Kamis, 25 September 2014

EPISODE MENDUNG YANG PANJANG




                Waktu bagiku ibarat benang kusut yang harus kuurai dengan teliti satu persatu, helai perhelai, teliti dan sabar. Benang kusut itu adalah awal tahun ajaran baru, aku harus meyelesaikan roster pelajaran untuk 14 rombel, memastikannya tidak “bertabrakan”, roster fullday, pembagian jam mapel, silabus rpp, buku, dll,dll. Aku menikmati seluruh aktifitas itu, mengurai perlahan, sabar dan semua akan selesai tepat pada waktunya. Ketika semua sudah lengang, aku akan menulis kembali secara konvensional, menekan tuts keyboard si Cepi yang mungil. Secara konvensional? Ya..karena jika tidak, aku akan terus menulis dalam ruang otak dan imajinasiku, aku terus menulis dalam diam maupun sadarku, berlebihan memang. Baiklah, aku akan bercerita tentang kisah gadis kecilku yang ternyata belum usai juga.
Malam perlahan beranjak naik, awan pekat menyelimuti kota Medan, namun hujan tidak turun, dingin. Dua travel bag sudah siaga di bagasi mobil, berikut segala macam report keadaan kaki Bila ada di dalam tas, makanan kecil dan rendang kering. Ya, aku akan membawa Bila ke Penang, Rumah Sakit Lam Wah Ee. Kami berangkat berdua, pesawat pertama jam 5.10 wib. Karena ayah Bila ada acara di Singapore dan Kuala Lumpur, maka ia akan menyusul kami ke Penang melalui jalur darat. Bandara Kuala Namu yang cukup jauh dari rumah menjadi kendala. Untuk naik taksi tengah malam, aku ciut. Membawa mobil dan parkir di bandara selama empat hari juga rasanya tak berani. Maka, aku minta tolong adik untuk mengantar kami pada jam 11 malam- tak tega jika minta ia mengantar jam 2 malam. Kami menembus gelap, melewati perkotaan dan jalan lengang menuju bandara, kebun sawit tanpa penerang jalan.
Bandara sepi, hanya ada beberapa orang yang bernasib sama seperti kami, menunggu pagi tidur di kursi-kursi panjang yang biasa dijadikan kursi tunggu. Aku coba melakukan hal yang sama, tapi gagal. Bila sepertinya tidak tertarik, dia asyik bermain game di ponsel. Wajahnya cerah, senyumnya tetap indah, dia tidak pernah mengeluh- justru itu yang membuat hatiku hancur melihat langkah kakinya yang tak sempurna. Jam 3.30 kami melakukan check in, membayar airport tax- 200 ribu per orang, mencekik tenggorokan. Sebelum boarding pass, aku menyempatkan membeli satu cup kopi dan menyeruputnya sampai habis. Bila tidak bisa minum susu pagi hari- perutnya mulas- aku menyuruhnya makan biscuit kering dan minum air putih. Tepat pukul 5.10 pesawat lepas landas, membelah langit gelap, melewati laut, hanya 45 menit, kami mendarat di Bayan Lepas, Penang.
***
Pinpin dan suaminya menyambutku dengan senyum paling manis- tentu saja, wajahku adalah ringgit di matanya. Bisnis mereka maju pesat, menjemput tamu yang ingin berobat, menyediakan jasa taxi dan kamar.  Dengan setia ia dan suaminya mengangkat dua travel bag yang kami bawa, menanya ini itu, memberi tahu ini-itu. Aku diam saja, toh dia juga tahu ini bukan kedatanganku yang pertama. Aku sudah tahu SOP ala Pinpin. Jangan begini, jangan begitu, hati-hati, hindari ini-itu, dll. Standart SOP Luar negeri lah. Setelah mengantar kami ke penginapan, menyimpan tas, kami mendapat kamar di sebuah rumah di jalan Lengkok Batu Lancang, jalan yang sama dengan kedatanganku yang lalu. Pinpin berbaik hati mengantar kami langsung ke rumah sakit dan mengganti nomor ponselku. Itu memang harus dilakukan pertama kali, agar dapat berkomunikasi dengan keluarga. Dan, Pinpin langsung menyimpan nomornya di ponselku. “Yu kalau perlu apa-apa bilang Ua, ya? Hati-hati, passport Yu jaga baik-baik, tas selempang saja,” aku mengangguk. Bahasa Pinpin sangat mudah dicerna, Pinpin China Medan yang membuka usaha ini di Penang.
Langkah pertama adalah aku mengambil nomor antrian, ada dua box kecil. Satu untuk nomor antrian pasien lama dan satu lagi untuk pasien baru. Aku menekan tombol di kotak pasien baru, dan duduk menunggu nomor dipanggil melalui monitor kecil yang terpasang disetiap sudut pandangan.  Setelah sebelumnya membeli sacangkir cappuccino di mesin kopi sebelah belakang rumah sakit. Rumah sakit ini tidak asing, karena sebagian besar pasien berasal dari Indonesia. Setelah nomor antrian kami dipanggil, aku menuju meja pendaftaran. Menjawab semua pertanyaan petugas India berwajah cantik tapi terkesan culas- tapi dia baik, tegas, tanpa basa-basi, patah-patah. Pertanyaannya standart, nama, alamat di Indon, alamat di Penang, ke dokter mana, keluhan apa, nomor passport, nomor telepon, email.  Jangan heran, kode pos alamat di Indonesia tak boleh lupa. Klik! Kami mendapat petunjuk darinya agar konsul ke dokter Tan Cheng Aun, spesialis ortophedic surgeon. Bukankah aku masih bingung? Apakah Bila positif skoliosis atau ada sesuatu di sendi pangkal pahanya? Allah lah yang tahu. Jadwal konsul masih 2 jam lagi, kami memilih tetap di rumah sakit, menunggu. Jika kembali ke penginapan, aku tidak yakin bisa kembali tepat waktu, mengingat mata yang terasa berat dan Bila yang mulai mengeluh ngantuk. Jadilah kami pengamat amatiran, namun Bila terhibur karena jaringan wifi yang berlari kencang., seperti kijang.
Pukul setengah sebelas, giliran kami menemui dokter. Dr. tan menyambut dengan ramah, perawakannya kecil, kulit putih, wajah cerah bercahaya, suaranya lembut, sangat bersahabat. Hasil dialog yang sesekali diselingi bahasa Inggris, melayu dan pada bagian tertentu diterjemahkan oleh perawat melayu, Dokter Tan paham maksud dan tujuan kami. Seperti biasa, MRI harus dilakukan sebelum mengambil tindakan. Dokter bertanya kapan kami pulang, aku menjawab dengan jujur. Karena daftar antrian MRI sudah penuh, kami dianjurkan kembali besok pagi. Pukul sebelas kami pulang ke jalan Lengkok Batu Lancang, berjarak sekitar 300 meter dari rumah sakit.  Sebelumnya, kami singgah dulu ke Sun Supermarket,  membeli beras dan air mineral. Bla merengek minta jalan-jalan ke Queensbay – aku pernah bercerita tentang keelokan pemandangan depan mall yang menghadap ke laut. Tapi aku keberatan karena kondisi kakinya yang sakit. Setelah menanak nasi di rice cooker, aku menunggu zuhur setelah itu kami ketiduran sampai petang. Aku terbangun ketika ponsel berbunyi, ayah sudah sampai ke Lengkok Batu Lancang. Di pintu pagar ayah berdiri, disaput langit jingga, matanya begitu lelah namun tetap hangat. Dari pancaran cahaya itu aku tahu, kami akan menghadapi semua ini bersama, dibawah lindungan Allah tentu saja.
***
                Kami sekarang sudah bertiga, terasa lebih ringan. Bila masuk ke ruangan MRI, sekitar dua jam. Aku dan ayahnya menunggu di luar, cemas. Selesai, kami langsung diantar menuju ruangan dokter. Eh…gambar hasil MRI langsung terkoneksi ke ruangan dokter, kami masuk dan dia Nampak sedang mengamati hasil foto yang terpampang di monitor computer. Dokter Tan memberi penjelasan, sederhananya adalah, ada cairan di tulang selangkangan Bila dan harus dibuang. Dokter bilang itu operasi kecil, padahal cuma disedot melalui suntikan. Bila harus tinggal di rumah sakit dan sore ini langsung diambil tindakan.
                Semua serba cepat, kami membayar deposit sebesar 1800 ringgit- biasanya uang ini berlebih dan dikembalikan. Bila langsung masuk ke ruang tindakan, punggung tangannya ditanam jarum suntik, dibungkus kain kasa lembut dengan tebal. Bila tampak nyaman saja, tertawa-tawa ditemani ayahnya yang terus berceloteh lucu- aku tak pernah berani menyaksikan momen ini. Suntikan awal, Bila enjoy saja. Sama dengan suntikan-suntikan keesokan harinya, langsung tiga kali, spuitnya besar-besar, Bila tak mengeluh dan malah bilang “enak, Ma. Dingin..” haaa?? Padahal ketika 12 hari di rumah sakit tanah air dia menjerit melihat jarum suntik. Penyedotan petang itu berjalan lancar, kami menyaksikan cairan bening kuning- seperti minyak goreng- dalam tiga tabung kecil. Dokter Tan menemui kami dan menjelaskan semua sudah berjalan baik dan cairan akan diperiksa lebih lanjut di laboraturium, hasilnya akan dikirin melaui email. Dua  malam di rumah sakit, kami sudah bisa pulang. Dokter bilang “Everything is oke” dan tak perlu control. Bila, masih menuntut jalan-jalan, dasar anak-anak. Tak apa, kami memilih naik rapid ke Komtar, beli coklat di Mydin dan souvenir di Penang Road. Kami ditemani Cik Dah dan Abah- Cik Dah menikah dengan Abah yang berasal dari Perak dan mereka sengaja ke Penang untuk menjenguk Bila.
Sore, kami langsung bergegas ke Bandara. Jadwal pesawat ke KNIA pukul empat sore, sementara ayah berangkat pukul sepuluh malam. Pesawat kami berbeda, ayah mencari tiket yang paling murah- karena sebenarnya tiket pulangnya melalui Kuala Lumpur. Sesuai perjanjian, kami akan menunggu beliau di Bandara Kuala Namu dan pulang ke rumah bersama, naik damri. Kata ayah, tak usah dijemput karena akan merepotkan orang lain. Ayah selalu begitu. Syukurlah, Bandara Kuala Namu nyaman dan menyenangkan, banyak resto yang meyajikan makanan lezat. Menunggu yang biasa membosankan jadi menunggu yang menyenangkan. I love my Town…




Rabu, 11 Juni 2014

EPISODE MENDUNG GADISKU (3)




                Waktu terus berjalan, segenap upaya penyembuhan sudah dilakukan. Selepas berobat ke alternative (sinshe), rasa nyeri di kaki  Bila berkurang.  Kursi roda tidak lagi digunakan, dia juga sudah bisa naik turun tangga walau secara perlahan, Bila juga sudah bisa melaksanakan sholat secara normal. Baik, pengobatan dianggap selesai. Tapi, hatiku menyatakan Bila sebenarnya belum sembuh, kakinya masih pincang., Tidurnya tidak lelap dan selalu gelisah, sekali-sekali ia mengerang. Aku harus terus menjaganya. Syukurlah, dia sekolah dimana tempat aku juga bertugas, sehingga aku masih bisa terus mendampinginya. Kami sudah diskusi, Bila sepertinya harus kembali mengikuti terapi di rumah sakit dimana ia sebelumnya dirawat. Mungkin terapi mampu mengembalikan posisi kakinya yang masih pincang dan dirasanya kaki kiri lebih memanjang dari kaki kanan.
                Suatu malam, Bila sedang belajar di kamarnya untuk persiapan ujian semester. Tiba-tiba kami mendengar ia menjerit menyebut asma Allah, dengan sontak aku dan ayahnya  terlompat menghampirinya. Sama seperti kasus sebelumnya, ia menangis, mengerang sambil memeluk buku pelajaran. Aku pilu, mengelus kakinya yang katanya sakit di pergelangan kaki. Ayahnya menghembus ubun-ubunnya sambil membacakan ayat-ayat dan zikir. Secara perlahan tangisnya reda, pipi putihnya basah, matanya sembab memerah. Secara fisik Bila memang Nampak berubah, kulitnya lebih bersih karena ia tak lagi mengikuti aktifitas di luar. Biasanya, ia aktif di Pramuka sekolah, sanggar tari  dan rajin sekali mengajakku berenang. Dia kini terkungkung karena sakitnya dan selalu bertanya kapan ia akan kembali berkemah?
                Situasi membuat kami harus cepat mengambil keputusan, demi kesehatan Bila. Pengobatan medis sudah, alternative sudah, tapi hasil masih belum memuaskan. Maka, kami mengambil keputusan akan membawa Bila ke Penang. Malam itu  juga kami melacak harga tiket pesawat dengan harga paling murah. Jadwal keberangkatan kami cocokkan dengan jadwal ayahnya yang akan berangkat ke Singapura -Kuala Lumpur dalam rangka studi banding. Rencanaya, tanggal 24 nanti kami akan bertemu di Penang. Semua sudah dirinci dengan teliti, kami harus berangkat dengan pesawat pertama dan langsung ke rumah sakit. Dengan begitu, jauh lebih efektif dan “hemat”.
***
                Apakah kami berhenti berobat sementara menunggu keberangkatan? No! kali ini ada yang mengusulkan agar Bila berobat ke “orangtua”. Kami bertanya, apakah “orangtua” itu pakai bunga dan jampi-jampi? Ternyata tidak. “orangtua” ini menggunakan metode sholat dan  zikir. Maka, kembali kami bawa Bila kesana. Karena jam terbang si “orangtua” yang tinggi, pertama kali datang tidak bertemu dan harus membuat janji untuk pertemuan berikutnya. Beliau menggunakan metode zikir, Bila terus disuruh berzikir dan membaca beberapa surah pendek. Kami orangtua diminta untuk membantu. Terjadi beberapa gerakan ghaib. Ditanya hasilnya kepada Bila, katanya kakinya lebih ringan, langkahnya semakin panjang dan ia merasa nyaman. Malamnya ia tidur sangat nyenyak, tidak lagi gelisah. Untuk ini, Bila harus mengikuti tiga kali pertemuan, setiap dua hari sekali. Tapi, kakinya masih saja pincang.
                Apalagi yang bisa aku lakukan sementara menunggu keberangkatan? Browsing! Sebelumnya, aku sudah capek browsing tentang penyakit ini. Tapi entah mengapa tiba-tiba aku mengetik sesukanya saja di search “PENYAKIT YANG MENYEBABKAN PANGGUL MIRING” – karena aku tiba-tiba ingat hasil foto tulang Bila yang menggambarkan tulang belakangnya sedikit bengkok dan panggulnya miring hingga kakinya panjang sebelah. Hasil searching memuaskan dan terus mengantarku pada satu nama penyakit SKOLIOSIS. Skoliosis merupakan kelainan pada tulang belakang yang membuat postur tubuh seseorang menjadi tidak tegap. Normalnya, tulang punggung itu lurus. Tetapi pada penderita skoliosis, tulang punggungnya jadi melengkung, menyerupai huruf S atau huruf C. Penyebab skoliosis belum diketahui secara pasti. Ada yang karena keseringan bawa barang berat, ada yang karena keseringan duduk miring-miring, dan katanya ada yang karena keturunan atau disebabkan kejang otot. Semua semakin jelas. Bukankah Bila sebelumnya olahraga di sekolah? Prediksi pertama ia mengalami kejang otot. Bukankah bisa saja Skoliosis itu berawal dari kejang otot tersebut? Berarti masalah Bila bukan di syaraf, melainkan tulang. Metode penyembuhan bisa dilakukan dengan operasi untuk kasus kemiringan yang berat dan terapi untuk kasus kemiringan yang ringan dan sedang- semoga Bila masuk kasus ringan, ya?
                Semua terasa semakin jelas, tapi yang menjadi pertanyaan adalah “MENGAPA DOKTER TIDAK MENDIAGNOSA JIKA BILA MENGALAMI SKOLIOSIS?” Bukankah Bila juga ditangani oleh dokter orthopedic? Entahlah, dokter is a human, right? Dan itu menuntut kita untuk lebih cerdas.

Kamis, 29 Mei 2014

EPISODE MENDUNG GADISKU (2)




            Memang, hari-hari yang kulalui berikutnya begitu panjang. Air mata terus mengalir, kusembunyikan dari gadis kecilku agar hatinya tak resah. Banyangan kecacatan fisiknya menghantui segenap pikiranku. Aku siap atas segala kemungkinan, tapi tentu saja setelah segala upaya dilakukan. 1 Mei libur may day, aku ingin segera membawanya ke Rumah sakit, tapi urung karena ia menangis menolak “Bila enggak mau diinfus” keluhnya lemah. Jadilah hari itu kami hanya di kamar bersamanya, menyaksikan air matanya yang mengalir ketika sakit di pahanya datang, menyayat hati yang semakin perih. Ayah berkali-kali mengelus pahanya, menghapus airmatanya dan terus mensupport bahwa Bila pasti akan sembuh.
            Jum’at pagi, 2 Mei kami membawa Bila ke salah satu Rumah Sakit Swasta atas hasil diskusi keluarga dan adik yang mengerti urusan medis. Di Rumah Sakit Bila langsung ditangani Direktur, langsung diambil foto pelviksnya dan segalanya serba cepat dan dipermudah. Hasil foto awal, tulang panggul Bila miring sehingga kakinya berkesan panjang sebelah. Tapi tidak ada masalah tulang sama sekali, dokter curiga pada otot. Kami sudah minta foto MRI, tapi tim dokter minta ditunda dulu karena itu dianggap belum perlu. Beberapa kali Bila menjalani pemeriksaan darah, semua hasilnya bagus. Dokter bergerak pada kecurigaan yang lain, TBC tulang, tapi hasil mantuk juga negative. Kemudian, diagnose yang lain transient synovitys. Dokter tim yang menangani Bila terus berdiskusi, dokter tulang, dokter syaraf (2 orang), dokter fisioterapi dan dokter anak.
            Sementara itu, Bila terus menangis menahan sakit di pahanya. Dia tertidur pulas namun tiba-tiba berteriak “Allahu akbar! Sakit Ma! Sakit Mama!” aku tak pernah bisa tidur nyenyak, ditambah lagi aku harus menjalankan tugas dalam pelaksanaan UN siswaku. Ayahnya juga harus berangkat menjalankan tugas ke Bandung selama tiga hari sementara beberapa perjalanan sudah dibatalkan. Atas anjuran dokter Bila menjalani terapi otot, Bila disorong dengan tempat tidur dari lantai tiga ke lantai satu, aku dan ayahnya mendampingi.  Segala macam alat ditempelkan ke pahanya, menimbulkan reaksi panas. Tiga kali terapi tak ada reaksi malah semakin sakit. Terapi keempat Bila menangis menyerah, dan adikku- karena aku tugas, Bila dijaga Cicik (om) nya- harus menanda tangani surat pernyataan menolak terapi. Hasil diagnose akhir, di paha Bila ada syaraf yang “nyelip”.
            Hari kesembilan di Rumah sakit, keluarga kembali diskusi langkah apa yang harus dilakukan untuk kesembuhan Bila. Bila masih melakukan BAK dengan pispot karena kaki kirinya tak bisa berfungsi dengan baik karena setiap bergerak timbul rasa sakit yang luar biasa. Ayahnya cenderung ingin membawa Bila ke Penang, maka segera diurus passport secara online agar prosesnya cepat dan jadwal foto yang bisa disesuaikan. Tapi sementara menunggu proses selesai, adikku menganjurkan agar Bila berobat alternative saja dulu. Maka kami memanggil seorang ahli pengobatan alternative ke rumah sakit untuk melihat kondisi Bila. Dan memang ia menganjurkan sebaiknya Bila dibawa pulang dan menjalani pengobatan alternative saja.
            Maka, hari ke sepuluh kami memutuskan keluar dari rumah  sakit setelah minta izin dengan tim dokter secara baik-baik. Kami mengucapkan banyak terimakasih atas segala pelayanan yang baik, perhatian dan segala dukungannya. Kami mengatakan bahwa Bila akan kami bawa ke Penang dan tim dokter setuju “Ya, semoga di sana nanti semua tuntas” ujar salah satu dokter. Hari itu juga, Bila kami bawa ke pinggiran kota Medan untuk menjalani pengobatan. Dan…hari-hari berikutnya masih terasa amat panjang, sepanjang jalan yang penuh harapan…

Kamis, 15 Mei 2014

EPISODE MENDUNG GADISKU (1)




                Minggu yang cerah, Family day is coming…seperti biasa, kami bersih-bersih rumah, masak bersama anak-anak dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Tapi, minggu ini banyak sekali undangan walimah. Jika sudah begitu, berarti waktu banyak habis di luar. Baiklah, silaturrahmi harus tetap jalan namun kebersamaan dengan anak-anak juga tak boleh hilang, maka mereka semua diajak menghadiri undangan. Tapi, si sulung- Kak Za punya alasan untuk tidak ikut, begitu pula dengan dua keponakanku Iyan dan Uni. Karena mereka juga harus menyelesaikan tugas sekolah dan kuliah yang cukup banyak, maka ikutlah Syifa, Bila dan Wafi.
                Hmm…seperti kebiasaan Bila, si nomor tiga. Jika bepergian, ia tak pernah bisa memilih pakaiannya sendiri, aku harus selalu turun tangan, padahal baju tinggal ambil di lemari.
“Mama…Bila pake baju apa?” wajahnya menyembul dari pintu kamarku, wajah putih yang mungil. Ia baru sembuh dari sakit demam dan sempat dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Tapi hari ini wajahnya sudah segar, ia juga sudah lincah bergerak, wajahnya cerah. Menurut dokter, Bila demam biasa – karena hasil tes darah semua menunjukkan hasil yang baik.
“Bila cari sendiri aja, ya? Yang penting cocok buat dipake untuk pesta,” aku mencoba mengajarkannya mandiri dan pede dengan pilihannya sendiri. Tapi, gadis kecilku menekuk wajahnya.
“Mama aja yang pilihin, Bila enggak tau…” wadduh..suara halusnya membuatku takluk. Maka, aku langsung turun tangan memilih gaun untuknya. Karena ia sudah beranjak remaja, banyak pakaiannya yang sudah tidak muat dipakai. Aku memilih sebuah gaun dari tumpukan daganganku, gamis hitam sifon dengan taburan payet di dada. Untuk jilbab, aku memilih jilbab paris merah polos yang aku ikat membentuk turban. Gadis kecilku tampil cantik, ia memang sedang beranjak remaja. Kakak-kakaknya terpesona, kaget melihat adiknya yang sudah beranjak remaja. Uni –kakak sepupunya malah bekerjab-kerjab lucu.
Perjalanan menghadiri walimah yang menyenangkan. Silaturrahmi berjalan dengan lancar. Menghadiri pernikahan Diana Zahar dan  Aida, dua sahabat baikku. Karena jarak lokasi yang berjauhan, kami sampai di rumah sudah menjelang magrib. Dan malamnya kami sudah sibuk dengan persiapan esok, menyiapkan segala keperluan tugas dan sekolah mereka. Esok, yang tak pernah aku lupakan seumur hidup, senin yang suram L
***
Senin malam, Bila mengeluh kakinya sakit sehabis olahraga di sekolah. Kami menanggapinya dengan santai, kakaknya tertawa. “Itu sakit biasa, toh Bila udah lama enggak olahraga, “ kata Kak Liza santai. “Adduuh…Bila lebay, sakit dikit nangis, nanti juga sembuh. Itu sakit biasa, namanya juga Olahraga,” kata Kak Syifa. “Enggak apa-apa, Kak. Lawan aja sakitnya..” kata Wafi. “Iya Bila, itu sakitnya enggak apa-apa, kok” kata Kak Uni. Tapi, wajah Bila meringis menahan sakit. Esoknya, ia kembali sekolah seperti biasa. Pertengahan jam belajar, ia menemuiku di kantor dengan wajah pucat.
“Mama…Bila enggak tahan, kaki Bila sakit,”
“Oke, istirahat aja ya? Nanti kalo enggak sakit lagi, Bila masuk,” Bila kuantar ke ruang UKS untuk beristirahat. Malamnya Bila demam, suhu tubuhnya meninggi dan aku memberinya obat penurun panas. Paginya, Kak Liza mengantarnya ke tukang kusuk langganan, mungkin Bila keseleo pada waktu Olahraga. Tapi malamnya dia kembali mengerang kesakitan. Kata Mami, mungkin dia terkena “bahal”, ada gumpalan kecil di balik kulit selangkangannya. Maka, aku pun membuat ramuan untuk ditapalkan di tempat yang sakit. Tapi semua tidak bereaksi, dan gadisku masih terus menangis menahan sakit yang menyelimuti selangkangan dan pahanya. Malam rabu, Ayah mengajak makan di luar karena Ayah lulus sidang tesisnya. Bila tetap tidak dapat menikmati, aku memapahnya yang berjalan pincang, entah mengapa, kaki kirinya berat sekali.
Rabu sore (30 April 2014), sepulang kerja, aku menghampiri gadisku yang berbaring di kamar. Rencananya, malam ini keluarga besar akan berkumpul dan makan malam di luar. Besoknya, 1 Mei Kak Liza berulang tahun, Ayah lulus S2 dan Bunda (adikku) juga lulus seleksi S2 di PTN bergengsi. Semua sudah direncanakan dengan matang. Pikirku, kondisi Bila tentu bukan masalah yang serius dan bukan pula penghalang kami untuk bersenang-senang. Dia juga dapat menikmati kebersamaan dalam keluarga dan agar lebih bersemangat. Aku juga mempersiapkannya untuk bersih-bersih di kamar mandi.
“Sayang, coba jalannya biasa aja. Kalo kakak pincangin, takutnya pincang beneran lho..” aku masih mensugestinya.
“Enggak bisa, Mamaaa…” mata gadisku memerah.
“Bisa, sayaaang..tahan aja sakitnya, jangan diikutin cara jalan yang salah..” aku sedikit memaksa.
“Enggak bisa, Mamaaaaaa… kaki Bila panjang sebelah!” mata itu mulai basah, gadisku menangis keras. Aku serasa disambar petir, jantungku mulai bekerja lebih cepat, aku menahan diri, mencoba menahan diri.
“Coba Bila tegak…” kuperhatikan kedua kaki anakku, yang satu jinjit dan satu lagi menyentuh lantai.
“Coba Bila tidur,” jantungku semakin cepat. Bila berbaring, kuluruskan kedua kakinya. Kulihat tumitnya, yang kiri lebih panjang, tungkainya juga. Cepat-cepat aku meraih handphone dan berlari turun meninggalkan kamar. Tangisku pecah, jantungku berpacu dengan sangat cepat, aku kalap. Ketelepon ayahnya yang sedang menjemput Wafi les sempoa. Kak Liza menenangkanku, ia memang sudah semakin dewasa.
“Mama jangan nangis, nanti dilihat sama Bila dia juga jadi stress. Bila enggak apa-apa kok, itu perasaan Mama aja,” si sulung memelukku, menepuk-nepuk bahuku menenangkan.
“Tapi, Mama lihat kakinya panjang sebelah Kaaak…” Tangisku semakin keras.
Dan…setelah ini, hari-hari semakin panjang. Berjuang dengan airmata dan do’a, demi gadisku yang beranjak remaja. Gadisku yang halus budi bahasanya, selalu memeluk dan menciumku tanpa bosan dan risih meski aku sedang berkeringat. Gadisku yang selalu berterimakasih meski aku hanya memberinya sebuah permen.