Sabtu, 19 April 2014

GADIS BERSARUNG




            Pagi masih berselimut kabut. Daun-daun mangga dan anggrek masih basah berembun. Udara pagi menggigit dingin.  Aku masih tepekur di sudut  halaman rumah, jongkok di bawah pohon jambu, merapatkan jaket. Kuperhatikan rumah di sebelah utara, rumah bercat hijau lumut bersih. Halaman yang banyak ditumbuhi bunga-bunga, berpagar tanaman alam nan asri. Rumah itu, rumah yang menarik perhatianku selama seminggu ini. Rumah yang selama ini sama saja dengan rumah yang ada di komplek tempat aku tinggal. Rumah itu kini sangat  berbeda, atau tepatnya penghuni yang sangat berbeda.
            Yang kutunggu akhirnya muncul juga, pemandangan unik yang selalu aku tunggu seminggu ini, setiap pagi. Seorang gadis sibuk menyiram bunga dengan selang air. Tidak berapa lama kemudian muncul gadis lainnya dengan sapu lidi, menyapu daun-daun melati yang gugur di atas rumput jepang yang rapat seperti beledru. Selang beberapa menit berikutnya muncul lagi seorang gadis; perkiraanku masih duduk di bangku SMP. Suara canda mereka benar-benar mampu memecah  pagi yang hening. Sesekali terdengar suara ibunya agar mereka jangan terlalu membuat keributan, tak enak pada tetangga. Tapi, entahlah aku suka melihat mereka, kompak, lucu dan penampilan yang tak biasa. Pemandangan aneh yang selalu kulihat seminggu pagi ini adalah tak lain dan tak bukan, ketiga gadis cantik itu memakai kain sarung. Kain yang biasa aku gunakan untuk solat berjama’ah di masjid komplek. Mengapa hari gini masih ada gadis kota bersarung?
            “Ferza!” aku terkejut mendengar suara mama yang agaknya sibuk mencariku yang sudah menghilang dari kamar. Belum sempat aku menjawab, mama sudah ada di sampingku, berkacak pinggang dan melotot!
            “Ya, Allah! Ngapain kamu di sini? Enggak sekolah?” belum aku menjawab, pandangan mama sudah menuju ke arah halaman rumah gadis itu.
            “Merhatiin anak Tante Husna?” syukur, mama tak marah. Mama tersenyum kecil, bibirnya dimonyongkan beberapa senti.
            Hehehe, naksir yang mana nih?” mama menggoda, pipiku terasa panas, mungkin memerah.
            “Enggak ah, Ma! Ferza siap-siap, ya!” aku berlari masuk rumah, mama menyusul sambil tertawa.
            “Yang mana, nih! Biar mama comblangin!” ya Allah, nih mama buat malu aja, rutukku dalam hati. Aku kelas tiga SMA, tapi sangat pemalu, apalagi sama perempuan, hii...aku takut!
Aku masuk kamar mandi dengan perasaan tak menentu, aku tidak menyukai mereka seperti yang dikatakan mama, tapi mereka itu sangat unik. Mereka, tiga orang gadis bersarung.
            Aku masih memanaskan motorku, pemandangan rutin itu muncul lagi dari depan pintu pagar. Tiga gadis bersarung berubah total menjadi tiga gadis yang sangat cantik dan modis. Seorang diantara mereka; mungkin si sulung mahasiswa karena berpakaian bebas, menyetir mobil jazz silver. Dua adiknya berseragam SMA dan SMP ikut bersamanya. Sebelum berangkat, kehebohan kembali terjadi. Mereka akan berebut menyalami ibunya dan mencium bergantian, memeluk beramai-ramai. Mereka akan tertawa bersama-sama, melambai ke arah ibunya sampai mobil bergerak tak kurang dari seratus meter. Aku, sangat menyukai pemandangan ini. Ah! Aku tak punya saudara perempuan.
            ***
            Sudah hampir satu bulan lamanya aku menjalani rutinitas jongkok di bawah pohon jambu memerhatikan tiga gadis cantik yang unik. Mama semakin heran dan mulai mengajakku bertandang ke rumah Tante Husna, terang saja aku menolak. Mengapa harus bertandang tanpa sebab? Ihh...kan malu.
            “Ferza, penyakitmu itu sudah akut. Kalo masih gitu juga nanti Mama bawa ke psikolog!” wadduh, mama mulai mengancam.
            “Aku enggak stres kok, Ma. Enggak juga depresi apalagi gila.”  Aku nyengir kambing sambil menggigit roti.
            “Trus, ngapain juga kamu nongkrong tiap pagi di bawah pohon jambu merhatiin mereka? Kamu aneh, tau!” mama mulai sengit.
            “Mereka itu unik, Ma. Mana ada gadis hari gini bersarung? Trus mereka sangat kompak, bahagia, sayang sama ibunya tuh, sweeeett banget,” aku mulai alay.
            “Trus? Kamu enggak bahagia, gitu?”
            “Aduuh...Mama princess yang cantik, aku bahagia Mama sayang. Tapi aku kesepian seorang diri, enggak punya saudara perempuan. Mas Tegar malah kuliahnya jauh banget, aku kan sedih..hiks,” aku bertambah lebay. Tapi, warna wajah mama berubah suram dan aku mulai menyesal.
            “Tapi masih untung kok aku punya mama princess, hehehe,” aku semakin alay. Tapi mungkin itulah cara membuat mama bahagia. Mama menjitak jidatku sayang, sambil tertawa memamerkan sudut gigi serinya yang sompel, tapi suer! Mama masih sangat cantik.
            “Kamu antar ini ke rumah Tante Husna, ya?” mama menyerahkan sekotak brownis kukus yang masih hangat dan harum. Aku serasa tak berjejak ke tanah, papa yang asyik membaca koran nyengir, ah!
            “Wadduh, Mama! Ini namanya pemerkosaan hak asasi,” aku mulai asal nyablak, mama melotot.
            “Kamu kalo ngomong enggak pake kamus ya, Za?” papa mulai ikut campur.
            “Aduuh, Pa! Yang lain aja deh, disuruh cuci mobil, cuci WC, nyiram bunga, Ferza enggak nolak kok,” senyum papa semakin lebar.
            “Ayolah...nanti brownisnya dingin, enggak enak lagi. Demi mama princess ya? Pliisss..” mama mulai memelas, alaaahhh...ini ilmu mama yang paling mujarab dan membuat aku selalu mengiyakannya. Berat hati aku menerima kotak itu dan harus mengantarnya ke rumah depan. Apakah gadis bersarung ada di rumah?
            Rumah itu sepi, tak ada tanda ada orang di rumah, padahal ini hari minggu. Aku mulai ragu melangkah, tapi aku harus menyampaikan amanah mama, sekotak brownis hangat. Perlahan, kutekan bel, terdengar suara denting beberapa kali. Huff...ada suara langkah menuju pintu.
            “Assalamu’alaikum...”
            “Wa’alaikum salaaamm....” suara dari dalam, tepat di balik pintu.
            “Lho? Ah...Tante kira tamu jauh, rupanya kamu. Ada apa, nih?” aku tersenyum dan menarik nafas lega. Bersyukur karena Tante Husna yang membukakan pintu.
            “Ini, Tante. Titipan Mama, masih hangat, fresh from the oven, Hehehe..” kucoba bercanda walau terdengar garing. Itu kan brownis kukus, kenapa pula kukatakan dari oven?
            “Adduuhh...makasih banyak. Oya, kamu tunggu bentar, ya? Tante juga buat sup buah, lebih enak dari yang dijual di cafe, ntar ya?” aku belum menjawab, Tante Husna sudah menghilang ke ruang belakang. Aku duduk di teras sambil menunggu. Aku lega tidak berhadapan dengan ketiga gadis bersarung itu. Namun...sesungguhnya hatiku bertanya-tanya penasaran, kemana mereka? Ma’af, aku sedikit tidak berlaku sopan, karena apa? Karena aku mengintip ruang tamu, taman samping, garasi sampai beberapa kali.
***
            Pagi yang hujan, dingin menggigit tulang. Waktu yang paling nyaman meringkuk di balik selimut, memeluk guling. Tapi ini adalah hari yang penting buatku, aku harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ada pertandingan seleksi daerah untuk pertandingan nasional karate di Bali nanti. Bali? Ah...siapa yang tidak ingin ke sana? Gratis pula. Hmmm..itu adalah target, aku harus lulus seleksi daerah, menuju Bali dan aku harus pulang membawa medali emas untuk daerah tercinta.
            Ready to be a winner?”        papa  menyambutku di meja makan, masih berkain sarung, tersenyum.
            “Ya, do’akan ya, Pa?” aku meneguk segelas jus yang dicampur madu, buatan mama.
            “Persiapan kamu, gimana?”
            “Insya Allah, semaksimal mungkin, Pa
            “Peta kekuatan lawan?” papa menatapku serius, aku menarik nafas panjang.
            “Lawan harus  dibayangkan selalu lebih hebat, lebih kuat dan lebih segalanya,”
            “Bagus, artinya..kamu tidak boleh menyepelekan lawan,” papa tersenyum, mengucek-ngucek rambutku.
            Pagi masih hujan, tak ada matahari dan aku tak pula jongkok di bawah pohon jambu untuk memerhatikan tiga gadis bersarung. Aku benar-benar fokus pada pertandingan pagi ini. Karena cuaca yang buruk, aku diantar papa ke gelanggang tempat biasa aku latihan karate. Tempat itu pula yang digunakan hari ini untuk pertandingan seleksi. Baju karate putih dan sabuk hitamku sudah di dalam tas sejak malam tadi. Karena diantar papa, aku memutuskan memakai baju kebanggaanku itu dari rumah.
            Gelanggang sudah ramai, banyak orang yang tidak aku kenal. Aku segera menjumpai pelatih dan teman-teman satu tim. Simpai Ayi menyambutku setelah aku memberi hormat dengan mengucapkan “osh”.
            “Kamu, Ferza...masuk di pertandingan kedua. Lawan pertamamu Yudha, kamu ingat Yudha? Anggota Dojo Mifta? Ingat kan?” Simpay Ayi berkata tegas dengan matanya yang tajam.
            Osh!..ingat Simpai,” kujawab tak kalah tegas, Simpay Ayi mengangguk. Yudha itu atlit yang tangguh, aku pernah kalah dengannya pada pertandingan yang lalu, tapi apakah aku harus takut? No! Pantang takut dan pantang menyerah, tapi harus tetap rendah hati, itu adalah janji karate.
Its show time, pertandingan demi pertandingan berlalu hingga giliranku tiba. Yudha berperawakan tidak terlalu tinggi, tapi ia nampak kekar dan tangguh. Kulit wajahnya  bening, pandangannya tajam, wajahnya tegang tanpa ekspresi. Setelah membungkuk hormat, Yudha menyerang duluan. Aku menerima tendangan dan membalas dengan pukulan. Mempelajari gerakan Yudha, aku memutuskan menggunakan Goju-ryu. Paduan gerakan yang kurasa sangat efektif dengan pernapasan yang kuat. Pertandingan demi pertandingan aku menangkan, tiket ke Bali sudah di tangan. Tapi, perasaanku tak enak. Salah satu gadis bersarung itu ada di barisan atlit putri, ah.. ketika aku dipanggil ke panggung menerima medali dia juga dipanggil untuk kategori putri, medali emas.
             “Kamu atlit karate juga, ya?” gadis bersarung itu menghampiriku, setelah turun dari tribun dan mengulurkan tangannya. Aku sambut, sedikit gemetar. Aku kan sudah katakan, aku takut sama perempuan, entah mengapa, super lebay.. aku mengangguk dan tiba-tiba berani menjawab.
            “Ya…gitu deh. Aku malah enggak nyangka, kamu juga atlit karate,”
            “Kenapa? Karena aku suka memakai sarung? Hahahaha…” tawanya lepas, gigi putihnya Nampak rapi berderet-deret. Aku menelan ludah, cemas.
            “Kamu kan suka mengamati kami setiap pagi, unik kan?” senyum itu menggoda, dia seusiaku dan berani sekali. Wajahku memanas dan tak bisa menjawab, kakiku mendadak gemetar. Aku ingin lari saja, malu tak kepalang tanggung. Gila!
            See you tomorrow morning, bye….” Ia berlalu sambil tersenyum lagi, kakiku masih   terpacak di ubin dingin. Tomorrow morning? Keningku mengkerut.
            “Jangan di bawah pohon jambu, banyak nyamuk! Kamu bantuin kita aja nyiram bunga!” senyum itu semakin lebar. Aku merasa dunia runtuh, alamaaaakkk…malunya! Satu rombongan pula nanti berangkat ke Bali. Aiiihh… ada koper? Ada koper? Buat nyimpan mukaku? Hiks


Rabu, 09 April 2014

PEMILU, SUDAH CERDAS KAH KITA?




                Pemilu 2014 baru saja tadi digelar. Entah mengapa, aku merasa gaungnya tak semegah dulu. Gaungnya kini tidak lagi merdu, ibarat sebuah pesta, ini pesta kecil-kecilan saja, dengan 500 undangan yang dicetak ala kadar dan makanan hanya ada 4 macam. Pesta cepat selesai, kursi cepat disusun, tikar cepat digulung dan lampu cepat dimatikan. Apakah itu hanya perasaanku saja? Atau kamu juga merasakan hal yang sama? Entahlah. Aku merasa, rakyat sudah lelah dengan polah tingkah wakilnya yang duduk di kursi dewan kehormatan. Kursi empuk kulit coklat dengan sandaran tinggi. Kursi yang membuat para wakil rakyat mengantuk dan tertidur ketika rapat paripurna berlangsung. Sebegitu megah dan mewah kursi yang ingin diduduki sehingga berbagai cara dilakukan, agar ‘ma’af’ bokong dapat dicecahkan.
                Kelelahan melihat polah tingkah wakil rakyat membuat masyarakat apatis. Siapa lagi yang dipercaya? Yang maling dan yang alim saja sudah sama, siapa lagi yang amanah? Atau sebegitu parahkah lingkungan dewan yang mampu menutup mata orang baik-baik menjadi orang bauk-bauk? Hiks….
Ada beberapa kasus yang saya saksikan secara pribadi, sangat menyimpang dari amanat rakyat. Saudara dari keluarga kami, dari salah satu partai yang duduk di dewan kehormatan. Semula, ia adalah seorang yang ‘lurus’, santun, jujur dan ramah tamah. Tapi tiba-tiba ia mampu mengguncang dunia, ketika dimobilnya didapati narkoba dan seorang wanita yang bukan istrinya. Dunia runtuh! Kehormatan keluarga tercoreng, kehormatan partai dilindas, kehormatan dewan dibabat habis! Keluarga mencecar pertanyaan- siapa tahu ini adalah jebakan yang bermuatan politis. Tapi ia menjawab dengan berurai air mata “ma’afkan saya, saya khilaf”, astaghfirullah
                Hari ini, setelah mencoblos saya tanpa sengaja mendengar dialog dua orang di warung bakso. Dialog yang membuat hati saya ngilu dan pilu, lutut saya lemas membayangkan betapa sedihnya para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan. Ada hubungannya kan?
A: “Kamu tadi milih yang mana?”
B: “Yang ngasinya gede lah (menyeringai empat senti, dua giginya mencuat keluar) Kalau kamu?”
A: “Sebenarnya aku mau pilih si D, tapi dia pelit kali, enggak kasi apa-apa, jadi aku milih si E, lumayanlah  dia ngasi 20 ribu”.    Nah? Lho? Haaaa?...huuuaaa….siapa yang salah, hayyo!
Ironi, bukan? Kemudian meluncurlah dari mulut mereka debat politik kelas bawah. Intinya, “toh nanti jika ia terpilih ia enggak akan ingat kita. Jadi, mending ambil hasilnya sekarang walau sedikit”.
                Kawan, apakah kita harus apatis? Jangan! Apakah kita harus golput? Jangan! Jika kita apatis dan memilih golput, bagaimana nasib bangsa ini? Bagaimana dengan generasi kita yang akan mendiami dan tinggal di negeri ini? Dan..kita juga jangan asal memilih, siapa yang ngasi sesuatu dia yang akan anda pilih. Ingat! Ketika ia sudah memberi berarti ia juga harus segera mengganti dana yang sudah ia keluarkan sebagai dana taktisnya untuk mendapat kursi. Naaahh.. itulah salah satu factor penyebab munculnya koruptor di negeri kita, paham? Lho? Jika dia sudah mengeluarkan dana banyak buat “nyogok”, maka ia harus segera mencari gantinya untuk menutupi dana tadi. Maka, muncullah mark up, proyek abu-abu, komisi, penyusunan RAB yang tidak logis, dll, dll. Jadi... jika anda memilih caleg yang memberi anda uang atau benda, artinya anda sudah membuka peluang korupsi di negeri ini, gitu loohh… serem kan? Money politic = Koruptor. Ayo! Cepat istighfar… hehehe
                Baiklah, kawan. Mari  kita berdo’a, siapapun yang akan menduduki gedung agung Dewan Perwakilan Rakyat, semoga bangsa ini menjadi lebih baik. Kesenjangan menurun, kemakmuran rakyat tercapai. Semoga anak-anak bangsa mendapat pendidikan yang baik, kesehatan yang baik dan pembentukan karakter  yang baik. Semoga Indonesia semakin jaya, disegani dunia Internasional. Semoga pemimpin kita konsisten, tegas dan tak ada yang mampu mengobok-obok Indonesia tercinta, merdeka! Salam, tetap semangat ya? Saya mengutip perkataan Ali Bin Abi Thalib RA: “Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena DIAMNYA ORANG BAIK”. Bagaimana pendapat anda? Setujukah?

Rabu, 19 Februari 2014

MA’AF, DULU DIA ADALAH ANAK PENGEMIS…(KISAH INSPIRATIF)




            Situasi Mami mempertemukanku kembali dengannya. Dengan lelaki bertubuh kecil, mata cerah dan kumis melintang tegas. Suaranya masih seperti dulu, hangat, ramah dan amat sangat rendah hati. Melihatnya kini, siapa sangka dengan perjalanan hidup lelaki yang tunggang langgang, lintang pukang dibelit masalah dan kemiskinan? Siapa sangka mata hangat membara itu dulu pernah basah dan banjir dihempas kesulitan yang membuatnya tercekik, nyaris mati? Dulu, aku adalah saksi, saksi yang masih hidup tentang perjalanan hidupnya. Walau, aku memandang dari sudut diriku, yang kala itu masih duduk di bangku SMP.
            Baiklah, sebelum membicarakan topic utama. Aku akan menceritakan terlebih dahulu tentang sakit Mami (aku dan adik-adik biasa memanggil ibu dengan Mamak, tapi karena anak-anak kami memanggil neneknya Mami, maka kami juga sudah latah memanggil begitu, Mami). Akhir Desember 2013, Mami jatuh di depan kamar mandi ketika selesai berwudhuk. Jatuh yang mengesalkan karena sebab kasut tipis yang tapaknya licin bila tersiram air. Jatuh yang fatal, Mami terduduk dan terhempas, Mami menjerit di subuh buta, Paknek (bapak) membatalkan sholatnya di raka’at kedua. Dua orangtua yang malang, karena kami semua sudah tinggal dengan keluarga masing-masing, kecuali adik bungsu yang belum berumah tangga, laki-laki.
            Aku mendapat telepon tentang keadaan Mami menjelang siang, tak terbayangkan kondisi orang yang amat kucintai itu. Hatiku berdebar tak menentu, semoga saja tensi Mami tidak dalam keadaan tinggi, semoga stroke tidak menghampiri, semoga…ah! Syukurlah, jarak rumahku dan rumah adik tidak jauh, kami cepat berkumpul di rumah kami dulu, rumah mami dan paknek. Dan, pada saat itu sedang libur semester ganjil. Adikku,  Fitriah Ramli yang juga seorang guru sedang bebas tugas alias ikut libur. Sementara aku meski siswa libur tetap harus ngantor, tapi dengan waktu yang longgar tentu saja.
            Mami tergeletak di tempat tidur, tapi kondisinya cukup sehat, syukurlah bukan karena tensi yang tinggi.  Kami membawanya dengan ambulan untuk menjalani ronsen, mami benar-benar tidak bisa bangun, menjerit-jerit ketika merasa pinggangnya tersentuh. Benar saja, hasil ronsen menunjukkan tulang belakang mami retak dan nyungsep. Kami cepat mengambil keputusan memanggil ahli ke rumah, biaya? Bukan masalah, adikku Irwan Ramli yang tinggal di Air Molek, Riau sudah mentransfer dana yang cukup. Untuk orangtua, siapa yang berhitung? Berapa dana, tenaga, waktu yang mereka korbankan untuk kami sehingga jadi orang? Kami bergotong royong, selalu begitu, Alhamdulillah.
            Dengan ahli yang tepat, mami banyak mengalami kemajuan. Perlahan mami bisa balik tubuh sendiri, mulai belajar duduk. Sudah sebulan, aku dan adikku merawat mami bergantian, mengganti diapersnya, melap tubuhnya, menemaninya ngobrol. Setiap pulang kerja, kami langsung menuju rumah mami (syukurlah, suami kami sangat pengertian), pulang ke rumah masing-masing pukul sepuluh malam. Si bungsu Mukhlis bisa keluar sebentar melepas penat merawat mami jika kami datang, si bungsu 29 tahun yang masih melajang.
            Rutin ke rumah mami untuk merawatnya itulah yang mempertemukan aku kembali dengan lelaki itu, lelaki yang biasa aku panggil Bang Su. Ternyata, Bang Su sering bersilaturrahmi ke rumah mami jika dia pulang kampung. Malam itu pula segala tentangnya berputar kembali seperti sebuah kaset film. Betapa bahagia menyaksikan dia sekarang menjadi sukses, menjadi pejabat daerah. Dia kini punya dua mobil bagus, punya rumah bagus yang berdiri diatas tanah 1500 meter persegi. Punya empat anak yang sukses, berprestasi dan istri yang tetap cantik dan berkarier bagus pula. Dulu, Bang Su menyelesaikan kuliahnya dengan amat sangat prihatin. Kerja serabutan, dan menemani ibunya mengemis! Karena ibunya buta dan ia seorang yatim. Ah, benar-benar dia sudah menyimpan malu, membenamnya dalam-dalam demi sebuah cita-cita. Berjuang, jumpalitan, makan ala kadar, pinjam buku sana-sini, baju itu-itu saja. Dan, ia berhasil meraih gelas Insinyur.
Dulu, ia juga ditolak keluarga kekasihnya karena malu, dianggap tidak pantas mendampingi anak mereka yang bermartabat. Dan kini, harkat dan martabat keluarganya telah  terangkat. Harkat dan martabat yang dulu sangat diagungkan orangtua kekasihnya. Tapi Allah telah menggantinya dengan perempuan yang kini menjadi istrinya. Perempuan yang menerima dirinya apa adanya, tak mempersoalkan harkat dan martabat. Karena dalam pandangan perempuan itu ia adalah sosok lelaki pejuang yang saleh. Yang mampu menaklukkan kemiskinan, merubah takdirnya sendiri. Dia memang telah membuktikannya. Lantas apakah dia berubah? Sepertinya tidak. Malam itu aku masih melihat Bang Su yang dulu. Sederhana, rendah hati, hangat dan…kocak. Aku yakin, banyak lelaki di belahan lain sama kokohnya dengan Bang Su. Pejuang kehidupan, pantang menyerah! Semangat!
*Ma’af ya? Tentang perjalanan hidup Bang Su tidak  begitu saya ekspos. Sekadar dia adalah pejuang hidup yang sukses. Makasiiiiih…       

Rabu, 20 November 2013

CERPEN "DARAH CUT NYAK DHIEN"




            “Aku adalah perempuan biasa, cinta keluarga, saudara dan cinta damai. Aku bekerja dengan ikhlas dan cinta. Aku sama sekali tidak pernah berpikir dengan intrik atau jilat menjilat.” Perempuan itu menarik nafas panjang, matanya menggenang dan sejurus kemudian menganak sungai. Aku menatapnya prihatin dengan pandangan lurus, sejenak ia melanjutkan.
            “Aku  tersinggung, sangat tersinggung. Aku tidak bisa terima harga diriku dinilai dengan benda atau uang,” anak sungai itu semakin deras. Aku hanya mampu memandangnya, memegang tangannya.
            “Bersabarlah, mungkin dia banyak masalah hingga mengeluarkan ucapan seperti itu…,” kataku menghibur, masih menatap lurus bola matanya yang basah.
            “Ya, seminggu ini aku berpikir seperti itu. Tapi akal sehatku sudah tidak bisa menerima…,” dia mengambil tissue dan mengusap wajahnya.
            “Aku harus segera mengambil tindakan…,” dia sangat tegas, aku merinding.
            “Maksudnya? Tindakan apa?”
            “Aku resign” suaranya begitu dingin, aku terbelalak.
            “Freya…jangan main-main…,” aku sedikit memekik.
            “Aku sudah katakan padamu, Diana. Aku bekerja dengan ikhlas dan cinta, ketika itu sudah lenyap dihapusnya. Buat apa aku bertahan di sini? Menatap matanya yang seakan menusukku? Menikamku?” mata bulat Freya, perempuan itu, membesar, layak bohlam di ufuk timur.
            “Tidak bisa begitu, Frey. Kamu harus berpikir sehat, resign itu artinya kamu kalah,” kupancing emosinya, setiap orang kan nalurinya tidak mau kalah. Tapi dia balik menatapku tajam.
            “Ini bukan pertandingan. Tak ada yang kalah atau menang. Ini adalah harga diri,” Freya bangkit dan berlalu, meninggalkan mejanya. Hingga menjelang makan siang aku tak melihatnya. Suara Pak Arif sudah dianggapnya angin lalu. Freya begitu marah, Pak Arif juga sangat marah. Dalam seminggu ini, kantor yang biasa sejuk berubah seperti miniature neraka!
***
            Dialah Freya Fatma. Perempuan anggun dengan bahasa santun. Tubuhnya proporsional, berkullit kuning dan punya kecerdasan diatas rata-rata. Wanita ini sangat beruntung dan nyaris memiliki semua yang ia inginkan. Keluarga, anak, suami dan harta. Tanpa sibuk bekerja pun ia dapat hidup berlebihan. Terbukti, Freya memiliki rumah dan mobil yang jauh di atas standart kami karyawan lainnya. Atau pasportnya yang penuh stempel berbagai Negara dan diganti karena penuh sebelum lima tahun. Sementara pasportku dalam lima tahun hanya empat kali stempel, dua kali pergi dan dua kali pulang. Itupun karena pergi berobat, mematikan kuman sial yang bersarang di ginjalku. Payah.
            Di kantor, Freya konsultan konstruksi –perusahaan kami bergerak dibidang bangunan dan tata kota. Setiap tender masuk, Freya memeriksa dengan teliti massa kontruksi bangunan. Sementara tugasku memeriksa RAB anggaran. Ketika “ya” kata Freya, giliranku menghitung digit angka. Melewati beberapa proses lagi, kemudian masuk tahap deal dan pelaksanaan. Freya, memang bekerja dengan ikhlas dan cinta, kami semua saksinya. Karena ikhlas dan cintanya kami sering mengolok-oloknya dengan sebutan “cerdas tapi bodoh”. Freya tersenyum saja, tidak tersinggung. Ketika kami sudah bergerak keluar kantor, Freya masih di depan computer. Alasannya dia tidak ingin pulang dengan beban pekerjaan yang belum selesai. Rumah adalah istana dimana seluruh jiwa raganya untuk keluarga. Untuk menyenangkan hatinya dan kenyamanan kerja, Freya mengeluarkan uangnya sendiri untuk membeli peralatan kantor- benar-benar bodoh. Ketika aku meminta bon pembelanjaan untuk di klaim ke perusahaan, Freya hanya berkata “Enggak usah, pakai uangku aja. Enggak banyak kok,” Ah… Freya memang berbeda. Sementara yang lain, uang parkir di proyek saja minta klaim. Bensin untuk jalan-jalan keluarga saja minta klaim. Entah siapa yang bodoh.
            Petaka itu terjadi seminggu lalu. Perusahaan mendapat beberapa tender, proyek besar. Seperti biasa, Freya memeriksa massa kontruksi dan menyeimbangkan RAB yang telah kuperiksa. Alisnya bertaut dan ia menarik nafas panjang.
            “Tidak masuk akal,” gumamnya. Dia mulai menjelaskan padaku mengapa dikatakannya tidak masuk akal. Aku bisa terima dan mencium aroma tak sedap tentang sebuah kecurangan. Akhirnya, kami menghadap Pak Arif di ruangannya. Freya semangat menjelaskan, dengan keikhlasannya, dengan cintanya. Pak Arif menanggapinya dengan dingin.
            “Jangan mengada-ada, Bu Freya..,” Pak Arif berkata ketus.
            “Saya serius, Pak. Dua tender ini tidak masuk akal.”
            “Lalu?”
            “Kita tolak, Pak.” Freya begitu percaya diri.
            “Lantas, yang masukkan tender suami anda? Biar licin?” glek! Terdengar jelas suara Freya menelan ludah, pipinya memerah. Mengapa lelaki di depannya berkata seperti itu? Suaminya tidak pernah terlibat urusan tender dengan perusahaan tempat dia bekerja. Suaminya bergerak di perkebuban kelapa sawit, mengapa dihubungkan dengan bangunan? Freya ingin menangis, perkataannya tentang sebuah kebenaran diabaikan. Pak Arif belum puas dan melanjutkan, sinis.
            “Masih kurang kaya, ya? Mau beli pulau?” Freya berlari keluar ruangan bosnya, ingin menangis. Aku terduduk kaku di depan meja Pak Arif. Menjadi saksi atas semua perkataannya pada Freya, sial.
            “Kamu, Diana. Tunggu apa lagi? Kerjakan tugasmu, cepat!” haaa? Aku pun lari keluar tunggang langgang, menghindari lelaki botak berkumis landak yang seakan siap menelanku. Gila.
***
            Freya tidak main-main. Esoknya, lima orang lelaki kekar masuk ke ruangan kantor kami. Di ruangan itu ada mejaku, Freya, Zaki, Purba dan Nesti. Berbeda dengan ruang lain, ruang kami langsung terhubung dengan ruangan Direktur, Pak Arif. Bisa dikatakan, kami adalah termasuk “pejabat teras” perusahaan. Sehingga, kami harus terus terhubung dengan Pak Arif. Kuperhatikan, lima lelalki itu mendengar semua instruksi Freya. Mereka mengepak barang-barang pribadi wanita bermata bulat itu.
            “Kamu serius, Frey?” aku berbisik, teman satu ruangan yang lain bingung, hingga Purba lupa menutup mulutnya. Nesty memerah matanya, sementara Zaki yang gemulai menatap kagum pria-pria berotot itu, menjijikkan.
            “Aku serius..,”
            “Kamu sudah mengajukan surat resign?”
            “Ya, setelah ini aku menyerahkannya,”
            “Apa tidak tanya pendapat Pak Arif dulu? Mungkin dia kelepasan omong, lagi emosi. Maklum, Frey..dia setengah umur, kena diabetes…istrinya masih cantiik..,” aku mengerdipkan sebelah mata, coba bercanda sedikit konyol. Freya tersenyum, kecut dan dingin.
            “Nanti, aku akan memberikan pertunjukan untuk kalian. Sekarang diam saja,” Freya melanjutkan mengepak barang. Ketika semua selesai, kami semua terbengong-bengong dengan pemandangan yang kami lihat. Sepertiga ruangan, kosong! Lima lelaki itu mengangkat dua printer canggih yang biasa kami gunakan, dua computer, lemari buku, satu meja computer dll, dll. Kami tak berdaya, karena memang……itu barang pribadi Freya. Menakjubkan, memalukan. Mengapa Pak Arif masih berpikir ia ingin menang tender? Bodoh sekali.
            “Its show time…,” Freya berbisik ke telingaku, aku ciut. Freya memberi kode, memberi kesempatan kepada kami untuk mendengar pembicaraannya dengan Pak Arif. Freya masuk ke ruangan Pak Arif, pintu tetap terbuka. Aku dan lainnya menguping, berbaris di sebelah daun pintu.
            “Saya resign…,” Freya membanting amplop suratnya, persis seperti lakon sinetron. Aku mengintip, melihat jelas wajah Pak Arif yang terkejut, persis lakon sinetron juga.
            “Mengapa harus resign?”
            “Karena Bapak sudah menyinggung harga diri saya. Bapak mensejajarkan harga diri saya dengan benda dan uang…” suara Freya meninggi.
            “Halaaaaahh…merajoook, dasar perempuan!” sinis sekali suara Pak Arif, mencibir, mengejek.
            “Heh! Dengar ya! Kumis landak!” suara Freya lebih tinggi beberapa oktaf, hampir menjerit, agaknya kucing ini siap berubah menjadi harimau.
            “Dengar ya! Dalam darahku mengalir darah Cut Nyak Dhien, darah pejuang. Aku tak mau kejujuranku, keihklasanku dibalas dengan trik licik.” Trik licik? Aku belum paham.
“Anda sudah cukup menghinaku. Orang Aceh itu pantang disepelekan, darahnya cepat mendidih. Cut Nyak Dhien itu memang sombong, tak mau dijamah penjajah. Aku adalah generasinya!” suara Freya pedas dan tajam. Dasar egois dank eras kepala, Pak Arif tentu saja tak mau ditantang seperti itu, dia tak pernah kalah.
“Kau pikir kau siapa, ha? Kalu mau keluar ya..keluar saja. Pergi sana! Jadi perempuan penunggu rumah. Bau bawang!!” Pak Arif sangat kekanak-kanakan, ungkapan yang aneh.
“Pak Arif yang terhormat, kau lupa siapa aku? Istri penguasa lahan sawit setengah dari Kabupaten Labuhan Batu? Kau lupa aku adalah penulis? Kau lupa aku adalah pebisnis? Aku yang selama ini bodoh bekerja denganmu. Menghabiskan waktu di sini untuk proyekmu. Syukur penghinaanmu menyadarkanku,”
“Seminggu kau akan kembali kemari, kau penggila kerja,” suara Pak Arif menurun, seperti memohon.
“Tidak, aku tak pernah kembali. Dalam setahun ini aku akan berkeliling ke lima belas Negara dan menyelesaikan lima belas buku.” End! Pertunjukan selesai. Freya keluar ruangan dengan tersenyum lega. Semua belum selesai, ketika Pak Arif ikut keluar dari ruangannya dia terpekik.
“Apa-apaan ini? Mana barang-barang di sini, ha?” lelaki itu melenguh marah.
“Dibawa Bu Freya, Pak,”
“Apa? Orang kaya masih mau mencuri?” ironi sekali, inventaris kantor saja dia tidak tahu yang mana.
“Itu memang barang pribadi Bu Freya, Pak.” Kemayu suara Zaki.. Glek! Langit serasa runtuh menimpa Pak Arif. Seperti akhirnya, dua bulan kemudian proyek gagal. Fondasi bangunan runtuh menimpa 32 orang pekerja, semua meninggal. Kabarnya, proyek itu ditangani adik kandung Pak Arif. Pantas saja ia memenangkan tender abal-abal itu. Aku baru tahu setelah kejadian itu terjadi. Menyeramkan.
Akhirnya, perusahaan mengalami tuntutan karena kelalaian sehingga menyebabkan kematian. Sementara Freya yang  berdarah Cut Nyak Dhien, duduk di pinggir kolam renang, menulis. Rencananya, ia akan membangun taman bacaan, pondok yatim dan dhu’afa, menyalurkan beasiswa untuk anak cerdas yang kurang mampu. Kata Freya, ini waktunya ia berbagi, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan aku, memilih belajar menulis bersama Freya. Inilah hasilnya. Buruk kah? Ah.. namanya juga baru belajar. Nanti, ketika kita berjumpa, beri saran, ya?