Kamis, 26 Juli 2012

CERITA RAMADHAN 2

PEMANDANGAN MIRIS Ramadhan mulia, selalu membawa cerita. Selepas subuh, matahari belum muncul. Aku dan suami bergerak untuk silaturrahim ke rumah teman sekaligus membicarakan beberapa urusan. Langit masih pucat, udara sejuk, angin semilir terasa nikmat di bulan Ramadhan. Belum jauh dari rumah, pemandangan tak sedap sudah menghadang mata, kucoba beristighfar dalam hati, semoga Allah menguatkan aku untuk tidak membahas pemandangan itu. Ah..beberapa pasang insan berkendaraan motor berpelukan tanpa beban, adduhh..bagaimana puasanya?. Jarak beberapa kilometer, kembali ditemukan tiga orang ABG berkendaraan motor memakai celana pendek yang ketika dia duduk nyaris seperti memakai celana dalam. Ya..Allah, gejala apa ini?. Kepalaku berdenyut-denyut, suami hanya berdecap sambil menggeleng-gelengkan kepala. Seingatku, ketika aku remaja, memang ada istilah “Asbuh” alias Asmara Subuh. Selepas sholat subuh, kami masih sempat tadarus di Mesjid. Kemudian kami jalan-jalan bersama teman, masih memakai sarung dan mukena. Memang laki-laki bersama kaumnya, dan perempuan begitu juga. Jika ada yang naksir, pakai ‘mak comblang’. Tapi, kawan…tak ada istilah boncengan, apalagi berpelukan pinggang layaknya suami istri. Ya Allah…zaman apa ini? Aku hanya bisa berdo’a semoga Allah melindungi anak dan generasiku dari kerendahan moral. Entahlah… Menjelang siang, kami pergi berbelanja, karena Alhamdulillah ada sedikit rezeki yang bisa dibelanjakan untuk keperluan lebaran anak-anak. Kami mendiskusikan tempat belanja, Ayah berpendapat kami sebaiknya berbelanja di Mall saja. Karena tempatnya nyaman, sehingga diharapkan anak-anak (terutama si bungsu) tidak tergoda puasanya karena haus dan lapar. Baiklah, mobil meluncur ke sebuah pusat perbelanjaan besar di kotaku. Sebelumnya kami singgah dulu ke Mesjid besar sekitar pusat perbelanjaan, menunaikan sholat Zuhur. Setelah itu kami kembali bergerak menuju Pusat Perbelanjaan yang dimaksud. Duhai…apa yang terjadi? Masih berjarak beberapa meter dari pintu masuk, aroma makanan sudah menyergap. Aroma kentang dan ayam di goreng, roti yang baru keluar dari oven sudah menyergap dan menari-nari di depan hidung. Betul, si bungsu sudah mendengus-dengus, tapi tak berani berkata apa-apa. Kami memaklumi saja dan pura-pura tidak tahu. Di dalam, food court juga tak berpengaruh pada suasana Ramadhan, resto-resto penuh, si bungsu mulai mengeluh, ah..beratnya. Di Departmen Store, lain lagi. Harga baju selangit, modelnya juga tidak terlalu bagus walau dari segi kualitas memang baik. Selera gadis remajaku memang ‘mengerikan’ aku harus mengeluarkan uang lima ratus ribu hanya untuk tiga potong atasan, peeuhh. Baiklah, tak mungkin diteruskan, ini bukan area kita. Tanpa basa-basi aku mengajak suami beralih saja ke pasar tradisional, aku harus logis untuk memenuhi kebutuhan empat anakku. Untuk menjaga keamanan puasa si bungsu, hanya aku dan kakak-kakaknya saja yang turun belanja, sementara si bungsu dan Ayahnya kembali ke Mesjid. Mesjid, adalah tempat yang sejuk dan nyaman untuk ibadah sekaligus beristirahat, si bungsu diajak menyimak ayahnya membaca Alquran. Alhamdulillah, di pasar tradisional semua didapat dengan murah dan kualitas yang bagus dan layak. Semua kebagian keperluan lebaran, syukurlah. Anak-anakpun menjadi senang dan tak mengeluhkan capek mutar-mutar pasar karena mamanya cerewet menawar harga (hihihi penyakit emak-emak).yOOK...nanti ada cerita Ramadhan lainnya..

Selasa, 24 Juli 2012

INFORMASI FAM INDONESIA

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Motto: "Membina dengan Hati Calon Penulis Islami" SELAMAT DATANG DI RUMAH FORUM AKTIF MENULIS (FAM) INDONESIA Selasa, 03 Juli 2012 Panduan dan Formulir Pendaftaran Keanggotaan FAM Indonesia FAM INDONESIA Silakan panduan ini dibaca dan dipelajari. Didalamnya sudah dilengkapi info seputar Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Kami harapkan Anda segera bergabung dalam wadah kepenulisan nasional ini. Kita jalin silaturahim dan berbagi ilmu kepenulisan bersama penulis-penulis lainnya yang tergabung dalam wadah FAM Indonesia. Saat ini anggota FAM sudah cukup banyak dan berdomisili diberbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Di beberapa kota sudah mulai membentuk perwakilan/cabang FAM Indonesia. Kesempatan tidak datang dua kali. Kapan lagi bisa bergabung dan saling memotivasi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama. Semangat itu naik turun. Oleh karena itu perlu ada orang-orang yang bisa saling memberi motivasi agar semangat tetap stabil. Diharapkan, bisa konsisten menulis setelah bergabung dengan FAM Indonesia. Jika Anda siap menjadi anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, silakan ISI FORMULIR dan kirimkan 1 contoh tulisan Anda, bisa berupa cerpen, puisi, esai, dan lainnya ke alamat email: forumaishiterumenulis@yahoo.com. Jika kesulitan lewat email, boleh dikirim lewat inbox facebook: “Aishiteru Menulis” atau fb: “Aliya Nurlela”. Tulisan tersebut nantinya akan diulas oleh tim penulis FAM Indonesia. Jika ada yang perlu ditanyakan, silakan kontak lewat facebook “Aliya Nurlela” atau nomor kontak kami: 081 259 821 511. Kami memiliki group di facebook untuk berbagi seputar dunia tulis menulis dan menampilkan kegiatan-kegiatan FAM Indonesia. Nama groupnya “FORUM AISHITERU MENULIS (FAM) INDONESIA”. Group ini untuk umum, baik anggota atau bukan dengan syarat beragama muslim. Menjadi anggota group ini, bukan berarti Anda telah menjadi anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Menjadi anggota FAM Indonesia tetap harus mendaftar terlebih dahulu, mengisi formulir, mengirim contoh tulisan dan membayar registrasi keanggotaan (anggota resmi FAM Indonesia akan mengantongi Id Card FAM Indonesia). Anggota group tidak mendapat bimbingan khusus, hanya sekadar mendapat info up-date saja di dinding group. Sementara anggota group yang sekaligus anggota FAM Indonesia akan mendapat bimbingan khusus seputar dunia kepenulisan. Segeralah bergabung menjadi anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia! Biaya registrasi keanggotaan FAM Indonesia sesuai tingkatan usia: Pelajar Rp. 60 ribu, Mahasiswa Rp. 65 ribu, Umum Rp. 75 ribu (Lebih jelas baca PROFIL FAM INDONESIA). Biaya registrasi termasuk sangat murah, sebab berlaku untuk jangka waktu 1 tahun keanggotaan, mendapat bimbingan, konsultasi khusus kepenulisan, peluang-peluang dalam bidang kepenulisan/penerbitan. Untuk mengikuti bimbingan menulis online disejumlah lembaga kursus, minimal peserta harus merogoh kocek sekitar Rp. 200 ribu - 1 juta untuk beberapa kali pertemuan. Dalam wadah FAM Indonesia tidak berlaku aturan itu. Registrasi keanggotaan FAM berbiaya murah. Kami harapkan, pengiriman biaya registrasi bisa bersamaan dengan pengiriman formulir dan tulisan Anda, atau selambat-lambatnya seminggu setelah pengembalian formulir. Pengiriman biaya registrasi keanggotaan ditransfer ke: ALIYAH NURLAELLA, BNI Cabang Kediri, Nomor Rekening: 0257598722, atau BRI CABANG MALANG UNIT KASEMBON, NO. REK: 6370-01-003143-53-3. Jika telah mengirim biaya registrasi, konfirmasi ke nomor Hp. 081 259 821 511. Kami persilakan Anda untuk ikut andil menyumbang buku-buku (baik baru atau bekas) untuk Taman Baca FAM Pusat (tidak keharusan). Semoga buku-buku tersebut akan memberi manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar, hingga semakin menumbuhkan cinta membaca dan menulis di kalangan generasi muda Indonesia. Salam aishiteru! ALIYA NURLELA Sekjen FAM Indonesia Bagaimana Cara Bergabung Menjadi Anggota FAM Indonesia? 1. Mengisi FORMULIR PENDAFTARAN 2. Mengirim satu contoh tulisan (cerpen, puisi, esai dll) saat pendaftaran 3. Membayar biaya registrasi (sesuai tingkatan usia) Jika semua syarat telah terpenuhi, maka yang bersangkutan bisa dinyatakan sebagai anggota resmi FAM Indonesia. Anggota resmi berhak mengikuti berbagai kegiatan FAM Indonesia, mengantongi Id Card, buku-buku karya anggota dipromosikan sepenuhnya oleh FAM Indonesia, dan dapat berpeluang menjadi pengurus cabang di masing-masing kabupaten/kota. Bagi anggota resmi FAM Indonesia dapat mengikuti Lomba Cipta Cerpen dan Cipta Puisi tingkat Nasional (gratis, tidak dipungut biaya) yang diadakan oleh FAM Indonesia setiap tahunnya. Anggota resmi juga berhak mencantumkan nama FAM sebagai identitas tulisannya, baik yang diposting di dalam group, status facebook, atau yang dikirim ke media massa (Contoh: Najla El Dyna, anggota FAM Malang). Salam aishiteru! ALIYA NURLELA Sekjen FAM Indonesia

CERPEN YASIN ABIRU SABIL UNTUK WAFI

Cerpen ini untuk ade Wafi, buah hatinya Bunda Imah yang hari ini tamat shaumnya, dan untuk ponakan2ku juga yang tamat. Barokallohu fiikum. “Shaum Teh Shiip!” “Bunda, Wafi lemes banget nie”, manja Wafi pada bundanya. Wafi si kecil yag kini duduk di bangku SD kelas 2 adalah buah hati tercinta bundanya, bunda Imah sapaannya. “Sini nak, biar bunda cerita supaya lemesnya hilang”. “Bukan itu bun yang Wafi mau, Wafi mau buka saja ah abisnya lihat si Timmy ( red : tokoh kambing junior di film Shaun The Sheep) makan eskrim di film barusan Wafi jadi ngiler bun!”. “Aduh nak, makanya jangan keseringan nonton film GJ kaya gituh!. Udah yah, bunda cerita saja judulnya “Shaum Teh Shiip!”, ada hadits bagus juga nie , Wafi mau tahu gak?”. Bunda Imah memang paling hebat kalau sudah bercerita, dan ini juga hoby unik bunda yang satu ini. “Shaum Teh Shiip?, apaan tuh bunda?, itu kaya film kesukaan Wafi aja “ Shaun The Sheep”!. “ Yah , mkasud bunda Shaum Itu Bagus, dan banyak keistimewaannya nak”. “ Oooh, Bunda lucu deh , si Timmy juga kalah lucu ma bunda.hehehe”. ***** “Dengarkan bunda yah nak, bunda bacakan hadits qudsinya”. Bunda Imah pun mulai bercerita, namun si kecil Wafi bertanya seketika. “ Bun, hadits qudsi tuh apa yah?, apa bedanya sama hadits Nabi?, ah Wafi jadi penasaran nie!”. “Waah, anak bunda yang satu ini memang selalu pengen tahu saja yah. Bagus nak, kalo gak faham Wafi harus nanya yah, biar gak linglung.heehe. jadi hadit qudsi tuh : hadits yang diriwayatkan oleh Rasululloh dari Rabbnya melalui tiga cara : melalui wahyu, mimpi dan , ilham. Disebut dengan istilah hadits-hadits qudsi karena dikaitkan dengan nama Al Quds yang artinya suci dan bersih. Disebut dengan istilah hadits-hadits Ilahi karena dikaitkan dengan nama Al Ilaah yakni Alloh. Begituh kiranya nak, Wafi faham sekarang?”. “ InsyaaAlloh faham bun”. “ Yah sudah, kalo gituh bunda bacakan yah!”. ***** Keutamaan Bulan Ramadhan Apabila datang malam pertama bulan ramadhan, Alloh SWT memandang makhlukNya, dan apabila Alloh memandang seorang hamba berarti selamanya Alloh tidak akan mengazabnya. Pada setiap harinya Alloh membebaskan sejuta orang dari neraka, dan apabila tiba malam kedua puluh sembilan Alloh membebaskan pada saat itu sebanyak semua orang yang dibebaskanNya dalam sebulan penuh. Apabila datang malam fitri, maka gemparlah para malaikat dan Alloh Yang Maha Perkasa menampakan diri ( cahaya) Nya sekalipun Alloh SWT tidak dapat disifati. Lalu Alloh berfirman melalui wahyuNya kepada para malaikat, sedangkan mereka pada keesokan haarinya akan mengalami hari raya, “Wahai para malaikat, apakah balasan seorang buruh apabila telah menunaikan pekerjaannya dengan sempurna?”. Para malaikat menjawab, “Upahnya diberikan kepadanya dengan sempurna.” Alloh SWT berfirman , “Saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya Aku mengampuni mereka.” ( Diketengahkan oleh Al Ashbahani melaui Abu Hurairah ra.). **** “Waah, Alloh baik sekali yah bunda”. “Iyah nak, makanya sahum ramadhan kali ini harus tamat yah nak, karena Shaum Teh Shiip!”. “ Iyah bun, insyaaAlloh Wafi pasti tamat”. **** Kumandang adzan maghrib pun bersautan dari surau ke surau. Wafi senang bukan main, dia pun berhamdallah dan besorak riang “Allhamdulillah, horeee…Wafi tamat shaum hari ini bundaaa., makasih yah bun ceritanya”. “ Sama-sama , bunda sayang Wafi”. “ Wafi juga sayang bunda selalu”. By : Yasin Abiru Sabil FAM 537M Bandung Terimakasih Yasin, untuk cerpennya. Indahnya persaudaraan di FAM, saling peduli dan berbagi. Salam aishiteru

CERITAKU TENTANG RAMADHAN (1)

Assalamu'alaikum Fren. Ramadhan selalu punya seribu lebih kisah ya? Begitu juga dengan diriku, ada kisah bahagia ada juga kisah yang membuat hati perih dan miris. Tapi, alhamdulillah, paling tidak puasa pertama si bungsu tamat, tidak lagi putus sambung seperti tahun sebelumnya. Baiklah, untuk "melalaikan" waktu ayah punya trik tersendiri, hingga Wafi benar-benar lalai dan sadar ketika waktu berbuka semakin dekat. Apa itu? ayah mengajarinya bermain catur, dia sangat tertarik dengan perjalanan raja, pion dan kroninya. Tak terasa, "dug..dug..dug.." beduk berbunyi. Minuman, makanan, puding, buah semuanya tandas! hahaha.

Rabu, 20 Juni 2012

CERPEN, LARA DALAM HUJAN

LARA DALAM HUJAN * Rahimah Ib Langit pekat, angin berdesir-desir melewati gedung tinggi di perkotaan, menyusup dari bingkai jendela. Biasanya, sebentar lagi akan turun hujan, mengguyur bumi tanpa perasaan. Aku duduk di depan jendela kamar, menanti hujan dengan harapan yang membuncah memayungi jiwa yang hampa. Aku suka hujan, sangat suka. Hujan, membawa kesejukan dan aroma yang dalam. Hujan, tak pernah mampu memudarkan semangatku dalam hal apapun. Dan hujan, gemuruhnya mampu menyembunyikan tangisan pilu hatiku yang meratap menyayat. “Nina.!!, sebentar lagi hujan! Angkat jemuran, cepat!,” Suara Ibu, mengetuk pintu kamarku dan membuyarkan konsentrasiku menanti hujan. Aku beranjak, menyeret kakiku yang tak normal, membuka pintu. “Cepat!, jangan terus melamun! ” cahaya mata Ibu menusukku, aku tunduk. Berlalu menuju halaman belakang rumah, menunaikan perintah Ibu. Terkadang aku merasa ibu sangat tidak adil terhadapku, sangat nyata ia tak menyukaiku. Ketika Ibu pergi arisan atau belanja, aku tak pernah menyertainya karena tak pernah di ajak sama sekali. Yang menjadi anak favoritnya adalah Siska, adikku. Kurasa, semua kasih sayang dan fasilitas tumpah ke Siska. Sementara aku diperlakukan sebelah mata, seakan tidak punya hak istimewa. Aku yakin sekali dengan perkiraanku sendiri, aku adalah gadis yang tak bisa membanggakannya. Aku cacat, kaki dan tangan sebelah kiriku kecil, tidak dalam ukuran normal. Kaki dan tangan kiriku lemah, jika berjalan aku harus menyeretnya karena tak kuat melangkah. Satu-satunya penghiburku adalah membaca, dan menulis apapun yang ada dalam pikiran dan perasaan. Berjilid-jilid buku sudah kutulis, entah apa saja isinya aku juga sudah lupa. Semakin lama, semakin aku mahir menulis walau aku tak yakin dengan kwalitas tulisanku sendiri. Yang aku harapkan hanya aku dapat membagi dukaku pada kertas kosong, kutulis dengan penaku. Mencurahkan isi hati agar terasa lapang dan lega, itu saja. Seperti hari ini, Siska belum pulang karena mengikuti Les piano. Aku sudah dirumah dari tadi, karena aku tidak didaftarkan ibu les apapun. Siska? Daftar lesnya sangat padat, mulai Bahasa Inggris, Bimbel sampai les piano. Karena kegiatannya banyak, Siska jarang dirumah. Otomatis akulah yang membantu ibu untuk urusan rumah. Mulai menyapu, mengepel lantai, mencuci piring sampai masak. Tentu saja aku mengerjakannya dengan lamban, karena kondisiku yang tidak sempurna. Ibu sering marah sampai terkadang mengucapkan kata-kata yang pedih, aku diam, menangis sendirian, menanti hujan. Berharap, hujan dapat menenggelamkan dukaku, isakku, raungku. Kini, hujan itu turun, air serasa tumpah dari langit, aku belum selesai mengangkat pakaian yang dijemur dan telah mengering pula. Ibu berteriak di beranda belakang, berharap aku dapat melangkah dengan cepat, sayang pada pakaian kering yang kupeluk kuat. Apalah daya, aku tak kuat, kakiku amatlah lemah. Kuseret sekuatnya, tapi aku tak bisa, aku basah oleh hujan, pakaian kering yang kuangkat dengan susah payah juga basah oleh hujan. Aku menangis dalam hati, airmataku bercampur hujan namun tak ada isak. “Kok lama ha? Itulah jadinya, pakaian kering jadi basah lagi..! ” Ibu menyambutku dengan marah, matanya merah, seperti biasa, aku tunduk saja. Aku tak pernah menjawab, tak berani, padahal hatiku sudah meraung-raung pilu. “Kamu harus jemur pakaian itu di garasi, cepaat…!,” Ibu berteriak lagi. Dia nyaris tak pernah berkata lembut padaku. Bencikah Ibu padaku? Pada keadaanku yang tak sempurna? Benci pada kaki dan tangan kiriku yang lemah? Benci padaku yang lamban?. Aku tak pernah bisa menjawab itu semua, semua kutumpahkan saja dalam tulisan, biarlah. Malam ini, hujan kembali menenggelamkan isakku. Siska sudah tidur diranjangnya. Dia juga tak pernah peduli padaku, itu karena kesibukannya yang luar biasa. Dia mudah tertidur karena kelelahan menuntut ilmu, sedangkan aku tidur karena kelelahan menangis, atau lelah karena tugas rumah yang mengakibatkan tulang kakiku berdenyut-denyut. Tak ada yang perduli sama sekali. Ayah juga terlalu sibuk. ***** “ Dia demam, panasnya tinggi sekali “ lamat-lamat kudengar suara Ayah, tangannya yang kekar meraba keningku, aku menggigil, tak mampu bergerak. “ Pasti karena kena hujan kemarin sore, dia sih…lamban sekali “ Ibu bersuara, kesal. “ Kamu terlalu memaksakannya Bu, dia memang tak bisa cepat, masa kamu paksa? “ Ayah menyela, mencoba membelaku. “ Kita harus membawanya kedokter, sekarang…” “ Dikasi Parasetamol aja Yah, pagi gini mana ada dokter praktek “ Siska menimpali. “ Kita bawa ke Oom Bayu, panasnya tinggi sekali, Ayah khawatir ” Semua suara itu kudengar sayup-sayup, aku kedinginan luar biasa. Gerak tubuhku tak dapat kukontrol, gigiku gemeretuk. Tulang tungkai kaki kiriku berdenyut luar biasa, serasa menjalar sampai ke ubun-ubun, mataku panas dan berair. Siska menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal, tak berpengaruh, tetap saja aku menggigil. Seingatku, aku tak pernah merasakan sakit seperti ini. Jikapun demam, tidak sampai menggigil. Jikapun tulang tungkai kaki kiriku berdenyut, sakitnya tidak sedahsyat ini. Aku setengah sadar, suara Siska berteriak panik ditelingaku terasa amat jauh, suara Ibu dan Ayah juga terdengar samar, suara itu memanggil namaku silih berganti, ramai sekali, semua sayup dan hilang. *** Ruangan itu berwarna pink, dihiasi langit-langit putih yang bersih. Jelas, ini bukan kamarku. Aku melirik kekiri, selang infus menggantung, dihubungkan keurat lengan kiriku. Ya, aku ada di kamar rumah sakit. Ayah, Ibu dan Siska mengelilingiku, mata mereka nampak cemas, aku menangis. “ Kenapa sayang? “ Ayah membelai kepalaku. Aku sedih sekali, walau aku terlahir cacat, aku tak pernah merasakan tinggal dikamar sebuah rumah sakit. “ Nina kenapa, Yah?. Kenapa harus diinfus? “ “ Enggak apa-apa, panasnya tinggi sekali, kamu harus dibantu dengan cairan infus “ Ibu menimpali, suaranya lembut, aku semakin ingin menangis. Suara Ibu yang selalu kuharapkan, kurindukan dan selalu kuimpikan. “ Siska enggak sekolah?, “ kulirik adikku yang duduk di kelas tiga esempe. Siska menggeleng, mengusap matanya yang merah. “ Ini hari Minggu, Kak...” Aku terpana, tercekat dalam kebingungan. Seingatku, aku mengangkat kain dari jemuran dan terkena hujan hari Kamis sore. Kemudian Jum’at pagi aku demam dan tak sadarkan diri. Hari ini Minggu, artinya......aku pingsan lebih dari dua puluh empat jam!, ya Allah.. “ Nina sakit apa, Yah? “ air mataku mengalir bagai anak sungai, aku sudah bisa merasakan sesuatu yang tidak beres dengan diriku. Ibu dan Siska menangis, Siska menelungkupkan wajah dikakiku yang tertutup selimut. Ibu menangis, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ayah, bibirnya gemetar menahan sesuatu, aku semakin cemas. “ Katakan, Yah.....Nina enggak apa-apa kok, Nina kuat “ kucoba menguatkan diri, walau jantungku berdebar. “ Nina kuat? “ “ Kuat, Yah....sangat kuat “ kuyakinkan Ayah. “ Jangan putus asa ya?, “ aku mengangguk. “ Nina, kena kanker tulang Nak... tapi bisa sembuh kok, masih stadium satu. Kita berobat ya? Ayah akan usahakan kemana saja....” bibir Ayah bergetar, matanya merah. Aku tercekik, tak bisa berkata apa-apa. Ternyata, ini jawaban atas kesakitanku selama ini. Tungkai kiri yang sering berdenyut dan sakitnya minta ampun. Sakit yang tak pernah kuceritakan pada siapapun. Sakit yang hanya kutenggelamkan bersama hujan. Sakit yang tak pernah diketahui Siska walau kami satu kamar. Kamar rumah sakit itu kini penuh dengan tangis. Ibu dan Siska memelukku dengan kuat, Ibu hampir meraung-raung. Ternyata, mereka semua mnyintaiku. Tapi kenapa baru sekarang? Ketika aku semakin mendekati waktuku?. Aku ragu pada Ayah, kankerku tidak pada stadium satu, mungkin saja sudah stadium empat. “ Boleh Nina minta sesuatu, Yah? “ “ Apa, sayang? “ “ Tolong pinjamlan Nina Laptop Ayah, ya? “ “ Untuk apa? “ “ Nina akan menulis, menulis semua yang Nina rasakan selama ini. Kalaupun waktu Nina habis, ada yang Nina tinggalkan. Jadi kenangan, “ air mataku berderai, betapa singkat waktuku, usiaku baru tujuh belas tahun, saat indah masa remaja, tapi tak pernah kurasa bahagia. “ Ma’af sayang.... ma’afkan Ibu, nak....” Ibu memelukku, pelukan hangat yang nyaris tak pernah kurasakan. Biarlah, kini sakitku kuanggap saja sebagai hikmah. Jika memang harus begini mereka menyayangiku. Tapi kini aku tahu, bahwa mereka sangat menyintaiku. * Telah dimuat di Koran Digital Koran_Cyber.com

Senin, 04 Juni 2012

MARI, KITA GUNAKAN INTERNET POSITIF

MARI, KITA GUNAKAN INTERNET SECARA POSITIF Internet? Aha…every body love it!. Hari gini? Tanpa internet? Basi deeeh…. Tapi apakah semua bisa mengambil kesempatan baik yang diberi oleh teknologi hebat ini? Tentu saja tidak. Ada yang hanya main game hingga candu, sampai tidur terbayang-bayang pada game yang dimainkan, sampai terbawa mimpi segala, sampai hilang konsentrasi belajar atau kerja. Ada yang memanfaatkan internet untuk hal-hal ‘nakal’, melihat sesuatu yang tidak semestinya. Internet yang berkembang pesat sejak tahun 1981-1989 sudah menjadi kebutuhan hidup masyarakat modern. Masyarakat dari berbagai golongan memanfaatkan internet, pelajar, mahasiswa, pekerja sampai anak-anak dan ibu rumah tangga. Semua terasa mudah, mbah atau oom google menjelma jadi sosok yang serba tahu. Jadi, kalau cari sesuatu Tanya saja pada mbah atau oom google. Pencet keyboard, Tanya pada si Mbah, langsung muncul sreeet…sreeet… semua terjawab, mudah bukan?. Aku, termasuk manusia yang baru mengenal internet. Sebelumnya, ada sedikit pikiran miring tentang internet, maklum…masih awam. Ditambah lagi tidak ada jaringan internet di rumah, masa ibu-ibu harus ke warnet? Ah…malu dooong. Dua tahun lalu, kantor pasang wifi. Mulailah aku menjelajah, disela-sela kerja tentu saja. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena aku suka menulis. Timbul pertanyaan dalam hati, “Mengapa aku tidak memanfa’atkan hobiku? Sekaligus mencari sahabat-sahabat yang punya hobi sama?”. Aku mulai dengan Face book tentu saja. Mencari nama-nama penulis untuk menjadi sahabat, tapi ternyata penulis-penulis hebat itu sudah tak dapat lagi mengconfirm diriku untuk menjadi sahabat di dunia maya karena temannya sudah memenuhi kapasitas. Jadilah aku berteman dengan siswa-siswaku yang SMP, yang selalu buat status “unyu-unyu”, hahahaha…dasar anak-anak, kunikmati saja sambil tersenyum dan ‘marah’. Ternyata, semua beriring dengan waktu. Tak ada pencapaian datang dalam hitungan detik atau menit. Pada awal tahun dua ribu sebelas aku membuat blog sendiri, http://blogsbunda.blogspot.com yang isinya tentang aku dan tentu saja tulisan-tulisanku. Seiring waktu juga aku bertemu di dunia maya dengan Muhammmad Subhan salah seorang penulis dari Padang dan Aliya Nurlela penulis dari kota Kediri (baca Surat Terbuka Untuk Aliya Nurlela Sang Purnama Dalam Gelap). Akhirnya, aku dapat menemukan duniaku. Dunia yang membuat aku selalu bahagia, menekan tuts computer dengan berdebar-debar, beradu cepat dengan ide di kepala yang melesat layak meteor, duhai…senangnya berselancar dalam kata., merangkai cerita hingga menghasilkan makna. Tentu saja, aku melakukannya dengan hati dan sepenuh cinta. Dulu, ketika masih kuliah, aku merasakan kesulitan ekonomi karena aku lahir dari keluarga kurang mampu. Aku berjuang agar bisa belajar, jangan heran jika aku pernah minum air keran di kamar wudhu’ masjid kampus karena kehabisan bekal. Berjualan bandrek dengan gerobak malam hari karena bapak sakit. Aku dan mak menyorong gerobak sejauh dua kilometer tempat bapak biasa mangkal, karena kami tak bisa mengayuhnya. Aku tak pernah duduk di kantin kampus seperti anak-anak lain yang menghabiskan waktu sambil diskusi dan makan. Tempat favoritku adalah musalla dan masjid, karena aku nongkrong di situ tanpa harus mengeluarkan modal. Jika ada uang, aku manfaatkan untuk membeli buku. Kesulitan, kepayahan, kepedihan, jeritan. Itulah yang mendorong aku untuk menulis. Bukankah aku seorang wanita yang punya keterbatasan? Aku tak bisa mencari tambahan uang dengan bekerja kasar sepulang kuliah. Aku menulis, meminjam mesin ketik tetangga. Setiap hari mukanya masam, jika sudah begitu aku segera kembalikan mesin ketik miliknya. Aku menulis dengan tangan, berlembar-lembar folio. Kemudian, tanpa punya rasa malu aku pinjam lagi mesin ketik tetangga, begitu seterusnya. Aku bersusah payah berjalan ke kantor redaksi mengantar tulisanku, berharap dimuat. Dengan perjuangan, tulisanku sering dimuat di Koran local. Honornya aku ambil jika sudah terkumpul lumayan, bisa untuk membeli keperluan pribadi sehingga tidak merepotkan orangtuaku. Alhamdulillah, karena kerja keras aku juga mendapatkan beasiswa Supersemar dari kampus. Sering menjadi mahasiswa pilihan untuk mengikuti kegiatan di luar daerah. Sehingga aku pernah menginjak kota-kota besar di Indonesia sampai Makassar dan Bulukumba. Kini, semua sudah aku lewati. Kesedihan, kepedihan, perjuangan yang dahsyat untuk pencapaian masa depan. Kini aku hidup cukup, dalam arti tidak berlebihan. Bisa memberi tempat yang layak dan nyaman untuk keluarga. Dapat bekerja sambil mengontrol perkembangan mereka. Bisa pergi kerja tanpa diterpa panas dan hujan. Dianugerahkan Allah suami yang mendukung setiap langkahku. Bagaimana aku bisa melangkah sejauh ini tanpa ada dukungannya?. Dia yang rela aku abaikan jika sedang menulis, padahal ia sama sekali tak suka sastra. Jika aku Tanya pendapatnya, dia selalu mengatakan “mama hebat” padahal aku tahu dia tak selesai membaca tulisanku, hahaha… Ah…ma’af, aku melantur ya?. Ceritanya merembet kemana-mana, ma’af kawan. Back to topic ya?. Pertemuan dengan Aliya Nurlela di dunia maya mengantarkan aku ke FAM , Forum Aktif Menulis Indonesia. Sekali lagi kukatakan, aku memang sedang mencari komunitas yang mampu membuatku terus bersemangat menulis. Kini, aku terus menulis dengan sepenuh hati dan cinta, karena aku sudah merasakan candunya sampai ke ubun-ubun. Tidak seperti dulu yang menulis mengharapkan honor, kini aku menulis karena aku bahagia menulis. Urusan uang? Itu adalah rahasia dari Allah, insyaallah rezeki akan datang jika semua dilakukan dengan keikhlasan. “Barang siapa yang memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya” setuju?. Alhamdulillah, kini aku diberi amanah oleh FAM Indonesia untuk menjadi calon ketua cabang Medan. Aku kadang merasa lucu sendiri, mengapa harus Rahimah Ib? bukankah banyak penulis hebat di Medan?. Aku akan jawab sendiri ya? Karena hanya Rahimah Ib penulis yang bergabung di FAM Indonesia! (atau Cuma perasaan saja ya?) Hahaha...! tapi tak apalah. Semoga aku bisa memikul tanggung jawab ini, aku ingin banyak orang bisa menulis karena suka membaca. Prihatin juga melihat siswa yang bingung menulis, padahal hanya disuruh membuat narasi ringkas biodatanya saja, bingung saya. Jadi, untuk semua sahabat, handau taulan, saudara sebangsa dan setanah air. Mari kita gunakan internet untuk hal-hal positif. Mari kita mengekspresikan diri dengan menulis santun dan mampu menebar kebaikan untuk sekitar. Bukankah kita sudah diberi Allah banyak kemudahan?. Menekan tuts computer adalah pekerjaan ringan dibandingkan menekan tuts di mesin ketik yang ‘kletak…kletok…’ bukankah mengirim tulisan juga lebih mudah dengan email, dari pada mengirimnya melalui kantor pos atau seperti yang saya lakukan dulu, jalan kaki ke kantor redaksi?. Bagi teman, rekan, handai tolan, sodara sebangsa dan setanah air mari bergabung di FAM Indonesia, wadah penulis Islam dengan prinsip dakwah bil qalam. Untuk bergabung disini tidak harus penulis hebat, tapi kita sama-sama belajar di FAM Indonesia untuk menjadi penulis hebat. So…yok! Sama-sama kita manfaatkan internet secara positif. Bersama FAM Indonesia tentu saja, salam aishiteru

Minggu, 03 Juni 2012

SURAT TERBUKA UNTUK ALIYA NURLELA SANG PURNAMA DALAM GELAP Sahabat, pagi cerah bersaput awan yang berarak memayungi langit kotaku. Seperti biasa, aku selalu bersemangat ketika berangkat kerja, utk mencerdaskan anak bangsa. Ketika aku tidak masuk kelas, aku akan bekerja menatap computer diselingi berselancar di dunia maya. Tahukah kau sahabatku? Mataku terpaku pada status Muhammad Subhan (Ketua Umum FAM) yang menyatakan tentang buku yang kau tulis “Insyaallah 100% sembuh”. Dadaku gemuruh bertanya, siapa perempuan hebat yang menulis buku ini?. Tanpa buang waktu, saat itu juga aku meng- add mu. Aku tak pernah menyangka jika engkau langsung mengkonfirmasinya. Aku pikir engkau sama seperti orang hebat yang lain, lelah untuk berteman. Tapi engkau tidak, aku meminta nomor teleponmu engkau beri dengan ringan saja, tanpa khawatir seperti orang hebat yang lain bila diminta nomor handphone-nya, takut terganggu. Sahabat, setelah itu persahabatan kita mengalir layaknya air sungai di kaki gunung, sejuk. Setiap hari aku merindukan senyum tulus di depan kain merah menyala itu. Aku merindukan kata-kata penyejuk yang terus engkau sebarkan layaknya gerimis yang tak mengenal musim. Aku juga merindukan suara beratmu yang bersahaja, tegas dan mempesona (belakangan aku tahu dari tulisanmu “Motivasi Seorang Kakak” bahwa engkau adalah vokalis dan pemain teater, pantas saja suaramu berkarakter kuat). Aliya sahabatku, kau mengajak aku untuk bersama di FAM. Pada saat aku terus berenang di dunia maya untuk mencari komunitas yang dapat membantuku bangun dari keputus asaan mendapatkan tulisanku yang tak jua berkembang. Aku tak pernah meragukanmu, aku sangat yakin itu. Yakin pada perjuangan pribadimu menghadapi tubuh sendiri, berjuang mempertahankan bayi mungilmu agar tetap bisa hidup dan besar berrsamamu dengan segala resikonya (belakangan aku juga tahu dari tulisanmu yang engkau posting di grup kita, FAM). Sahabat, tak semua perempuan mampu seperti itu, mungkin termasuk juga aku. Sahabatku, bukankah keyakinanku itu terbukti?. FAM baru berdiri selama tiga bulan. Tetapi gaungnya mampu menembus gunung, membahana di angkasa, menyusup ke relung-relung jiwa. Sahabat, percayalah, walau kita jauh tapi engkau selalu terasa dekat. Engkau adalah sahabat paling tulus yang mau berbagi yang pernah aku jumpai. Kau bergerak demi komunitas kita tanpa pamrih. Aku terharu membaca postingmu yang menceritakan betapa engkau bermandi keringat demi FAM, dan keringatmu tak pernah dibayar oleh siapapun dalam bentuk rupiah (hanya Allah yang akan membalas semua). Kau seperti cahaya rembulan yang pernah menyambut kehadiranmu di dunia, mampu menerangi kegelapan. Seperti engkau telah membawaku kedalam cahaya terang bersama FAM Indonesia. Andai kita dekat, aku akan memelukmu. Menyuntik energy positif dan vitamin untuk terus membangun semangat yang tak pernah padam. Kita akan bersama berjuang, bersama berkeringat, bersama menangis, bersama tertawa, bersama terus berbagi untuk sahabat FAM Indonesia. Tapi, jarak bukanlah menjadi penghalang bukan?. Walau kita jauh, tapi aku selalu merasa dekat, engkau mampu hadir dalam keseharianku, mampu membuatku terus bersemangat untuk mencapai apa yang aku cita-citakan. Aliya sahabatku, surat ini tulus aku haturkan untukmu. Bukan karena aku ingin menang dalam lomba yang sedang digelar. Karena sahabat FAM kita sangat hebat, semua punya kata yang indah untukmu. Aku tulus, karena Allah. Ah…sudahlah, aku sudah cukup menulis, mataku mulai basah, teman kantor mulai bertanya apa yang aku tulis sehingga aku begitu terharu. Nanti, aku akan menceritakan pada mereka, tentangmu tentu saja. Salam dari sahabatmu yang jauh Rahimah Ib FAM Medan, ID FAM 101U