Rabu, 24 Februari 2016

JAWABAN MENJELANG JINGGA PULANG





            “ Kau tau, Din? Aku sudah mengambil keputusan dalam hidup untuk enggak mau dekat dengan lelaki,” mata Naura mengerjab-ngerjab menatap langit-langit kamar, bulu mata lentiknya turun naik dengan cepat. Dini yang sedang membaca novel favoritnya sontak berhenti karena kaget. Masa sih? Naura yang cantik ngomong gini, aiihh… biasanya kan gebetannya banyak.
            “Kok ngomong gitu? Udah dipikirin?” Dini meletakkan novelnya di atas meja belajar, menghampiri Naura yang berbaring menatap langit-langit kamar, Dini menghempaskan tubuhnya di samping Naura, kasur springbed tebal itu bergetar.
                “Iya, setiap kali aku punya pacar, mama selalu ngajak perang,” bibir Naura monyong beberapa senti, kesal. Dini terkekeh geli melihat ekspresi Naura yang lucu.
            “Emang mama kamu punya senjata? Pistol? Pedang? Atau panah?”
            “Dini! Aku serius tauuuu!!” Naura mendadak duduk, menyilangkan dua kaki jenjangnya, matanya yang cantik melotot kesal. Dini terkejut, dan dia mengambil posisi yang sama, sepertinya Naura serius.
            “Oke, fine. Aku akan mendengarmu dengan serius, ada masalah besar apa nih?” Dini menohok mata Naura dengan  tatapan tajam. Dia sebenarnya tahu apa yang dipikirkan sahabatnya. Dini tahu sifat Naura, hatinya, inginnya, egonya dan segala sesuatunya. Bukankah mereka tumbuh bersama? Usia mereka sama, orangtua mereka bertugas di kantor yang sama dan tinggal di komplek yang sama. Dan… mereka selalu sekolah di tempat yang sama. Pernah sewaktu SMP mereka pisah sekolah, apa yang terjadi? Keduanya enggak mau masuk kelas! Menangis seperti anak kematian induk, saling mencari dan orangtua mereka menyerah dan menyatukan mereka kembali. Rumah Naura ya rumah Dini, dapur Naura ya dapur Dini, kamar Naura ya kamar Dini. Yang beda sifat dan fisik saja. Naura periang, ramah, cantik, centil dan percaya diri. Badannya tumbuh ke atas dengan kulit putih dan rambut coklat tergerai. Dini? Ragu-ragu, suka buku dan kuper. Teman bicaranya yang heboh hanya Naura, dan dia seperti orang tua yang hanya mendengar celoteh Naura. Dini hanya bercanda dengan Naura, dengan yang lain ia akan mati kutu. Dini tumbuh kesamping, berkulit coklat dan rambut ikal dengan semburat mata tajam yang cerdas. Dini tak pernah merasa bermasalah dengan fisik dan hidupnya, ia sangat bahagia. Bagaimana ia punya masalah? Naura tak pernah membuat masalah, hidup aman dan nyaman saja, flat. Urusan pelajaran? Dia jago Fisika dan matematika, soal seni itu urusan Naura yang menyelesaikannya. Pendek kata, mereka seperti skrup dan mor, klop! Saya bukan lebay lho, ini fakta!- dalam imaji saya tentu, hihi…
Nahh… yang bermasalah itu ya Naura, dengan segala kelebihan fisiknya itu. Dengan sifatnya yang periang, ramah, centil dan sangat menyenangkan, hmmm…
***
            Pukul delapan malam, suara deru motor masuk halaman rumah. Mama melompat cepat dari sofa, menghampiri pintu depan, gemuruh dadanya turun naik, nafasnya sesak. Di depan pintu Naura tersenyum tanpa beban, wajah mama panas, sepeda motor telah pergi, entah dengan siapa Naura pulang.
            “Kamu diantar siapa?”
            “Doni, Ma.”
            “Kenapa tadi enggak langsung pulang? Dini jam tiga udah di rumah. Kamu enggak bisa mama hubungi, Dini enggak tau kamu kemana. Naura, ini maksudnya apa sih?”  Mama berkacak pinggang, hilang sudah kesabarannya.
            “Ahh.. Mama, masa sih? Pacaran juga harus sama Dini? Ya enggak laahh…”  Naura ingin beranjak ke dalam rumah, mama menarik tangannya.
            “Kita harus bicara, sekarang!”
            “Capek Ma! Ntar ajalahhh..,” ringan Naura menjawab, cengkeram tangan mama semakin keras, Naura meringis. Mama melemahkan cengkeramannya, mencoba mengalah, menarik nafas panjang. Ia harus menggunakan cara lain, ya… cara lain. Sepertinya mama akan gagal jika harus menggunakan emosi yang meletup-letup begini.
            “Oke, sekarang kamu mandi dan istirahat. Tapi kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan hari ini. Bertanggung  jawab untuk dirimu dan juga untuk mama papa. Sebelum papa pulang dari Kalimantan, semua harus selesai. Kalo enggak, mama yang selesai. Good night…” mama beranjak pergi dengan langkah yang diringan-ringankan, padahal hatinya meletup-letup. Kaki Naura terpacak kaku di lantai, wajahnya menyiratkan kebingungan. Mama yang selesai? Apa maksudnya? Dan malamya Naura benar-benar tak bisa tidur! Dan mama juga gelisah bukan main. Ada dua orang yang berjaga malam di rumah itu, mama dan Naura yang menatap langit-langit kamar masing-masing.
            Cahaya matahari yang masuk dari celah jendela membangunkan Naura. Pukul delapan! Naura lompat dari tempat tidur, gelagapan, oyong dan bingung. Buru buru ia membuka pintu kamar, tujuannya mencari mama, mengapa pagi ini mama tak membangunkannya? Seperti yang setiap hari mama lakukan? Naura mendapati mama duduk santai di teras belakang, menatap matahari terbit dari rimbun pohon palem sambil menyeruput kopi.
            “Pagi sayang…”
            “Lho? Mama enggak ke kantor?”
            “Enggak, mama izin…”
            “Trus Naura kok enggak dibangunin? Kok Dini enggak mbangunin juga?”
            “Mama udah titip surat ke Dini, kita libur bareng hari ini. Mama capek, pengen  jalan-jalan berdua kamu. Kita keluar senang-senang, anggap aja hari ini hari Minggu,” Mama tersenyum ringan, Naura malah kebingungan.
            “Tapi sebelum pergi kita beres-beres yok!” Mama bangkit, mengangkat cangkir kopinya dan membawa masuk sepiring roti bakar. Naura membuntuti sambil bengong.
            “Mbak Darmi mana?”
            “Enggak masuk, mama suruh dia libur hari ini. Biar dia fokus  ngurus anaknya yang sakit,” mama mulai mencuci beberapa piring kotor.
            “Kamu nyapu, ngepel dan membersihkan debu ya? Habis itu kamu mandi, sarapan biar kita pergi,” Naura seperti kerbau dicucuk hidungnya, nurut dan tak membantah seperti biasa. Pagi ini Naura bisa merasakan kharisma mama yang luar biasa. Sesuatu yang selama ini luput dari matanya, dari hatinya. Pagi ini mama berbeda, ia seperti melihat orang asing yang menguasai dirinya. Tapi… Naura suka, sangat suka.
            Setelah memastikan semua urusan rumah beres, mama memacu Honda brio putihnya membelah jalan yang lengang karena jam sibuk telah lewat.
            “Sebenarnya kita mau kemana nih Ma?”
            “Kamu mau kemana? Mama baru dapat bonus, kamu butuh apa?” Senyum mama mengembang. Naura memekik senang.
            “Ganti handphone ya Ma? Naura pengen yang keluaran terbaru,”
            “Kamu ingat aja apa yang kamu butuhkan Naura, bukan yang kamu inginkan,” berat suara mama dari balik kemudi. Naura melengos, ingin merengek tapi tak berani karena hari ini mama sangat berbeda. Apa yang ia butuhkan? Keningnya mengernyit aaah…Ia sudah punya semua.
            “Sepatu ya Ma?”
            “Seingat mama, masih ada sepasang sepatu yang kemaren dibeli papa belum kamu pakai,” senyum mama kembali tersungging, tapi Naura merasakan senyum mama misterius. Naura mendadak diam, tak ada alasan lagi untuk minta sesuatu.
            “Kita makan aja ya? Sambil ngobrol. Kayaknya kita udah lama enggak ngobrol dari hati ke hati,” mama membelokkan mobil di sebuah super market, memarkir mobil tidak jauh dari pintu. Sebelum masuk, mama menelepon seseorang, yang Naura dengar sepertinya mama memesan enam puluh kotak makanan. Buat apa sih? Kening naura berkerut. Belanja untuk apa mama? Tiga trolli belanja sudah penuh, rasanya hampir sepertiga isi super market sudah pindah ke mobil yang sesak. Aneka kebutuhan makanan ada mulai dari susu, biscuit, mie instant, keripik sampai permen.
            “Buat apa nih Ma? Kayaknya Naura enggak ulang tahun deh,”
            “Ayo… kita lanjutkan perjalanan, nanti kamu tahu,” mama bergegas memasuki mobil dan kembali sibuk di balik kemudi.
            Mobil terus melaju melewati perkotaan dan masuk ke perkampungan penduduk, hampir dua jam perjalanan dan akhirnya bangunan berwarna hijau nampak dari kejauhan. Sebuah bangunan layaknya rumah yang besar, halamannya luas dan dihiasi aneka tanaman dan sayuran. Di sebelah selatan ada area bermain, ada ayunan, jungkat-jungkit, prosotan dan rangka besi warna-warni. Semua terjawab ketika mata Naura tertumpu pada sebuah papan besar bertuliskan “PANTI ASUHAN SAKINAH”.
            “Disini dulu panti tempat tante Nudi dibesarkan,” mama menarik nafas panjang, seakan melepas beban. Naura tahu tante Nudi adalah sahabat mama yang selalu diceritakannya, tante Nudi yang meninggal karena demam berdarah dan urung kuliah di perguruan tinggi bergengsi.
            “Mama enggak cerita Tante Nudi besar di panti asuhan?” kening Naura berkerut.
            “Maaf, mama terlalu sibuk untuk mengajak kamu kemari,” mobil berhenti di area parkir. Seorang ibu tua keluar bergegas, dia tersenyum seakan sudah mengenal siapa yang datang.
            “Nak Nuriii… Alhamdulillah, sehat kamu sehat?” wanita itu menyongsong mama dengan ramah, memeluk mama akrab.
            “Alhamdulillah sehat, oya.. saya bawa Naura..princess saya,” mama melirik Naura, kini giliran Naura yang dipeluk si ibu dengan hangat dan haru. Naura salah tingkah tapi senang.
            “Naura yang cantik, mama sering cerita lho… tentang kamu. Akhirnya nyampe juga kemari ya? Anak-anak semua penasaran, “Nauranya bawa dong bundaaa… kita kan pengen jumpa sama princess bundaaa, hehehe..” si Ibu bercerita dengan bersemangat, matanya berbinar-binar, hidung Naura kembang kempis senang.
            “Naura, ini ibu Lisma, pengurus panti, biasa dipanggil anak-anak Bunda Lis,” wanita yang dipanggil Bunda Lis tersenyum hangat namun tiba-tiba ia seakan teringat sesuatu.
            “Oya, panti sepi nih, anak-anak masih sekolah. Gimana Naura? Mau touring panti?” Naura hampir tertawa mendengar istilah Bunda Lis tapi ia segera menggangguk.
            “Reno! Bunda Nuri datang, angkat barang-barang dari mobil, Nak!” seru Bunda Lis di pintu sebuah kamar. Sosok seorang pemuda keluar dengan tergopoh, Naura tak bisa menelan ludah karena shock. Pemuda ganteng mirip artis Aliando, kulit bersih, lebih tinggi dan kekar.
            “Itu Reno, dia kuliah di arsitektur. Kalo waktu luang seperti ini dia online, dia jualan di toko online. Lumayanlah untuk biaya dia pribadi  dan bisa bantu adik-adik  di panti,” Bunda Lis menjelaskan tanpa diminta.
            “Dia anak panti, Bun?” Naura penasaran.
            “Iya, kedua orangtuanya meninggal kecelakaan. Keluarganya enggak ada yang bisa menghidupi karena mereka menganggap dirinya enggak mampu. Reno disini dari usia delapan bulan. Dia anak yang cerdas dan pekerja keras,” Bunda Lis menarik nafas panjang.
            “Kehidupan disini banyak cerita, Naura. Masing-masing anak punya cerita, jika kamu tau, kamu pasti merasa anak paling beruntung di dunia,” suara Bunda Lis bergetar, matanya berkaca-kaca tapi sesaat kemudian ia sudah kembali tersenyum.
            “Ayoo.. ikut Bunda, kita mulai touring…” Naura terkekeh dan mengikuti langkah Bunda Lis. Naura melihat kamar-kamar yang berdipan kecil dan disusun sedemikian rupa. Kata Bunda Lis, kamar itu ada beberapa bagian. Ada kamar anak-anak, kamar balita dan kamar remaja. Bangunan rumah dibagi dua bagian, kamar putra dan putri. Untuk yang sudah dewasa seperti Reno, mereka berbagi kamar dengan adik-adiknya yang perlu bimbingan belajar, jadi seperti kakak pengasuh gitu. Untuk urusan kebersihan, semua bertanggung jawab kebersihan masing-masing. Untuk yang balita, kakak pengasuhnya yang usia remaja wajib bertanggung jawab pada kebersihan adiknya. Semua diatur layaknya sebuah keluarga besar, saling menjaga dan saling membimbing. Wajar saja panti Nampak bersih dan rapi, padahal tidak ada petugas kebersihannya. Di sebuah ruangan, lagi-lagi Naura terpaku melihat tiga bayi dan empat balita sedang bermain didampingi seorang kakak pengasuh.
            “Dia Sissy, jadwalnya ngurus adik-adik hari ini. Dia ambil kuliah malam, siang sampe sore kerja di restoran,” kening Naura berkerut, kapan istirahatnya?
            “Dia kuliah manajemen bisnis, dia Cuma punya waktu istirahat empat jam satu malam. Disini jika mau sukses harus kerja keras,” suara Bunda Lis nyaris berdesah.
            “Siang anak-anak pulang sekolah, semua berkumpul di ruangan itu sambil makan siang, disini tidak ada meja makan. Jumlah makanan juga dibatasi, kalau semua sudah makan dan masih ada sisa baru boleh nambah. Bagi makanan harus adil, enggak ada yang boleh curang, kalau enggak habis dan ingin berbagi ke saudaranya ya silakan… tapi enggak boleh minta. Yang besar harus sayang sama yang kecil, tidak boleh membully, dan si kecil juga harus hormat sama yang tua,” panjang lebar Bunda Lis menerangkan.
            “Yang menjaga panti dan anak-anak disini hanya Bunda dan Pak Rahmat. Ada tiga orang yang membantu di dapur untuk menyiapkan makanan anak-anak. Donatur ada juga dokter dan pengusaha, salah satunya Nuri, mama kamu,” Bunda Lis menarik nafas jeda.
            “Jika anak-anak tidak saling menjaga, siapa lagi?”
            “Berapa orang ada di panti ini Bun?”
            “Empat puluh orang, termasuk Reno dan Sissy. Yang keluar panti juga sudah banyak, umumnya mereka sudah bekerja dan mandiri. Sering mereka mengunjungi panti, tapi banyak juga yang di luar kota bahkan luar negeri,”
            Waktu berjalan, matahari terasa terik. Sebuah mobil L 300 memasuki halaman, begitu pintu mobil terbuka, kaki-kaki lelah berlompatan turun. Suara-suara kicauan anak-anak dan remaja tumpah menjadi satu, tertawa-tawa ramai seakan tanpa beban. Di pintu, salam bersahutan dan mendadak mereka diam, memerhatikan sosok Naura yang asing. Mama berdiri, semua tersenyum menyerbu, lupa pada Naura yang mematung.
            “Ayoo.. semua, kenalin.. ini Princessnya Bunda Nuri, Nauraaa!” Mama seperti host amatir memperkenalkan Naura yang  sempat bingung. Mendadak semua meyerbunya, menyalami bahkan memeluknya. Ada yang memakai rok merah, biru dan ada pula yang seumuran dengannya. Naura seperti princess betulan, seakan sosoknya memang sudah dinantikan. Setelah nasi makan siang pesanan mama datang mereka makan siang bersama. Naura bisa merasakan kebahagiaan yang lain, kebahagiaan berbagi. Naura melihat bagaimana Sissy dan dua gadis masih berseragam putih abu-abu membagi makanan yang dibawa mama. Semua harus akurat, tidak boleh ada yang lebih dari yang lain. Mereka semua sholat zuhur berjama’ah di ruangan yang sama setelah disulap jadi musholla kecil. Dan.. yang menjadi imamnya adalah si ganteng Reno, yang suara takbir dan do’a selesai sholatnya mampu membuat Naura klepek-klepek badai. Hihihi…hayyyoo…
***
            Nudi bertubuh mungil dan terkesan ringkih. Kulitnya coklat muda bersih, rambutnya ikal, alisnya tipis, berhidung tidak terlalu tinggi. Yang membuat Nudi istimewa adalah otaknya yang cerdas. Ibarat lem, pelajaran apa saja dapat lengket di kepalanya, tanpa kecuali. Biasanya, teman Nuri punya spesifikasi kecerdasan, Dino cerdas di Fisika, Kimia dan Matematika tapi lemot di pelajaran IPS dan sejenisnya. Alasannya dia tak mampu menghafal dan berimprovisasi, dia hanya bisa yang pasti. Nuri lebih cerdas di IPS ketimbang yang pasti. Karena, menurutnya dia bisa mengurai setiap pertanyaan dengan panjang lebar, karena toh semua jawaban pasti benar. Menghafal? Juga lebih mudah karena dia bisa berimprovisasi dan menggunakan bahasanya sendiri. Tidak ada kebenaran mutlak dalam pelajaran sosial. Tapi Nudi bisa semuanya! Dia adalah sahabat istimewa yang otak kanan kirinya sama besar dan sama hebat.
            Nudi dibesarkan di Panti Sakinah dan ia tak pernah mengenal ayah ibu atau sanak saudara. Saudara dan ibunya adalah orang yang ada di panti dan bernasib sama dengannya. Setiap hari ia berjalan lebih dari satu kilometer menuju SMA Negeri di kota. Sehari-hari bekal Nudi adalah dua potong roti dan sebotol besar minuman yang sudah habis setengah ketika ia sampai di sekolah. Nudi tak pernah punya uang saku. Nudi sebangku dengan Nuri, saling berbagi cerita dan belajar bersama. Nuri tahu benar keadaan sahabat baiknya ini dan hidupnya. Nuri selalu berbagi bekal dan jajan dengan Nudi. Pulang sekolah ia dijemput papa dengan sepeda motor dan Nuri selalu berbagi boncengan dengan Nudi. Mereka akan mengantar Nudi ke panti, memastikan semua baik-baik. Tak jarang Nuri betah bermain lama-lama di panti bersama anak-anak panti yang lain.
            Selesai EBTANAS di SMA, Nudi dan Nuri mendapat kabar baik. Mereka lulus PMDK di Perguruan Tinggi Favorit. Dunia berbunga-bunga, harapan masa depan Nudi terpampang indah di depan mata. Setelah wira-wiri ke sana kemari, Nudi mendapat sponsor beasiswa. Dia adalah seorang donatur tetap di panti. Seorang pengusaha kaya yang baik hati. Kebahagiaan, keyakinan dan bunga-bunga itu justru menimbulkan musibah yang tak akan dilupakan Nuri seumur hidupnya. Nudi demam, mereka tetap sibuk mempersiapkan diri menuju ke perguruan tinggi yang diimpikan. Nudi berpikir ia demam biasa saja, mereka sibuk mengurus kelengkapan berkas, buku-buku dan rencana-rencana. Mereka sibuk menyambangi perguruan tinggi yang diimpikan, duduk dibawah pohon rindang fakultas dan tertawa-tawa. Nudi sudah menyusun rencananya dan ditempel di dinding kamar panti. Sampai akhirnya pada malam itu Nudi menggigil dan merasakan ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya, darah. Nudi mencoba tenang, tapi ketenangan itu berubah panik ketika ia muntah dan mengeluarkan cairan merah pekat sama dengan cairan yang mengaliri hidungnya. Malam pecah, Nudi dilarikan ke Rumah Sakit terdekat dan tak tertolong. Impian itu padam, selesai tepat azan subuh mengumandang. Nudi pergi.
            Nuri terpukul dan sangat kehilangan, mengunjungi panti seakan ia masih melihat Nudi sibuk dengan buku-bukunya, membaca, bercerita, tertawa. Mengunjungi panti dan berbagi adalah cara melepas rindu pada sahabatnya, Nudi. Jika Nuri tidak punya uang saku lebih ia tetap akan memberi buku atau alat tulis atau apapun yang ia miliki untuk anak-anak panti. Sampai akhirnya Nuri menikah, dia sudah wanti-wanti kepada suaminya agar diizinkan bekerja, agar bisa berbagi untuk anak-anak panti.
            “Sebaiknya kamu urus keluarga saja, Ri. Aku bisa mencukupi semua biaya hidup kita. Kamu bisa fokus mendidik anak kelak jika kita dikarunia anak,” kata suaminya suatu kali.
            “Izinkan aku bekerja, Mas. Insyaallah aku tetap memproriataskan keluarga kita. Aku ingin dapat memberi lebih kepada anak-anak Panti Sakinah. Aku menyayangi mereka,” mata Nuri berkaca-kaca. Rijal, suaminya menarik nafas panjang.
            “Baiklah, aku percaya. Dan yang paling penting kamu harus menjaga kepercayaanku ya?” Rijal membelai rambut lurus istrinya yang tersenyum lega.
            Jadilah Nuri bekerja pada satu perusahaan BUMN ternama. Kerjanya bagus, dan karirnya tentu juga bagus. Semua dijalani dengan tenang, walau bekerja tapi keluarga adalah segalanya. Ketika seorang bayi wanita mungil lahir dan kemudian diberi nama Naura Fatya Rijal, lengkaplah kebahagiaan. Nuri selalu memanfaatkan quality time, memberi ASI ekslusif, menyanyikan senandung sebelum tidur, berkomunikasi dengan putri kecilnya yang cantik dan lucu. Tak jarang ia masih memakai seragam kantor sampai menjelang tidur karena tak ingin kehilangan waktu dengan si kecil. Naura tumbuh menjadi gadis cantik yang percaya diri. Tapi ketika memasuki masa SMA Nuri mulai bingung karena putrinya seakan lepas kendali. Apa yang harus dilakukan? Apa yang harus dipertanggung jawabkan pada suaminya?
***
            Matahari di sebelah barat mulai merona jingga, dua perempuan anak beranak itu duduk di tepi sawah di pinggir jalan sepi, menatap langit.
            “Sayang, itulah mengapa Mama katakan jika kamu bertingkah liar, Mama akan selesai.” Nuri, mama Naura menarik nafas panjang, melipat kakinya menatap langit, mengusap sudut matanya yang basah.
            “Mama harus punya waktu lebih mengawasimu, mendengar keluh kesah dan curhatmu, membimbingmu. Mama harus berhenti bekerja, resign. Mama sudah komitmen dengan papa akan menjadikanmu anak berguna” mama sesenggukan, Naura tercekat, mengapa sampai sejauh itu?
            “Mungkin jika mama di rumah mengurusmu akan lebih baik,”
            “Maaaa… ma’af. Naura enggak punya maksud gitu. Naura enggak mau pergi-pergi lagi sama cowok, rajin belajar, enggak lagi ninggalin sholat, janji. Mama tetap aja kerja, biar kita bisa kasih sumbangan buat anak-anak panti…” kini Naura yang sesenggukan, mama memeluknya dengan kasih sayang penuh. Mama mengalirkan kehangatan pada belahan jiwanya.
            “Naura menyesal kenapa enggak mama bawa dari dulu ke panti. Naura jadi lebih bersyukur dengan apa yang Naura punya. Kecukupan dan kasih sayang, Naura ngerti sekarang….” Mama menghapus air mata putrinya. Ia selama ini tak ingin mengajak Naura ke panti, karena tak ingin Naura melihat kesedihan di sana. Tapi itu justru tindakan yang salah. Azan maghrib berkumandang dari masjid kecil di tepi sawah, mereka bergegas.
            “Mama… Princess udah gak galau lagi,” bisik Naura di telinga mama.
            “Kenapa?”
            “Karena Princess mama udah tau tujuan hidupnya,”
            Alhamdulillah, terus masih pacaran sama Doni?”
            “Enggak aahhh… besok Naura putusin. Reno lebih keren dan sholeh, hihihi…” Naura terkikik, mama melotot dan mencubit lengannya. Memang anaknya belum tahu apa itu cinta, enak saja memutuskan hubungan tanpa beban.
            “Sekolah duluuuu… belajar dulu…”
            “Iya mama sayaaaang…”
            Jingga di langit ditutup dengan sholat maghrib di masjid tepi sawah yang sejuk. Mereka menembus gelap, kembali pulang . Naura ingin segera berbagi cerita pada Dini. Ingin segera menemui pagi.

*Bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki. Bersyukur dengan cara bijak, memanfaatkan waktu dan mengisi kehidupan dengan kebaikan. Di sekitarmu betapa banyak anak-anak yang kurang beruntung. So.. jangan pacaran melulu tauuukk J wkwkwkwkwk.. bravo!!

           
           


Kamis, 24 September 2015

LELAKI HENING DAN SEPOTONG AYAM GORENG




            Hujan turun sedari pagi tadi. Parit-parit busuk sudah tumpah ruah dengan sampah-sampah plastik, yang sebagian menyumbat saluran air sementara sebagian lagi terdampar di bibir-bibir parit yang biru kedinginan. Suara klakson mobil di ujung gang sempit yang berupa jalan raya bersahut-sahutan marah, menciptakan irama yang tumpang tindih seperti music rock. Abay masih menatap hujan yang jatuh dari liku seng berkarat rumahnya, air yang jatuh menimpa sepatu busuk, bunga asoka yang kering dan papan-papan lapuk tak berguna. Aroma parit yang menguap diabaikannya, hidungnya sudah cukup beradaptasi dengan bau itu, bau yang basah dan bau yang kering.
            “Masuklah Bay, disambar petir kau nanti,” Wajah ibu muncul dari balik pintu, khawatir.
            “Sepertinya hujan tak berhenti seharian ini, masuklah,” Ibu masih membujuknya.
            Abay mengkerut dan melilit sarungnya semakin rapat, hujan seharian? Sama artinya tak ada uang belanja buat ibu dan dirinya hari ini. Abay melirik sudut teras sempit rumahnya, gerobak es berwarna hijau lumut yang diam manis tak berdaya. Ah.. betapa hujan telah merenggut mimpinya hari ini, ingin membelikan ibu ayam goreng lezat yang sudah hampir seminggu dicita-citakannya.
            “Abay… masuklah Nak. Nanti kau masuk angin, sakit, jadi urusan… masuklah!” kali ini Ibu sudah serius, bukan lagi wajah yang muncul dari balik pintu, tapi ia sudah berdiri di samping Abay. Abay bangkit, benar kata ibu, jika ia sakit bagaimana pula? Direngkuhnya bahu ibu masuk ke dalam rumah.
            “Kau tenang saja, ibu masih punya uang yang bisa dibelanjakan hari ini,” Ibu tersenyum, dahi Abay berkerut, ibu tertawa.
            “Hahaha.. jangan khawatir, ibumu ini pintar menabung, kau jangan terlalu serius, kau sudah tua dibanding umurmu,” Ibu tertawa, tapi matanya berkaca-kaca. Abay masuk ke dalam kamar, merebahkan diri di atas dipan berlapis tilam kapuk tipis. Matanya menatap langit-langit kamar yang kuning karena asap pembakaran obat nyamuk. Abay memejamkan mata, di luar hujan dan petir semakin menggila. Berdentum menggelegar, serasa mau merontokkan otak-otak kotor manusia yang sibuk dengan klakson-klaksonnya. Abay merasa hening, semuanya senyap.
***
            Hari ini langit begitu bersahabat, biru merona dihiasi awan cirus yang melambai indah. Abay tersenyum puas menyusuri gang sempit rumahnya, menuju emperan toko tempat ia biasa berdagang. Akiong tersenyum menyambutnya di depan pintu toko.
            “Hari cerah, Bay.. semoga hoki lu baik hari ini,” Akiong menarik kardus bekas di lantai yang menjadi lapak Abay. Mungkin kardus itu tadi malam digunakan pengemis yang tak punya tempat tinggal, bau pesing menyeruak, Akiong menutup hidungnya sambil mendengus.
            “Sutiii! Lu ambil karbol cepat lu siram ini bekas kencing!” suaranya nyaring memanggil Suti, asisten rumah tangga yang biasa membantu istri Akiong. Suti cepat-cepat ke belakang membawa tubuhnya yang tambun, geraknya lamban. Tapi ia nyaman bekerja dengan keluarga keturunan ini, begitu pula dengan Akiong yang tak pernah mempersoalkan tubuhnya yang semakin besar dan lebar dan kerjanya yang lamban. Keluarga ini terlalu baik, ukuran tubuh Suti adalah suatu bukti asistennya itu sangat sejahtera. Sampai ada desas desus jika si Suti ikut makan babi, ih!- Dan membiarkan Abay membuka lapak di depan tokonya tanpa biaya sewa adalah kebaikan yang lain.
            Langit cerah, rezeki Abay cerah. Hari ini ia bisa membelikan ibu ayam goreng, Abay menitip gerobak es pada Teno, pegawai toko onderdil sepeda motor Akiong yang hitam pekat tapi sangat rajin. Teno memberi isyarat nakal, Abay memberinya segelas es serut sebagi upah. Abay menyusuri jalan menuju restoran ayam goreng yang telah lama diimpikan ibunya. Masuk ragu-ragu dengan pakaian bau debu dan matahari. Kaos hitam kusam, celana jeans super belel dan sandal jepit karet yang talinya sudah molor. Wajah bahagia ibu membuatnya berani masuk, celingak celinguk tanpa ada yang peduli. Beberapa mata sinis mulai merayapi tubuhnya. Ada pula yang prihatin, ada yang tertawa hina. Abay harus berani, demi senyum ibu…
            Abay ikut antrian di meja pemesanan, beberapa orang mulai menjauh menghindarinya, Abay menunduk. Semua berpakaian bersih dan wangi, sementara dia? Ah.. mengganggu selera makan saja. Kini giliran Abay memesan sepotong ayam goreng.
            “Ada yang bisa dibantu? Abang pesan apa?” senyum ramah adik cantik di belakang meja kasir. Hening, Abay mengerutkan dahi. Adik cantik berlipstik merah tersenyum dan mengulang tiga kali pertanyaannya. Masih hening saja, Abay semakin berkerut.
            “ABANG PESAN APA?” Adik cantik mulai berteriak, semua mata pengunjung sudah mengarah kepada mereka, restoran mulai ricuh, Abay masih hening. Adik cantik mulai berkeringat, teman-temannya mulai menghampiri, Abay bingung. Semua mata Nampak merah marah. Saat kritis, seseorang menepuk bahu Abay pelan, Abay berpaling. Perempuan itu tersenyum lembut, mulai menggerakkan tangannya memberi isyarat. Abay menarik nafas lega, karena ada seorang perempuan baik yang bisa memahaminya. Abay mulai bercakap cakap dengan isyarat, sangat bersemangat dengan mata yang bersinar. Perempuan itu mengangguk angguk dengan mata berkaca-kaca.
            “Dia pesan ayam goreng, Dik. Satu potong saja buat ibunya,” Perempuan itu menelan ludah yang mendadak pahit.
            “Dia sudah menabung untuk beli ini, supaya ibunya senang,” mendadak hening, semua mata mengarah ke Abay. Lelaki hening itu tersenyum, ketika semua mata tak lagi marah tapi mengharu biru. Si adik cantik dibalik meja kasir menarik nafas panjang, merubah mimik wajah yang tadi sempat jutek menjadi sebingkai senyum ramah dan mata bersahabat.
            Akhirnya, Abay pulang bukan dengan sepotong ayam goreng tapi setengah lusin, ditambah segala macam rupa makanan lezat yang tak pernah diimpikannya. Bukan saja perempuan baik ini menambah jumlah pesanan Abay, tapi ada beberapa orang lagi yang berbaik hati mengahadiahkan makanan lezat untuk ibunya. Hati Abay bersenandung riang di bawah matahari siang. Di dalam restoran, perempuan baik tadi menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Menahan air mata yang nyaris banjir. “Maafkan aku Bu… aku tak pernah mengahadiahkanmu makanan lezat, meski aku mampu membelinya dan selalu menikmatinya.”

Medan. 25 September 2015
Happy Tasyrik day…
Happy Tummy :) 
           
           
           

Senin, 27 April 2015

BATU AKIK PENYEBAB KEHILANGAN KESADARAN





            Farhat menyeka keringat yang mengucur deras di pelipisnya, matanya nanar memandang jalan yang terasa masih sangat panjang. Jalan hitam tampak berkilau diterpa cahaya matahari yang tepat berada di atas puncak kepala. Farhat menyipit sejenak, alam bawah sadarnya membisikkan “black jack” jalan hitam itu berubah menjadi akik hitam besar dengan berat ber ton-ton. Farhat menggeleng-gelengkan kepala, menepis bayang imajinasinya. Keringat meleleh ke tengkuknya yang bercampur dengan minyak rambut. Farhat mengusap wajahnya, melenguh sekerasnya tapi bara matahari benar-benar tak bisa berdamai.
            “Akik sialan!” jerit Farhat dalam hati. Demam akik sudah membuatnya cukup merana, seperti hari ini contohnya. Ia diusir dari kelas karena belum menyelesaikan SPP tiga bulan. Bidang keuangan sudah memintanya untuk memanggil orangtua untuk konfirmasi. Biasanya, jika itu memang masalah ekonomi pihak sekolah masih sangat toleransi. Orangtua perlu diajak bicara untuk menggali informasi ada apa gerangan dengan SPP anaknya? Hal ini untuk menghindari anak-anak nakal yang suka menyalah gunakan kepercayaan orangtua dan Farhat sudah melakukannya dan dia masuk kategori itu sekarang. Ya! FARHAT MENGGUNAKAN UANG SPP UNTUK MEMBELI BATU AKIK.  Jleb!
            Setiap pergi dan pulang sekolah, Farhat selalu melewati kerumunan orang-orang mengasah batu akik dan membuatnya menjadi cincin. Awalnya Farhat hanya melihat saja, tapi lama kelamaan tergoda dan ingin memilikinya. Awalnya ia punya satu, tapi ia dengar bisik-bisik bahwa batu akik itu bisa dijadikan investasi. Dengan kata lain beli saja banyak-banyak dan jual lagi dengan harga tinggi, seperti emas gitu…dan Farhat melakukannya diam-diam tanpa setahu ayah dan ibu. Ada beberapa batu akik yang laku dibeli temannya, tapi kemudian uang itu ia belikan lagi batu akik yang baru, ada jenis bio solar, bacan, panca warna, giok aceh, black jack, merah delima, kecubung kasih, belimbing dan… dan… total sekarang ia punya lima puluh lima batu cincin. Duhai… jari tangan saja jumlahnya sepuluh, okelaaah tambah cari kaki jadi dua puluh, masih lebih banyak batu cincinnya ya? Daripada jumlah jari Farhat. Baiklaah.. katanya kan buat dijual lagi, hmmm… mari kita maklumi.
            Hampir setengah jam Farhat berlari, akhirnya ia sampai ke rumahnya yang bercat hijau, di halaman tumbuh aneka  pohon buah-buahan. Pohon mangga, jambu air, jambu biji hingga sawi dan bayam hijau memesona. Di sudut-sudut pagar ibu menanamnya dengan pohon ubi, pohon kari, jeruk purut dan rumpun sere. Ibu yang hebat, setiap kali memasak ia cukup memetik di halaman rumah, sayuran segar yang diolah menjadi santapan lezat setiap hari ada di meja makan. Tapi, hari ini Nampak sayuran itu sudah dicabut habis, Dari luar, Farhat mendengar suara music dangdut diset sangat keras, diiringi dengan suara-suara tidak jelas. Farhat membuka pintu rumah, ayahnya duduk di kursi sambil mengepulkan asap tebal dari sebatang rokok. Jari jemarinya dipenuhi cincin batu akik, lengkap pula dengan kalung berbandul batu akik yang besar menggantung di lehernya. Farhat mendelik kaget, ia tak pernah melihat ayah seperti ini. Di dapur, ibu menceracau seperti orang kesurupan, daster lusuhnya semakin lusuh, rambutnya naik ke atas, alisnya semakin tinggi dan bibir tipisnya bergerak kesana kemari tak jelas. Dan… mata ibu memerah, tangannya gemetar, dadanya bergemuruh turun naik penuh emosi.
            “Aku gak mau tau, Yah… hutangku di warung semakin banyak. Aku sudah malu belanja, aku sudah berjuang sebulan ini, menunggu janji Ayah. Tapi apa yang kudapat haa? Apa mungkin aku ngasi anak-anak makan hanya pakai garam! Pakai minyak jelanta! Bodoh nanti anakmu, Yaaahh!” Ibu menjerit tertahan. Ayah kembali mengepulkan asap.
            “Sabarlah, Bu. Besok kalau batu ini laku sampai lima juta kan kau juga yang senang,” jawab ayah dengan tenang, cool..
            “Apa? Sampai batu itu laku? Sampai kapan? Nunggu rambutku putih? Nunggu aku mati kelaparan?” ibu duduk di samping ayah, Farhat masih beku di depan pintu.
            “Aku enggak mau tau, Yah. Pergi sekarang, jual semua cincinmu. Kasi aku uang belanja hari ini, beras sudah habis,” ibu menggeram, ayah masih duduk tenang menghisap rokoknya, asap kerusuhan semakin tebal. Ibu bangkit, menarik jemari ayah dengan paksa, persis seperti perampok amatir. Ibu mencabut semua cincin yang melekat di tangan ayah, menarik kalungnya, masuk ke kamar dan mengeluarkan satu kotak besar aneka bebatuan. Bola mata Farhat membulat, lidahnya semakin beku, hawa kematiannya semakin dekat.
            “Mau kemana?” Ayah bangkit, matanya begitu garang.
            “Mau aku jual sekarang,” ibu menjawab gemetar.
            “Jangan sembarangan! Itu nilainya puluhan juta!” Ayah mulai keras, ibu terduduk lemah.
            “Ayah, aku sudah puluhan tahun menjadi istrimu. Aku tak pernah minta uang puluhan juta atau juta-juta yang lain,” air mata ibu jatuh.
            “Aku hanya ingin kita, anak-anak bisa makan yang layak, yang sehat. Mereka bisa sekolah dengan baik, jadi orang.” Airmata ibu semakin deras.
            “Ayah lihat aku? Aku tak ingin baju bagus atau tas dan sepatu mahal. Aku menanam sayur di halaman rumah, supaya kita bisa hidup hemat dan anak-anak makan makanan yang sehat. Semua aku pertaruhkan untuk keluarga kita, anak-anak kita. Aku mohon, Yah. Berhenti bermimpi dengan batu-batu itu. jika Ayah mau, pakailah satu atau dua cincin. Jangan mengorbankan uang belanja untuk membeli batu yang tak jelas kapan lakunya, tolonglah Yah,” ahh… ibu semakin terisak. Dalam usia perkawinan ayah ibunya yang sudah menjelang dua puluh tahun, Farhat tak pernah melihat suasana serusuh ini. Ayah Ibu selalu bahagia… lihatlah! Ayah membantu ibu berdiri, mengusap airmatanya, membenahi rambutnya.
            “Ma’af, Bu. Ayah akan menjualnya hari ini, Ibu tunggu saja di rumah ya?” Ayah mencium kening ibu, tersenyum dan mereka berpelukan. Sepertinya, suasana membuat mereka tak menyadari kehadiran Farhat, yang sudah menyaksikan episode demi episode yang membuatnya nyaris mati.
            “Kamu kenapa, Nak?” tiba-tiba saja ayah sudah menegurnya, menyadari kehadiran Farhat yang kakinya sedari tadi terpacak di muka pintu.
            “Ma’afkan Ayah ya? Ayah sudah khilaf sampai membuat ibu menangis,” sambung ayah yang membuat Farhat semakin gamang nyaris pingsan.
            “Kamu sakit, Nak?” kembali ibu yang meraba keningnya penuh kasih sayang, keningnya yang penuh keringat dingin. Farhat tak tahu harus berbuat apa, kakinya gemetar, giginya gemeretuk, semua pandangan hitam dan dia ambruk…

#episode zaman batu
           
                       

Senin, 09 Maret 2015

MISTERI MERAH DELIMA




                “Cincin ini untukmu, pakailah,” Pak Sutan menyerahkan sebuah cincin cantik bermata merah kepada Rara. Gadis yang belum genap dua puluh  tahun itu melongo, tak percaya.
                “Benar ini buat saya, Pak? Ini kan cincin mahal,” Rara masih tak percaya. Pak Sutan tersenyum tipis. Matanya menerawang ke langit-langit rumahnya yang kusam penuh misteri.
                “Bapak tak begitu yakin apa memang cincin ini mahal. Ini cincin batunya batu delima, sudah lama ada pada bapak, bahkan bapak lupa sejak kapan. Daripada enggak dipakai, jadi buat kamu aja, pakailah,” Rara menerima dengan ragu, memerhatikan dengan seksama cincin yang ada di telapak tangannya, menimang-nimang.
                “Terimakasih, Pak. Nanti saya pakai,”
                “Kenapa enggak dipakai sekarang?”
                “Enggak matching, Pak. Saya pake baju ijo, harusnya bapak kasi giok tadi, hehe,” Rara tertawa kecil, sebagai gadis kota yang modis, asesoris buatnya bukan sekadar pakai saja. Pak Sutan tersenyum tipis, menaikkan bahunya.
                “Saya permisi, Pak. Mau cari Ulis, entah kemana dia dari sore tadi,” Rara bangkit dari duduknya, merapikan baju dan roknya. Pak Sutan ikut berdiri.
                “Jangan bilang siapa-siapa ya? Kalau saya kasi kamu cincin itu,”
                “Oke Pak, siap! Terimakasih ya Pak?” Rara menyalami pak Sutan dan bergegas pergi.
***
                Batu, batu, batu! Itulah yang membuat Rara dan Ulis harus rela terjebak di kampung ini sejak seminggu lalu.  Menemani papa yang sibuk berburu batu akik, bio solar, bacan -dan entah apalagi sambil liburan. Memang benar, kampung ini cukup memberi hiburan. Kampung alami yang diapit bukit hijau dan birunya laut. Langit cerah, pohon yang rindang, laut bening dengan ombak yang tenang, siapa yang dapat memungkiri pesonanya? Tapi jika terlalu lama juga kedua anak itu pasti bosan, hidup tanpa gadget karena kampung ini tak bisa dijangkau sinyal.
                “Kak, cincin merah itu darimana?” wajah Ulis pucat, nafasnya memicu cepat, matanya merah.
                “Buat apa? Emang penting?” Rara menyipitkan matanya, membaca ada sesuatu yang tak beres.
                “Serius lho, Kak. Kamu dapat darimana? Kalo enggak aku kasi tau papa!” Ulis mengancam, matanya semakin merah. Rara semakin menyipit, darimana adiknya tahu dia memiliki cincin merah?
                “Aku dapat di meja kakak, trus aku pake” Ulis menjelaskan tanpa ditanya.
                “Ada aura aneh di cincin itu, Kak. Makanya aku Tanya kakak dapat darimana,”
                “Lis. Aura aneh gimana? Kamu juga harus ingat pesan papa, kita enggak boleh syirik karena batu, tau?” kini Rara melotot, takut juga melihat adiknya ini, kok tiba-tiba aneh? Papa yang suka koleksi batu aja enggak pernah ngomong aura-aura gini.
                “Aduh Kak Ra, pokoknya jangan dipake! J A N G A N!” Ulis menekankan kata ‘jangan’ dengan mengeja keras-keras. Rara mengibaskan tangannya dan pergi. Memang dua malam ini dia selalu mimpi buruk, tapi mana ada hubungannya dengan batu?
                “Kita cari udang yok! Besok kita pulang. Pasti kangen laut..” Rara menarik lengan kurus adiknya, berlari ke arah laut yang berjarak lima puluh meter dari penginapan. Sejenak kemudian mereka sudah tenggelam dengan keasyikan, lupa pada warna kulit yang hitam terbakar. Dan papa juga sibuk packing aneka jenis batu buruannya. Sebagian besar masih dalam bentuk bongkahan.  
***
                Hujan turun dengan deras, halilintar menggelegar sambung menyambung di langit. Bayangan di jendela kamar timbul tenggelam, berupa kilatan cahaya seperti blitz kamera. Rara meringkuk di balik selimut, ia sendirian di rumah. Mama dan Ulis mungkin terjebak hujan di supermarket, papa belum pulang kantor. Rara tidak pernah mengalami suasana mencekam seperti ini sebelumnya, ia seorang gadis pemberani. Tapi, ia tidak mengerti kecemasan dan kegelisahan yang sedari pagi menghantuinya. Gelisah dan cemas tanpa alasan yang jelas. Rara tercekat ketika secara perlahan matanya menangkap bayangan kilat yang berubah-ubah. Awalnya berupa asap, seperti sisa pembakaran sampah yang masuk melalui celah jendela. Berikutnya bayangan itu perlahan berubah menjadi wajah dengan seulas senyum ramah, aroma aneh mulai menusuk hidungnya, Rara gemetar. Bayangan wajah itu terus berubah-ubah dalam hitungan detik, tersenyum, sedih, menangis dan akhirnya marah dengan mata merah menyala-nyala. Rara membaca ayat Al Qur’an yang dihafalnya dengan panik, dia semakin tersudut di pojok tempat tidur dengan selimut yang bergulung. Bayangan itu belum mau pergi dan matanya semakin merah dengan aroma aneh yang semakin tajam. Warna merah mata itu mengingatkan Rara pada cincin yang dipakainya. Dalam hitungan detik Rara melepas cincinnya dan melemparkan kearah bayangan yang menakutkan itu. Blusss…. Bayangan itu lenyap dalam sekejab tak berbekas seperti uap yang pergi tak pernah berjejak.
 Rara menghapus wajahnya yang basah dengan keringat dingin. Seumur hidup baru kali ini ia merasakan hal mistis seperti ini. Dia kembali teringat apa yang dikatakan Ulis beberapa hari lalu agar ia jangan memakai cincin itu, apakah Ulis merasakan hal yang sama? Mengapa adiknya itu tidak menceritakan apa yang dialaminya? Atau Rara yang tak percaya? Dengan sisa ketakutan dan dada yang masih berdebar kencang seperti habis lari marathon, Rara menuju kamar mandi. Rara berwudhuk dan sholat sunah dua raka’at, berlindung kepada Allah, semoga batu itu tidak membawa kesyirikan, percaya selain daripada Allah azza wajalla. Bell rumah berdenting beberapa kali, mungkin mama dan Ulis, atau juga papa sudah pulang.

#Siapa Pak Sutan? Kok cincin batu delima merahnya dikasi ke Rara ya?

#Musim batu, kembali ke zaman batu, apa kamu juga punya batu? Hihihihi….