Selasa, 24 Juli 2012

CERPEN YASIN ABIRU SABIL UNTUK WAFI

Cerpen ini untuk ade Wafi, buah hatinya Bunda Imah yang hari ini tamat shaumnya, dan untuk ponakan2ku juga yang tamat. Barokallohu fiikum. “Shaum Teh Shiip!” “Bunda, Wafi lemes banget nie”, manja Wafi pada bundanya. Wafi si kecil yag kini duduk di bangku SD kelas 2 adalah buah hati tercinta bundanya, bunda Imah sapaannya. “Sini nak, biar bunda cerita supaya lemesnya hilang”. “Bukan itu bun yang Wafi mau, Wafi mau buka saja ah abisnya lihat si Timmy ( red : tokoh kambing junior di film Shaun The Sheep) makan eskrim di film barusan Wafi jadi ngiler bun!”. “Aduh nak, makanya jangan keseringan nonton film GJ kaya gituh!. Udah yah, bunda cerita saja judulnya “Shaum Teh Shiip!”, ada hadits bagus juga nie , Wafi mau tahu gak?”. Bunda Imah memang paling hebat kalau sudah bercerita, dan ini juga hoby unik bunda yang satu ini. “Shaum Teh Shiip?, apaan tuh bunda?, itu kaya film kesukaan Wafi aja “ Shaun The Sheep”!. “ Yah , mkasud bunda Shaum Itu Bagus, dan banyak keistimewaannya nak”. “ Oooh, Bunda lucu deh , si Timmy juga kalah lucu ma bunda.hehehe”. ***** “Dengarkan bunda yah nak, bunda bacakan hadits qudsinya”. Bunda Imah pun mulai bercerita, namun si kecil Wafi bertanya seketika. “ Bun, hadits qudsi tuh apa yah?, apa bedanya sama hadits Nabi?, ah Wafi jadi penasaran nie!”. “Waah, anak bunda yang satu ini memang selalu pengen tahu saja yah. Bagus nak, kalo gak faham Wafi harus nanya yah, biar gak linglung.heehe. jadi hadit qudsi tuh : hadits yang diriwayatkan oleh Rasululloh dari Rabbnya melalui tiga cara : melalui wahyu, mimpi dan , ilham. Disebut dengan istilah hadits-hadits qudsi karena dikaitkan dengan nama Al Quds yang artinya suci dan bersih. Disebut dengan istilah hadits-hadits Ilahi karena dikaitkan dengan nama Al Ilaah yakni Alloh. Begituh kiranya nak, Wafi faham sekarang?”. “ InsyaaAlloh faham bun”. “ Yah sudah, kalo gituh bunda bacakan yah!”. ***** Keutamaan Bulan Ramadhan Apabila datang malam pertama bulan ramadhan, Alloh SWT memandang makhlukNya, dan apabila Alloh memandang seorang hamba berarti selamanya Alloh tidak akan mengazabnya. Pada setiap harinya Alloh membebaskan sejuta orang dari neraka, dan apabila tiba malam kedua puluh sembilan Alloh membebaskan pada saat itu sebanyak semua orang yang dibebaskanNya dalam sebulan penuh. Apabila datang malam fitri, maka gemparlah para malaikat dan Alloh Yang Maha Perkasa menampakan diri ( cahaya) Nya sekalipun Alloh SWT tidak dapat disifati. Lalu Alloh berfirman melalui wahyuNya kepada para malaikat, sedangkan mereka pada keesokan haarinya akan mengalami hari raya, “Wahai para malaikat, apakah balasan seorang buruh apabila telah menunaikan pekerjaannya dengan sempurna?”. Para malaikat menjawab, “Upahnya diberikan kepadanya dengan sempurna.” Alloh SWT berfirman , “Saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya Aku mengampuni mereka.” ( Diketengahkan oleh Al Ashbahani melaui Abu Hurairah ra.). **** “Waah, Alloh baik sekali yah bunda”. “Iyah nak, makanya sahum ramadhan kali ini harus tamat yah nak, karena Shaum Teh Shiip!”. “ Iyah bun, insyaaAlloh Wafi pasti tamat”. **** Kumandang adzan maghrib pun bersautan dari surau ke surau. Wafi senang bukan main, dia pun berhamdallah dan besorak riang “Allhamdulillah, horeee…Wafi tamat shaum hari ini bundaaa., makasih yah bun ceritanya”. “ Sama-sama , bunda sayang Wafi”. “ Wafi juga sayang bunda selalu”. By : Yasin Abiru Sabil FAM 537M Bandung Terimakasih Yasin, untuk cerpennya. Indahnya persaudaraan di FAM, saling peduli dan berbagi. Salam aishiteru

CERITAKU TENTANG RAMADHAN (1)

Assalamu'alaikum Fren. Ramadhan selalu punya seribu lebih kisah ya? Begitu juga dengan diriku, ada kisah bahagia ada juga kisah yang membuat hati perih dan miris. Tapi, alhamdulillah, paling tidak puasa pertama si bungsu tamat, tidak lagi putus sambung seperti tahun sebelumnya. Baiklah, untuk "melalaikan" waktu ayah punya trik tersendiri, hingga Wafi benar-benar lalai dan sadar ketika waktu berbuka semakin dekat. Apa itu? ayah mengajarinya bermain catur, dia sangat tertarik dengan perjalanan raja, pion dan kroninya. Tak terasa, "dug..dug..dug.." beduk berbunyi. Minuman, makanan, puding, buah semuanya tandas! hahaha.

Rabu, 20 Juni 2012

CERPEN, LARA DALAM HUJAN

LARA DALAM HUJAN * Rahimah Ib Langit pekat, angin berdesir-desir melewati gedung tinggi di perkotaan, menyusup dari bingkai jendela. Biasanya, sebentar lagi akan turun hujan, mengguyur bumi tanpa perasaan. Aku duduk di depan jendela kamar, menanti hujan dengan harapan yang membuncah memayungi jiwa yang hampa. Aku suka hujan, sangat suka. Hujan, membawa kesejukan dan aroma yang dalam. Hujan, tak pernah mampu memudarkan semangatku dalam hal apapun. Dan hujan, gemuruhnya mampu menyembunyikan tangisan pilu hatiku yang meratap menyayat. “Nina.!!, sebentar lagi hujan! Angkat jemuran, cepat!,” Suara Ibu, mengetuk pintu kamarku dan membuyarkan konsentrasiku menanti hujan. Aku beranjak, menyeret kakiku yang tak normal, membuka pintu. “Cepat!, jangan terus melamun! ” cahaya mata Ibu menusukku, aku tunduk. Berlalu menuju halaman belakang rumah, menunaikan perintah Ibu. Terkadang aku merasa ibu sangat tidak adil terhadapku, sangat nyata ia tak menyukaiku. Ketika Ibu pergi arisan atau belanja, aku tak pernah menyertainya karena tak pernah di ajak sama sekali. Yang menjadi anak favoritnya adalah Siska, adikku. Kurasa, semua kasih sayang dan fasilitas tumpah ke Siska. Sementara aku diperlakukan sebelah mata, seakan tidak punya hak istimewa. Aku yakin sekali dengan perkiraanku sendiri, aku adalah gadis yang tak bisa membanggakannya. Aku cacat, kaki dan tangan sebelah kiriku kecil, tidak dalam ukuran normal. Kaki dan tangan kiriku lemah, jika berjalan aku harus menyeretnya karena tak kuat melangkah. Satu-satunya penghiburku adalah membaca, dan menulis apapun yang ada dalam pikiran dan perasaan. Berjilid-jilid buku sudah kutulis, entah apa saja isinya aku juga sudah lupa. Semakin lama, semakin aku mahir menulis walau aku tak yakin dengan kwalitas tulisanku sendiri. Yang aku harapkan hanya aku dapat membagi dukaku pada kertas kosong, kutulis dengan penaku. Mencurahkan isi hati agar terasa lapang dan lega, itu saja. Seperti hari ini, Siska belum pulang karena mengikuti Les piano. Aku sudah dirumah dari tadi, karena aku tidak didaftarkan ibu les apapun. Siska? Daftar lesnya sangat padat, mulai Bahasa Inggris, Bimbel sampai les piano. Karena kegiatannya banyak, Siska jarang dirumah. Otomatis akulah yang membantu ibu untuk urusan rumah. Mulai menyapu, mengepel lantai, mencuci piring sampai masak. Tentu saja aku mengerjakannya dengan lamban, karena kondisiku yang tidak sempurna. Ibu sering marah sampai terkadang mengucapkan kata-kata yang pedih, aku diam, menangis sendirian, menanti hujan. Berharap, hujan dapat menenggelamkan dukaku, isakku, raungku. Kini, hujan itu turun, air serasa tumpah dari langit, aku belum selesai mengangkat pakaian yang dijemur dan telah mengering pula. Ibu berteriak di beranda belakang, berharap aku dapat melangkah dengan cepat, sayang pada pakaian kering yang kupeluk kuat. Apalah daya, aku tak kuat, kakiku amatlah lemah. Kuseret sekuatnya, tapi aku tak bisa, aku basah oleh hujan, pakaian kering yang kuangkat dengan susah payah juga basah oleh hujan. Aku menangis dalam hati, airmataku bercampur hujan namun tak ada isak. “Kok lama ha? Itulah jadinya, pakaian kering jadi basah lagi..! ” Ibu menyambutku dengan marah, matanya merah, seperti biasa, aku tunduk saja. Aku tak pernah menjawab, tak berani, padahal hatiku sudah meraung-raung pilu. “Kamu harus jemur pakaian itu di garasi, cepaat…!,” Ibu berteriak lagi. Dia nyaris tak pernah berkata lembut padaku. Bencikah Ibu padaku? Pada keadaanku yang tak sempurna? Benci pada kaki dan tangan kiriku yang lemah? Benci padaku yang lamban?. Aku tak pernah bisa menjawab itu semua, semua kutumpahkan saja dalam tulisan, biarlah. Malam ini, hujan kembali menenggelamkan isakku. Siska sudah tidur diranjangnya. Dia juga tak pernah peduli padaku, itu karena kesibukannya yang luar biasa. Dia mudah tertidur karena kelelahan menuntut ilmu, sedangkan aku tidur karena kelelahan menangis, atau lelah karena tugas rumah yang mengakibatkan tulang kakiku berdenyut-denyut. Tak ada yang perduli sama sekali. Ayah juga terlalu sibuk. ***** “ Dia demam, panasnya tinggi sekali “ lamat-lamat kudengar suara Ayah, tangannya yang kekar meraba keningku, aku menggigil, tak mampu bergerak. “ Pasti karena kena hujan kemarin sore, dia sih…lamban sekali “ Ibu bersuara, kesal. “ Kamu terlalu memaksakannya Bu, dia memang tak bisa cepat, masa kamu paksa? “ Ayah menyela, mencoba membelaku. “ Kita harus membawanya kedokter, sekarang…” “ Dikasi Parasetamol aja Yah, pagi gini mana ada dokter praktek “ Siska menimpali. “ Kita bawa ke Oom Bayu, panasnya tinggi sekali, Ayah khawatir ” Semua suara itu kudengar sayup-sayup, aku kedinginan luar biasa. Gerak tubuhku tak dapat kukontrol, gigiku gemeretuk. Tulang tungkai kaki kiriku berdenyut luar biasa, serasa menjalar sampai ke ubun-ubun, mataku panas dan berair. Siska menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal, tak berpengaruh, tetap saja aku menggigil. Seingatku, aku tak pernah merasakan sakit seperti ini. Jikapun demam, tidak sampai menggigil. Jikapun tulang tungkai kaki kiriku berdenyut, sakitnya tidak sedahsyat ini. Aku setengah sadar, suara Siska berteriak panik ditelingaku terasa amat jauh, suara Ibu dan Ayah juga terdengar samar, suara itu memanggil namaku silih berganti, ramai sekali, semua sayup dan hilang. *** Ruangan itu berwarna pink, dihiasi langit-langit putih yang bersih. Jelas, ini bukan kamarku. Aku melirik kekiri, selang infus menggantung, dihubungkan keurat lengan kiriku. Ya, aku ada di kamar rumah sakit. Ayah, Ibu dan Siska mengelilingiku, mata mereka nampak cemas, aku menangis. “ Kenapa sayang? “ Ayah membelai kepalaku. Aku sedih sekali, walau aku terlahir cacat, aku tak pernah merasakan tinggal dikamar sebuah rumah sakit. “ Nina kenapa, Yah?. Kenapa harus diinfus? “ “ Enggak apa-apa, panasnya tinggi sekali, kamu harus dibantu dengan cairan infus “ Ibu menimpali, suaranya lembut, aku semakin ingin menangis. Suara Ibu yang selalu kuharapkan, kurindukan dan selalu kuimpikan. “ Siska enggak sekolah?, “ kulirik adikku yang duduk di kelas tiga esempe. Siska menggeleng, mengusap matanya yang merah. “ Ini hari Minggu, Kak...” Aku terpana, tercekat dalam kebingungan. Seingatku, aku mengangkat kain dari jemuran dan terkena hujan hari Kamis sore. Kemudian Jum’at pagi aku demam dan tak sadarkan diri. Hari ini Minggu, artinya......aku pingsan lebih dari dua puluh empat jam!, ya Allah.. “ Nina sakit apa, Yah? “ air mataku mengalir bagai anak sungai, aku sudah bisa merasakan sesuatu yang tidak beres dengan diriku. Ibu dan Siska menangis, Siska menelungkupkan wajah dikakiku yang tertutup selimut. Ibu menangis, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ayah, bibirnya gemetar menahan sesuatu, aku semakin cemas. “ Katakan, Yah.....Nina enggak apa-apa kok, Nina kuat “ kucoba menguatkan diri, walau jantungku berdebar. “ Nina kuat? “ “ Kuat, Yah....sangat kuat “ kuyakinkan Ayah. “ Jangan putus asa ya?, “ aku mengangguk. “ Nina, kena kanker tulang Nak... tapi bisa sembuh kok, masih stadium satu. Kita berobat ya? Ayah akan usahakan kemana saja....” bibir Ayah bergetar, matanya merah. Aku tercekik, tak bisa berkata apa-apa. Ternyata, ini jawaban atas kesakitanku selama ini. Tungkai kiri yang sering berdenyut dan sakitnya minta ampun. Sakit yang tak pernah kuceritakan pada siapapun. Sakit yang hanya kutenggelamkan bersama hujan. Sakit yang tak pernah diketahui Siska walau kami satu kamar. Kamar rumah sakit itu kini penuh dengan tangis. Ibu dan Siska memelukku dengan kuat, Ibu hampir meraung-raung. Ternyata, mereka semua mnyintaiku. Tapi kenapa baru sekarang? Ketika aku semakin mendekati waktuku?. Aku ragu pada Ayah, kankerku tidak pada stadium satu, mungkin saja sudah stadium empat. “ Boleh Nina minta sesuatu, Yah? “ “ Apa, sayang? “ “ Tolong pinjamlan Nina Laptop Ayah, ya? “ “ Untuk apa? “ “ Nina akan menulis, menulis semua yang Nina rasakan selama ini. Kalaupun waktu Nina habis, ada yang Nina tinggalkan. Jadi kenangan, “ air mataku berderai, betapa singkat waktuku, usiaku baru tujuh belas tahun, saat indah masa remaja, tapi tak pernah kurasa bahagia. “ Ma’af sayang.... ma’afkan Ibu, nak....” Ibu memelukku, pelukan hangat yang nyaris tak pernah kurasakan. Biarlah, kini sakitku kuanggap saja sebagai hikmah. Jika memang harus begini mereka menyayangiku. Tapi kini aku tahu, bahwa mereka sangat menyintaiku. * Telah dimuat di Koran Digital Koran_Cyber.com

Senin, 04 Juni 2012

MARI, KITA GUNAKAN INTERNET POSITIF

MARI, KITA GUNAKAN INTERNET SECARA POSITIF Internet? Aha…every body love it!. Hari gini? Tanpa internet? Basi deeeh…. Tapi apakah semua bisa mengambil kesempatan baik yang diberi oleh teknologi hebat ini? Tentu saja tidak. Ada yang hanya main game hingga candu, sampai tidur terbayang-bayang pada game yang dimainkan, sampai terbawa mimpi segala, sampai hilang konsentrasi belajar atau kerja. Ada yang memanfaatkan internet untuk hal-hal ‘nakal’, melihat sesuatu yang tidak semestinya. Internet yang berkembang pesat sejak tahun 1981-1989 sudah menjadi kebutuhan hidup masyarakat modern. Masyarakat dari berbagai golongan memanfaatkan internet, pelajar, mahasiswa, pekerja sampai anak-anak dan ibu rumah tangga. Semua terasa mudah, mbah atau oom google menjelma jadi sosok yang serba tahu. Jadi, kalau cari sesuatu Tanya saja pada mbah atau oom google. Pencet keyboard, Tanya pada si Mbah, langsung muncul sreeet…sreeet… semua terjawab, mudah bukan?. Aku, termasuk manusia yang baru mengenal internet. Sebelumnya, ada sedikit pikiran miring tentang internet, maklum…masih awam. Ditambah lagi tidak ada jaringan internet di rumah, masa ibu-ibu harus ke warnet? Ah…malu dooong. Dua tahun lalu, kantor pasang wifi. Mulailah aku menjelajah, disela-sela kerja tentu saja. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena aku suka menulis. Timbul pertanyaan dalam hati, “Mengapa aku tidak memanfa’atkan hobiku? Sekaligus mencari sahabat-sahabat yang punya hobi sama?”. Aku mulai dengan Face book tentu saja. Mencari nama-nama penulis untuk menjadi sahabat, tapi ternyata penulis-penulis hebat itu sudah tak dapat lagi mengconfirm diriku untuk menjadi sahabat di dunia maya karena temannya sudah memenuhi kapasitas. Jadilah aku berteman dengan siswa-siswaku yang SMP, yang selalu buat status “unyu-unyu”, hahahaha…dasar anak-anak, kunikmati saja sambil tersenyum dan ‘marah’. Ternyata, semua beriring dengan waktu. Tak ada pencapaian datang dalam hitungan detik atau menit. Pada awal tahun dua ribu sebelas aku membuat blog sendiri, http://blogsbunda.blogspot.com yang isinya tentang aku dan tentu saja tulisan-tulisanku. Seiring waktu juga aku bertemu di dunia maya dengan Muhammmad Subhan salah seorang penulis dari Padang dan Aliya Nurlela penulis dari kota Kediri (baca Surat Terbuka Untuk Aliya Nurlela Sang Purnama Dalam Gelap). Akhirnya, aku dapat menemukan duniaku. Dunia yang membuat aku selalu bahagia, menekan tuts computer dengan berdebar-debar, beradu cepat dengan ide di kepala yang melesat layak meteor, duhai…senangnya berselancar dalam kata., merangkai cerita hingga menghasilkan makna. Tentu saja, aku melakukannya dengan hati dan sepenuh cinta. Dulu, ketika masih kuliah, aku merasakan kesulitan ekonomi karena aku lahir dari keluarga kurang mampu. Aku berjuang agar bisa belajar, jangan heran jika aku pernah minum air keran di kamar wudhu’ masjid kampus karena kehabisan bekal. Berjualan bandrek dengan gerobak malam hari karena bapak sakit. Aku dan mak menyorong gerobak sejauh dua kilometer tempat bapak biasa mangkal, karena kami tak bisa mengayuhnya. Aku tak pernah duduk di kantin kampus seperti anak-anak lain yang menghabiskan waktu sambil diskusi dan makan. Tempat favoritku adalah musalla dan masjid, karena aku nongkrong di situ tanpa harus mengeluarkan modal. Jika ada uang, aku manfaatkan untuk membeli buku. Kesulitan, kepayahan, kepedihan, jeritan. Itulah yang mendorong aku untuk menulis. Bukankah aku seorang wanita yang punya keterbatasan? Aku tak bisa mencari tambahan uang dengan bekerja kasar sepulang kuliah. Aku menulis, meminjam mesin ketik tetangga. Setiap hari mukanya masam, jika sudah begitu aku segera kembalikan mesin ketik miliknya. Aku menulis dengan tangan, berlembar-lembar folio. Kemudian, tanpa punya rasa malu aku pinjam lagi mesin ketik tetangga, begitu seterusnya. Aku bersusah payah berjalan ke kantor redaksi mengantar tulisanku, berharap dimuat. Dengan perjuangan, tulisanku sering dimuat di Koran local. Honornya aku ambil jika sudah terkumpul lumayan, bisa untuk membeli keperluan pribadi sehingga tidak merepotkan orangtuaku. Alhamdulillah, karena kerja keras aku juga mendapatkan beasiswa Supersemar dari kampus. Sering menjadi mahasiswa pilihan untuk mengikuti kegiatan di luar daerah. Sehingga aku pernah menginjak kota-kota besar di Indonesia sampai Makassar dan Bulukumba. Kini, semua sudah aku lewati. Kesedihan, kepedihan, perjuangan yang dahsyat untuk pencapaian masa depan. Kini aku hidup cukup, dalam arti tidak berlebihan. Bisa memberi tempat yang layak dan nyaman untuk keluarga. Dapat bekerja sambil mengontrol perkembangan mereka. Bisa pergi kerja tanpa diterpa panas dan hujan. Dianugerahkan Allah suami yang mendukung setiap langkahku. Bagaimana aku bisa melangkah sejauh ini tanpa ada dukungannya?. Dia yang rela aku abaikan jika sedang menulis, padahal ia sama sekali tak suka sastra. Jika aku Tanya pendapatnya, dia selalu mengatakan “mama hebat” padahal aku tahu dia tak selesai membaca tulisanku, hahaha… Ah…ma’af, aku melantur ya?. Ceritanya merembet kemana-mana, ma’af kawan. Back to topic ya?. Pertemuan dengan Aliya Nurlela di dunia maya mengantarkan aku ke FAM , Forum Aktif Menulis Indonesia. Sekali lagi kukatakan, aku memang sedang mencari komunitas yang mampu membuatku terus bersemangat menulis. Kini, aku terus menulis dengan sepenuh hati dan cinta, karena aku sudah merasakan candunya sampai ke ubun-ubun. Tidak seperti dulu yang menulis mengharapkan honor, kini aku menulis karena aku bahagia menulis. Urusan uang? Itu adalah rahasia dari Allah, insyaallah rezeki akan datang jika semua dilakukan dengan keikhlasan. “Barang siapa yang memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memudahkan urusannya” setuju?. Alhamdulillah, kini aku diberi amanah oleh FAM Indonesia untuk menjadi calon ketua cabang Medan. Aku kadang merasa lucu sendiri, mengapa harus Rahimah Ib? bukankah banyak penulis hebat di Medan?. Aku akan jawab sendiri ya? Karena hanya Rahimah Ib penulis yang bergabung di FAM Indonesia! (atau Cuma perasaan saja ya?) Hahaha...! tapi tak apalah. Semoga aku bisa memikul tanggung jawab ini, aku ingin banyak orang bisa menulis karena suka membaca. Prihatin juga melihat siswa yang bingung menulis, padahal hanya disuruh membuat narasi ringkas biodatanya saja, bingung saya. Jadi, untuk semua sahabat, handau taulan, saudara sebangsa dan setanah air. Mari kita gunakan internet untuk hal-hal positif. Mari kita mengekspresikan diri dengan menulis santun dan mampu menebar kebaikan untuk sekitar. Bukankah kita sudah diberi Allah banyak kemudahan?. Menekan tuts computer adalah pekerjaan ringan dibandingkan menekan tuts di mesin ketik yang ‘kletak…kletok…’ bukankah mengirim tulisan juga lebih mudah dengan email, dari pada mengirimnya melalui kantor pos atau seperti yang saya lakukan dulu, jalan kaki ke kantor redaksi?. Bagi teman, rekan, handai tolan, sodara sebangsa dan setanah air mari bergabung di FAM Indonesia, wadah penulis Islam dengan prinsip dakwah bil qalam. Untuk bergabung disini tidak harus penulis hebat, tapi kita sama-sama belajar di FAM Indonesia untuk menjadi penulis hebat. So…yok! Sama-sama kita manfaatkan internet secara positif. Bersama FAM Indonesia tentu saja, salam aishiteru

Minggu, 03 Juni 2012

SURAT TERBUKA UNTUK ALIYA NURLELA SANG PURNAMA DALAM GELAP Sahabat, pagi cerah bersaput awan yang berarak memayungi langit kotaku. Seperti biasa, aku selalu bersemangat ketika berangkat kerja, utk mencerdaskan anak bangsa. Ketika aku tidak masuk kelas, aku akan bekerja menatap computer diselingi berselancar di dunia maya. Tahukah kau sahabatku? Mataku terpaku pada status Muhammad Subhan (Ketua Umum FAM) yang menyatakan tentang buku yang kau tulis “Insyaallah 100% sembuh”. Dadaku gemuruh bertanya, siapa perempuan hebat yang menulis buku ini?. Tanpa buang waktu, saat itu juga aku meng- add mu. Aku tak pernah menyangka jika engkau langsung mengkonfirmasinya. Aku pikir engkau sama seperti orang hebat yang lain, lelah untuk berteman. Tapi engkau tidak, aku meminta nomor teleponmu engkau beri dengan ringan saja, tanpa khawatir seperti orang hebat yang lain bila diminta nomor handphone-nya, takut terganggu. Sahabat, setelah itu persahabatan kita mengalir layaknya air sungai di kaki gunung, sejuk. Setiap hari aku merindukan senyum tulus di depan kain merah menyala itu. Aku merindukan kata-kata penyejuk yang terus engkau sebarkan layaknya gerimis yang tak mengenal musim. Aku juga merindukan suara beratmu yang bersahaja, tegas dan mempesona (belakangan aku tahu dari tulisanmu “Motivasi Seorang Kakak” bahwa engkau adalah vokalis dan pemain teater, pantas saja suaramu berkarakter kuat). Aliya sahabatku, kau mengajak aku untuk bersama di FAM. Pada saat aku terus berenang di dunia maya untuk mencari komunitas yang dapat membantuku bangun dari keputus asaan mendapatkan tulisanku yang tak jua berkembang. Aku tak pernah meragukanmu, aku sangat yakin itu. Yakin pada perjuangan pribadimu menghadapi tubuh sendiri, berjuang mempertahankan bayi mungilmu agar tetap bisa hidup dan besar berrsamamu dengan segala resikonya (belakangan aku juga tahu dari tulisanmu yang engkau posting di grup kita, FAM). Sahabat, tak semua perempuan mampu seperti itu, mungkin termasuk juga aku. Sahabatku, bukankah keyakinanku itu terbukti?. FAM baru berdiri selama tiga bulan. Tetapi gaungnya mampu menembus gunung, membahana di angkasa, menyusup ke relung-relung jiwa. Sahabat, percayalah, walau kita jauh tapi engkau selalu terasa dekat. Engkau adalah sahabat paling tulus yang mau berbagi yang pernah aku jumpai. Kau bergerak demi komunitas kita tanpa pamrih. Aku terharu membaca postingmu yang menceritakan betapa engkau bermandi keringat demi FAM, dan keringatmu tak pernah dibayar oleh siapapun dalam bentuk rupiah (hanya Allah yang akan membalas semua). Kau seperti cahaya rembulan yang pernah menyambut kehadiranmu di dunia, mampu menerangi kegelapan. Seperti engkau telah membawaku kedalam cahaya terang bersama FAM Indonesia. Andai kita dekat, aku akan memelukmu. Menyuntik energy positif dan vitamin untuk terus membangun semangat yang tak pernah padam. Kita akan bersama berjuang, bersama berkeringat, bersama menangis, bersama tertawa, bersama terus berbagi untuk sahabat FAM Indonesia. Tapi, jarak bukanlah menjadi penghalang bukan?. Walau kita jauh, tapi aku selalu merasa dekat, engkau mampu hadir dalam keseharianku, mampu membuatku terus bersemangat untuk mencapai apa yang aku cita-citakan. Aliya sahabatku, surat ini tulus aku haturkan untukmu. Bukan karena aku ingin menang dalam lomba yang sedang digelar. Karena sahabat FAM kita sangat hebat, semua punya kata yang indah untukmu. Aku tulus, karena Allah. Ah…sudahlah, aku sudah cukup menulis, mataku mulai basah, teman kantor mulai bertanya apa yang aku tulis sehingga aku begitu terharu. Nanti, aku akan menceritakan pada mereka, tentangmu tentu saja. Salam dari sahabatmu yang jauh Rahimah Ib FAM Medan, ID FAM 101U

Senin, 16 April 2012

SURAT CINTA UNTUK KEKASIH

SURAT CINTA UNTUK KEKASIH
Assalam’alaikum, kekasih….
Tak terasa, kita sudah sembilan belas tahun bersama. Mengarungi hidup kita, merajut hari demi hari, menyusun waktu demi waktu, melewati gelap dan terang.
Kasih… pahit getir kita hadapi bersama, kita saling support, saling koreksi, saling instropeksi. Betapa indah hidup yang telah dianugerahkan untuk kita.
Kasih….masih ingatkan? Ketika rumah tangga kita diawali dari sebuah persahabatan, persahabatan yang dingin. Ketika aku mengajakmu menikah, karena aku tak ingin berpacaran. Bagiku, pacaran sama saja memupuk dosa, karena kita manusia biasa. Kasih….kita melakukan semua itu karena Allah. Aku mencintaimu karena Allah, karena kau adalah lelaki saleh yang bisa menjadi Imamku.
Masih ingatkah kau Kasih? Ketika kita menelusuri jalan malam diiringi gonggongan anjing, ketika kita pulang dari mengenalkan AlQur’an dari rumah ke rumah?. Ketika aku hamil si sulung kita masih melakukan itu semua, mengajarkan AlQur’an dari rumah ke rumah. Kita selalu bahagia meski tidur di dipan tak bertilam, kita bahagia meski makan sebungkus nasi dibagi berdua. Kita merasa betapa Allah sangat menyintai kita, kita selalu dicukupkanNya. Kita tak pernah mengeluh satu sama lain, kau adalah lelaki luar biasa, yang mampu mencukupkanku dalam segalanya. Terutama cinta karena Allah itu….
Alhamdulillah Kasih….Allah memang luar biasa, menyintai kita.
Kini, kita dianugerahkan empat cahaya mata. Yang membuat hidup kita semakin berwarna, amanah Allah yang harus kita jaga. Kita bahagia ketika mereka bisa membaca kitab Allah, karena engkau selalu menetapkan harga mutlak bahwa AlQuranlah yang harus pertama mereka baca, bukan buku. Memang, Allah telah menganugerahkan Imam yang luar bisasa untukku.
Kini, kita bisa melindungi anak-anak kita dari panas dan hujan, memberi mereka kehangatan dan kasih saying. Memberi mereka pendidikan dan makanan yang terbaik.
Kasih…. Betapa Allah sangat menyintai kita. Terkadang aku malu, masih layakkah aku meminta dariNya?. Aku ingin kita diberinya waktu bersama mendidik anak-anak kita hingga dewasa, berarti bagi agama dan sesama. Sempat menikmati tawa lucu cucu-cucu kita, duduk menua bersama sampai habis batas waktu kita. Tapi, bukankah kita hanya hamba?. Hamba yang selalu mengharap kasih sang pencipta, mengharap ridhoNya?.
Kasih….aku masih terus berdo’a, karena semua berjalan atas kuasaNya. Semoga Allah memberi kita keberkatan umur panjang, anak-anak yang sholeh. Semoga Allah terus menganugerahkan kita cinta yang tak pernah padam. Cinta tulus karenaNya.
(19 tahun usia perkawinan kita)

Selasa, 03 April 2012

CERPEN

MY LOVE BLACK BERRY
Rahimah Ib

Dengan wajah mengkerut, aku berjalan menyusuri koridor sekolah menuju parkiran sepeda motor. Resti berusaha mengejarku dari belakang, membawa kepayahan tubuhnya yang tambun, ia menarik lenganku.
“ Wen.. sorry lah…aku enggak sengaja, bener! Swer!, “ Resti mengangkat dua jari tangannya membentuk V. Aku tak bergeming, mengeluarkan Mio ku dari jajaran sepeda motor yang diparkir, memang sudah saatnya pulang. Tak sedikitpun kuperhatikan wajahnya yang memelas, aku dingin.
“ Wen…..sorry…” Resti memelas. Aku bisu dan ngeloyor pergi, langit buram, pekat, sepekat hati dan pikiranku.
Di kamar, aku masih memperhatikan bangkai Black Berryku. Penampilannya kacau, layar monitor pecah, keypad porak poranda, hancur leburlah sudah. Kuremas-remas rambutku yang panjang, kutarik-tarik kesal. Bagaimana aku bisa hidup tanpa benda ini?, bagaimana aku bisa hidup tanpa Hand Phone dan internet?. Biasanya, aku sangat eksis di dunia persahabatan dunia maya. Semua yang kulakukan ku update ke face book atau twitter. Misalnya lagi jalan kemana, lagi belajar, lagi bete ujian, atau hal remeh-remeh lainnya. Tapi sekarang? Apa yang bisa kulakukan tanpa BB ku tercinta?. Aku tak bisa lagi BBM-an dengan teman-teman gengku. Aduuuh…. Kuhentak-hentakkan kaki ke lantai kamar, ingin menangis.
Siang tadi, kejadian itu sangat singkat dan sederhana. Jam istirahat selesai, aku masuk kelas, masih bercanda dengan Wiwid, si model temanku sekelas. Tiba-tiba, tali sepatuku lepas dan aku berusaha menunduk untuk mengikatnya kembali. Aku lupa pada Black Berryku yang ada di saku baju, maka lompatlah dia. Black Berryku tercinta di sambar kaki Resty yang asyik jalan sambil menghabiskan makanannya, krakkk….aku berteriak tapi terlambat. Black Berryku hancur diinjak gadis yang punya berat badan hampir seratus kilo, seisi kelas menganga takjub, aku ingin menangis. Hiks hiks hiks nasibku….
Malam ini, aku berniat memelas pada Mama. Aku akan memasang wajah paling pilu, menekuk bibir, menyipitkan mata, atau apalah namanya, yang penting Mama akan iba padaku. Aku akan menangis sedih, sesenggukan, merengek manja, menciumnya, pasti Mamaku yang baik dan cantik akan luluh pada anak perempuan semata wayangnya. Aku akan minta Mama mengganti BB ku yang siang tadi hancur lebur, tak usahlah yang keluaran terbaru, yang Gemini juga boleh. Aku berharap, sangat berharap Mama akan luluh. Selama ini, Mama memang selalu luluh atas semua permintaanku.
Makan malam tiba, ehee…show time. Seperti biasa, saat makan malam kami selalu bersama. Makan siang, kami berpencar. Bang Reza makan siang di kampusnya, Papa di kantor, aku di Sekolah, hanya Mama yang di rumah. Mama punya usaha catering, tapi aku makan siang beli diluar, malas bawa bekal, tidak praktis.
“Mama....” aku mulai percakapan setelah suapan terakhir. Mama mendongakkan kepalanya, Papa dan Bang Rizki juga. Aku mulai jurus kedua, menghidangkan BB ku yang hancur di meja makan. Mama melotot kaget, Bang Rizki tersedak, Papa seperti biasanya tenang, cool.
“Lho.. Wen, kenapa jadi gini?”, Mama buru-buru minum dan mencuci tangannya. Tradisi di keluarga kami, makan selalu menggunakan tangan. Kata papa, telapak tangan kita mengandung zat yang membuat makanan cepat membusuk di dalam perut, sehingga proses pencernaan lebih cepat dan mudah.
“Kepijak Resti ma, jam istirahat tadi....,” kutekuk wajahku dengan cahaya mata pilu. Sudah kuusahakan semaksimal mungkin.
“Udah... minta ganti aja” sambar bang Rizky sambil menyuap buah pisang kesukaannya.
“Mana mungkin Resty nginjak BB Weni kalau tersimpan rapi atau didalam kantong, ceritanya gimana?” Papa angkat bicara.
Malam ini, aku menceritakan kejadian siang tadi di depan orang-orang tercintaku. Tentu saja aku sedikit mendramatisir agar mendapat simpati, Bang Rizki cengengesan bagai Kambing lapar mendengar ceritaku. Aku melotot, dia melengos mengejek, jengkel aku melihatnya.
“Mama... aku minta ganti yang baru ya?” aku mulai merayu Mama. Mama tersenyum manis, tapi tidak mengangguk.
“Nanti Mama bicara sama Papa dulu ya?”
“Oke, kapan kepastiannya Ma?. Aku enggak bisa hidup tanpa BB ku Ma, please...” kupeluk Mama, kucium Mama, itu jurus berikutnya.
“Makan malam besok, oke?.” Yess!! Aku deal dengan mama. Papa masih tenang menghabiskan buah pencuci mulutnya, Papa memang sosok laki-laki ganteng yang kalem. Pasti Mama dulu tergila-gila padanya. Bang Rizky memerot-merotkan bibirnya, pasti ia iri aku akan memiliki BB yang baru, yess!!!.
Hari pertama sekolah tanpa BB, aku tersiksa. Aku ketinggalan berita panas, Pak Zulkarnaen guru Bahasa Inggris masuk Rumah sakit terkena stroke. Lebih hebat lagi, dia terserang stroke habis marah-marah dengan siswa kelas XI IPS 2 yang katanya seperti Kadal busuk. Hari ini, anak XI IPS 2 hilang cahaya kegirangan yang selama ini selalu memancar liar tanpa batas. Merasa bersalah?, mungkin. Merasa lega?, mungkin juga. Kalau menurut pendapatku, mereka memang keterlaluan, malas belajar dan selalu jadi pecundang. Yang hebatnya lagi, mereka bangga dengan tingkahnya, amit-amit. Aku pernah dengar, guru-guru mengistilahkan kelas mereka ibarat kandang Macan, hiiiii......
Gosip hot kedua, Mutia berhasil menarik perhatian Riko si ganteng jago basket, jago futsal, jago musik dan tentu saja jago menarik perhatian siswi-siswi centil sekolah kami. Kabarnya, tadi malam mereka makan dan nonton.
“ Beruntung tuh si Mutia, bisa keluar ama Riko “ celetuk si Wiwid sang model, temanku sekelas. Secara fisik, tentu saja Wiwid lebih unggul dari Mutia yang kecil mungil dengan mata kucing yang lucu.
“ Kok bisa ya Wen?....” Wiwid mendesakku penasaran.
“ Mana aku tau Wid, tanya aja sama si Riko...” jawabku seenaknya. Wiwid melotot, menarik rambutku.
Hari ini, pembicaraan teman-teman seputar dua kabar tadi. Aku sama sekali tak tertarik. Yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana waktu bisa cepat berjalan, malam tiba. Biasanya, setelah ada keputusan, kami langsung berangkat mencari apa yang aku minta atau aku butuhkan. Duhai malam.... cepatlah datang.
Keputusan malam ini ternyata cukup mencekikku. Kuremas-remas jemariku dari bawah meja makan, semuanya serius.
“Untuk bisa mengganti BB mu yang hancur, kamu harus kerja“ Papa mengeluarkan suara baritonnya. Aku mulai cemas, jantungku berdegup kencang, darahku berdesir-desir, kerja apa?. Kenapa Mama Papa jadi tega?, aku kan masih sekolah?.
“ Ya Wen, kamu harus bantu Mama....” Mama duduk membusungkan dada, tegas.
“ Gimana caranya Ma?” aku mulai pasrah dan patah hati.
“ Kamu setiap pagi temani Mama belanja, kamu sopirin Mama” aku tersentak, nyaris terlonjak dari dudukku.
“ Pake mobil Mama?...”
“ Enggak, kamu bawa pickup”.
“ Biasanya kan bang Rizki....”
“Bang Rizki cuti, dia ujian.Kamu yang ambil alih, gimana?”, Mama mencondongkan wajahnya kearahku. Aku ingin menangis, haruskah Mama menyiksaku seperti ini hanya karena sebuah BB?. Menemani Mama belanja kebutuhan catering tentulah sangat menyiksa. Aku harus bangun pukul empat pagi, menembus gelap yang berembun, menjelajahi pasar tradisional yang becek. Tapi, aku butuh BB itu. Aku punya tabungan, tapi semua di pegang Mama, aku tak boleh pakai ATM atau credit card yang memang tak perlu.
“ Imbalannya gimana Ma?” aku mulai berdamai dengan nasib.
“Lima puluh ribu untuk nemani Mama belanja, kalo mau tambahan lima puluh ribu lagi kamu cuci peralatan masak, gimana?”
“Mama.... kapan cukupnya kalo segitu....,” mataku mulai panas. Sedih sekali mendapati diri tersudut seperti ini dan Mama yang tak mau berdamai.
“Ya... sampai cukup. Semua terserah kamu, deal or no deal”, Mama mengacungkan tangannya sebagai isyarat. Aku terpuruk kalut. Papa makan buah dengan tenang, Bang Rizki memainkan ujung taplak meja tak mau menatapku, mungkin dia kasihan dan iba pada nasibku.
Apa lagi yang bisa kulakukan selain menyerah pada keputusan ini?. Setiap hari menemani Mama belanja di pagi buta dengan mobil pickup. Kalau mau tambahan, aku sepulang sekolah harus mencuci peralatan masak yang menggunung. Aku mulai berhitung, berapa yang harus aku hasilkan untuk mendapatkan sebuah BB?. Ternyata, aku harus bekerja sebulan!, itupun dua pekerjaan yang harus kuambil, mengantar Mama belanja dan mencuci peralatan masak, aku ciut.
Atau.. aku menekan Resty supaya mengganti BB ku yang sudah diinjaknya?. Ah... terlalu sekali, itu sama saja menjatuhkan harga diriku sendiri. BB itu terinjak karena jatuh dari kantongku, tentu aku yang ceroboh. Itu kata Papa kemarin, jangan salahkan orang lain karena sumber awal kesalahan dari Weni sendiri.... Huaaa.. malam yang kelam. Dalam remang cahaya kamar, aku menangis.
Pintu kamarku diketuk, aku menggeliat mengumpulkan kesadaran yang terpencar, mengutip nyawa yang terurai. Aku bangkit malas, ngantuk sekali, aku tak terbiasa bangun sepagi ini. Mama berdiri didepan pintu, memakai jaket rapat.
“Ayo... berangkat, mobil udah dipanasi Papa...,” aku mengangguk dan segera kekamar mandi mencuci muka. Aku berangkat masih memakai piyama tidur yang dilapisi jaket.
Pemandangan yang menakjubkan, aku ternganga. Ternyata pasar tradisional sudah ramai sekali. Cahaya lampu neon berpendar kemana-mana, terang benderang. Tak ada yang mengantuk, semua ceria bersemangat. Ada juga anak seumuran denganku yang duduk menemani orangtuanya berjualan. Ada bayi yang dalam gendongan, ada gerobak aneka makanan. Menarik sekali, tak pernah ada dalam bayanganku sekalipun!.
“Weni ikut Mama mutar atau nunggu di sini? “ suara mama menjentikku, kami berada di gerobak aneka makanan menu sarapan, ada beberapa kursi dan meja disitu.
“Disini aja Ma, Weni mau minum teh panas, dingiiinn” kujawab sambil merapatkan jaket. Mama mengangguk manis. Kuamati suasana pasar subuh ini, menarik. Suasana yang menyenangkan dan sebelumnya tak terpikirkan.
Jam istirahat pertama, aku sudah puluhan kali menguap. Wiwid terheran-heran, aku tak mau menceritakan pekerjaan baruku, tak penting. Dia bertanya penasaran atas sifatku hari ini, layu terkantuk-kantuk. Aku jawab bahwa aku belajar sampai dinihari, Wiwid melongo bingung. Kapan aku mendadak rajin belajar sampai dini hari? Its imposibble thing!, agaknya Wiwid tahu itu, tapi dia tak mau bertanya lagi.
Pekerjaan kedua, aku harus mencuci tumbukan peralatan masak yang kotor. Mbak Mus sengaja meninggalkan kekacaaun ini atas perintah Mama, boss nya. Jam sudah menunjukkan angka empat sore, aku hampir prustasi, ngantuk, capek menggelayuti seluruh sendi dan nadiku. Tapi aku harus berjuang demi BB itu, jika aku menyerah berarti aku harus menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkannya. Aku berganti pakaian, menggunakan pakaian tempur, menyingsingkan baju dan mulai bekerja.
Selepas maghrib, nafasku tinggal satu-satu. Berjuang aku membuka mata yang tinggal lima watt. Ada pe-er Fisika yang harus aku selesaikan, jika tidak, aku harus rela dihukum berdiri didepan kelas. Berdiri didepan kelas? Wah... sakitnya tidak ada, tapi malunya ini.
Suara pintu kamar diketuk, aku tersentak lompat. Ya tuhan.... aku tertidur di meja belajarku!. Buku Fisika dibasahi air liur, tugas belum selesai, sekarang sudah pukul empat subuh, jadwalku menemani Mama belanja. Aduuuhhhh.....
“ Weni.. cepat sayang.. nanti kita terlambat, kamu kan juga harus Sekolah...,” terdengar suara Mama dari balik pintu. Tak ada waktu!, aku berlari kekamar mandi mencuci muka. Setengah sadar kutarik jaket, kuselipkan buku latihan didalam buku Fisika , ku comot pulpen dan berlari menyusul Mama yang sudah menunggu di dalam mobil.
Jadilah hari ini aku mengerjakan tugas Fisika dalam cahaya lampu pasar ditemani segelas teh manis panas. Cek Mad sipemilik gerobak senyum-senyum takjub, aku tak begitu memperhatikan orang yang lalu lalang. Targetku, tugas harus selesai. Pak Togar akan tersenyum sambil berkata “ Hebat kau bah!”. Itu kata yang selalu diucapkannya jika kami mengerjakan tugas tepat waktu. Jika tidak? Dia menyuruh kami berdiri sambil berkata
Tak kau hargai waktu yang sudah dikasi tuhan, berdiri kau disini sampai jam pelajaran bapak selesai ….wuihh.. malunya.
Kututup buku latihan Fisika dengan tersenyum puas, Mama sudah selesai belanja. Tumpukan belanjaan diangkat ke pickup oleh Towo, si penjual plastik kresek yang dijajakan ke pedagang yang kekurangan plastik. Mama akan memberi tip untuknya, dia sangat senang. Towo anak seusiaku yang putus Sekolah, badannya kurus dan kulitnya pekat. Tapi dia selalu tersenyum lebar pada siapapun, Towo sangat ceria. Agaknya, dia selau memandang hidup dari sisi positif.
“Anak kakak hebat ya?..mau ngawani* Mamaknya belanja pagi-pagi, rajin belajar pula, cantik lagi..ckckckckck”, Cek Mad berdecak-decak sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya yang agak botak. Aku tersenyum kecut, tak taukah kau Cek Mad aku rajin karena bersebab?. Jika tidak karena BB ku yang sudah almarhum itu, tak sudi aku pagi buta melanglang buana seperti memburu kodok di sawah.
“ Iya.. dia anak kakak perempuan paling kecil”
“ Adik si Rizki, Kak? “, tanya Cek Mad berbasa-basi. Mama mengangguk, cahaya matanya begitu bangga.
“ Rizki mana kak? Sakit? “
“Enggak, dia sedang ujian, jadi sementara diganti sama Weni”, Mama menerangkan sesuatu yang kuanggap tidak perlu, Cek Mad mengangguk-angguk.
Hari kedua, kantuk ini masih ada. Hanya tak sedahsyat kemarin. Aku hanya beberapa kali menguap, Wiwid tak bertanya lagi. Entah mengapa, ada kepuasan luar biasa hari ini, mungkin karena dinamika yang aku jalani. Menyelesaikan tugas dengan penuh perjuangan. Menyaksikan senyum Towo yang putus Sekolah seakan tanpa beban, padahal dia hidup penuh kepedihan dan ketidak pastian. Aku?, aku hidup selalu nyaman penuh kasih sayang dan fasilitas. Biasanya, aku perlu apa-apa tinggal minta. Tapi kali ini....ah! sudahlah, aku memang harus menjalaninya. Mungkin Mama Papa harus mengajarkan aku tidak mudah untuk mendapatkaan sesuatu . Inilah saat yang tepat bagi mereka mendidik aku, aku harus berbaik sangka.
Entah mengapa, seminggu tanpa BB aku mulai terbiasa. Papa benar, kebiasaan yang membuat orang memiliki ketergantungan terhadap sesuatu. Terbiasa BBM an dengan teman, chating, FB dan sebagainya membuat aku tergantung pada BB ku. Kini, ketika seminggu aku terbiasa dalam sepi informasi, aku serasa tak begitu ingat akan kehilangan BB ku. Tapi, bukan berarti aku lepas target. Sebulan ini, tugasku harus selesai dan mendapat imbalan BB yang kuharapkan. Aku akan memulai lagi kebiasaan yang mengasyikan, meninggalkan kerja rodi ini dan bisa tidur nyenyak sampai jam enam!.
*****
Aku tersenyum puas, kini BB baruku ada dalam genggaman. Aku bisa mulai lagi kehidupanku yang sebulan ini nyaris hilang. Aku akan mulai bisa tertawa tanpa beban, jalan-jalan dengan teman, makan es krim atau sekedar nongkrong menjelang jam les tambahan pelajaran. Wiwid, Resty dan Anjar terkagum-kagum menyaksikan BB ku yang baru.Mama berbaik hati membelikanku BB keluaran terbaru, Bang Rizki malah memberiku aneka asesorinya, Papa menciumku sayang. Ya Tuhan... aku diperlakukan seperti orang yang menang perang!, hahahaha...
Aku melompat dari tempat tidur, mencuci muka, meraih jaket dan lari keluar kamar menuju garasi. Mama terpaku berdiri ditempatnya, Bang Rizki terpelongo. Bukankah hari ini aku sudah bebas tugas?, bukankah aku hari ini bisa tidur nyenyak sampai jam enam nanti?, akupun bingung dengan diriku sendiri.
“ Kok Weni udah bangun?...”
“ Enggak tau Ma..”
“ Udah Wen, Weni kan udah bebas, biar Bang Rizki yang antar Mama...” Bang Rizki menstarter mobil. Aku masih bingung, menatap Bang Rizki dan Mama bergantian.
“ Weni ikut.....” aku segera naik ke mobil, Mama terlongo-longo.
Biarlah mereka bingung, aku tak peduli. Aku sudah memiliki ritme kehidupanku yang baru, dan aku kini bahagia menjalaninya. Tak ada lagi beban yang sebelumnya memenuhi hati dan kepala, yang ada kini hanya bahagia. Aku mulai bisa menghargai segalanya, ya.... segalanya yang aku punya.

Medan, September 2011
* Menemani

Telah diluas FAM Indonesia Maret 2012