Rabu, 09 April 2014

PEMILU, SUDAH CERDAS KAH KITA?




                Pemilu 2014 baru saja tadi digelar. Entah mengapa, aku merasa gaungnya tak semegah dulu. Gaungnya kini tidak lagi merdu, ibarat sebuah pesta, ini pesta kecil-kecilan saja, dengan 500 undangan yang dicetak ala kadar dan makanan hanya ada 4 macam. Pesta cepat selesai, kursi cepat disusun, tikar cepat digulung dan lampu cepat dimatikan. Apakah itu hanya perasaanku saja? Atau kamu juga merasakan hal yang sama? Entahlah. Aku merasa, rakyat sudah lelah dengan polah tingkah wakilnya yang duduk di kursi dewan kehormatan. Kursi empuk kulit coklat dengan sandaran tinggi. Kursi yang membuat para wakil rakyat mengantuk dan tertidur ketika rapat paripurna berlangsung. Sebegitu megah dan mewah kursi yang ingin diduduki sehingga berbagai cara dilakukan, agar ‘ma’af’ bokong dapat dicecahkan.
                Kelelahan melihat polah tingkah wakil rakyat membuat masyarakat apatis. Siapa lagi yang dipercaya? Yang maling dan yang alim saja sudah sama, siapa lagi yang amanah? Atau sebegitu parahkah lingkungan dewan yang mampu menutup mata orang baik-baik menjadi orang bauk-bauk? Hiks….
Ada beberapa kasus yang saya saksikan secara pribadi, sangat menyimpang dari amanat rakyat. Saudara dari keluarga kami, dari salah satu partai yang duduk di dewan kehormatan. Semula, ia adalah seorang yang ‘lurus’, santun, jujur dan ramah tamah. Tapi tiba-tiba ia mampu mengguncang dunia, ketika dimobilnya didapati narkoba dan seorang wanita yang bukan istrinya. Dunia runtuh! Kehormatan keluarga tercoreng, kehormatan partai dilindas, kehormatan dewan dibabat habis! Keluarga mencecar pertanyaan- siapa tahu ini adalah jebakan yang bermuatan politis. Tapi ia menjawab dengan berurai air mata “ma’afkan saya, saya khilaf”, astaghfirullah
                Hari ini, setelah mencoblos saya tanpa sengaja mendengar dialog dua orang di warung bakso. Dialog yang membuat hati saya ngilu dan pilu, lutut saya lemas membayangkan betapa sedihnya para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan. Ada hubungannya kan?
A: “Kamu tadi milih yang mana?”
B: “Yang ngasinya gede lah (menyeringai empat senti, dua giginya mencuat keluar) Kalau kamu?”
A: “Sebenarnya aku mau pilih si D, tapi dia pelit kali, enggak kasi apa-apa, jadi aku milih si E, lumayanlah  dia ngasi 20 ribu”.    Nah? Lho? Haaaa?...huuuaaa….siapa yang salah, hayyo!
Ironi, bukan? Kemudian meluncurlah dari mulut mereka debat politik kelas bawah. Intinya, “toh nanti jika ia terpilih ia enggak akan ingat kita. Jadi, mending ambil hasilnya sekarang walau sedikit”.
                Kawan, apakah kita harus apatis? Jangan! Apakah kita harus golput? Jangan! Jika kita apatis dan memilih golput, bagaimana nasib bangsa ini? Bagaimana dengan generasi kita yang akan mendiami dan tinggal di negeri ini? Dan..kita juga jangan asal memilih, siapa yang ngasi sesuatu dia yang akan anda pilih. Ingat! Ketika ia sudah memberi berarti ia juga harus segera mengganti dana yang sudah ia keluarkan sebagai dana taktisnya untuk mendapat kursi. Naaahh.. itulah salah satu factor penyebab munculnya koruptor di negeri kita, paham? Lho? Jika dia sudah mengeluarkan dana banyak buat “nyogok”, maka ia harus segera mencari gantinya untuk menutupi dana tadi. Maka, muncullah mark up, proyek abu-abu, komisi, penyusunan RAB yang tidak logis, dll, dll. Jadi... jika anda memilih caleg yang memberi anda uang atau benda, artinya anda sudah membuka peluang korupsi di negeri ini, gitu loohh… serem kan? Money politic = Koruptor. Ayo! Cepat istighfar… hehehe
                Baiklah, kawan. Mari  kita berdo’a, siapapun yang akan menduduki gedung agung Dewan Perwakilan Rakyat, semoga bangsa ini menjadi lebih baik. Kesenjangan menurun, kemakmuran rakyat tercapai. Semoga anak-anak bangsa mendapat pendidikan yang baik, kesehatan yang baik dan pembentukan karakter  yang baik. Semoga Indonesia semakin jaya, disegani dunia Internasional. Semoga pemimpin kita konsisten, tegas dan tak ada yang mampu mengobok-obok Indonesia tercinta, merdeka! Salam, tetap semangat ya? Saya mengutip perkataan Ali Bin Abi Thalib RA: “Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena DIAMNYA ORANG BAIK”. Bagaimana pendapat anda? Setujukah?

Rabu, 19 Februari 2014

MA’AF, DULU DIA ADALAH ANAK PENGEMIS…(KISAH INSPIRATIF)




            Situasi Mami mempertemukanku kembali dengannya. Dengan lelaki bertubuh kecil, mata cerah dan kumis melintang tegas. Suaranya masih seperti dulu, hangat, ramah dan amat sangat rendah hati. Melihatnya kini, siapa sangka dengan perjalanan hidup lelaki yang tunggang langgang, lintang pukang dibelit masalah dan kemiskinan? Siapa sangka mata hangat membara itu dulu pernah basah dan banjir dihempas kesulitan yang membuatnya tercekik, nyaris mati? Dulu, aku adalah saksi, saksi yang masih hidup tentang perjalanan hidupnya. Walau, aku memandang dari sudut diriku, yang kala itu masih duduk di bangku SMP.
            Baiklah, sebelum membicarakan topic utama. Aku akan menceritakan terlebih dahulu tentang sakit Mami (aku dan adik-adik biasa memanggil ibu dengan Mamak, tapi karena anak-anak kami memanggil neneknya Mami, maka kami juga sudah latah memanggil begitu, Mami). Akhir Desember 2013, Mami jatuh di depan kamar mandi ketika selesai berwudhuk. Jatuh yang mengesalkan karena sebab kasut tipis yang tapaknya licin bila tersiram air. Jatuh yang fatal, Mami terduduk dan terhempas, Mami menjerit di subuh buta, Paknek (bapak) membatalkan sholatnya di raka’at kedua. Dua orangtua yang malang, karena kami semua sudah tinggal dengan keluarga masing-masing, kecuali adik bungsu yang belum berumah tangga, laki-laki.
            Aku mendapat telepon tentang keadaan Mami menjelang siang, tak terbayangkan kondisi orang yang amat kucintai itu. Hatiku berdebar tak menentu, semoga saja tensi Mami tidak dalam keadaan tinggi, semoga stroke tidak menghampiri, semoga…ah! Syukurlah, jarak rumahku dan rumah adik tidak jauh, kami cepat berkumpul di rumah kami dulu, rumah mami dan paknek. Dan, pada saat itu sedang libur semester ganjil. Adikku,  Fitriah Ramli yang juga seorang guru sedang bebas tugas alias ikut libur. Sementara aku meski siswa libur tetap harus ngantor, tapi dengan waktu yang longgar tentu saja.
            Mami tergeletak di tempat tidur, tapi kondisinya cukup sehat, syukurlah bukan karena tensi yang tinggi.  Kami membawanya dengan ambulan untuk menjalani ronsen, mami benar-benar tidak bisa bangun, menjerit-jerit ketika merasa pinggangnya tersentuh. Benar saja, hasil ronsen menunjukkan tulang belakang mami retak dan nyungsep. Kami cepat mengambil keputusan memanggil ahli ke rumah, biaya? Bukan masalah, adikku Irwan Ramli yang tinggal di Air Molek, Riau sudah mentransfer dana yang cukup. Untuk orangtua, siapa yang berhitung? Berapa dana, tenaga, waktu yang mereka korbankan untuk kami sehingga jadi orang? Kami bergotong royong, selalu begitu, Alhamdulillah.
            Dengan ahli yang tepat, mami banyak mengalami kemajuan. Perlahan mami bisa balik tubuh sendiri, mulai belajar duduk. Sudah sebulan, aku dan adikku merawat mami bergantian, mengganti diapersnya, melap tubuhnya, menemaninya ngobrol. Setiap pulang kerja, kami langsung menuju rumah mami (syukurlah, suami kami sangat pengertian), pulang ke rumah masing-masing pukul sepuluh malam. Si bungsu Mukhlis bisa keluar sebentar melepas penat merawat mami jika kami datang, si bungsu 29 tahun yang masih melajang.
            Rutin ke rumah mami untuk merawatnya itulah yang mempertemukan aku kembali dengan lelaki itu, lelaki yang biasa aku panggil Bang Su. Ternyata, Bang Su sering bersilaturrahmi ke rumah mami jika dia pulang kampung. Malam itu pula segala tentangnya berputar kembali seperti sebuah kaset film. Betapa bahagia menyaksikan dia sekarang menjadi sukses, menjadi pejabat daerah. Dia kini punya dua mobil bagus, punya rumah bagus yang berdiri diatas tanah 1500 meter persegi. Punya empat anak yang sukses, berprestasi dan istri yang tetap cantik dan berkarier bagus pula. Dulu, Bang Su menyelesaikan kuliahnya dengan amat sangat prihatin. Kerja serabutan, dan menemani ibunya mengemis! Karena ibunya buta dan ia seorang yatim. Ah, benar-benar dia sudah menyimpan malu, membenamnya dalam-dalam demi sebuah cita-cita. Berjuang, jumpalitan, makan ala kadar, pinjam buku sana-sini, baju itu-itu saja. Dan, ia berhasil meraih gelas Insinyur.
Dulu, ia juga ditolak keluarga kekasihnya karena malu, dianggap tidak pantas mendampingi anak mereka yang bermartabat. Dan kini, harkat dan martabat keluarganya telah  terangkat. Harkat dan martabat yang dulu sangat diagungkan orangtua kekasihnya. Tapi Allah telah menggantinya dengan perempuan yang kini menjadi istrinya. Perempuan yang menerima dirinya apa adanya, tak mempersoalkan harkat dan martabat. Karena dalam pandangan perempuan itu ia adalah sosok lelaki pejuang yang saleh. Yang mampu menaklukkan kemiskinan, merubah takdirnya sendiri. Dia memang telah membuktikannya. Lantas apakah dia berubah? Sepertinya tidak. Malam itu aku masih melihat Bang Su yang dulu. Sederhana, rendah hati, hangat dan…kocak. Aku yakin, banyak lelaki di belahan lain sama kokohnya dengan Bang Su. Pejuang kehidupan, pantang menyerah! Semangat!
*Ma’af ya? Tentang perjalanan hidup Bang Su tidak  begitu saya ekspos. Sekadar dia adalah pejuang hidup yang sukses. Makasiiiiih…       

Rabu, 20 November 2013

CERPEN "DARAH CUT NYAK DHIEN"




            “Aku adalah perempuan biasa, cinta keluarga, saudara dan cinta damai. Aku bekerja dengan ikhlas dan cinta. Aku sama sekali tidak pernah berpikir dengan intrik atau jilat menjilat.” Perempuan itu menarik nafas panjang, matanya menggenang dan sejurus kemudian menganak sungai. Aku menatapnya prihatin dengan pandangan lurus, sejenak ia melanjutkan.
            “Aku  tersinggung, sangat tersinggung. Aku tidak bisa terima harga diriku dinilai dengan benda atau uang,” anak sungai itu semakin deras. Aku hanya mampu memandangnya, memegang tangannya.
            “Bersabarlah, mungkin dia banyak masalah hingga mengeluarkan ucapan seperti itu…,” kataku menghibur, masih menatap lurus bola matanya yang basah.
            “Ya, seminggu ini aku berpikir seperti itu. Tapi akal sehatku sudah tidak bisa menerima…,” dia mengambil tissue dan mengusap wajahnya.
            “Aku harus segera mengambil tindakan…,” dia sangat tegas, aku merinding.
            “Maksudnya? Tindakan apa?”
            “Aku resign” suaranya begitu dingin, aku terbelalak.
            “Freya…jangan main-main…,” aku sedikit memekik.
            “Aku sudah katakan padamu, Diana. Aku bekerja dengan ikhlas dan cinta, ketika itu sudah lenyap dihapusnya. Buat apa aku bertahan di sini? Menatap matanya yang seakan menusukku? Menikamku?” mata bulat Freya, perempuan itu, membesar, layak bohlam di ufuk timur.
            “Tidak bisa begitu, Frey. Kamu harus berpikir sehat, resign itu artinya kamu kalah,” kupancing emosinya, setiap orang kan nalurinya tidak mau kalah. Tapi dia balik menatapku tajam.
            “Ini bukan pertandingan. Tak ada yang kalah atau menang. Ini adalah harga diri,” Freya bangkit dan berlalu, meninggalkan mejanya. Hingga menjelang makan siang aku tak melihatnya. Suara Pak Arif sudah dianggapnya angin lalu. Freya begitu marah, Pak Arif juga sangat marah. Dalam seminggu ini, kantor yang biasa sejuk berubah seperti miniature neraka!
***
            Dialah Freya Fatma. Perempuan anggun dengan bahasa santun. Tubuhnya proporsional, berkullit kuning dan punya kecerdasan diatas rata-rata. Wanita ini sangat beruntung dan nyaris memiliki semua yang ia inginkan. Keluarga, anak, suami dan harta. Tanpa sibuk bekerja pun ia dapat hidup berlebihan. Terbukti, Freya memiliki rumah dan mobil yang jauh di atas standart kami karyawan lainnya. Atau pasportnya yang penuh stempel berbagai Negara dan diganti karena penuh sebelum lima tahun. Sementara pasportku dalam lima tahun hanya empat kali stempel, dua kali pergi dan dua kali pulang. Itupun karena pergi berobat, mematikan kuman sial yang bersarang di ginjalku. Payah.
            Di kantor, Freya konsultan konstruksi –perusahaan kami bergerak dibidang bangunan dan tata kota. Setiap tender masuk, Freya memeriksa dengan teliti massa kontruksi bangunan. Sementara tugasku memeriksa RAB anggaran. Ketika “ya” kata Freya, giliranku menghitung digit angka. Melewati beberapa proses lagi, kemudian masuk tahap deal dan pelaksanaan. Freya, memang bekerja dengan ikhlas dan cinta, kami semua saksinya. Karena ikhlas dan cintanya kami sering mengolok-oloknya dengan sebutan “cerdas tapi bodoh”. Freya tersenyum saja, tidak tersinggung. Ketika kami sudah bergerak keluar kantor, Freya masih di depan computer. Alasannya dia tidak ingin pulang dengan beban pekerjaan yang belum selesai. Rumah adalah istana dimana seluruh jiwa raganya untuk keluarga. Untuk menyenangkan hatinya dan kenyamanan kerja, Freya mengeluarkan uangnya sendiri untuk membeli peralatan kantor- benar-benar bodoh. Ketika aku meminta bon pembelanjaan untuk di klaim ke perusahaan, Freya hanya berkata “Enggak usah, pakai uangku aja. Enggak banyak kok,” Ah… Freya memang berbeda. Sementara yang lain, uang parkir di proyek saja minta klaim. Bensin untuk jalan-jalan keluarga saja minta klaim. Entah siapa yang bodoh.
            Petaka itu terjadi seminggu lalu. Perusahaan mendapat beberapa tender, proyek besar. Seperti biasa, Freya memeriksa massa kontruksi dan menyeimbangkan RAB yang telah kuperiksa. Alisnya bertaut dan ia menarik nafas panjang.
            “Tidak masuk akal,” gumamnya. Dia mulai menjelaskan padaku mengapa dikatakannya tidak masuk akal. Aku bisa terima dan mencium aroma tak sedap tentang sebuah kecurangan. Akhirnya, kami menghadap Pak Arif di ruangannya. Freya semangat menjelaskan, dengan keikhlasannya, dengan cintanya. Pak Arif menanggapinya dengan dingin.
            “Jangan mengada-ada, Bu Freya..,” Pak Arif berkata ketus.
            “Saya serius, Pak. Dua tender ini tidak masuk akal.”
            “Lalu?”
            “Kita tolak, Pak.” Freya begitu percaya diri.
            “Lantas, yang masukkan tender suami anda? Biar licin?” glek! Terdengar jelas suara Freya menelan ludah, pipinya memerah. Mengapa lelaki di depannya berkata seperti itu? Suaminya tidak pernah terlibat urusan tender dengan perusahaan tempat dia bekerja. Suaminya bergerak di perkebuban kelapa sawit, mengapa dihubungkan dengan bangunan? Freya ingin menangis, perkataannya tentang sebuah kebenaran diabaikan. Pak Arif belum puas dan melanjutkan, sinis.
            “Masih kurang kaya, ya? Mau beli pulau?” Freya berlari keluar ruangan bosnya, ingin menangis. Aku terduduk kaku di depan meja Pak Arif. Menjadi saksi atas semua perkataannya pada Freya, sial.
            “Kamu, Diana. Tunggu apa lagi? Kerjakan tugasmu, cepat!” haaa? Aku pun lari keluar tunggang langgang, menghindari lelaki botak berkumis landak yang seakan siap menelanku. Gila.
***
            Freya tidak main-main. Esoknya, lima orang lelaki kekar masuk ke ruangan kantor kami. Di ruangan itu ada mejaku, Freya, Zaki, Purba dan Nesti. Berbeda dengan ruang lain, ruang kami langsung terhubung dengan ruangan Direktur, Pak Arif. Bisa dikatakan, kami adalah termasuk “pejabat teras” perusahaan. Sehingga, kami harus terus terhubung dengan Pak Arif. Kuperhatikan, lima lelalki itu mendengar semua instruksi Freya. Mereka mengepak barang-barang pribadi wanita bermata bulat itu.
            “Kamu serius, Frey?” aku berbisik, teman satu ruangan yang lain bingung, hingga Purba lupa menutup mulutnya. Nesty memerah matanya, sementara Zaki yang gemulai menatap kagum pria-pria berotot itu, menjijikkan.
            “Aku serius..,”
            “Kamu sudah mengajukan surat resign?”
            “Ya, setelah ini aku menyerahkannya,”
            “Apa tidak tanya pendapat Pak Arif dulu? Mungkin dia kelepasan omong, lagi emosi. Maklum, Frey..dia setengah umur, kena diabetes…istrinya masih cantiik..,” aku mengerdipkan sebelah mata, coba bercanda sedikit konyol. Freya tersenyum, kecut dan dingin.
            “Nanti, aku akan memberikan pertunjukan untuk kalian. Sekarang diam saja,” Freya melanjutkan mengepak barang. Ketika semua selesai, kami semua terbengong-bengong dengan pemandangan yang kami lihat. Sepertiga ruangan, kosong! Lima lelaki itu mengangkat dua printer canggih yang biasa kami gunakan, dua computer, lemari buku, satu meja computer dll, dll. Kami tak berdaya, karena memang……itu barang pribadi Freya. Menakjubkan, memalukan. Mengapa Pak Arif masih berpikir ia ingin menang tender? Bodoh sekali.
            “Its show time…,” Freya berbisik ke telingaku, aku ciut. Freya memberi kode, memberi kesempatan kepada kami untuk mendengar pembicaraannya dengan Pak Arif. Freya masuk ke ruangan Pak Arif, pintu tetap terbuka. Aku dan lainnya menguping, berbaris di sebelah daun pintu.
            “Saya resign…,” Freya membanting amplop suratnya, persis seperti lakon sinetron. Aku mengintip, melihat jelas wajah Pak Arif yang terkejut, persis lakon sinetron juga.
            “Mengapa harus resign?”
            “Karena Bapak sudah menyinggung harga diri saya. Bapak mensejajarkan harga diri saya dengan benda dan uang…” suara Freya meninggi.
            “Halaaaaahh…merajoook, dasar perempuan!” sinis sekali suara Pak Arif, mencibir, mengejek.
            “Heh! Dengar ya! Kumis landak!” suara Freya lebih tinggi beberapa oktaf, hampir menjerit, agaknya kucing ini siap berubah menjadi harimau.
            “Dengar ya! Dalam darahku mengalir darah Cut Nyak Dhien, darah pejuang. Aku tak mau kejujuranku, keihklasanku dibalas dengan trik licik.” Trik licik? Aku belum paham.
“Anda sudah cukup menghinaku. Orang Aceh itu pantang disepelekan, darahnya cepat mendidih. Cut Nyak Dhien itu memang sombong, tak mau dijamah penjajah. Aku adalah generasinya!” suara Freya pedas dan tajam. Dasar egois dank eras kepala, Pak Arif tentu saja tak mau ditantang seperti itu, dia tak pernah kalah.
“Kau pikir kau siapa, ha? Kalu mau keluar ya..keluar saja. Pergi sana! Jadi perempuan penunggu rumah. Bau bawang!!” Pak Arif sangat kekanak-kanakan, ungkapan yang aneh.
“Pak Arif yang terhormat, kau lupa siapa aku? Istri penguasa lahan sawit setengah dari Kabupaten Labuhan Batu? Kau lupa aku adalah penulis? Kau lupa aku adalah pebisnis? Aku yang selama ini bodoh bekerja denganmu. Menghabiskan waktu di sini untuk proyekmu. Syukur penghinaanmu menyadarkanku,”
“Seminggu kau akan kembali kemari, kau penggila kerja,” suara Pak Arif menurun, seperti memohon.
“Tidak, aku tak pernah kembali. Dalam setahun ini aku akan berkeliling ke lima belas Negara dan menyelesaikan lima belas buku.” End! Pertunjukan selesai. Freya keluar ruangan dengan tersenyum lega. Semua belum selesai, ketika Pak Arif ikut keluar dari ruangannya dia terpekik.
“Apa-apaan ini? Mana barang-barang di sini, ha?” lelaki itu melenguh marah.
“Dibawa Bu Freya, Pak,”
“Apa? Orang kaya masih mau mencuri?” ironi sekali, inventaris kantor saja dia tidak tahu yang mana.
“Itu memang barang pribadi Bu Freya, Pak.” Kemayu suara Zaki.. Glek! Langit serasa runtuh menimpa Pak Arif. Seperti akhirnya, dua bulan kemudian proyek gagal. Fondasi bangunan runtuh menimpa 32 orang pekerja, semua meninggal. Kabarnya, proyek itu ditangani adik kandung Pak Arif. Pantas saja ia memenangkan tender abal-abal itu. Aku baru tahu setelah kejadian itu terjadi. Menyeramkan.
Akhirnya, perusahaan mengalami tuntutan karena kelalaian sehingga menyebabkan kematian. Sementara Freya yang  berdarah Cut Nyak Dhien, duduk di pinggir kolam renang, menulis. Rencananya, ia akan membangun taman bacaan, pondok yatim dan dhu’afa, menyalurkan beasiswa untuk anak cerdas yang kurang mampu. Kata Freya, ini waktunya ia berbagi, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan aku, memilih belajar menulis bersama Freya. Inilah hasilnya. Buruk kah? Ah.. namanya juga baru belajar. Nanti, ketika kita berjumpa, beri saran, ya?






Sabtu, 01 Juni 2013

CERITA CINTA DI BALIK PENGUMUMAN KELULUSAN SMP DARUSSALAM MEDAN




            Sabtu, 1 Juni 2013. Pengumuman kelulusan siswaku tercinta, siswa SMP Darussalam Medan. Malam, aku sudah susah tidur karena belum ada hasil konkrit, tersiksa. Pagi, empat kali aku ke kamar mandi karena mendadak diserang mulas yang melilit, melintir usus dengan kejam! Agaknya, sinyal-sinyal resah di dada dan kepala memengaruhi usus dan anggota perut lainnya, resah yang komplit! (sedikit lebay). Pukul 11 siang, hasil di tangan. Alhamdulillaaaahh…siswaku lulus 100% horeeee…..terimakasih ya, Allah…terimakasih ya Allah…aku bersujud syukur.
            Pukul dua, orangtua siswa dikumpulkan di kelas, ibu Kasek memberi pengarahan. Wajah-wajah orangtua Nampak mengkerut, berlipat-lipat stress. Hasil, tentu tak boleh dibocorkan dahulu, pengumuman dimasukkan dalam amplop tertutup. Di luar, siswa/i mengintip tak kalah kalut, kasihan. Wali kelas segera mengambil posisi masing-masing, siap melepas peluru. Selepas pengarahan dan menyapa orangtua dan siswa, aku pun kembali masuk kantor. Bersiap jika ada orangtua yang ingin berkonsultasi dan lain-lain (seringnya curhat, nyeritain anaknya yang begini-begitu, maklum…remaja, masalahnya macam-macam). Belum lagi ngotot masuk ke sekolah yang belum tentu sesuai kocek orangtua, kadang anak suka maksa…
            Baiklah, orangtua pertama masuk. Wajahnya sangat resah, air mukanya keruh. Ibu yang cantik ini menanyakan nilai akhir anaknya, aku memberi bocoran. Nilai yang baik, tapi tidak terlalu tinggi, ia berulangkali mengusap wajah dan mulai bercerita.
“Ibu, anak saya mau masuk SMAN…. (SMAN favorit di kota Medan). Tapi, nilai segitu, mana lulus jalur regular? Dia ngotot mau masuk dengan tes, tapi ibu tau kan? Kalo tes itu hasilnya enggak objektif dan “pake tanda kutip”. Gimana dong?” (si ibu pake bahasa Jakarta). Aku  masih menjadi pendengar yang baik, dia melanjutkan.
“Saya udah bilang, kita enggak boleh nyogok, itu dosa! Masa mau masuk SMA aja nyogok? Wadduh! Gimana, nih? Saya pusing karena dia ngotot” si ibu semakin resah parah. Baiklah, aku tahu, ibu ini bukan resah masalah uang. Toh, ayah si siswa  yang ngotot ini punya jabatan di sebuah bank swasta nasional, pasti dia punya duit. Tapi, benar, resahnya karena masuk SMAN favorit itu melalui jalur yang “tanda kutib”. Pakaiannya sudah menunjukkan, si ibu seorang muslimah sejati, bukan muslimah tanggung. Aku coba memberi gambaran singkat untuk si ibu, dia manggut-manggut dan segera menyela “Ibu aja yang ngomong sama anak saya ya?” aku mengangguk, baiklah. Nah, akhirnya, siswaku yang ganteng duduk di hadapanku. Tubuhnya tinggi, wajahnya halus budi, hidung mancung dihiasi bibir mungil bebas rokok (tentu saja). Aku  menatap matanya, focus.
“Audy, mau lihat hasil UN?” aku memulai, mensugesti, support atau apalah namanya. Dia mengangguk, aku tahu dia berdebar. Kubuka daftar nilai dengan perlahan, membahas nilainya. Dia  manggut-manggut, wajahnya mulai kusut.
“Ngotot masuk SMAN….?”
“Iya, Bu. Nilai saya memang enggak cukup, tapi katanya ada jalur tes, kok. Kemaren sepupu saya lulus jalur itu,” upss…langsung aku sambar kata-katanya.
“Gratis? Free? Enggak pake duit?” naaahh..kan! wajah itu kembali mengkerut, dahinya berlipat.
“Enggak, sih. Katanya pake duit,” wadduh!
“Audy, kita usaha, ya? Nanti kamu daftar aja di SMAN favorit kamu. Tapi ingat! Enggak usah pake duit. Kamu tau? Menyogok dengan yang disogok itu sama dosanya. Buat apa mencari ilmu dengan cara yang enggak halal? SMA aja udah gitu, gimana dunia kerja? Muncullah nanti koruptor.” Saya berhenti sebentar, memerhatikan wajahnya yang galau.
“Kamu mau cari style di sana? Ah..sekolah swasta bergengsi juga banyak. Kamu belajar yang baik, cari bimbel yang oke, terus asah otakmu. Nanti, targetmu adalah perguruan tinggi nasional yang keren. Targetkan Unpad, ITB, IPB.” Woooww….wajah itu mulai bersinar. Dia mulai mengangguk-angguk.
“Cita-cita kamu nanti mau jadi apa?”
“Arsitek,”
“Keren. Nanti kamu tempel gambar Universitas favorit targetmu di kamar besar-besar, tulis rencana dan tujuanmu.” Ah! Mata itu kembali bersinar, manggut-manggut. Agaknya mata si ibu mulai berkaca-kaca. Aku menggunakan tekanan suara yang dahsyat, walau tak sedahsyat Mario Teguh atau Wahyudi (tentu saja, hehehe). Akhirnya, siswaku dan ibunya pulang dengan kepala tegak. Semoga yang kusampaikan bermanfaat. Meninggalkan kesan yang dalam untuk Audy. Semoga Allah memberikan semua yang terbaik untuknya. Kini, sampailah pada cerita kedua, cekitdot.
Seorang ibu masuk kantor. Dia belum lagi berbicara, tapi matanya sudah basah, dia menangis. Dia ingin memelukku, tapi meja kerja membatasi kami. Dia menyalamiku dengan erat, sesenggukan, aku semakin bingung melihat anaknya- siswaku- ikut menghapus sudut matanya yang juga basah. Dia mulai bercerita, dengan sangat emosional.
“Saya ingin berterimakasih pada Ibu,” ehmm...aku tersenyum mengangguk, itu biasa saja. Biasakan? Orangtua berterimakasih kepada guru anaknya. Tapi, ceritanya kemudian membuat aku tercekat ikut menitikkan air mata.
“Sewaktu Ibu memberi kata sambutan wisuda kemarin* ada satu kata-kata ibu yang menyadarkan saya dan merubah hidup saya,” air matanya jatuh dengan deras.
“Saya ingat kata-kata Ibu, Ibu waktu itu bilang “anak saya adalah teman dan sahabat saya” saya tersentuh sekali,” dia kembali menghapus air matanya.
“Tapi, saya selama ini tak pernah memperlakukan dia seperti sahabat. Saya marah terus, merintah dia seenaknya, jadinya...saya tertekan, dia tertekan. Kami enggak pernah nyambung, hiks.”  Ibu ini memegang tangan anaknya, mereka sama menangis, aku juga.
“Sekarang, saya memperlakukannya seperti yang ibu bilang, anak saya adalah sahabat saya. Dia enggak pernah membantah saya lagi karena enggak saya perintah-perintah dengan kasar. Kami udah nyambung, sekarang rumah jadi sejuk, semua rileks,” ibu itu makin kuat menggenggam tangan anaknya. Cahaya mata penuh cinta antara ibu dan anak ada di depan mataku kini. Tak banyak kata yang kuucapkan, aku tersenyum dan berucap syukur. Ternyata, sedikit saja kata positif mampu melahirkan makna yang cukup dalam. Semua di luar dugaan, mampu mserubah kehidupan antara ibu dan anak, dialah Zulian Agustina, siswaku di kelas 9.4.
Selamat jalan anakku, siswaku. Berjuanglah karena jalan kalian masih panjang. Ingat pesan ibu, ya? Jadilah anak yang cerdas, cerdas intelektualmu, cerdas emosimu, cerdas agamamu. InsyaAllah, sukses akan kalian raih....amiin.
*Pada waktu itu, saya menerima Miftahussalam award sebagai guru berprestasi. Dalam kata sambutan, saya mengucapkan terimakasih kepada keluarga, suami dan anak-anak saya, cahaya mata saya. “Terimakasih untuk anak-anak saya, Liza yang menjadi sahabat saya, tempat saya berdiskusi tentang isi tulisan saya. Syifa yang selalu sedia membuatkan saya teh meskipun tengah malam. Bila yang selalu siap memijat jika saya lelah. Wafi yang selalu mesupport saya agar tulisan saya cepat selesai.” Yaaaa...kira-kira begitulah bunyinya.
NB. Selamat, ya? Untuk yang mendapat nilai UN tertinggi. Farah, Iqlima, Ayu, Nancy, Nisa....semoga bisa masuk SMA favorit. Untuk Ulfa, selamat udah lulus di Matauli, do the best every where...love u all :*