Jumat, 27 Juli 2012

CERPEN "PESONA KERUPUK"

PESONA KERUPUK Rahimah Ib “Mama....laparr,” si bungsu mulai merengek. “Sebentar, ya sayang? Tuh ada permen, minum air putih aja dulu,” Annisa konsentrasi dibelakang stir. Annisa menarik nafas panjang, pukul empat sore, si bungsu memang punya selera makan yang sangat baik. Makan tak mengenal waktu, tubuhnyapun sangat subur. “Tapi Fari mau makan, Mama.Bukan mau minum.” “Kak Fa....masih ada roti?,” Annisa bertanya pada si sulung, yang mulai terganggu dengan rengekan adiknya. “Enggak ada, Ma. Habis,” “Mama....lapar,” “Sebentar sayang...orang sabar disayang Allah, ya?” Annisa mulai membujuk si bungsu yang mulai merajuk. “Rafi tuh Ma!. Makan aja yang dipikirin!, tadi di Sekolah jajannya juga udah banyak!,” Fara bersuara keras, jengkel. Suara mereka bersahut-sahutan. Suasana semakin tak nyaman, Annisa mencoba bersabar. Di lampu merah, mata Annisa tertumpu pada seorang pedagang kerupuk. “Kita beli kerupuk, ya? Kayaknya enak tuh, mau kan?,” cepat-cepat Fari mengangguk. Bibirnya ditarik tiga senti, tersenyum. Annisa menurunkan kaca jendela mobil, melambai kearah penjual kerupuk, lelaki itu mendekat. “Kerupuk, Ibu?,” suara yang sopan diiringi senyum yang luar biasa. Annisa tertegun. “Iya, Bang. Berapa?,” “Sepuluh ribu, Ibu. Untuk kebahagian pemuda kecil disamping Ibu,” senyum yang ramah dan ikhlas. Dia tersenyum kearah Fari, anak lelaki tujuh tahun itu tersenyum, seakan laparnya menguap naik keawan. Fari merasa bangga, disapa pemuda kecil. Suara dan bahasa lelaki penjuak kerupuk itu seharusnya diletakkan ditempat yang terhormat, suara dan senyum pesona berkelas. “Eh..iya, dua ya?,” Annisa menyerahkan uang dua puluh ribuan. Lelaki itu menerima dengan sopan dan senyum tetap mengembang. “Terimakasih,Ibu. Semoga selamat sampai rumah, dan kerupuk saya membawa berkah untuk pemuda kecil ini,” lelaki itu berlalu. Annisa masih tercenung, apa yang dikatakan lelaki itu adalah hal biasa yang tidak terlalu istimewa. Bukankah pedagang mencari simpati pelanggan?, itu sudah basi. Tapi tidak dengan lelaki yang ditemui hari ini, senyumnya penuh keikhlasan, cahaya matanya penuh dengan kehangatan, memandang Fari seperti pandangan seorang Ayah pada anaknya, tulus. “Mama!, lampunya sudah hijau!,” Fara berteriak dari jok belakang, Annisa tergeragap, klakson bertubi-tubi dari arah belakang, sopir angkot berteriak kasar. Annisa cepat-cepat menginjak gas, inilah Medan...batinnya. Semua orang tampak keras dan kasar, senyum si penjual kerupuk tadi terasa bagai embun muncul di siang hari. Langka, dan pasti tak pernah ada. Malam hari, senyum penjual kerupuk menjadi tema pembicaraan di kamar. Annisa berapi-api bercerita, suaminya yang tenang hanya senyum-senyum. “Sangat berkesan ya, Ma?,” “Iya, Pa. Gaya bicaranya seperti eksekutif, senyumnya tuluuus banget. Cocok jika dia berhadapan dengan costumer, semuanya pasti terkesan. Perusahaan beruntung punya karyawan seperti itu,” Annisa masih berapi-api. Ada juga harapan yang muncul tiba-tiba, siapa tahu suaminya ingin menolong lelaki itu. Mengangkatnya sebagai karyawan, bukankah lelaki itu punya pesona eksekutif?. Suaminya menutup buku yang sedang dibacanya, menatap dirinya dengan serius. “Itu tidak sesederhana yang Mama pikir. Bagaimana dengan pendidikannya? Pola pikirnya?. Yang Mama lihat itu hanya kulit luar, Mama kan ketemu di lampu merah, dalam hitungan detik saja. Jangan terlalu dipikirkan, nanti Papa enggak bisa tidur.” Suaminya mulai mengerling jenaka, Annisa melempar bantal dan terkekeh. Hari-hari berikutnya di lampu merah, kerupuk menjadi sajian spesial diperjalanan pulang. Padahal selama ini Annisa sangat selektif memilih makanan untuk anak-anaknya. Kerupuk adalah jenis makanan yang digoreng, bukankah minyak goreng sekarang sangat mengkhawatirkan?. Ada minyak goreng yang dibeningkan dengan plastik, agar minyak bekas yang berwarna gelap menjadi bening dan makanan yang digoreng garing. Atau minyak goreng yang dicampur lilin, agar makanan yang digoreng kelihatan cantik mengkilat. Annisa merinding, tapi pesona senyum sipenjual kerupuk telah mampu meluluh lantakkan prinsipnya. Senyum tulus, bahasa sopan yang membuat dirinya terharu setiap hari. Memandang si penjual kerupuk yang tak pernah merasa lelah, senyum tetap mengembang, seakan Allah menciptakannya hanya untuk tersenyum. Jika hari hujan, Annisa dan anak-anaknya akan kehilangan. Mencari-cari sipenjual kerupuk yang sedang berteduh di emperan pertokoan. Pernah juga mereka membeli kerupuk pada pedagang lain, tapi anak-anaknya protes karena kerupuknya tidak enak seperti kerupuk “oom jenggot”. Anak-anaknya menggelar lelaki itu dengan “Oom Jenggot” karena lelaki itu memang memiliki sedikit jenggot di dagunya. Annisa bingung mengapa rasa kerupuk itu bisa berbeda, Annisa sudah meneliti merek yang ada di plastik pembungkus. Sama saja. Kesimpulannya adalah lelaki itu menjual dengan ketulusan, senyum keikhlasan. Sama juga seperti makanan yang dihidangkan dengan senyum dan cinta, pasti berbeda dengan makanan yang dihidangkan dengan amarah atau cuek. Walau itu dari jenis yang sama. Satu kilometer menjelang lampu merah, jalanan macet parah. Annisa menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dua anaknya yang sudah gelisah, berharap dapat segera menyapa “Oom jenggotnya”. Tapi kemacetan ini diluar kebiasaan, banyak orang berlarian kearah lampu traffic light, beberapa orang berbincang-bincang di pinggir jalan. Sepertinya ada yang tidak beres di depan sana, batin Annisa. “Ada apa, Dik?,” Annisa melongok keluar dari jendela mobil, bertanya kepada pemuda yang ingin menyeberang melintas dari depan mobilnya. “Kecelakaan, Bu!,” “Mobil atau sepeda motor, Dik?,” Annisa cemas, karena suaminya juga selalu melintasi jalan yang sama dengannya setiap hari. “Penjual kerupuk, Bu. Kakinya disambar truk..,” Annisa lunglai, ia lupa mengucapkan terimakasih pada pemuda yang sudah memberinya informasi. Pedagang kerupuk? Apakah lelaki yang punya senyum tulus dan membuat dia dan anak-anaknya jatuh hati?. Annisa terus berdo’a dalam hati, semoga bukan. Semoga Allah tidak lebih memberi cobaan pada lelaki itu, lelaki yang sangat ikhlas menjalani kehidupannya, keikhlasan yang terpancar dari senyumnya. Annisa tidak pernah lagi melihat si penjual kerupuk yang punya senyum ikhlas itu. Anak-anak kehilangan sosok “Oom Jenggot” yang tersenyum ramah menyapa, memanggil Rafi dengan “pemuda kecil”atau menyapa Fara dengan “gadis cantik”. Rutinitas membeli kerupuk pada perjalanan pulang tidak lagi dilakukan, anak-anak tidak mau kerupuk yang dijual pedagang lain. Jendela mobil tidak lagi dibuka pada Traffic Light, semua dingin. Sudah tiga bulan. Hati Annisa mengatakan, bahwa kecelakaan tempo hari telah menimpa “Oom Jenggot” anak-anaknya. Tapi dia sama sekali tidak tahu harus mencari kemana. Betapa Annisa merasakan kesia-siaan, ingin menolong tapi tidak menyegerakan, mengapa ia harus menunda untuk mengetahui tentang lelaki itu lebih banyak?. Bertanya sejenak tentang keluarganya, atau bertanya siapa namanya, atau dimana alamatnya?. Bukankah suaminya yang memiliki perusahaan besar mampu mempekerjakan lelaki tulus itu?. Mengapa menunda? Mengapa?. Lampu traffic light menyala merah, angka seratus dua puluh enam, Annisa menetralkan porsneling. Jendela mobil diketuk seseorang, Annisa menoleh dan segera menurunkan kaca jendela. “Assalamu’alaikumIbu,beli kerupuk?,” wajah berbingkai senyum tulus itu! Dia di sini!. “Oom Jenggot!! ,” Anak-anak berebut mencondongkan wajah ke kaca jendela depan, menyapa lelaki bersenyum tulus itu. Tapi Annisa ingin menangis, ada sesuatu yang berbeda. Lelaki itu menopang tubuhnya dengan tongkat diketiaknya, kakinya hanya satu yang sempurnamenopangtubuhnya. Sebelahkirihanyasebataspaha. “Oom... kaki Oom kenapa?,” Rafi merasa aneh terhadap pemandangan ini. “Ohh...sudah diambil Allah, karena Oom enggak hati-hati. Kamu pemuda kecil, harus hati-hati ya?.” Senyum itu tidak pernah berubah, walau lelaki itu sudah berkaki satu. Senyum tulus ikhlas tetap terpancar, membawa plastik berisi kerupuk dengan satu kaki bertopang kruk. Annisa meneteskan air mata, tak sepantasnya lelaki tulus itu disini. Ia harus menolongnya, segera! Tidak bisa lagi ditunda.

Kamis, 26 Juli 2012

CERITA RAMADHAN 2

PEMANDANGAN MIRIS Ramadhan mulia, selalu membawa cerita. Selepas subuh, matahari belum muncul. Aku dan suami bergerak untuk silaturrahim ke rumah teman sekaligus membicarakan beberapa urusan. Langit masih pucat, udara sejuk, angin semilir terasa nikmat di bulan Ramadhan. Belum jauh dari rumah, pemandangan tak sedap sudah menghadang mata, kucoba beristighfar dalam hati, semoga Allah menguatkan aku untuk tidak membahas pemandangan itu. Ah..beberapa pasang insan berkendaraan motor berpelukan tanpa beban, adduhh..bagaimana puasanya?. Jarak beberapa kilometer, kembali ditemukan tiga orang ABG berkendaraan motor memakai celana pendek yang ketika dia duduk nyaris seperti memakai celana dalam. Ya..Allah, gejala apa ini?. Kepalaku berdenyut-denyut, suami hanya berdecap sambil menggeleng-gelengkan kepala. Seingatku, ketika aku remaja, memang ada istilah “Asbuh” alias Asmara Subuh. Selepas sholat subuh, kami masih sempat tadarus di Mesjid. Kemudian kami jalan-jalan bersama teman, masih memakai sarung dan mukena. Memang laki-laki bersama kaumnya, dan perempuan begitu juga. Jika ada yang naksir, pakai ‘mak comblang’. Tapi, kawan…tak ada istilah boncengan, apalagi berpelukan pinggang layaknya suami istri. Ya Allah…zaman apa ini? Aku hanya bisa berdo’a semoga Allah melindungi anak dan generasiku dari kerendahan moral. Entahlah… Menjelang siang, kami pergi berbelanja, karena Alhamdulillah ada sedikit rezeki yang bisa dibelanjakan untuk keperluan lebaran anak-anak. Kami mendiskusikan tempat belanja, Ayah berpendapat kami sebaiknya berbelanja di Mall saja. Karena tempatnya nyaman, sehingga diharapkan anak-anak (terutama si bungsu) tidak tergoda puasanya karena haus dan lapar. Baiklah, mobil meluncur ke sebuah pusat perbelanjaan besar di kotaku. Sebelumnya kami singgah dulu ke Mesjid besar sekitar pusat perbelanjaan, menunaikan sholat Zuhur. Setelah itu kami kembali bergerak menuju Pusat Perbelanjaan yang dimaksud. Duhai…apa yang terjadi? Masih berjarak beberapa meter dari pintu masuk, aroma makanan sudah menyergap. Aroma kentang dan ayam di goreng, roti yang baru keluar dari oven sudah menyergap dan menari-nari di depan hidung. Betul, si bungsu sudah mendengus-dengus, tapi tak berani berkata apa-apa. Kami memaklumi saja dan pura-pura tidak tahu. Di dalam, food court juga tak berpengaruh pada suasana Ramadhan, resto-resto penuh, si bungsu mulai mengeluh, ah..beratnya. Di Departmen Store, lain lagi. Harga baju selangit, modelnya juga tidak terlalu bagus walau dari segi kualitas memang baik. Selera gadis remajaku memang ‘mengerikan’ aku harus mengeluarkan uang lima ratus ribu hanya untuk tiga potong atasan, peeuhh. Baiklah, tak mungkin diteruskan, ini bukan area kita. Tanpa basa-basi aku mengajak suami beralih saja ke pasar tradisional, aku harus logis untuk memenuhi kebutuhan empat anakku. Untuk menjaga keamanan puasa si bungsu, hanya aku dan kakak-kakaknya saja yang turun belanja, sementara si bungsu dan Ayahnya kembali ke Mesjid. Mesjid, adalah tempat yang sejuk dan nyaman untuk ibadah sekaligus beristirahat, si bungsu diajak menyimak ayahnya membaca Alquran. Alhamdulillah, di pasar tradisional semua didapat dengan murah dan kualitas yang bagus dan layak. Semua kebagian keperluan lebaran, syukurlah. Anak-anakpun menjadi senang dan tak mengeluhkan capek mutar-mutar pasar karena mamanya cerewet menawar harga (hihihi penyakit emak-emak).yOOK...nanti ada cerita Ramadhan lainnya..

Selasa, 24 Juli 2012

INFORMASI FAM INDONESIA

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Motto: "Membina dengan Hati Calon Penulis Islami" SELAMAT DATANG DI RUMAH FORUM AKTIF MENULIS (FAM) INDONESIA Selasa, 03 Juli 2012 Panduan dan Formulir Pendaftaran Keanggotaan FAM Indonesia FAM INDONESIA Silakan panduan ini dibaca dan dipelajari. Didalamnya sudah dilengkapi info seputar Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Kami harapkan Anda segera bergabung dalam wadah kepenulisan nasional ini. Kita jalin silaturahim dan berbagi ilmu kepenulisan bersama penulis-penulis lainnya yang tergabung dalam wadah FAM Indonesia. Saat ini anggota FAM sudah cukup banyak dan berdomisili diberbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Di beberapa kota sudah mulai membentuk perwakilan/cabang FAM Indonesia. Kesempatan tidak datang dua kali. Kapan lagi bisa bergabung dan saling memotivasi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama. Semangat itu naik turun. Oleh karena itu perlu ada orang-orang yang bisa saling memberi motivasi agar semangat tetap stabil. Diharapkan, bisa konsisten menulis setelah bergabung dengan FAM Indonesia. Jika Anda siap menjadi anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, silakan ISI FORMULIR dan kirimkan 1 contoh tulisan Anda, bisa berupa cerpen, puisi, esai, dan lainnya ke alamat email: forumaishiterumenulis@yahoo.com. Jika kesulitan lewat email, boleh dikirim lewat inbox facebook: “Aishiteru Menulis” atau fb: “Aliya Nurlela”. Tulisan tersebut nantinya akan diulas oleh tim penulis FAM Indonesia. Jika ada yang perlu ditanyakan, silakan kontak lewat facebook “Aliya Nurlela” atau nomor kontak kami: 081 259 821 511. Kami memiliki group di facebook untuk berbagi seputar dunia tulis menulis dan menampilkan kegiatan-kegiatan FAM Indonesia. Nama groupnya “FORUM AISHITERU MENULIS (FAM) INDONESIA”. Group ini untuk umum, baik anggota atau bukan dengan syarat beragama muslim. Menjadi anggota group ini, bukan berarti Anda telah menjadi anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Menjadi anggota FAM Indonesia tetap harus mendaftar terlebih dahulu, mengisi formulir, mengirim contoh tulisan dan membayar registrasi keanggotaan (anggota resmi FAM Indonesia akan mengantongi Id Card FAM Indonesia). Anggota group tidak mendapat bimbingan khusus, hanya sekadar mendapat info up-date saja di dinding group. Sementara anggota group yang sekaligus anggota FAM Indonesia akan mendapat bimbingan khusus seputar dunia kepenulisan. Segeralah bergabung menjadi anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia! Biaya registrasi keanggotaan FAM Indonesia sesuai tingkatan usia: Pelajar Rp. 60 ribu, Mahasiswa Rp. 65 ribu, Umum Rp. 75 ribu (Lebih jelas baca PROFIL FAM INDONESIA). Biaya registrasi termasuk sangat murah, sebab berlaku untuk jangka waktu 1 tahun keanggotaan, mendapat bimbingan, konsultasi khusus kepenulisan, peluang-peluang dalam bidang kepenulisan/penerbitan. Untuk mengikuti bimbingan menulis online disejumlah lembaga kursus, minimal peserta harus merogoh kocek sekitar Rp. 200 ribu - 1 juta untuk beberapa kali pertemuan. Dalam wadah FAM Indonesia tidak berlaku aturan itu. Registrasi keanggotaan FAM berbiaya murah. Kami harapkan, pengiriman biaya registrasi bisa bersamaan dengan pengiriman formulir dan tulisan Anda, atau selambat-lambatnya seminggu setelah pengembalian formulir. Pengiriman biaya registrasi keanggotaan ditransfer ke: ALIYAH NURLAELLA, BNI Cabang Kediri, Nomor Rekening: 0257598722, atau BRI CABANG MALANG UNIT KASEMBON, NO. REK: 6370-01-003143-53-3. Jika telah mengirim biaya registrasi, konfirmasi ke nomor Hp. 081 259 821 511. Kami persilakan Anda untuk ikut andil menyumbang buku-buku (baik baru atau bekas) untuk Taman Baca FAM Pusat (tidak keharusan). Semoga buku-buku tersebut akan memberi manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar, hingga semakin menumbuhkan cinta membaca dan menulis di kalangan generasi muda Indonesia. Salam aishiteru! ALIYA NURLELA Sekjen FAM Indonesia Bagaimana Cara Bergabung Menjadi Anggota FAM Indonesia? 1. Mengisi FORMULIR PENDAFTARAN 2. Mengirim satu contoh tulisan (cerpen, puisi, esai dll) saat pendaftaran 3. Membayar biaya registrasi (sesuai tingkatan usia) Jika semua syarat telah terpenuhi, maka yang bersangkutan bisa dinyatakan sebagai anggota resmi FAM Indonesia. Anggota resmi berhak mengikuti berbagai kegiatan FAM Indonesia, mengantongi Id Card, buku-buku karya anggota dipromosikan sepenuhnya oleh FAM Indonesia, dan dapat berpeluang menjadi pengurus cabang di masing-masing kabupaten/kota. Bagi anggota resmi FAM Indonesia dapat mengikuti Lomba Cipta Cerpen dan Cipta Puisi tingkat Nasional (gratis, tidak dipungut biaya) yang diadakan oleh FAM Indonesia setiap tahunnya. Anggota resmi juga berhak mencantumkan nama FAM sebagai identitas tulisannya, baik yang diposting di dalam group, status facebook, atau yang dikirim ke media massa (Contoh: Najla El Dyna, anggota FAM Malang). Salam aishiteru! ALIYA NURLELA Sekjen FAM Indonesia

CERPEN YASIN ABIRU SABIL UNTUK WAFI

Cerpen ini untuk ade Wafi, buah hatinya Bunda Imah yang hari ini tamat shaumnya, dan untuk ponakan2ku juga yang tamat. Barokallohu fiikum. “Shaum Teh Shiip!” “Bunda, Wafi lemes banget nie”, manja Wafi pada bundanya. Wafi si kecil yag kini duduk di bangku SD kelas 2 adalah buah hati tercinta bundanya, bunda Imah sapaannya. “Sini nak, biar bunda cerita supaya lemesnya hilang”. “Bukan itu bun yang Wafi mau, Wafi mau buka saja ah abisnya lihat si Timmy ( red : tokoh kambing junior di film Shaun The Sheep) makan eskrim di film barusan Wafi jadi ngiler bun!”. “Aduh nak, makanya jangan keseringan nonton film GJ kaya gituh!. Udah yah, bunda cerita saja judulnya “Shaum Teh Shiip!”, ada hadits bagus juga nie , Wafi mau tahu gak?”. Bunda Imah memang paling hebat kalau sudah bercerita, dan ini juga hoby unik bunda yang satu ini. “Shaum Teh Shiip?, apaan tuh bunda?, itu kaya film kesukaan Wafi aja “ Shaun The Sheep”!. “ Yah , mkasud bunda Shaum Itu Bagus, dan banyak keistimewaannya nak”. “ Oooh, Bunda lucu deh , si Timmy juga kalah lucu ma bunda.hehehe”. ***** “Dengarkan bunda yah nak, bunda bacakan hadits qudsinya”. Bunda Imah pun mulai bercerita, namun si kecil Wafi bertanya seketika. “ Bun, hadits qudsi tuh apa yah?, apa bedanya sama hadits Nabi?, ah Wafi jadi penasaran nie!”. “Waah, anak bunda yang satu ini memang selalu pengen tahu saja yah. Bagus nak, kalo gak faham Wafi harus nanya yah, biar gak linglung.heehe. jadi hadit qudsi tuh : hadits yang diriwayatkan oleh Rasululloh dari Rabbnya melalui tiga cara : melalui wahyu, mimpi dan , ilham. Disebut dengan istilah hadits-hadits qudsi karena dikaitkan dengan nama Al Quds yang artinya suci dan bersih. Disebut dengan istilah hadits-hadits Ilahi karena dikaitkan dengan nama Al Ilaah yakni Alloh. Begituh kiranya nak, Wafi faham sekarang?”. “ InsyaaAlloh faham bun”. “ Yah sudah, kalo gituh bunda bacakan yah!”. ***** Keutamaan Bulan Ramadhan Apabila datang malam pertama bulan ramadhan, Alloh SWT memandang makhlukNya, dan apabila Alloh memandang seorang hamba berarti selamanya Alloh tidak akan mengazabnya. Pada setiap harinya Alloh membebaskan sejuta orang dari neraka, dan apabila tiba malam kedua puluh sembilan Alloh membebaskan pada saat itu sebanyak semua orang yang dibebaskanNya dalam sebulan penuh. Apabila datang malam fitri, maka gemparlah para malaikat dan Alloh Yang Maha Perkasa menampakan diri ( cahaya) Nya sekalipun Alloh SWT tidak dapat disifati. Lalu Alloh berfirman melalui wahyuNya kepada para malaikat, sedangkan mereka pada keesokan haarinya akan mengalami hari raya, “Wahai para malaikat, apakah balasan seorang buruh apabila telah menunaikan pekerjaannya dengan sempurna?”. Para malaikat menjawab, “Upahnya diberikan kepadanya dengan sempurna.” Alloh SWT berfirman , “Saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya Aku mengampuni mereka.” ( Diketengahkan oleh Al Ashbahani melaui Abu Hurairah ra.). **** “Waah, Alloh baik sekali yah bunda”. “Iyah nak, makanya sahum ramadhan kali ini harus tamat yah nak, karena Shaum Teh Shiip!”. “ Iyah bun, insyaaAlloh Wafi pasti tamat”. **** Kumandang adzan maghrib pun bersautan dari surau ke surau. Wafi senang bukan main, dia pun berhamdallah dan besorak riang “Allhamdulillah, horeee…Wafi tamat shaum hari ini bundaaa., makasih yah bun ceritanya”. “ Sama-sama , bunda sayang Wafi”. “ Wafi juga sayang bunda selalu”. By : Yasin Abiru Sabil FAM 537M Bandung Terimakasih Yasin, untuk cerpennya. Indahnya persaudaraan di FAM, saling peduli dan berbagi. Salam aishiteru

CERITAKU TENTANG RAMADHAN (1)

Assalamu'alaikum Fren. Ramadhan selalu punya seribu lebih kisah ya? Begitu juga dengan diriku, ada kisah bahagia ada juga kisah yang membuat hati perih dan miris. Tapi, alhamdulillah, paling tidak puasa pertama si bungsu tamat, tidak lagi putus sambung seperti tahun sebelumnya. Baiklah, untuk "melalaikan" waktu ayah punya trik tersendiri, hingga Wafi benar-benar lalai dan sadar ketika waktu berbuka semakin dekat. Apa itu? ayah mengajarinya bermain catur, dia sangat tertarik dengan perjalanan raja, pion dan kroninya. Tak terasa, "dug..dug..dug.." beduk berbunyi. Minuman, makanan, puding, buah semuanya tandas! hahaha.