaku, tanpa embel-embel apa pun. Jika pun nanti
aku menyelesaikan studiku, bertambah sedikitlah embel-embel itu menjadi Petir, S.H. Nama ini sudah menimbulkan banyak masalah bagiku, masalah ma- sa kanak-kanak yang tak tertanggungkan. Aku adalah umpan olok-olok teman sebaya atas keanehan namaku itu. Tak jarang aku menangis, tersedu-sedu sambil meredakan kesal akan tingkah temanku yang kurasa keterlaluan. Anak lain yang ingin mengolok-olok temannya biasanya mencari tahu siapa nama ayah temannya itu. Di sela-sela bermain, mereka akan menyebut nama ayah temannya sebagai bahan olok-olok. Pertempuran akan tumpah, sumpah serapah terjadi, terkadang bila emosi memuncak dan mereka sudah sahut menyahut menyebutkan nama ayahnya, terjadilah baku hantam. Tapi itu adalah masa kanak-kanak, esoknya kami akan kembali bermain seakan tak pernah terjadi apapun di hari sebelumnya.
 
Khusus untukku, mereka tentu saja tak perlu mencari tahu nama ayahku. Karena ayah sudah lama beristirahat di rumah Tuhan yang lebih mencin- tainya. Menurut keterangan Badrul sahabat kecilku, orang yang sudah meninggal tak boleh di sebut- sebut apalagi di olok-olok. Arwahnya akan bangkit dan menyapa orang yang menyebut-nyebut namanya, makanya sahabatku ini ketakutan. Lagi pula, tanpa harus tahu nama ayahku, namaku sudah cukup memuaskan nafsu mereka untuk mengejek ku setiap waktu. Jika hujan datang, mereka akan menjerit “Awas petirrrr!” Jika panas menderu-deru mereka juga berteriak “Awas petirrrrr!” Petir akan selalu hadir dalam panas dan hujan. Tapi memang begitulah keadaannya, aku ada dalam panas maupun hujan.
Perihal nama itu, aku pernah bertanya pada emak.
“Mak, mengapa namaku Petir?“
“Kau lahir ketika hujan turun dengan deras dan petir sambar-menyambar.”
“Lalu, Emak memberiku nama Petir? “Ya.”
“Mengapa Emak tidak memberiku nama Guruh atau Guntur? Artinya kan sama?
“Tidak Tir, Emak tak mau namamu sama dengan anak lain. Biarlah namamu Petir, tidak umum.“
“Ah, Emak. Aku selalu jadi bahan olok-olok, Mak. Tiap hari sakit hatiku.“
“Kelak, kau bersyukur dengan namamu. Percayalah.”
Itu adalah dialogku dan emak pada saat aku masih SD. Aku selalu protes atas kemalangan akibat nama itu. Aku sama sekali tak percaya diri, tubuh kecilku semakin mengerut. Aku selalu menyesali diri, ketika jongkok di kamar mandi sampai tidur pun aku merasa orang yang malang. Emak selalu meyakinkanku tentang nama yang sudah melekat itu, bahwa namaku sangat hebat. Aku ingin marah, apa hebatnya petir? Bikin takut saja. Suara petir sangat menakutkan, membuat orang merinding dan sakit jantung sampai terkencing-kencing. Belum lagi petir dengan kejam menyambar orang di la- pangan terbuka dan berdiri di ketinggian sampai hangus dan mati. Bukankah petir itu kejam dan menakutkan?
Di daerahku, ada satu suku yang suka memberi nama anak sesuai apa yang terjadi pada waktu kelahirannya. Ketika anaknya lahir dia memegang sendok, maka Sendok lah namanya. Ketika anaknya lahir dalam keadaan aman, maka Aman lah namanya. Ketika anaknya lahir seiring dengan lembu yang lahir juga, maka Lembu lah namanya. Ini sudah berlaku sejak zaman nenek moyang mereka. Ketika zaman sudah modern seperti sekarang, hal itu sudah mulai berkurang. Kecuali orang yang masih berpegang teguh pada tradisi dan keras kepala yang masih dianutnya. Tapi, mereka adalah petarung yang sukses. Punya anak keturunan yang berhasil  dalam  bisnis,  politik  maupun  pendidikan.
Tapi, aku bukanlah dari suku itu. Emakku Melayu Deli  dan  ayahku Aceh tulen,  mengapa mereka menuruti tradisi yang bukan dianut nenek moyangku sendiri? Lagi-lagi menurut cerita emak, itu adalah andil si dukun beranak. Ketika aku lahir, disambutnya aku sambil latah ketika petir menyambar “Petiiirrr” itu dia sebut berulang-ulang. Lalu dengan seenaknya dia bilang “ Udah Laili, nama anakmu Petir saja, dia pasti akan jadi anak hebat dan kuat.” Begitu lancang mulutnya mengatur emak, seakan dia yang sudah melahirkanku dan berhak memberiku nama. Justru yang lebih malang adalah emak mengangguk terpengaruh oleh dukun beranak yang mulutnya merah karena sirih dan tembakau itu. Kata emak, dia ingin aku menjadi anak hebat dan kuat seperti apa yang dikatakan dukun beranak itu. Ah, Emak. Bukankah banyak nama hebat lain? Mengapa harus Petir? Ahhh...
Memasuki SMP, aku mendaftar di Sekolah Swasta. Aku mendaftar di sebuah SMP Swasta berbasis perguruan Islam. Emak berharap, aku menjadi anak yang saleh dan mampu hidup melawan arus yang katanya semakin gila. Hari pendaftaran, aku duduk di meja pendaftaran yang panjang. Seorang Ibu menyodorkanku formulir, wajahnya tampak tak begitu ramah, badannya tinggi besar, matanya tajam dengan bulu mata runcing-runcing lurus, kulitnya kuning langsat.
“Formulirnya isi sendiri, ya?“ sapanya padaku mencoba ramah. Aku hanya mengangguk, mengambil lembar itu dan mulai mengisinya. Banyak se- kali pertanyaan yang aku ajukan berkenaan dengan formulir itu, dia tak sabar dan langsung merenggutnya dariku.
“Ibu aja yang ngisi, kamu cukup jawab  pertanyaan Ibu, ya?” Lagi-lagi aku mengangguk. Ibu yang bertubuh besar itu sedikit tercengang memer- hatikan formulir yang sempat kuisi dengan namaku, Petir.
“Nama kamu, Petir?” Dia bertanya bingung. 
 “Ya Bu, nama saya, Petir.“
                    “Hanya Petir? Enggak ada yang lain? Misalnya Muhammad Petir atau Petir Kusuma?” 
                 Si Ibu masih tak percaya. Aku pun merasa aneh jika namaku Muhammad Petir atau Petir      Kusuma, namaku tak layak disandingkan dengan nama lain. Namaku sangat egois dan sombong, dia ingin berdiri sendiri saja, layak hantu yang tak berkawan.
“Petir aja Bu.... enggak ada yang lain.“ Aku menjawab pasrah, seperti biasa siap untuk di olok- olok.
“Nama yang bagus, semoga kamu ambil positif dari petir.” Si Ibu tersenyum ramah dan manis, menampakkan gigi depannya yang agak terselip. Aku lega sekaligus heran, apa maksudnya positif dari petir?
Kali pertama seumur hidup ada manusia aneh yang mengatakan namaku bagus, apakah itu sekadar basa-basi? Siapa peduli? Yang penting aku senang dan masih  punya  harapan  bahwa  namaku  tak seratus persen buruk dan menjadi sarang empuk bagi manusia yang kerjanya hanya mengolok-olok orang lain. Kebahagiaan mendaftar di SMP itu sampai terbawa tidur. Wajah ibu yang mengatakan namaku bagus itu terus terbayang, suaranya renyah dengan logat melayu yang kental. Badannya besar, matanya tajam dengan bulu mata yang lancip lurus, hidungnya bangir dengan bidang kening yang sempit tertutup jilbab. Kesan pertama duduk di meja panjang itu sangat tak mengenakkan, tapi semua mencair ketika matanya menatapku dan mulai berbicara. Kelak, ibu inilah yang mengubah seratus persen jalan hidupku, cita-citaku dan pandanganku kepada Emak, perempuan yang telah melahirkan dan membesarkanku.

Bersambung ya pren... :)
ni baru pembukaan... 




Selasa, 17 Oktober 2017

KASTA PECUNDANG




           
            Jingga dibelahan barat mulai merona, bohlam raksasa perlahan memudar. Beberapa kendaraan sudah menghidupkan lampu, menyinari jalan yang perlahan mulai pekat. Yudha menatap jalanan penuh konsentrasi, Vera sesekali menarik nafas panjang.
            “Aku gugup, Yud…” desisnya perlahan, nyaris berbisik. Yudha tak mendengar, pandangannya lurus.
            “Yudha… aku gugup” ulang Vera, sedikit lebih keras.
            “Lho? Gugup kenapa?” Yudha tersenyum, melirik Vera yang menarik-narik ujung rambutnya yang baru selesai diblow satu jam tadi. Vera tak perlu menjawab, toh Yudha sebenarnya sudah tau dia gugup kenapa.
            “Enggak perlu gugup.. kamu sudah tampil sempurna kok,” Yudha mengerdipkan sebelah matanya, Vera berusaha menanggapinya dengan senyum.
Mobil masuk ke sebuah komplek perumahan mewah, dada Vera semakin kencang berdebar. Ada perasaan yang sulit dijelaskan, entah apa. Yudha berhenti di sebuah rumah bercat coklat pastel berpagar tanaman rindang, rumah minimalis yang tampak berkelas. Lampu-lampu taman tampak menyinari perdu-perdu palem dan anggrek. Sebuah mobil mewah parkir di carport.
            “Ayo! Turun.. nyantai ajalah.. its oke,” Yudha membuka pintu mobil dan menjulurkan tangannya, mengajak Vera turun dari mobil. Vera mengikuti Yudha menuju pintu rumah, pintu angkuh yang besar dan tampak sangat kuat. Seorang wanita setengah baya membuka pintu, sepertinya ia sudah menunggu. Wajah cantiknya bersinar, bibirnya yang merah muda alami membingkai senyum.
            “Assalamu’alaikum.. malam tante”
            “Wa’alaikumsalam… ayo mari masuk,” pintu dibuka lebar. Vera serasa masuk ke lobbi hotel, lampu-lampu Kristal menyinari ruangan yang sejuk dan wangi.
            “Kalian belum makan kan?”
            “Belum dong Ma, kan mama mau menjamu Vera makan malam,” jawab Yudha.
            “Yok.. kita makan sambil ngobrol. Mbak Jum udah masak special,” Wanita yang dipanggil mama oleh Yudha menggiring mereka masuk, menuju sebuah meja makan yang cukup besar, makanan yang cukup banyak jika mereka hanya makan bertiga. Meja makan itulah yang tidak bisa dilupakan Vera seumur hidup. Meja makan yang lebih mirip meja persidangan. Vera tidak merasakan kenyamanan. Pertanyaan demi pertanyaan terus memborbardir dirinya. Siapa orangtuanya, apa pendidikannya, dimana rumahnya, anak keberapa dan berapa adiknya. Akhirnya.. Vera langsung mendengar ucapan dari mulut mama Yudha “YUDHA.. KAMU DAN VERA TIDAK SATU KASTA”
Saat itulah rasanya langit runtuh, bumi menelan tubuhnya bulat-bulat. Tak ada pertolongan sama sekali dari Yudha! Tak ada! Vera adalah tokoh utama dalam sinetron ini, tokoh yang malang, pulang dengan hati hancur dan harga diri yang kupak-kapik. Kasta? Hari gini? Ah… persetan semua!! Malam yang malang. Perkenalan dengan ibu kekasih hati yang diharapkan manis dan indah gagal total karena katanya mereka beda kasta.
            “Kamu cantik, dan tante rasa kamu baik. Tapi tante kurang nyaman dengan status keluarga kalian. Bagaimana tante ngomong ke kolega? Tante nggak sanggup deh..”
Mata Vera berkunang-kunang dan panas. Yudha mengantar pulang dalam diam, tak ada pembelaan dan komentar. Vera sadar.. semua sudah selesai.

******
            Hampir lima tahun berlalu. Vera hijrah. Hijrah tempat dan hijrah mental. Melupakan semua kenangan bersama Yudha. Kenangan berjalan bersama, menghabiskan waktu. Kenangan belanja, makan di restoran dan perawatan ke salon. Kenangan cita-cita menghabiskan hidup bersama sampai tua. Kenangan tentang KASTA. Vera meninggalkan ayah, ibu dan tiga adiknya. Meninggalkan rumah sempit mereka, kamar yang hanya berukuran tiga kali tiga meter. Meninggalkan makan malam bersama keluarga tercinta, makan malam dengan sebutir telur didadar tipis dibagi lima. Meninggalkan kenangan menyiapkan teh panas untuk ayah setiap kali ia pulang kerja. Ayah yang pulang dengan bau keringat bercampur debu material bangunan. Vera harus bangkit, Vera harus bisa menaikkan harkat dan martabat keluarga, Vera harus menaikkan KASTA!
            “Saya orang miskin, Van. Saya bukan siapa-siapa. Kita tidak satu KASTA,” ucapan Vera terdengar sangat ketus. Vandi tertawa-tawa sampai berair matanya.
            “Kok kamu ketawa? Apa yang lucu?” Vera melotot, wajahnya dibuat semarah mungkin.
            “Kamu aneh.. KASTA itu apa? Beda status? Kamu pikir ini zaman apa? Pake kasta pula,” Vandi mengusap sudut matanya yang berair.
            “Mungkin kamu nggak masalah, tapi orangtuamu gimana? Aku nggak mau menghabiskan waktu buat pacaran,”
            “Yang mau macari kamu siapa?” Suara Vandi bergetar, Vera tercekat.
            “Aku mau kamu jadi istriku, bukan pacar, jelas?” Vera mematung.
            “Kamu belum tau bagaimana keluargaku, jangan ambil kesimpulan sendiri. Besok makan malam kita ditunggu. Mama dan keluarga besar ingin ketemu sebelum aku melamarmu, itu saja,” Vandi bangkit, menuju mobilnya.
            “Besok aku jemput pulang kantor ya!” teriaknya sebelum masuk ke mobil. Vera masih mematung. Sepertinya ada kepedihan yang menyayat. Kenapa harus jam makan malam lagi? Mengapa harus di rumah seorang pria lagi? Bertemu dengan ibunya? Vera menarik nafas panjang dan ingin menelepon ibunya, mohon doa dan kekuatan. Dia sudah jujur pada Vandi tentang keluarganya. Tentang status dan KASTA itu. Tapi kenapa anak seorang pengusaha kaya itu tak peduli? Masih saja mendekatinya, memperhatikannya.
            Sampai pada malam yang tak terlupakan. Mobil membelah jalan kota Banda Aceh yang ramai. Vera lebih banyak diam.. ia berzikir dalam hati, berharap kejadian kelam tak terulang kembali. Dia dihadang sebuah rumah besar bergaya spanyol.. persis istana, Vera menelan ludah takut, tangannya dingin, kakinya kaku. Vera berusaha menguasai diri, merapikan gamis dan hijabnya. Vandi tersenyum memberi isyarat agar turun. Tak ada pintu mobil yang dibuka dan tangan yang diulur bak putri raja seperti lima tahun lalu. Pintu besar angkuh sudah terbuka, isi rumah sudah tampak dari luar. Beberapa anak kecil berhamburan ke pintu, melompat ke arah Vandi minta digendong. Vandi tertawa-tawa melayani… tak peduli pada kemejanya yang berlepotan es krim dari tangan-tangan kecil itu. Suasana terasa hangat dan rusuh, ketika wanita-wanita cantik mengikuti anak-anaknya, mengambil alih.
            “Aduh… cicik jangan diganggu ya, tuh kan.. malu sama tante,” kakak-kakak Vandi tersenyum, melirik ke arah Vera yang memerah pipi putihnya. Vera tersenyum ke arah kurcaci-kurcaci kecil yang cantik. Dia tidak asing dengan anak-anak, toh dia anak sulung dengan tiga adik perempuan. Sementara Vandi pernah bercerita bahwa dia anak bungsu satu-satunya lelaki dengan tiga kakak perempuan yang semua sudah menikah dan memiliki enam keponakan.
            Vera bisa merasakan kehangatan dalam keluarga ini, keluarga yang sangat bersahaja. Makan malam disajikan secukupnya dan tidak berlebihan, mama papa yang tidak “menyidangnya”. Tema pembicaraan tak menyudutkannya, apalagi bicara KASTA. Malam yang sempurna.
            Sebulan kemudian keluarga Vandi mengunjungi keluarga Vera. Tak pernah ada sedikitpun tampak wajah mereka mengeluh masuk ke rumah Vera yang sempit di gang. Tak mengeluh pada lokasi parkir mobil yang jauh. Tak mengeluh dan malu pada status keluarga Vera pada kolega. Setiap malam dalam sujudnya Vera menangis. Menangis kepada Allah yang begitu menyintainya. Menangis mengadu pada Allah bahwa ia diberikan lelaki yang menerima dirinya dan keluarganya apa adanya. Menangis pada akhirnya Vandi menikahinya dan membawanya umrah ke Baitullah. Memang… KASTA ITU PECUNDANG
*
*
Sore, nutup jam kantor 17-10-17

           

Kamis, 17 November 2016

KISAH DALAM RINAI HUJAN (lanjutan)

KISAH 4

                Pukul 9  pagi. Berkali-kali Jenar melongok ke kubikel di depannya, kosong. Wajah yang begitu akrab selama ini entah kemana, Jenar gelisah. Computer sudah menyala dua puluh  menit, tapi dia sama sekali belum menyentuh tutsnya untuk menyusun laporan audit. Jenar harus memastikan semua, biar gelisah tak berkepanjangan.  Jenar melangkah menuju meja Bosma, Admin umum di kantor.
                “Bosma… Alfian masuk enggak,”
                “Enggak, pagi tadi dia udah telepon aku. Katanya demam tinggi. Kenapa? Rindu kau sama Alfian?” Bosma tertawa garing. Jenar merengut manja. Dasar… lelaki Medan  memang suka tembak langsung. Sekali tembak langsung kena sasaran, Jenar salah tingkah. Bergegas kembali ke kubikelnya.
                “Kata mamaknya semalam sore dia pulang basah kuyub kehujanan. Tengah malam dia menggigil demam tinggi. Pagi ini masih demam!” Suara Bosma yang tinggi beberapa oktaf memecah ruangan. Empat orang dalam satu ruangan yang dibatasi kubikel-kubikel saling berdiri melongok dan tersenyum.  Pipi Jenar merah padam.
                “Kau tengok nanti pulang kantor… bawa jeruk ya!” sambung Bosma terkekeh, seiring mendarat di kepalanya sebuah pulpen besar. Jenar melotot, mengirim sinyal marah.. atau lebih tepatnya malu. Tawa Bosma tambah meledak menggema.
                Susah payah Jenar menyelesaikan tugasnya hari ini. Resah, gelisah dan entah perasaan apalagi. Dia ingin sekali menelepon Alfian seperti saran Marissa, tapi selalu urung.  Jika menelepon apa yang harus dikatakannya? Menanyakan kabarnya? Mohon maaf karena ia sudah mengantarnya dalam hujan? Mohon maaf karena dia memakai mantelnya sehingga Alfian harus basah kuyub? Bukankah Alfian yang menawarkan diri? Bukankah ia sudah minta berteduh? Mengapa pula Alfian begitu ringkih? Hujan saja sudah demam? Ahhh…      Jenar menarik-narik ujung jilbabnya. Marissa, satu satunya teman perempuan yang ada dalam satu ruangan memperhatikan tingkahnya sejak pagi.
                “Nar! Ke rumah Fian, yok!” Marissa menyampaikan ide, serius. Dia tak ada niat menggoda, takut Jenar malu atau salah tingkah.    Jenar mendongak, menatap lurus mata sahabatnya yang sudah dikaruniai dua anak, namun masih tetap cantik.
                “Ayolaaah… boleh dong, lihat teman sakit,”
                “Masih sehari. Ntar deeh… kalo besok nggak masuk juga baru kita lihat.” Jenar menjawab ragu.
                “Lho? Masa mau lihat teman sakit nunggu seminggu? Yang bener lo!” Marissa tersenyum, menaik turunkan alisnya.
                “Udahlaaaah… rumahku dan Alfian itu searah. Aku juga gak perlu jemput Wafi hari ini karena papanya udah jemput. Jadi aku bisa sekalian pulang. Kamu kan nanti bisa pulang naik gojek. Gimana?”
                “Pergilah… biar cepat sehat kawan tu kalo ko tengok!” Bosma berteriak sengit. Jenar melotot, Marissa terkikik. Sisanya… dua lelaki lagi, Akbar dan Alif cuek beibeh. Jenar melempar kotak tissue, Bosma menangkap dengan cekatan,
                “Awas ko ya! Barang yang udah ko lempar tak balek lagi ke mejamu. Besok ko lamper aku pake atm mu ya!” Bosma tertawa-tawa tanpa rasa bersalah. Jenar melotot galak. Atau pura-pura galak?

***
KISAH 5
               
                “Alfian itu lelaki yang baik,”  Marissa menatap lurus ke depan dari balik kemudi. Gelap merayap naik, awan hitam di sebelah barat sudah cukup menjadi sinyal sore ini akan ada hujan, lagi. Jenar diam, menunggu cerita yang akan keluar dari mulut Marissa, tentang Alfian.
                “Kami sudah bekerja di kantor yang sama hampir tujuh tahun, tidak pernah mutasi. Jadi aku tau banyak tentang dia,” Marissa menarik nafas panjang, menginjak rem di lampu merah, memeriksa chat di smart phone  sesaat.
                “Termasuk urusan cinta,” Marissa menatap lurus, Jenar berdebar.
                “Dia sudah dua kali gagal menikah,” Marissa menggantung ucapannya.
                “Kenapa?” Jenar memberondong tak sabar. Marissa tersenyum, ini awal yang baik pikirnya.
                “Kalau aku bilang sih sepele. Tapi menurutnya itu sangat urgent,”
                “Apa tu?” Jenar membalikkan badannya, menatap wajah Marissa.
                “Dia belum menemukan wanita yang tepat untuk ibunya. Baginya, ibu itu segala-galanya. Jika ia menikahi seorang wanita maka wanita itu harus siap menerima ibunya, apa adanya.”  Hujan mulai turun, gerimis. Jalanan semakin padat, semua serba terburu-buru. Hati Jenar menggelinding. Semulia itukah Alfian? Menempatkan ibunya di atas segala kepentingannya? Bukankah itu pemuda berlian? Jarang ditemukan di zaman sekarang? Bukankah seorang lelaki yang memuliakan ibunya kelak ia akan memuliakan istrinya? Mengapa pula wanita-wanita itu tak bisa menyadarinya? Hati Jenar melompat-lompat, dadanya bergemuruh hebat, mengiringi gemuruh hujan yang mulai tumpah lebat.
                Mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau, berpagar tanaman yang rapi.
                “Ini rumahnya, kita sudah sampai.” Marissa memutar kunci, mematikan mesin mobil, membalikkan badan mengambil payung di jok belakang. Mereka berlari kecil beriringan di bawah payung. Mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
                “Siapa?” terdengar suara agak jauh, samar.
                “Marissa  Mak. Mau lihat Fian..” Seorang wanita membuka pintu, pandangannya tanpa ekspresi, lurus saja. Dada Jenar semakin bergemuruh hebat, melebihi gemuruh hujan. Matanya tak berkedip. Apakaaaaahhh….
                “Mari masuk Sa, Fian masih istirahat di kamar. Anak-anak mana?” tangan wanita itu melayang di udara hampa.
                “Gak ikut Mak. Ini Marissa sama teman kantor, Jenar.” Sejenak kening wanita itu berkerut seperti ingat sesuatu. Sesaat kemudian tersenyum, mengulurkan tangannya.
                “Akhirnya… kamu kesini ya..,” wajah itu tersenyum hangat dan ramah, pandangannya  masih lurus kedepan dan kosong.
                “Oya… silakan duduk, biar mak panggil Fian,”
                “Gak usah Mak, boleh kami ke kamarnya aja? Biar gak mengganggu?” usul Marissa. Jenar masih diam, hatinya entah kemana.
                “Oya… enggak apa-apa, mungkin dia tidur.”
                Tubuh itu terbujur lurus, ditutup selimut. Sebuah handuk kecil menempel di keningnya. Wajahnya memerah, karena suhu tubuh yang tinggi.
                “Saya minta maaf Mak. Kemarin Fian antar saya hujan-hujan. Jadi demam deh…” Jenar menunduk, Emak malah tertawa.
                “Enggak apa-apa, dia ada cerita ke Emak tentang itu,” emak menarik nafas panjang.
                “Emak gak bisa lihat kamu, tapi boleh emak raba wajahmu Nak?”  Jenar melirik Marissa yang mengangguk meyakinkannya. Dalam hitungan detik, telapak tangan wanita itu sudah menjalari wajahnya. Seluruh lekuk ditelusuri dengan telapak tangannya yang hangat, pelan sekali dengan seluruh perasaan. Jenar ingin menangis… mengingat almarhum ibu yang sudah sepuluh tahun meninggalkannya. Rindu tangan yang sudah mengasuhkan selama tiga belas tahun, ibu pergi ketika ia masih belia dan perlu bimbingan. Air mata Jenar jatuh, tak bisa dibendung.
                “Kamu kenapa Nak?” tangan itu berhenti ketika merasakan ada titik air yang jatuh.
                “Saya ingat Mama… saya kangen Mama..” tangis Jenar pecah. Mereka berpelukan, emak dan Jenar saling mendekap kuat. Emak bisa merasakan harum tubuh Jenar, dan Jenar bisa merasakan aroma minyak gosok Emak. Alfian tersenyum dalam tidurnya… dia dengar semua, dia tau semua. Hanya mata saja yang terpejam, karena ia berpikir inilah cara aman untuk tidak salah tingkah dikunjungi wanita yang diam-diam diperhatikannya. Kena   lu….. #3

***
KISAH 6
               
                Empat bulan setelah itu.  Membina hubungan dengan pola yang rumit. Impian, harapan, masa depan, rencana-rencana semua sudah dipintal rapi. Nyaris membentuk kubus sempurna. Tapi selalu terbentur pada urusan jika menikah nanti Jenar harus tinggal di rumah, menemani Emak yang buta. Berkali kali pula Jenar beralih bahwa emak adalah wanita mandiri dengan segala keterbatasannya. Emak bisa masak atau malah membersihkan rumah dan tanaman. Tak ada orang yang tau jika rumah itu dirawat seorang wanita yang buta. Alfian tetap dengan prinsipnya di timur, dan Jenar tetap dengan prinsipnya di barat. Dua sisi yang bertolak belakang. Jenar sering berpikir inilah yang menjadi konflik sebab musabab Alfian dua kali gagal menikah. Tapi… Jenar sudah mencintainya, Jenar juga sudah dengan tulus menyayangi emak seperti ibunya. Tapi di sisi lain Jenar juga sangat menikmati pekerjaannya, rutinitasnya. Menggunakan penghasilan sendiri tanpa intervensi. Di rumah? Mau jadi apa dia? Berkutat dengan dapur? Aaah… repotnya, mengupas bawang saja dia tidak bisa.
                Suatu sore… permasalahan itu memuncak, pecah. Jenar menghindari berdebat dengan topik yang sama dari hari kehari. Tapi Alfian terus mendesaknya, Jenar kesal dan berlalu pulang sendiri. Lagi-lagi langit gelap, siap menumpahkan air dan berdendang gemuruh.
                “Ayo… aku antar,” Alfian menghentikan sepeda motornya di depan Jenar yang sedang menunggu angkutan umum.
                “Enggak! Aku bisa pulang sendiri!” Jenar mendengus, kesal.
                “Ayolaaaah… semua bisa kita bicarakan, jangan ngambek aahh…,” Alfian mencoba lunak, nyaris merayu. Jenar tak bergeming, kesalnya sudah sampai ubun-ubun. Setiap mendengar ucapan Alfian ia menggeser beberapa langkah, Alfian mengikutinya dengan sedikit memutar gas motornya. Langit sudah mulai menumpahkan air. Jenar kering di halte, Alfian basah di atas sepeda motornya. Hujan, semua kendaraan serba terburu-buru. Alfian lengah, sebuah bis melaju kencang mengabaikan halte yang seharusnya bis  berhenti. Stang sepeda motor Alfian  terbentur dengan dahsyat, mencampakkannya hingga beberapa puluh meter, membentur trotoar, tiang besi  dan tanpa helm. Sore yang basah pecah, aroma amis darah bercampur air meyeruak. Suara teriakan Jenar tak lagi berarti apa-apa, semua kalut. Sangat kalut.
***
KISAH 7
                Ambulans meraung-raung membelah jalan, Alfian terbujur dengan nafas satu-satu bermandi darah. Jenar menangis nyaris meraung-raung dengan gamang serasa tak lagi berada di bumi. Penyesalan bukanlah lagi jawaban. Bukankah semua takdir Tuhan? Allah azza wajalla? Apakah segala impian yang sudah dirajut sempurna bisa jadi nyata? Atau malah egois memisahkannya? Yang jelas.. Jenar harus ikhlas, ketika Alfian koma. Menunggu saja dalam do’a, berharap Allah masih mau mengembalikannya. Mengembalikan Alfian dalam kehidupan nyatanya. Jenar rela jika harus tinggal di rumah, mengurus emak atau bahkan menjadi baby sitternya. Jenar rela!                             
                Apa yang lebih indah dan pedih selain daripada hujan? Air yang beraroma cinta, sejuk, basah dan jiwa yang mengambang? Hujan yang selalu mengirimkan pesan ada cinta untuknya? Hujan yang selalu menggelantung harapan tanpa batas, atau lebih tepatnya menggantung mimpi. Jenar masih menatap benang air yang jatuh di halaman rumah, duduk mendekap kaki dari bingkai jendela krem  pucat. Mata bulat kenarinya jarang berkedip, seakan ia tak ingin melewatkan setiap helai air. Helai demi helai yang seakan membingkai huruf dan kisah. Kisah hujan, yang terpatri dalam jiwa sampai ia mati nanti. Ya… sampai mati!
                Telepon berbunyi, Jenar menghapus sudut matanya yang basah. Meraih hand phone dengan malas, namun ketika melihat nama yang tampil di layar. Dadanya berdebar hemat, persendiannya serasa lepas, tangannya bergetar.
                “Assalamu’alaikum, Mak….” Airmata Jenar jatuh, perlahan.
                “Wa’alaikumsalam… Nar! Cepat ke rumah sakit… cepat! Fian sudah sadar, dia tanya kamu terus. Cepat nak… cepat!” Jenar tak lagi menjawab. Dia berlari meraih apa yang bisa dikenakannya untuk menutup aurat, tak lagi berpikir warna atau mode, meraih tas entah berisi dompet atau tidak. Berdoa komat kamit tak jelas. Jenar berlari keluar rumah nyaris panik. Mencari kendaraan apa saja yang bisa membawanya ke rumah sakit.
                Alfian sudah keluar kamar ICU, menghuni kamar rawat  putih bersih rumah sakit. Beberapa selang yang selama ini melekat ditubuhnya sudah dilepas. Hanya cairan infuse dan persiapan tabung oksigen masih siaga di sisi tempat tidur. Emak duduk disampingnya, menggenggam tangan putra kesayangannya sambil berkali-kali menghapus sudut matanya yang basah. Jenar, duduk disebelah emak, dengan tampang kacau. Memakai gamis lusuh, dengan celana piama yang mengintip dari celah gamisnya. Jilbab dengan warna tak senada, sandal jepit, dan wajah sembab. Benar-benar tak biasa untuk seorang Jenar.
                “Aku minta ma’af…. Hiks,” Jenar tersedak, hidungnya terasa penuh. Alfian masih diam, nafasnya tenang, matanya masih redup.
                “Aku ikhlas mengurus emak, berhenti kerja asal kita bisa tetap bersama,” bibir itu bergetar, air mata mengalir hebat. Begitu lelahnya Jenar seminggu ini, seminggu yang menakutkan, takut kehilangan orang yang dicintainya. Seminggu Alfian tidur dalam koma.
                “Tak usah… tetaplah bekerja. Emak katanya bisa mandiri, selama ini emak juga aku tinggal sendiri.” Pelan Alfian menarik nafas panjang.
                “Hanya aku yang terkadang khawatir berlebihan,”
                “Nggak apa.. aku ikhlas kok, rela…” Jenar menunduk dalam. Dia sudah ikhlas.
                “Sudah… begini saja,” Emak ambil alih pembicaraan, menarik nafas dan melanjutkan dengan senyum yang terbingkai manis.
                “Jenar tetap saja bekerja, tapi nanti setelah kalian punya anak barulah Jenar berhenti, karena emak tak bisa mengurus bayi, bagaimana?” emak tersenyum genit. Alfian tertawa pelan dan jenar tertunduk malu. Ahaaaayyyy…. Bukankah semua bisa dibicarakan baik-baik? Mari lepas ego kita, agar semua berjalan indah dan bahagia, ya!


*Kita sering menghargai sesuatu bila ia berada diambang hilang J